Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#60


__ADS_3

Happy reading


****************


Ternyata bukan isapan jempol belaka. Ancaman Bianca benar-benar dilakukan. Gadis itu mengadukan kelakuan tunangannya pada calon mertuanya, yang bernama lengkap Andika Garda Negara.


Bianca langsung menemui Andika di sebuah restoran Eropa ternama. Saat itu Andika sedang berada di luar. Berhubung sudah waktunya jam makan siang, maka Andika mentraktir gadis yang sengaja dirancang menjadi tunangan anaknya, Garda. Padahal tujuan Andika hanya menggunakan Bianca sebagai alat saja.


Setelah menentukan menu apa yang dipilih Andika dan Bianca. Lalu menunggu makanan yang dipesannya datang, Bianca memulai aksinya.


"Om, pokoknya Om harus bantu Bianca buat menyingkirkan sekretaris barunya Pandega, secepatnya kalo bisa," rajuknya manja.


Wajah Andika tampak tenang dengan satu tangan menopang rahang tegasnya. Sementara satu tangannya yang lain mengepal erat di atas pahanya di bawah meja. Menandakan isi dalam hati dan pikirannya tidak sedang mode baik-baik saja.


Pria casonova itu hanya bergumam seraya bersenandung. Apa yang ada dalam pikirannya sangat rumit. Tidak ada satu orang pun yang bisa menebaknya. Kemudian merubah posisi duduknya. Menumpukan satu kakinya pada kaki yang lain. Membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kursi di belakangnya.


"Apa kamu yakin kalo gadis itu benar-benar Meella?" selidik Andika ingin memastikan.


"Tentu aja aku yakin, Om. Karena... ternyata wajahnya mirip banget dengan foto gadis SMA yang dulu sempat Om tunjukkin ke aku. Per-sis banget pokoknya, Om," sahut Bianca menekan ujung kalimatnya untuk meyakinkan Andika.


Andika mengangguk-angguk pelan kepalanya.


"Lalu kamu mau apa?"


"Udah pasti aku ingin menyingkirkan gadis sialan itu. Apalagi setelah melihat Pandega mencium gadis itu dalam ruangannya. Itu tandanya hubungan mereka bukan hanya sekedar dari sekedar dari atasan dan bawahan."


Andika menyimak dengan baik semua keluh kesah sang calon menantu.


"Om... Aku khawatir Pandega udah ada rasa sama dia. Bila itu terjadi aku takut ingatan masa lalu Pandega tentang gadis itu kembali. Maka hubungan aku dan Pandega bisa berakhir."


Bianca begitu panik mengungkapkan segala kemungkinan yang mengisi otaknya.


"Om... plis... bantuin aku. Aku gak mau kehilangan Pandega. Aku udah jatuh cinta beneran sama dia. Aku gak bisa bayangin kalo Pandega ninggalin aku," rengeknya bak anak kecil.


"Plis... Om..."


"Kamu tenang saja. Nanti biar Om yang urus gadis itu. Kamu jangan khawatir lagi."


Bianca mengangguk mengerti. Senyum sumringah terukir indah di bibir gadis itu.


'Sial! Kenapa aku harus kecolongan!' hardiknya dalam hati. Tangannya mengepal lebih erat.


'Gusti! Gusti! Gusti!'


'Kau lihat saja nanti kehancuran putrimu! Maka kau akan tahu gimana hancurnya aku saat itu!'

__ADS_1


Tidak berselang lama, pesanan mereka datang. Keduanya menikmati makan siang mereka sambil sesekali mengobrol obrolan ringan. Juga obrolan tentang pekerjaan namun tidak terlalu serius membahasnya.


*


Dengan tergesa pria bertubuh tinggi kekar dan tampan itu masuk ke dalam ruangan Garda. Setelah sebelumnya beritanya pada Meella memastikan keberadaan bosnya yang terkadang bersikap absurd.


Di tangan kanannya membawa tas kerjanya. Sedangkan tangan kirinya menggantung plastik putih transparan, yang tanpa perlu bertanya langsung terlihat jelas apa isi di dalamnya.


Sekantong plastik ukuran setengah kilo, berisi cairan berwarna hijau muda yang diikat karet gelang berwarna merah di bagian ujung plastik agar cairan itu tidak tumpah. Dan sebuah sedotan berwarna pink, tampak berdiri tegak di sisi bungkusan berwarna hijau muda tersebut.


Ada yang bisa menebak apa isi plastik dibawa Dandi? Hah hah... Si asisten ganteng itu ternyata membawa es kuwut yang mulai tidak dingin. Gara-gara esnya sudah mencair saking terlalu jauh jarak yang harus ditempuhnya hingga sampai perusahaan tempatnya mengais rezeki.


Tepuk tangan saudara-saudara... untuk pertama kalinya dalam sejarah seorang Dandi ganteng. Berprofesi sebagai asisten pribadi seorang CEO yang juga ganteng. Yang digadang-gadang sebagai satu-satunya pewaris kerajaan bisnis Negara's Group, salah satu perusahaan besar Indonesian yang masuk pasar internasional. Membeli es kuwut pinggir jalan. Sungguh tak berkelas sekali!


Tentu saja hal ini bukan kemauannya sendiri. Dan bukan level atau standarisasi seorang Dandi. Tapi anehnya, ini merupakan permintaan si bos besar. Siapa lagi kalo bukan Mr. Pandega G Negara. Seumur-umur Dandi bekerja menjadi asisten di bos ganteng itu, belum pernah menyentuh jajaran pinggir jalan. Tapi sekarang....


Apakah readers semua pada penasaran gak, gimana asal mula Dandi membeli es yang katanya rasanya manis dan asam segar itu? Dan, apakah kalian tahu bagaimana perjuangan si bujang tampan itu?


Sini author ceritain ya.


Jadi, satu jam yang lalu Dandi masih dalam perjalanan pulang menuju kantor. Setelah menyelesaikan tugasnya di luar kantor. Tentu saja tugas yang sudah dititahkan oleh sang bos. Tiba-tiba saja si bos Garda, tapi biasa disapa bos Pandega meneleponnya. Kemudian meminta dibelikan es kuwut. Tapi harus dibeli di penjual yang hanya berjualan di pinggir jalan.


Sontak di jomblo ganteng itu terkejut. Apa pasal si bos anti-mainstream tiba-tiba meminta suatu hil yang mustahal begindang. Kan aneh ya kan, ya kan?


Entah karena harganya yang murah dan terjangkau. Padahal si bos tidak bakalan jatuh miskin gara-gara beli satu gelas es kuwut. Ataukah dari segi rasa yang nikmat jos gendos kah? Karena kalau dari segi kebersihan, yang namanya segala jualan pinggir jalan, tentu higienitasnya perlu dipertanyakan. Lantaran tidak sedikit debu-debu jalanan bertebaran manja ke sana ke mari mengikuti hembusan angin bertiup.


Di saat para tukang penjual es dari berbagai macam es, yang beraneka ragam rasa dan warna, serta aroma tutup karena dagangan mereka sudah ludes dibeli oleh para konsumen dari mana saja. Sorry ya author gak pernah ngabsen satu per satu.


Akhirnya Dandi dapat menemukan penjual es kuwut yang masih tersedia. Meskipun harus sampai Bekasi dia jabanin demi keinginan tidak masuk akal bosnya. Herannya seperti orang lagi ngidam aja, ya!


Eh!


Eh!


Eeh!


Tidak boleh bicara sembarangan bila ingin berumur panjang di perusahaan ini. Ingat ya, si bos belum punya istri. Tapi tunangan punya. Bisa jadi kan tunangannya hamil. Bisa aja!


Aih... ngomong apa sih? Gibah aja nih! Kembali ke laptop! Eh, salah. Ke cerita dooong! Inikan cerita novel bukan acara empat mata.


"Bos, ini es kuwut pesanan bos. Udah saya beli sesuai permintaan."


Dengan bangga Dandi mengangkat ke udara, dan memamerkan jerih payahnya pada atasannya. Namun ekspresi wajahnya si bos tampak adem ayem bikin patah hati. Tidak ada excited-excited nya. Malah melihatnya sekilas doang. Itu pun sambil memutar bola matanya malas. Setelahnya menurunkan pandangannya pada berkas yang masih belum selesai diperiksa.


What the hell!

__ADS_1


Ups! Sabar... sabar... orang sabar dadanya lebar!


"Bos? Kok bos cuek gitu aja sih? Saya bawa oleh-oleh lho, yang bos minta," tanya Dandi memelas.


"Lama!"


What? Apa katanya permirsa? Lama?!


Dandi tertegun mendengar jawaban singkat atasannya. Seakan tanpa punya perasaan dan dosa, mengucapkan kata 'lama'?!


Padahal Dandi sudah berjuang walau bukan antara hidup dan mati. Hanya mencari penjual es kuwut. Tapi dia harus menjelajahi hampir seluruh pinggir jalan raya ibu kota sampai Bekasi. Dandi sudah seperti Marcopolo yang menjelajah samudera hingga menemukan benua Amerika.


Waras gak sih itu makhluk? Kalo seandainya dia bukan asisten yang punya gaji per bulannya bisa membeli satu rumah. Uh, udah habis kali itu orang dijadikan samsak tinjunya.


"Tapi bos... saya belinya jauh lho, sampai Bekasi."


Dandi berusaha bersabar dan membujuk atasannya, agar minimal mau menerima saja udah bersyukur. Apalagi mau meminumnya sampai ludes. Bisa tepuk tangan dua puluh jari nih.


"Saya udah gak mau lagi. Selera minum es kuwut saya udah hilang. Gara-gara kamu kelamaan belinya," rajuk Garda.


Bener-bener nih orang bikin Dandi tepok jidat karena dongkol.


"Saya mau minum es itu jika masih dingin, dan masih ada es batunya. Sedangkan itu udah gak dingin, juga es batunya udah meleleh," terang Garda tanpa rasa berdosa.


"Yaelah bos... kaya orang ngidam aja. Udah deh, terima aja yang penting es pesenan si bos udah sampai tujuan. Oke?" rayu Dandi membujuk Garda mau menerima apa adanya.


Garda mendongakkan wajahnya menatap Dandi serius. Mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang diperiksanya.


"Eh, tadi apa kata kamu?"


"Apa bos?" Dandi balik tanya bingung.


"Tadi... kamu bilang saya kaya apa? Kaya orang ngidam?"


Garda akui hubungannya dengan Bianca memang sudah cukup jauh. Mungkinkah tunangannya itu hamil? Tapi dia selalu antisipasi dengan menggunakan pengaman.


"Iya, abisnya di bos minta aneh-aneh ke saya dengan kondisi tiba-tiba," sahut Dandi keki. Namun tidak berani menunjukkan kemarahannya pada sang atasan.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Garda, tiba-tiba mengalihkan perhatian bos dan asisten itu.


Tidak berselang lama pintu pun terbuka. Setelah sebelumnya mendapat izin dari si empunya ruangan.


"Pak, ini berkas yang bapak minta udah selesai saya buat," ujar Meella seraya meletakkan file di tangannya ke atas meja kerja bosnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Garda baru teringat saat melihat wajah Meella. Ya, pria muda itu baru ingat pernah melakukan hubungan **** dengan gadis di depannya. Walau yang pertama tidak disengaja karena dalam kondisi tidak sadarkan diri. Dan untuk kali kedua dia memang pengen sih. Tapi ketahuilah, kedua hubungan yang dilakukannya tanpa pengaman.


****! Mungkinkah Meella hamil?!


__ADS_2