
Sebelum baca lanjutan ceritanya, kuy kita senandung dulu. Lagu melow lawas punya Om Deddy Dores dan Mbak Mayang Sari. Yang lahir tahun 80an sampai 90an pasti tahu. Judulnya,
Jangan Pisahkan
Biar cinta terhalang gunung dan samudera
Aku tetap memegang janji ku padamu
Biar jurang yang terjal ada di depanku
Takkan goyah sumpahku kepada dirimu
Kita bagai kumbang dan bunga
Hati ku pasti hatimu jua
Namun mengapa ada saja
Yang benci tulus cinta kita
Jangan pisahkan aku dan dia
Tuhan tolonglah kucinta dia
Biarkan kami tetap bersama
Di dalam suka dan duka
...----------------...
Kelar nyanyi, tarik napas dulu. Jangan lupa dihembuskan ya. Yuk kita baca cerita selanjutnya.
Happy reading...
********************
Seminggu setelah hampir yang katanya pertemuan keluarga, namun berujung momen menyedihkan hingga menyesakkan dada. Selama itu pula Qameella tidak pernah keluar rumah. Ponselnya pun disita Gusti lagi. Ya, karena sebelumnya pernah mengalami hal yang sama. Tentu saja dengan tujuan yang sama. Untuk motif beda tipis lah. Pasalnya kalau tempo hari agar bisa fokus belajar. Sedangkan fokus melupakan Garda.
Kasihan, baru menikmati indahnya cinta, kini harus dipaksa saling melupakan. Jangan tanya bagaimana perasaan Qameella sekarang seperti apa. Sudah pasti patah hati. Bawaannya pengen kabur aja. Tapi, cuma sekedar niat doang sih... hehehehe...
Begitu pula dengan Garda, tidak kalah nyesek so pasti patah hati juga. Karena lagi sayang-sayangnya coy. Pengen bawa kabur aja deh ke tempat yang cuma ada mereka berdua aja deh. Ya, tapi... belum ada kesempatan. Dan sepertinya dia emang harus segera mengatur siasat, serta bala bantuan untuk memuluskan rencananya.
*
Basecamp Geng ABABIL
"Bro, gimana tindakan lo selanjutnya?" tegur Ryan prihatin. Berkali-kali usaha ketua geng-nya untuk menemui pujaan hatinya, Qameella selalu berakhir dengan kegagalan.
__ADS_1
Orang yang diajak bicara tampak masih diam membisu, bergeming di tempat duduknya sambil menopang sebelah kepalanya hingga condong ke samping kanan.
"Udah aja elo culik calon kakak ipar, abis itu lo ajak kawin lari," cetus Buchek yang tiba-tiba merangsek duduk di sebelah Ryan, tidak peduli dengan hardikan yang diterimanya lantaran sifat tidak terpujinya.
"Eh, Bambang," Ryan mentoyor dahi Buchek, refleks cowok berkulit bersih nyaris terjengkang ke belakang.
"Gak usah pake kawin lari kali... orang si bos Garda udah nikah beneran sama si Meella. Yah, paling kawinnya aja yang belum," tambahnya menjelaskan.
"Hah?! Sumprit lo?" pekik Buchek tidak percaya.
"Sumpah kali, gue gibas lo baru tahu rasa," ujar Ryan gemas, siap melayangkan kepalan tangannya pada bocah yang kadang-kadang alay itu. Namun hanya menggantungnya di udara.
"Santai kali, bro... darah tinggi aja, lo," sungut Buchek sudah memasang posisi menangkis dengan kedua lengannya.
"Huuu huuh," Ryan masih gemas. Buchek hanya nyengir konyol.
"Bro Garda, kalo kalian berdua udah nikah, bukannya jadi lebih gampang buat ambil kakak ipar? Tinggal bilang kewajiban istri harus ikut suami, tenteng dah abis itu. Kelar kan?" Rombeng ambil suara, memberi saran.
Garda hanya menyunggingkan senyum getir. Lalu menggigit ujung ibu jari kanannya seraya menegakkan kepalanya.
"Udah, tapi orang tua kami gak ada yang mengakui pernikahan kami. Gue pun udah usaha buat bujuk bini gue buat nikah ulang di depan orang tua kami. Sayangnya, dia malah nolak," tuturnya menerawang mengingat upayanya agar diakui oleh keluarga. "sebenarnya bukan nolak juga sih. Karena abis pertemuan keluarga kemarin bini gue dikurung di kamar sama bokapnya. HP nya juga katanya diambil sama bokapnya," tambahnya meralat ucapannya. Bahwa penolakan itu bukan murni keinginan Qameella. Melainkan atas desakan dan paksaan Gusti.
Wajah tampan Garda tampak menyendu. Gurat kesedihan tampak jelas tercetak pada wajahnya. Namun tidak mengurangi kadar ketampanannya.
Rombeng, Buchek juga Ryan dan beberapa anggota geng ABABIL yang lain, kebetulan ikut mendengar kisah Garda turut sedih. Ikut merasakan kesedihan hati ketua geng mereka.
*
Gusti sudah memperlakukan Qameella mirip tahanan rumah. Tidak pernah diizinkan keluar rumah, meski hanya pergi ke rumah Tari yang berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Ponselnya pun diambil agar tidak ada komunikasi dengan Garda.
Rasa benci dan marahnya menyatu berubah menjadi dendam. Tentu saja Gusti begitu dendam dengan Andika. Orang yang paling bertanggung jawab atas kehancuran karirnya di masa lalu.
Hanya karena cemburu buta pada hubungannya dengan Karina. Andika tega memecat Gusti dari perusahaannya. Bukan hanya itu. Dia pun mem-blacklist nama Gusti hingga tidak bisa di perusahaan mana pun.
Gusti benar-benar berbeda di titik terendah dalam hidupnya. Belum lagi urusan kebutuhan keluarga yang tidak sedikit. Ditambah kebutuhan si kembar Meella dan Mitha. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk meminta bantuan pada adiknya di kampung mengurus salah satu putri kembarnya. Dengan harapan beban ekonomi yang dideritanya sedikit berkurang. Kendati pada kenyataannya tidak sesuai ekspektasi.
Qameella hanya bisa menangis diam-diam di dalam kamar. Menyesali perselisihan antara Gusti dan Andika. Akibatnya, dia dan Garda yang menjadi korban.
Kini, kisah percintaan antara Garda dan Qameella seperti Romeo dan Juliet. Terpisah karena keegoisan kedua orang tua mereka. Haruskah kisah mereka juga berakhir tragis seperti karya William Shakespeare yang mendunia itu?
Ya Tuhan... mengapa semua ini harus terjadi? lirih batinnya sedih.
*
Musim liburan telah berakhir. Tahun pelajaran baru sudah dimulai. Semua anak sekolah di seluruh Indonesia sudah mulai melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah masing-masing.
Gusti sengaja merepotkan diri sendiri menjadi tukang antar jemput kedua putri kembarnya. Walaupun tujuan utamanya mengawasi Qameella agar tidak bertemu dengan Garda. Tetapi, dia juga harus memproteksi Qarmitha agar tidak terlalu banyak main. Maklumlah saat ini mereka berdua sudah duduk di kelas XII. Mereka harus lebih fokus belajar supaya bisa lulus dengan nilai memuaskan.
__ADS_1
Pria itu sudah mengeraskan hati, dan menuliskan tunggunya. Dia benar-benar tidak peduli dengan seberapa banyak protes dilakukan Qarmitha. Gadis itu memang sangat benci dikekang. Tidak seperti Qameella yang seakan sudah kebal dengan segala kekangan dengan seribu macam dalih. Apalagi Meella sadar sumber petaka itu berasal dari hubungannya dengan Garda. Kian membuatnya pasrah dengan segala konsekuensi yang harus diterimanya.
"Kalo bukan gara-gara hubungan elo sama si cecunguk itu, pasti ayah gak bakalan ngelarang-ngelarang gue main sama temen-temen gue," tuding Qarmitha tidak terima dengan semua aturan Gusti.
Qameella hanya diam. Tidak ingin menanggapi.
"Kenapa sih elo harus pacaran sampai nik
sama si Garda segala?" geram Qarmitha bertambah emosi tidak mendapat respon apa pun dari saudari kembarnya.
"Kenapa gak sama cowok lain, kan banyak?"
Qameella tersenyum getir yang terlihat dipaksakan.
"Apakah ada pilihan buat gue untuk itu? Apakah gue bisa memilih, saat ayah yang lebih care sama elo dibandingkan ke gue? Apa pernah gue pernah protes, sewaktu ayah membiarkan elo ngelakuin segala yang elo suka. Biarin elo masuk klub basket dan sering main di mall tanpa peduli'in nilai-nilai sekolah lo yang anjlok gak ketulungan?" tiba-tiba gadis yang selalu diam dan kalem, memuntahkan segala unek-uneknya bagai lahar yang meleleh dari gunung api yang baru saja meletus dengan dahsyatnya.
Qarmitha tercengang. Meskipun suaranya terdengar datar dan dingin. Tetapi sorot mata Qameella membara seperti kobaran api. Membuat Qarmitha menciut takut.
"Sedangkan gue harus berjuang mati-matian demi mendapatkan perhatian ayah. Gue turuti semua keinginan ayah. Termasuk mengambil jurusan yang gue gak suka. Di saat remaja seusia gue senang menikmati masa remajanya dengan teman sebayanya. Gue harus rela terkurung dalam sepi bersama buku-buku yang bikin otak gue mau meledak."
"Pernah gak sih elo berpikir sedikit aja tentang perasaan gue? Betapa ayah begitu pilih kasih antara elo sama gue? Tahu gak sih elo, gimana menderitanya gue dari umur enam tahun, ayah buang gue jauh dari pandangannya? Apa elo pernah tanya? Nggak kan, Tha? Apa pernah elo tahu gimana perasaan gue, saat orang yang gue sukain ternyata pacaran sama saudari kembarnya sendiri? Apakah elo tahu semuanya, hah?" air mata Qameella jatuh tidak bisa terbendung lagi.
"Nggak kan?"
Qarmitha hanya diam mengingat semua perbuatannya di masa lalu. Hatinya terasa perih tercubit dengan setiap kata-kata saudari kembarnya.
"Karena elo terlalu egois. Elo hanya mementingkan kesenangan sendiri."
Qameella beranjak pergi dari hadapan Qarmitha.
Sejak hari itu, Qameella tidak lagi pernah berbicara dengan siapa pun di rumah. Gadis itu lebih suka mengurung diri di dalam kamar. ***** makannya pun terganggu. Hingga tubuhnya tampak bertambah kurus.
Gusti seakan menutup mata dengan apa yang terjadi dengan salah satu putri kembarnya itu. Dia tidak terganggu dengan semua itu.
Maryam sedih dengan kondisi Qameella yang tidak seceria dulu. Kendati tidak banyak bicara, setidaknya anak itu terlihat lebih hidup. Kini, putrinya itu terlihat hidup tapi tidak bernyawa.
Rasa bersalah dan penyesalan di dalam hati Qarmitha kian menggunung, setelah melihat sikap dingin Qameella padanya. Dia pun sangat sedih karena Gusti seakan sudah tidak peduli lagi pada. Terlebih pada Qameella.
*
Hai readers... sorry dorry ya telat lagi Bae update nya. Mohon maaf nih episode kali ini mengandung bawang. Author pun sampai meneteskan air mata saat menulis episode ini ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Jangan lupa, selain siapin tisu juga kasih author like, vote, hadiah dan komentar ya.
Oya, author ingin membuat novel ini ada season keduanya. Kira-kira dilanjutkan di sini aja. Atau buka lapak baru ya?
Silahkan komen ya. Karena komentar para readers menentukan nasib novel ini ya.
__ADS_1
See you next episode...