
POV Garda.
Ryan langsung melajukan mobilnya membelah jalan raya dengan kecepatan sedang. Garda menyenderkan kepalanya di sandaran kursi di belakangnya. Dengusan panjang meluncur begitu saja dari bibir tipis cowok berkulit bersih dan bermata agak sipit. Dia seakan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Diam-diam Ryan melirik dari ekor matanya. Cowok berambut ikal dan berkulit sawo matang itu sedikit heran dengan sang sahabat. Pagi tadi dia dikejutkan dengan panggilan telepon yang berasal sang ketua gengnya tidak lain adalah Pandega Garda Negara, alias Garda.
Bocah tengik itu sudah mengganggu tidurnya yang indah. Bagaikan seorang raja Garda menitahkan untuk menjemputnya di suatu tempat yang dia sendiri tidak tahu dimana lokasinya. Hanya mengandalkan share loc yang dikirim melalu aplikasi WA Ryan mencari rimba sang pemimpin geng ABABIL. Saking terkejut dan takutnya akan ancaman Garda yang bila datang terlambat menjemput, dia sampai tidak mandi hanya cuci muka menghilangkan belek, dan gosok gigi mengusir bau jigong di mulutnya.
Segaris senyum samar tertarik di sudut bibir tipis Garda. Dia teringat tragedi malam kemarin bersama gadis pendiam itu. Entah mengapa dia mau menarik dan menyeret gadis itu lari bersamanya. Bersembunyi berdua bersama di dalam gang sempit yang gelap. Deru nafasnya yang tersengal serta berhembus mengenai tangan dan wajahnya. Karena posisi mereka yang sangat dekat. Lagi pula tangan jahilnya sudah membekap bibir penuh gadis itu agar tidak bersuara. Aroma wangi bunga dan buah berry manis yang berasal dari tubuh gadis itu masuk menusuk indra penciumannya. Namun terasa lembut dan menggetarkan jiwanya.
Kondisi yang gelap Garda tidak bisa melihat ekspresi wajah sang gadis. Entah berwajah pucat atau datar dia benar-benar tidak bisa melihatnya. Tetapi dia bisa melihat dengan jelas kecantikannya setelah mereka keluar, berdiri tepat di bawah lampu jalan yang cukup terang. Dia tidak memungkiri pesona gadis itu yang terpancar dari wajah juteknya. Gadis itu pun terlihat sangat kaku dan sedikit jaim, seperti belum pernah dekat dengan seorang cowok. Ekspresi wajahnya berubah-ubah tidak bisa terbaca.
Garda sangat menikmati melihat ekspresi salah tingkah yang dengan susah payah tidak ditunjukkan oleh gadis itu, saat dia berhasil menggodanya. Bukan bermaksud narsis, Garda memang cowok yang ganteng. Tidak sedikit cewek yang kepelet dengan tampang rupawannya. Mendadak dia merasa wajah gadis itu tidak terlihat asing. Seakan dia pernah bertemu dengannya sebelumnya. Namun entah dimana, dia sudah tidak mau mengingatnya lagi.
"Bro, cewek tadi cakep juga ya. Nemu dimana lo sama si doi?" tanya Ryan membuyarkan lamunannya. "kira-kira... doi udah punya gacoan pa belum ya?" cowok berlesung pipit itu tersenyum malu sambil menggigit ujung ibu jarinya sendiri. Dia tidak tahu jika Qameella kini sudah sah menjadi istri ketua gengnya. Meskipun secara hukum negara belum sah.
Cari mati nih, bocah tengik! bisik batin Garda.
Tanpa basa basi Garda langsung menarik kerah baju Ryan yang sedang sibuk dengan kemudinya. Sontak cowok yang akrab disapa 'Keling' itu terperanjat kaget. Spontan mobil yang dikemudikan oleng dan akhirnya berhenti saat kakinya menginjak pedal rem. Dia terpaksa menghadap wajah garang Garda. Seteguk salivah susah payah masuk ke dalam tenggorokannya.
" Jangan coba-coba ganggu cewek milik gue, kalo elo masih ingin panjang umur!" ancam Garda yang membuat bulu kuduk Ryan meremang.
Dengan cepat Ryan menganggukkan kepala. Ekspresi ketakutan terpancar jelas dari sorot matanya. Wajahnya pun memucat. Degup jantungnya berpacu seperti langkah kaki kuda yang berderap di lintasan pacuan.
Mampus gue! Gue udah ngusik macan lagi tidur! batin Ryan.
"O,oke! Siap bos!" sahutnya cepat dan terbata.
Tiinn! Tiinn! Tiinn! suara klakson kendaraan di belakang mobil Ryan terdengar bising dan bersahutan.
"Woy! Cepetan jalan! Jangan berhenti sembarangan! Emang ini jalan punya bapak moyang lo!" rutuk seorang pria tepat di belakang mobil Ryan. Pria itu hanya mengeluarkan kepalanya dari jendela mobilnya dengan suara lantang. Dan masih banyak rutukan dari pengguna jalan lain serta suara klaksok yang memekak telinga.
Menyadari telah mengganggu kelancaran laju lalu lintas jalan, Garda langsung melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Jalan!" titahnya menormalkan posisi duduknya.
"Si-si-siap bos!" Ryan segera melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Bau asem lo!" rutuk Garda mencium aroma tidak sedap dari tubuh Ryan. "belum mandi lo ya?" lanjutnya langsung menebak.
Gimana gue mau mandi, kalo elo cuma kasih waktu gue sepuluh menit. Lagian elo juga belum mandi kan, bro? rutuk batin Ryan kesal.
"Gak sempet bro!" sahut Ryan asal.
"Jorok lo!"
Ryan hanya tersenyum getir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Anterin gue beli cincin." titah Garda tanpa melirik Ryan.
"Dimana bro?" tanya Ryan polos.
"Di toko material." jawab Garda sewot.
"Hah?!" mulut Ryan terbuka lebar. Kepalanya terpaksa menoleh ke samping, melihat orang yang terkadang aneh sedunia. Coba aja pikir, pagi-pagi udah nyusahin orang minta dijemput. Cuma tanya tentang cewek tadi hampir bikin pendek umur. Nah, sekarang dia minta dianterin beli cincin tapi di toko material. Emang mau beli semen, pasir, batu dan ***** bengek lainnya, yang setahu manusia dari jaman purba sampai jaman serba ada, semua barang itu buat bikin rumah bukan buat ngecor tangan orang.
"Ya di toko perhiasan lah. Lo pikir gue mau beli pasir buat bangun rumah?"
Ryan hanya mendengus berat.
"Apa?" bentak Garda dengan sorot mata tajam siap menikam.
"Peace, bro! Peace..." dengan senyum konyolnya Ryan langsung mengacungkan dua jari kirinya, jari telunjuk dan tengah sebagai tanda perdamaian.
Hufth! Garda mendengus kesal. Dia kembali menatap ke depan. Melihat jalan raya di hari minggu pagi tampak sedikit lengang tanpa aktifitas layaknya hari-hari aktif seperti biasanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 pagi. Ketika mobil yang disetir Ryan tiba dan masuk ke dalam basement sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Bekasi.
"Gue laper nih." imbuh Garda saat baru turun dari mobil.
"Iya nih, gue juga laper bro." timpal Ryan.
"Ya udah, kita cari makan dulu aja sebelum beli cincin." cetus Garda memimpin jalan.
"Assiaaap!" sahut Ryan agak lebay.
__ADS_1
"Humph! Korban you tube lo!" Garda hanya menolehkan wajahnya sedikit ke arah Ryan yang sedang berjalan di belakangnya.
"Heheheh." Ryan hanya nyengir kuda.
Setelah selesai makan yang entah disebut sarapan atau makan siang. Pasalnya terlalu siang bila disebut sarapan. Walaupun pada kenyataannya kedua cowok itu memang belum sarapan pagi. Namun bila dibilang makan siang waktunya kurang pas. Ya udah deh gak penting juga dibahas. Yang penting judulnya makan bro... isi perut supaya kenyang. dan cacing-cacing dalam perut anteng. Garda dan Ryan singgah di sebuah toko perhiasan di lantai dua.
"Lo ngapain beli cincin sih, bro? Mana yang elo pilih mirip cincin kawin lagi." telisik Ryan penasaran.
"Ini emang cincin kawin, Udiiiin." sahut Garda. Segaris senyum tertarik disudut bibirnya.
"Gaya-gayaan lo pake beli cincin kawin segala. Kaya mau nikah besok aja." Ryan mengalihkan pandangannya ke arah sudut lain.
"Bukan mau nikah besok. Tapi gue emang udah nikah." sahut Garda ringan seakan tanpa beban. "tapi gue belum kasih dia cincin kawin." tambahnya sambil memandangi cincin yang baru saja dipilihnya.
"Hah?! Sumprit lo?" sontak Ryan memutar kepalanya melihat Garda yang duduk di sebelahnya. "kapan?"
"Tadi pagi." senyum Garda mengembang saat memandangi cincin yang sudah tersemat di jari manisnya. Cincin emas putih dengan detil sederhana. Bertahtakan berlian kecil di bagian tengahnya.
"Anjir! Ce-cewek mana yang sial," Garda mendelikkan matanya. "eh, beruntung." buru-buru Ryan meralat ucapannya, lalu ditampar bibirnya sendiri yang kepeleset berbicara. "nikah sama ketua geng ABABIL yang super keren." pujinya agar dapat pengampunan.
Garda tersenyum lebar.
"Saya ambil yang ini aja ya, mbak." ujar Garda mengalihkan pembicaraan kepada penjaga toko. "bisa pakein nama gak di dalam cincinnya?"
"Bisa. Tapi harus menunggu dua hari baru jadi." jawab penjaga toko tersebut.
"Dua hari lagi ya? Oke." Garda menyodorkan cincin di tangannya kepada penjaga toko.
"Mau menggunakan transaksi apa? Cast atau kredit?"
Garda langsung menyodorkan kartu kredit gold dari dalam dompetnya dengan senyum semringah.
*****
🙋 Hai-hai readers... up lagi nih... semoga ceritanya seru ya. Jangan lupa kasih vote ya
__ADS_1
untuk mendukung karya author di Tim A yang ibarat orang lari, masih merangkak. Juga like dan komen positif yang selalu author tunggu sebagai penyemangat untuk selalu update, update, dan update. Soalnya kalo karyanya sepi tanpa vote, like juga komen, author jadi lemes dan gak semangat update lagi.
Happy reading ... 🥰🥰🥰