Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Tanggung Jawab


__ADS_3

🙋Hai readers... 🙏 maaf ya untuk saat ini author masih belum bisa update secara rutin. Dan kalo pun update gak bisa lebih dari 1 episode. Karena masih begitu banyak tugas author di dunia nyata. Jadi, harus banyak bersabar deh ya para readers-ku... 🤗✌️


Jangan lupa kasih vote, like juga komen pada karya author ini. Yang masih sepi vote, like dan komen dari para readers. Kalo bisa boom like ya... 🤭🤭🤭


Happy reading... 😁😁🥰🥰


 


"Kenapa mendengus?" tanya Garda di ujung telepon.


"Emangnya kenapa? Ada masalah?" bukannya menjawab Meella malah balik tanya.


"Enggak sih? Cuma gue heran aja. Elo lagi pilek, apa sesak napas?"


"Apa hubungannya?" Meella menganggkat sebelah alisnya.


"Adalah... semuanya berhubungan dengan pernapasan."


Meella menarik sudut bibir sebelah kanannya sambil mendengus.


"Tuh kan, elo mendengus lagi."


"Apa sih lo gak penting banget." Meella mulai sebal dengan cowok yang berada di seberang sana.


"Kata siapa gak penting?" Garda ikutan kesal. "pentinglah! Elo penting buat gue sekarang. Karena gue punya tanggung jawab terhadap elo, bini." jelasnya.


"Elo jangan lebay deh, gue kan gak hamil. Jadi buat apa gue minta tanggung jawab lo."


Garda terkekeh geli saat mendengar kata 'hamil'.


"Oh, jadi elo minta gue hamilin? Gak papa, dengan senang hati." selorohnya membuat Meella terkejut.


"Ih, mesum lo!" hardiknya, menegakkan posisi duduknya.


"Kan elo sendiri yang ngomong. Kalo elo gak minta tanggung jawab gue karena elo gak hamil. Jadi, berhubung gue mau tanggung jawab berarti gue harus hamilin elo dulu. Sah-sah aja kan? Toh, kita berdua emang udah sah."


Ck! Dasar cowok gesrek!


"Bukan begitu maksud gue." Meella hampir nangis. Karena terlalu kesal dengan ucapan jahil cowok asing, namun sudah resmi menjadi suaminya secara agama. Tetapi sampai detik ini dia belum memberitahu satu orang pun di rumahnya, atau teman-temannya akan statusnya.

__ADS_1


"Oke, oke, gue ngerti maksud lo kok." ujar Garda menenangkan Meella. Dia tertawa pelan.


Meella memasang wajah cemberutnya.


"Bini, gue mau kita bisa dekat, dan berusaha saling mengenal satu sama lain, sebelum kita benar-benar menjalani rumah tangga yang sebenarnya." pinta Garda serius.


Gadis itu tersentak kaget mendengar pernyataan Garda yang terdengar tidak main-main.


"Ck! Elo ngomong apaan sih? Ngencing aja belum lurus udah ngomongin rumah tangga." ucap Meella sarkas. "lagian kita kan masih anak SMA, masih terlalu muda buat mikirin hal begituan. Mending elo pikirin tentang sekolah. Karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Belajar deh yang rajin supaya bisa naik kelas. Terus lulus tepat waktu. Emangnya elo mau ya jadi siswa abadi, bangkotan di sekolah?" lanjutnya menasihati.


Hati Garda menghangat mendapat nasihat seperti itu. Lalu ditanggapi dengan kekehan. Mendengar nasihat cewek yang sudah mengisi relung hatinya, membuatnya merindukan sosok ibu yang selama ini tidak pernah didapatnya.


Biasanya dia akan marah besar bila ada yang menasihati atau menceramahinya tentang kehidupan pribadinya. Tidak terkecuali Andika Satya Laksana. Pengusaha kaya raya yang memiliki kerajaan bisnis sampai keluar negeri. Pria yang sudah membesarkannya selama tujuh belas tahun di dalam istana megah, tapi tidak ubahnya sangkar emas yang hampa. Pasalnya sejak usia tujuh tahun, Satya bercerai dengan Karina. Seorang wanita mandiri dan suses menjadi seorang wanita karir. Dari pernikahan mereka telah melahirkan sepasang anak kembar lelaki, yaitu Rega Garda Bangsa dan Pandega Garda Negara.


Akibat dari perceraian itu si kembar Rega dan Garda hidup terpisah. Karena hak asuh Rega jatuh pada Karina, sementara Garda berada dalam asuhan Andika. Maka tidak aneh bila keduanya memiliki sikap dan kepribadian yang berbeda. Lantaran diasuh oleh orang yang berbeda.


"Baik, bu guru..." sahutnya bercanda.


"Elo tuh gue ngomong serius malah dianggap bercanda." Meella merajuk. "ngeselin!"


Baru kali ini Meella bisa bicara panjang lembar dengan seorang cowok yang baru dikenalnya. Biasanya dia akan berbicara seperlunya. Tidak seperti berbicara dengan Garda saat ini. Cowok itu berhasil membuatnya orang yang paling banyak omong hari ini. Bahkan tanpa disadarinya sesekali berbicara sarkas pada lawan bicaranya.


"Sori, sori, jangan marah gitu dong... biniku sayang..." rayunya lalu terkekeh sendiri.


"Siapa lagi elo lah!" sahut Garda cepat. "bini... kayanya gue mulai jatuh cinta deh sama elo." lanjutnya lembut.


Meella membulatkan bola matanya mendengar pernyataan cinta Garda yang begitu tiba\-tiba.


"Mana mungkin? Paling elo cuma lagi gombalin gue kan, supaya gue kege\-eran sama elo." kilahnya tidak percaya. Walau pun dalam hati dia tidak memungkiri telah tersentuh.


Garda mendengus berat. Sepertinya dia kecewa dengan respon yang ditunjukkan Meella.


"Gue tahu gue bukan tipe cowok romantis, yang bisa merangkai kata seperti pujangga. Jadi wajar kalo elo gak percaya dengan ucapan kagak manis gue ini. Tapi gue janji, gue akan menunjukkan perasaan gue sama elo dengan sesuatu yang lebih konkret." tuturnya jujur.


Meella terdiam menyimak semua kalimat yang meluncur dari bibir Garda. Kalo boleh jujur ucapan cowok yang enggan diakui sebagai suaminya, mampu menggetarkan hatinya. Tanpa sadar setetes cairan bening terjun bebas dari pelupuk matanya.


Tiba\-tiba terdengar suara bising yang berasal dari mesin kendaraan di seberang telepon sana. Suara yang diyakini bersumber dari knalpot sepeda motor. Walau pun samar masih terdengar jelas menusuk masuk ke dalam gendang telinga Meella. Dari suara itu dia bisa menebak dimana keberadaan Garda saat ini.


"Kedengarannya berisik banget. Elo lagi dimana?" selidik Meella.

__ADS_1


"Oh, biasa... gue lagi di jalan bareng teman\-teman." sahutnya santai.


"Lagi di jalan bareng teman\-teman?" tanya Meella mengulangi.


"Iya, kenapa?" kat Garda balik tanya.


Selintas kenangan saat awal perjumpaan dengan Garda berputar dalam memori otak Meella. Jalan raya yang dijadikan lintasan balap liar. Dimana para penonton yang telah memadati pinggir lintasan, berteriak menyemangati nama kedua pembalap. Dan... salah satu peserta balap itu adalah Garda.


"Elo ikut balapan liar lagi ya?" todong Meella tanpa basa-basi.


"Lagi? Kenapa lagi? Orang gue sering ikut balapan liar kok." protes Garda.


"Apa, sering?!" Meella tampak terkejut.


Aduh! Ya ampun, kenapa gue jadi panik gini? Dia udah biasa kali. Sebelum kenal gue, dia juga udah ikutan balapan liar. So what gitu? Ngapain gue khawatirin dia? batin Meella tiba\-tiba berkecamuk hebat. Antara ingin cuek tetapi terselip rasa khawatir.


"Bini, udah dulu ya. Lain kali kita teleponan lagi." cicit Garda sebelum mengakhiri sambungan teleponnya, setelah sebelumnya salah satu temannya memanggilnya. Kemudian memintanya segera bergabung. "doain gue biar gue menang. Oke?" tandasnya langsung mengakhiri sambungan teleponnya tanpa menunggu balasan dari Meella.


***Besok sore gue jemput elo, tunggu di tempat biasa***


Sebuah pesan singkat dari Garda mengisi kotak masuk ponsel Meella, yang langsung dibacanya.


Meella menyandarkan punggungnya pada bantal yang telah disusun tinggi di balik punggungnya. Dia mendengus resah. Entah apa yang terjadi di luar sana. Juga entah apa yang terjadi pada hatinya saat ini. Gadis berambut panjang nan lurus itu tidak dapat mengartikannya sendiri.


Di tempat yang berbeda, Garda tampak ceria dan penuh semangat setelah berhasil menghubungi Meella. Obrolannya yang hanya memakan waktu beberapa menit, seakan mampu membangkitkan *moodbooster*\-nya.


"Kenapa lo, Bro?" tegur Ryan heran. Tidak seperti biasanya ketua gengnya itu terlihat sangat bahagia.


"Biasa aja." sahut Garda santai, duduk di atas sepeda motornya sambil memakai helm kebanggaannya. "emang kenapa? Ada yang aneh?" lanjutnya penuh selidik.


"Gak sih, cuma sikap lo rada aneh aja. Gak kaya biasanya."


"Emanganya gue gimana kalo biasanya?"


"Yah... biasa aja." jawab Ryan bingung.


Garda menaikkan satu alisnya mendengar jawaban Ryan yang menurutnya tidak masuk akal.


"Ah! Ora danta lo!" hardiknya. Kemudian melajukan sepeda motornya menuju tengah lintasan bergabung dengan dua peserta lainnya.

__ADS_1


Setelah hitungan ketiga dan bendera start diangkat, ketiga *rider* jalanan itu langsung menarik gas sepeda motornya. Sorak sorai penonton membahana memecah keheningan malam. Deru suara mesin sepeda motor ketiga *rider* juga terdengar bersahutan memekak terasa telinga. Mereka berkejar-kejaran membeleh jalan raya yang tidak terlalu lengang menuju garis finish.


 


__ADS_2