
Hai readers... maaf ya author telat update lagi. Soalnya aplikasi yang author punya tidak sengaja kehapus. Otomatis cerita yang udah author cicil sedikit demi sedikit raib bersama hilangnya aplikasi. Sekarang author nulis ulang dari awal 😭😭😭
Jangan lupa untuk vote, like n komentar kalian agar karya author bisa dapat rengking 😁🙏
Happy reading...
...****************...
Suasana canggung terasa menyelimuti ruang tamu keluarga Qameella dan Qarmitha. Bukan salah ruang tamu atau rumahnya. Tapi dasar Qameella, cewek pendiam itu yang mendadak speechless sekaligus gugup itu, tidak tahu harus berbuat atau berkata apa menyambut kedatangan tamu-tamu lelaki tanpa diundang, namun sangat istimewa seperti mereka.
Degup jantung yang bertalu membuatnya kian hilang wicara. Diam-diam dia hanya mampu memainkan jari-jarinya yang saling mengait agar kebekuan ini bisa mencair, namun pada kenyataannya tidak membantu sama sekali. Maklumlah Qameella terlalu banyak kekangan dari Gusti, yang secara otomatis membuatnya tidak bisa bebas bergaul dengan banyak orang. Alhasil gadis kuper itu tidak pandai bersikap dengan lawan jenisnya.
Eh... gue harus ngomong apa ya?
Setali tiga uang dengan Qameella. Garda pun mendadak jadi orang yang pendiam. Entah karena terbawa suasana. Atau ketularan cewek yang sudah menjungkirbalikkan dunianya. Cowok berisik dan aktif itu berubah pasif dan kalem.
Rombongan terpaksa menyikut Ryan yang duduk di sebelahnya. Saat ini dia bersama Ryan dan Tikeng duduk di sofa panjang. Sementara Garda duduk di sofa single yang berhadapan dengan Qameella. Mereka dibatasi oleh meja kaca persegi panjang di tengahnya.
Cowok itu tampak frustasi berada dalam suasana yang mirip seperti kuburan. Bagaimana tidak, dari sekian banyak orang tidak ada satu pun yang bersuara. Menyuruhnya meneguk teh hangat yang telah tersedia di atas meja pun tidak. Padahal tenggorokannya terasa kering, minta dibasahi dengan guyuran teh manis, serta mencicipi kukis kering buatan Qameella.
Sontak Ryan menoleh ke arah Rombeng seraya menggerakkan kepalanya, seolah sedang bertanya, 'kenapa?'
Kemudian Rombeng menjawab pertanyaan Ryan menggunakan bahasa isyarat. Sudah tentu tidak bisa mengerti oleh cowok bertubuh subur itu.
"Ngomong apaan sih lo, gak danta banget?" bentak Ryan yang langsung mendapat tatapan tajam sang ketua geng, Garda. Sedangkan yang lain menatapnya heran.
"Elo sih," decak Rombeng menyalahkan.
"Gara-gara elo," balas Ryan tidak mau disalahkan.
"Stop!" seru Garda dengan suara menggelar, mampu menciutkan nyali Rombeng, Ryan dan Tikeng. Tidak ketinggalan Qameella. Gadis itu tampak terperangah, kaget dengan sikap tegas Garda yang mampu membungkam ketiga temannya.
Dengan sekali gerakan kepala Garda, ketiga cowok itu langsung mengerti apa yang dimaksud sang ketua. Mereka segera menyingkir meninggalkan tempat duduknya masing-masing.
"Maaf, mereka emang kaya gitu. Pada rese gak bisa anteng sedikit," cicit Garda.
Qameella tersenyum kaku.
"Gak papa sih... malah enak jadi rame," sahutnya asal-asalan. Garda tersenyum canggung.
"Woy! Pada mau kemana?" tegur Qarmitha hangat. Menghentikan langkah ketiga cowok yang bisa dibilang lumayan ganteng. Karena ganteng relatif, kalau jelek mutlak hukumnya.
"Kita mau nunggu di luar aja, Tha. Dari pada di sini cuma jadi obat nyamuk doang," jawab Rombeng sambil melirik sepasang kekasih yang masih setia pada kebisuannya.
Qarmitha ikut melihat ke arah Rombeng lirik. Dia langsung mengerti.
"Ya udah, biarin aja mereka seperti itu. Gak usah dipikirin, apalagi diliatin cuma bikin sakit mata doang. Mending kita makan aja," tuturnya santai. "elo semua belum pada makan malam kan?"
Rombeng, Tikeng dan Ryan tidak menampik ajakan Qarmitha. Terutama Ryan yang paling semangat jika urusan makanan.
Sebelum beranjak ke ruang makan yang menyatu dengan ruang dapur, Qarmitha mengajak Qameella dan Garda ikut bergabung dengan mereka.
Kini sepasang gadis kembar ditemani empat orang cowok ganteng, dengan tingkat ketampanan sesuai grafik bergelombang. Duduk di kursi makan mengelilingi meja persegi panjang. Di atasnya sudah tersedia nasi putih, ayam goreng kremes, sambal korek, tahu bacem, tempe orek dan sayur sop ayam, tapi isinya hanya terdapat kepala dan ceker ayam saja. Karena bagian badan dibuat ayam goreng kremes.
"Wah... mantul banget. Ini semua elo yang masak, Tha?" selidik Tikeng basa basi.
"Elo jangan nyindir gue kaya gitu dong, Keng..." Qarmitha merasa tercubit dan malu dengan pertanyaan cowok jangkis itu. "mana bisa gue masak."
"Nah, terus siapa yang masak?" Rombeng jadi penasaran. "nyokap lo?"
__ADS_1
"Nyokap gue belum pulang, masih di warung," jawabnya jujur. Dia melirik saudari kembarnya yang duduk bersisian dengan Garda. "Siapa lagi kalo bukan kembaran gue," Qarmitha mengayunkan dagunya menunjuk Qameella. Kontan para cowok itu mengalihkan pandangan mereka pada gadis berkacamata minus di depan mereka. "kalo gue sih... tugasnya tinggal makan doang hehehe..." lanjutnya tertawa sumbang.
Tanpa berlama-lama Qarmitha mempersilahkan mereka segera mengambil makanan yang mereka suka. Dimulai dari Rombeng, Qarmitha, lalu Ryan yang nyaris menguras habis panci nasi. Beralih mengambil lauk pauk satu demi satu. Namun dengan jumlah besar. Tepatnya porsi double yang cukup dimakan oleh dua atau tiga orang. Membuat mereka semua tercengang sambil menelan ludah masing-masing dengan susah payah. Dan geleng-geleng kepala.
"Busyet dah, Keling! Nggak kira-kira. Itu perut apa karung, ckckck, ehm, ehm," Tikeng geleng-geleng kepala melihat piring Ryan yang sudah penuh menggunung. Kemudian cowok bertubuh paling irit dari ketiga cowok lain, meraih panci nasi.
"Wah, bener-bener karung bolong lo, Keling," umpat Tikeng geram. "tega lo, cuma ninggalin nasi secomot," menunjukkan nasi yang tidak seberapa di atas piringnya. "lauk juga tinggal sedikit lagi. Dasar perut karung beras. Emangnya elo gak mikir apa, yang belum kebagian nasi sama lauknya bukan gue aja. Tapi ada si bro Garda juga Meella."
Ryan memucat mendengar nama Garda disebut. Dengan gerakan kaku memutar kepalanya menatap wajah Garda yang juga sedang menatapnya tajam. Bulu kuduknya meremang. Dia langsung nyengir kuda menunjukkan deretan gigi yang nyaris tidak bisa menahan isi dalam mulutnya yang terlalu penuh. Hingga menunjukkan mimik lucu wajahnya.
"Bosss... hehehe..."
Garda mendengus kasar sambil memutar bola matanya malas.
"Gak papa, masih ada sisa makanan di dalam lemari," Qameella beranjak dari tempat duduknya. Beralih ke lemari gantung di atas kompor.
"Sorry... semua sisa makanan udah gak ada. Soalnya udah gue keluarin semua di sini,"
Qarmitha menginterupsi dengan nada suara rendah.
Qameella menatap saudari kembarnya dengan tatapan tidak terbaca. Dia hanya diam membuat semua orang merasa tidak enak hati dan bersalah.
Garda mengusap wajahnya kasar. Tidak enak hati karena tidak bisa mendisiplinkan anak buahnya yang ternyata sangat rakus. Mereka semua seperti orang yang belum makan berhari-hari.
"Gak papa, masih ada bahan makanan di kulkas. Gue bisa masak lagi," entah sejak kapan Qameella sudah berdiri di depan kulkas yang telah terbuka pintunya.
Garda menatap lekat gadis yang sedang mengambil beberapa bahan makanan. Bibirnya melengkung membentuk senyuman.
"Elo bisa menunggu kan sampe gue kelar masak?" tatapan mata Qameella tertuju pada Garda. Cowok itu langsung mengangguk mengiyakan.
Gadis itu langsung mengeksekusi bahan makanan. Mencuci lalu memotongnya menjadi beberapa bagian dengan cepat. Hingga menimbulkan suara khas pisau yang beradu pada talenan. Bumbu-bumbu yang akan digunakan sudah siap tersedia. Menyalakan kompor, setelah sebelumnya meletakkan wajan di atasnya.
"Gimana, enak gak rasanya?" tanya Qarmitha menginterupsi.
Qarmitha mengernyit heran. Dia hanya penasaran, mengapa Garda selalu memanggilnya dengan sebutan'Bini'. Padahal umumnya orang berpacaran, selalu menggunakan nama-nama yang familiar. Seperti beb, honey, sayang atau sebagainya. Lalu kenapa Garda menggunakan kata Bini?
"He-eh, bro. Elo emang cowok beruntung," timpal Rombeng juga.
Garda hanya tersenyum sumbang menanggapi komentar-komentar anak buahnya yang lebih pantas disebut setan lapar.
Tikeng terpaksa makan seadanya. Tapi cukup untuk mengisi perutnya yang selalu rata.
Tidak sampai lima belas menit Qameella dapat menyelesaikan masakannya. Bersamaan dengan itu, keempat orang yang sedari tadi menikmati makanan malam tanpa mengindahkan Qameella dan Garda pun selesai.
Qarmitha menumpuk piring kotor di dalam bak cuci piring dekat kompor, bersama perabotan kotor lainnya yang juga sudah menumpuk di sana. Setelah itu dia menggiring ketiga cowok jago makan ke ruang tamu dan mengobrol di sana.
Suasana hening mengisi ruang makan yang menyisakan Qameella dan Garda. Kedua insan berbeda jenis kelamin itu kini sedang menghadap piring makan masing-masing. Piring yang sudah terisi lengkap nasi serta lauk pauknya, dan siap untuk disantap.
Garda menatap hasil karya Qameella dengan takjub. Hatinya menghangat mendapat perlakuan yang menurutnya istimewa. Untuk pertama kalinya sejak menikahi gadis yang duduk di sampingnya. Dia dilayani dengan baik. Walau pun hanya dimasaki dan diambilkan makanan untuk mengisi piringnya yang kosong. Baginya suatu prestasi yang membanggakan. Dia seakan menjadi lelaki beristri dalam arti yang sebenarnya.
Tiba-tiba Garda jadi teringat masa kecilnya yang selalu dilayani oleh Mamanya saat makan. Wanita itu memang selalu memasak makanan kesukaannya dan Rega. Setelahnya menyuapinya agar mau makan dengan lahap dan habis.
Entah sudah berapa lama gue gak ngerasain suasana seperti ini lagi? Ada yang masakin, nyiapin makanan, sampai nyendokin ke piring gue. Hufth!
"Kenapa?" teguran Qameella menyentak Garda dari angannya. Sedari tadi cowok itu belum menyentuh makanannya sedikit pun. "gak suka sama lauknya? Atau gak enak?"
Garda buru-buru menggelengkan kepalanya agar Qameella tidak salah paham.
"Nggak. Masakan kamu enak. Tapi..." dia ragu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi apa? Gak suka atau gak selera makannya?"
Garda menggeleng lagi.
"Bukan. Saya jadi ingat Mama. Dulu, Mama yang sering buatin makanan saya. Terus, nyiapin..."
"Elo minta disuapin?" Garda terkesiap ketika Qameella bisa menebak pikirannya. Tatapan mata gadis di hadapannya tak terbaca, namun terasa hangat.
Garda hanya mengangguk pelan.
Tanpa basa-basi Qameella meletakkan sendok di tangannya. Lalu mengambil sendok di piring Garda. Mengambil nasi yang dicampur dengan potongan kecil ayam kecap dengan sendok makan. Setelahnya menyorong di depan mulut Garda.
"A... buka mulutnya!" titah Qameella yang tidak bisa dibantah Garda. Tatapan mata Garda berubah sendu dengan air mata tertahan. Perlahan cowok yang terkenal paling sangar di depan musuh-musuhnya. Mendadak melow di depan seorang cewek kalem seperti Qameella.
"Makasih," ujarnya lirih.
Qameella hanya mengangguk pelan dengan senyum mengambang di sudut bibir penuhnya, menjawab ucapan terima kasih Garda.
"Eh... tadi siang kamu datang ke rumah sakit jenguk... saya," Garda mengalihkan pembicaraan. Ada sejumput ragu bersarang di dalam hatinya. Dia hanya khawatir akan dikatakan gr bila berkata terlalu terus terang. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari egonya.
Qameella langsung meletakkan sendok makan di tangannya di atas piring Garda kembali. Mimik wajah Qameella yang gugup terlihat kentara sekali di mata Garda. Dia sepertinya sengaja menghindari tatapan mata cowok itu. Mengalihkan pandangannya sambil memutar tubuhnya lurus ke depan. Tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir ranumnya.
"kenapa... kamu gak masuk ke dalam?" Garda sangat hati-hati sekali saat bertanya. "apa... karena ada Fio..."
Qameella menyunggingkan senyum kaku yang dipaksakan. Bila boleh memilih gadis itu tidak ingin menjawab pertanyaan konyol ini.
"Gue gak datang di waktu yang tepat. Intinya cuma itu," jawabnya ambigu. Menundukkan wajahnya menatap piring yang masih terisi lengkap.
"Tapi..."
"Gak usah dibahas. Sebaiknya elo habisin makanan lo. Setelah itu elo pulang. Elo masih sakit, pastinya harus banyak istirahat supaya cepat sembuh," sergahnya dingin. Dia memang ingin melupakan kejadian siang tadi di rumah sakit. Jadi, tidak perlu dibahas lagi. Tidak usah.
Baru sebentar Garda menikmati hangatnya keluarga kecilnya bersama Qameella. Kini kembali terjebak dalam keheningan. Tidak ada satu pun di antara Qameella atau Garda yang bersuara. Hanya terdengar suara denting sendok yang beradu dengan piring.
Dengan cekatan Qameella mencuci semua piring kotor dan segala perabot rumah tangga yang bertumpuk dalam bak cuci piring. Suara dentingan piring, sendok dan perabot lain menghias dapur kecil itu. Dilanjutkan dengan suara air mengalir untuk membilas.
Garda masih duduk di kursi makan sambil memperhatikan istri kecilnya menyelesaikan tugas rumah tangga. Beginikah rasanya jika nanti sudah benar-benar hidup bersama? Pikiran Garda terus berkeliaran memikirkan rumah tangga yang belum terbentuk sempurna bersama Qameella. Ya, dia sangat merindukan keluarga yang utuh.
"Bisa saya bantu mengerjakan sesuatu?" tanya Garda mengenyahkan keheningan.
"Tidak usah. Semuanya udah selesai," sahut Qameella sambil memutar keran air agar menjadi mode off. Setelahnya mengelap tangannya yang basah pada handuk kecil menggantung di dinding atas keran air.
"Sekarang udah malam. Elo gak buru-buru pulang?" entah sedang menegur atau mengusir Garda, yang jelas ucapan itu melukai hati cowok itu.
"Kamu ngusir saya, Bi?" Garda berdiri dari duduknya.
"Nggak. Gue gak ngusir elo. Tapi ngingetin," sanggahnya. Suaranya terdengar lembut dan tenang. Tidak ada penekanan. "karena memang seharusnya orang sakit banyak istirahat. Gak boleh keluyuran di luar rumah."
"Bi... bisa gak saya tinggal di sini aja?" Qameella membulatkan matanya terkejut mendengar permintaan konyol Garda.
"Jangan ngaco deh!"
"Bi, kita kan udah nikah. Status kita juga suami istri. Wajar dong kalo kita tinggal serumah." Garda berjalan tertatih. Ya harus tertatih, hampir saja lupa.
"Sebentar lagi ayah sama mama gue pulang. Gue gak mau mereka marah. Sebaiknya elo pulang sama konco-konco lo," Qameella sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Kalo kamu gak ngizinin saya tinggal di sini. Gimana kalo kamu tinggal di rumah saya. Yah... walau pun masih numpang sama bokap. Tapi boleh dong saya bilang rumah saya juga," Garda tetap kukuh pada topik pembicaraannya semula.
"Gar."
__ADS_1
"Bi. Kita gak bisa terus-terusan tinggal berjauhan kaya gini. Ingat lho, kewajiban kamu sebagai istri. Kamu...."
"Stop!" Qameella mengangkat telapak tangannya menginterupsi. "gue bukan istri lo, titik!" tukasnya membuat Garda terkejut.