
Hai para readers... mohon maaf masih belum bisa crazy up ya. Dan author juga tidak punya stok cerita, Jadi baru bisa update kalo ceritanya benar-benar udah selesai author tulis ya. Harap para readers semua bisa mengerti.
Happy reading...
*****************************************
Qarmitha sudah berangkat mengajar setelah membantu mencuci piring bekas sarapan pagi ini. kini gadis itu tengah fokus pada murid-muridnya yang sudah berseragam olahraga. Mereka semua tengah melakukan aktifitas dalam pelajaran olahraga di lapangan serbaguna sekolah. Kebetulan hari ini jadwal untuk kelas IX - 7.
Suara pluit yang selalu tergantung di leher Qarmitha sesekali terdengar melengking. Dengan gerakan tangan dan tiupan pluit dia memberi kode untuk setiap instruksi yang harus dilakukan para muridnya.
Tiba-tiba ada dua orang murid laki-laki yang terlibat baku hantam di pinggir lapangan. Para murid perempuan hanya berteriak histeris menyaksikan kejadian itu.
Sontak Qarmitha yang sedang fokus pada murid-murid di tengah lapangan, langsung lari menghambur dan melerai kedua murid itu. Namun memisahkan sepasang anak laki-laki yang sedang berkelahi tidak semudah membalik halaman buku. Walau pun mereka masih di bawah umur, mereka tetaplah laki-laki yang memiliki kekuatan. Butuh tenaga yang cukup ektra untuk melerainya. Dengan bantuan dari murid lain akhirnya sang guru
olahraga cantik itu berhasil melerai mereka. Juga menggiring mereka menghadap guru BP.
Kedua bocah tanggung itu bernama Fakhri dan Rifki. Berdiri dengan wajah tertunduk dalam, tanpa suara di depan guru BP tampan, mereka sering menyapanya Pak Nas. Terkadang mereka sering menyingkatnya menjadi PaNas.
Qarmitha juga berada di sana untuk menyelidiki apa sebenarnya yang terjadi pada mereka. Hingga merusak jam pelajaran olahraga yang baru setengah jalan berlangsung. Alhasil dia meminta bantuan ketua kelas untuk menginstruksikan murid-murid masuk kelas. Dan mengerjakan tugas yang juga dititipkan pada ketua kelas.
Pak Nas yang memiliki nama lengkap Nasruddin, S.Psi. Pria berusia dua puluh sembilan tahun dan masih lajang. Memasang wajah dinginnya seraya menatap tajam pada Fakhri dan Rifki. Kedua bocah itu memang lumayan jadi langganan masuk ruang BP dengan kasus yang berbeda-beda.
“Di antara kalian berdua, siapa yang mau menjelaskan kejadian sebenarnya pada Bapak?” todong Pak Nas tanpa basa-basi. Tatapan matanya tajam dan dingin hingga membuat kedua murid laki-laki merinding ketakutan.
Qarmitha melipat kedua tangannya di depan dada. Mengamati wajah pucat pasi kedua muridnya itu.
Rifki maupun Fakhri tidak ada yang mau membuka mulut. Mereka hanya saling menyikut, seolah sedang saling melempar tanggung jawab.
Melihat gelagat tutup mulut yang panjang dari Rifki dan Fakhri membuat guru BP itu geregetan. Dalam hati ingin sekali menjitak kepala dua bocah nakal di hadapannya. Syukurlah hanya sekedar niat dalam hati. Kalau tidak, dia akan melakukan hal yang lebih dari itu.
Brakk!!
Pak Nas menggebrak meja kerjanya sekencang mungkin. Benar-benar membuat sport jantung.
Spontan Rifki dan Fakri berjingkat kaget. Degup jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya. Reflex mereka meraba dada masing-masing untuk menetralkan degup jantung yang masih berlari cepat.
Juga Qarmitha yang tak kalah kagetnya. Mungkin bila tidak ada murid-muridnya, gadis itu sudah menghajar lelaki brengsek itu. Namun saat ini keadaannya berbeda. Harus menjaga sikap dan wibawa di depan mereka. Sekaligus menjaga image Pak Nas sebagai guru BP yang paling disegani di sekolah ini.
Sabar, Tha… entar kalo urusan sama kedua bocah ini selesai, baru lo buat perhitungan sama nih cowok sialan. Karena udah bikin gue kaget setengah mati. Batin Qarmitha sedang menyimpan dendam seraya mengusap dadanya sendiri.
“Tidak ada yang mau jawab?” tanya Pak Nas garang.
“I-itu Pak, Rifki duluan yang nyerang saya, Pak,” ucap Fakhri tergagap seraya menuding Rifki di sebelahnya.
“Enak aja lo, Ri,” sanggah Rifki tidak terima dipersalahkan. Satu sikunya terangkat untuk menepis tudingan Fakhri. “nuduh gue. Elo tuh yang salah duluan,” lanjutnya menuding balik.
“Dih, salah apa gue? Udah jelas elo yang salah malah nuduh gue,” bantah Fakhri mempertahankan argumennya.
Tiba-tiba Rifki marah lalu menarik kerah leher kaos olahraga Fakhri. Hingga tubuh remaja bertubuh berisi dan putih itu ikut tertarik mendekat lawan bicaranya. Kini kedua wajah remaja sesama jenis itu saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Sebelah tangan Rifki yang bebas sudah terkepal di depan wajah Fakhri, siap meluncurkan bogem mentah ke wajah chubby temannya.
“Bajingan lo, Ri!” bentak Rifki kesal.
__ADS_1
“Pak! Pak! Tolong saya, Pak!” seru Fakhri meminta bantuan. Kedua tangannya terangkat ke udara membentuk Hi five.
Pak Nas dan Qarmitha segera bergerak cepat meninggalkan tempat masing-masing. Sebelum tinju Rifki melayang mengenai wajah Fakhri kedua guru itu buru-buru melerai sepasang bocah tengil itu.
“Elo brengsek banget udah nikung gue,” tuduh Rifki sengit.
“Elo salah paham, Ki. Gue gak pernah nikung lo,” sahut Fakhri membela diri.
“Banyak bacot lo!” Rifki melayangkan tinjunya ke udara nyaris mengenai wajah Fakhri. Namun tinju Rifki berhasil digagalkan, dan berakhir dalam genggaman tangan Pak Nas yang besar.
Qarmitha menarik tubuh Fakhri kuat agar dapat terlepas dari cengkeraman Rifki.
“Apa-apaan kamu, Rifki? Kamu mau jadi jagoan?” semprot Pak Nas garang.
“Ng… ng… nggak, Pak,” kilah Rifki tergugu dengan rasa takut yang berlebihan.
“Lalu, kenapa kamu main pukul saja? Memangnya kamu kira teman kamu ini samsak, bisa kamu pukul seenak jidat kamu?”
“Bu… bukan begitu, Pak,” mata bocah bertubuh tinggi dan ramping itu terlihat memerah menahan air mata.
“Terus apa?”
Fakhri tampak mengkerut bersembunyi di balik punggung guru olahraganya. Dengan sepasang mata yang agak sipit mengintip di balik punggung sang guru.
“Dia aja yang udah bikin ulah ke saya, Pak. Dia udah kurang ajar nikung cewek gebetan saya, Pak,” kata Rifki menjelaskan.
“Nggak, nggak, Pak. Rifki bohong. Saya gak pernah nikung dia…”
Rifki dan Fakhri saling melempar tuduhan. Tidak ada yang mau disalahkan.
“Diam!” bentak Pak Nas dengan suara baritonnya.
Sontak kedua bocah itu menciut dan terdiam. Tidak ada lagi yang berani membuka suara.
Pak Nas sudah kehilangan kesabarannya. Terpaksa dia memilih cara lain untuk menyelesaikan perkelahian Rifki dan Fakhri. Dia memberi hukuman kepada mereka berdua. Yaitu, membersihkan semua kamar mandi yang ada di sekolah. Tentu saja mengerjakannya dengan damai. Tidak ada keributan juga perkelahian bila tidak ingin hukuman bertambah berat.
Setelah bel istirahat berdering, Qarmitha beranjak pergi bersamaan dengan perginya kedua muridnya yang diam-diam masih berdebat.
“Kamu gak lebih lama lagi tinggal di sini, Tha?” tanya Pak Nas saat langkah Qarmitha siap mengayun meninggalkan ruangannya.
Qarmitha menoleh melewati bahunya. Alisnya berkerut seakan sedang berpikir.
“Gak, makasih,” sahutnya singkat tidak mau berbasa-basi. Kemudian mengalihkan pandangannya ke depan serta melanjutkan langkahnya.
Dalam hati Pak Nas kecewa mendapat penolakan secara tegas dari Qarmitha. Tetapi dia bisa memakluminya. Apalagi sudah tersiar kabar bahwa gadis itu akan segera menikah dengan orang lain. Sudah tentu dia akan menjaga jarak padanya. Selain itu dia untuk menghindari gibahan orang lain bila melihat mereka hanya berduaan saja dalam satu ruangan tertutup. Juga supaya tidak terkesan sedang memberi harapan namun palsu. Mungkin hal ini merupakan buah dari cintanya yang pernah ditolak sang gadis beberapa waktu lalu. Alasannya jelas, gadis itu telah memiliki pacar.
*
Usai pertengkaran antara Dita dan Arien pagi tadi. Ruang divisi perencanaan yang Qameella tempati terasa hening, tenang dan damai. Sesuai keinginan Qameella yang sangat tidak suka dengan kegaduhan.
Tetapi aneh rasanya bila dibalik kondisi yang tenang ini tersimpan ketegangan. Bagaikan bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Sudah tentu bukan yang diinginkan Qameella.
__ADS_1
Haih… walau pun kedua wanita yang pernah berteman dekat itu sudah dinasihati berkali-kali oleh Qameella agar bisa berdamai. Tetap saja mereka berpegang teguh pada prinsip masing-masing. Ternyata mendamaikan orang dewasa yang berseteru, lebih sulit dengan anak kecil usia TK.
“Arien, Meella, Dita,” seru seorang pria berkumis tipis, masuk ke dalam ruangan.
Para wanita yang namanya telah dipanggil langsung mendongakkan wajah mencari sumber suara.
“Iya, Mas,” sahut Arien cepat.
“Ada apa, Mas Fadhlan?” kali ini suara Dita yang bertanya.
“Hari ini kantor kita kedatangan tamu agung,” jawab pria bernama Fadhlan Mahendra, ketua divisi perencanaan.
Qameella dan Dita saling bertukar pandang.
“Tamu agung?” ujar keduanya hampir bersamaan.
“Jangan asal ngomong deh, Mas. Tamu agung apa sih? Ngomong aja langsung gak usah pake tebak-tebakan segala,” pinta Arien tidak sabaran. Sepertinya kekesalannya yang tadi sempat bertahta dalam hatinya sudah teralihkan dengan kabar yang dibawa Fadhlan.
Fadhlan mengulum senyum melihat ekspresi penasaran para wanita itu. Sedikit ada kelegaan di hatinya melihat mereka yang tampak akur. Walau pun entah apa kabar isi hati mereka masing-masing. Pasalnya tadi pagi dia sempat mendapat laporan terjadi pertengkaran di divisinya.
“Oke. Hari ini kita kedatangan anak dari pemilik perusahaan ini. Katanya, dia akan menjadi CEO baru menggantikan Bos besar,” tutur pria menjelaskan.
“Oh, jadi kita punya CEO baru gitu di sini?” tanya Dita penasaran. “masih muda gak, Mas?” tambahnya setengah berbisik.
“Hus! Kamu ini, perut sudah melendung gitu masih mau genit aja,” seloroh Fadhlan dengan tampang yang agak serius.
“Ah, Mas Fadhlan gak asyik. Masa Cuma tanya gitu doang dibilang genit sih?” protes Dita seraya mengerucutkan bibirnya.
Fadhlan hanya terbahak tidak berniat menjawab pertanyaan iseng wanita hamil itu.
“Jadi, kita punya CEO baru nih, Mas? Lalu CEO lama kita akan pensiun gitu?” kali ini yang bertanya adalah Qameella.
“Untuk hal itu… saya belum tahu jelas, Meel,” jawabnya ragu-ragu.
Qameella menganggukkan kepala mengerti.
“Kayanya sih, gak ada formasi baru di kantor cabang ini untuk posisi CEO. Karena kinerja Pak Ridwan cukup bagus. Dan masih layaklah menjadi pemimpin di sini.”
Qameella, Dita dan Arien mengangguk setuju. Pasalnya kinerja Pak Ridwan selama menjadi CEO di kantor cabang ini terbilang baik. Para karyawan pun nyaman berada di bawah kepemimpinannya.
"Ya udah, nanti kalian semua siap-siap ya ikut saya menyambut kedatangan anak pemilik perusahaan. Entah mau jadi CEO di sini atau nggak, itu urusan mereka saja. Oke?"
"Siap, Mas," sahut mereka kompak.
Kemudian mereka melanjutkan pekerjaan masing-masing sambil menunggu instruksi selanjutnya dari atasan mereka.
*
Cerita sampai di sini dulu ya. Cerita selanjutnya masih dalam proses. Ditunggu aja kejutan-kejutannya ya...
Happy nice day...
__ADS_1