
Happy reading...
****************************************
Dandi menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu lobi salah satu butik ternama di Jakarta. "Sudah sampai, Pak bos," serunya memberi tahu seraya melirik Garda dari kaca spion depan.
Dengan tampang datarnya Garda hanya bergumam sebagai jawaban. Bergeming di tempatnya duduk seraya melihat pemandangan di luar jendela tanpa membuka kaca yang masih tertutup rapat.
Buru-buru Dandi turun dari mobil. Kemudian membukakan pintu mobil belakang untuk sang bos penuh hormat.
Sepatu pantofel hitam nan mengkilap terlihat turun langsung menapak tanah. Tidak berselang lama tubuh ramping berbalut stelan jas abu-abu, menyeruak keluar dari pintu mobil seraya menarik ujung jasnya.
Siapa sangka kedatangan Garda di butik itu dapat mengundang perhatian banyak orang. Selain pesonanya sebagai maha karya yang sempurna dari Sang Pencipta. Juga latar keluarganya yang bisa dibilang sultan. Bahkan Garda digadang-gadang akan menjadi pewaris tunggal dari Negara's Group.
Walau pun Garda populer setelah kembali ke tanah air, terlebih setelah kabar pertunangannya dengan Bianca tersiar apik di berbagai media massa, elektronik hingga sosial. Pemuda tampan itu ternyata tidak suka dengan kilatan Blitz kamera yang membidik ke arahnya. Serta serentetan pertanyaan dari para pemburu berita gosip.
Kendati hal itu harus tetap dihadapi. Karena resiko dari calon pasangannya yang berasal dari kalangan selebriti. Tetapi tetap saja saat berhadapan dengan mereka, kebetulan sedang menunggu di lobi dalam butik yang Garda datangi. Tiba-tiba datang menghampirinya dengan menyodorkan mikrofon masing-masing, lantaran mereka memang berjumlah lebih dari enam orang, dan mengarahkan kamera ke depan wajahnya. Garda tidak nyaman dengan kehadiran mereka.
Menyadari ketidak nyamanan sang bos, Dandi segera menghadang, memberi jarak antara Garda dan para wartawan.
"Mas Pandega, kapan rencana pesta pernikahan Mas Pandega dan Mbak Bianca dilaksanakan?" tanya salah satu dari mereka membuka pertanyaan. Tidak peduli bagaimana Dandi menghalangi mereka tampak gigih mendapatkan berita.
"Lalu, apakah kedatangan Mas Pandega sekarang, mau melakukan foto prewedding dengan Mbak Bianca?" sambung yang lainnya.
Masih banyak serentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan yang mengerumuni Garda dan Dandi.
Garda tidak berbicara satu patah kata pun. Dia hanya bergerak di belakang Dandi. Mengikuti sang asisten membelah kerumunan.
"Maaf, maaf, Mas Pandega tidak datang untuk hal-hal para rekan wartawan tanyakan. Mas Pandega datang berdasarkan permintaan Mbak Bianca saja, yang katanya ingin ditemani melakukan foto shot hari ini," jawab Dandi akhirnya mewakili Garda. Setelah berhasil menyelamatkan sang bos memisahkan diri dari kejaran wartawan.
Rona ketidakpuasan tampak jelas di wajah-wajah mereka. Lantaran yang memberi klarifikasi bukan objeknya langsung pada mereka.
Bianca langsung menghambur memeluk manja tubuh tegap Garda, saat baru melihat kedatangannya ke dalam studio foto, tempatnya pengambilan gambar. Padahal kamera dan kilatan cahaya dari lampu Blitz sedang mengarah padanya. Tanpa rasa berdosa dan amarah fotografer dia pergi begitu saja.
Garda hanya tersenyum datar mendapat pelukan dari Bianca. Lalu meminta gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Bianca pun menuruti saja walau awalnya menolak.
Garda sedikit mengendurkan tali dasinya yang terasa mencekik lehernya, tatkala asisten pribadi Bianca yang lemah gemulai datang menyapanya. Dia sedikit mengernyitkan dahi mendengar suaranya yang terdengar tidak senormal pria pada umumnya. Penampilannya pun terlihat dibuat-buat menyerupai riasan wanita. Sungguh membuat Garda bergidik ngeri.
Setelah membalas sapaan pria tidak jelas wujudnya itu, dan sedikit berbasa-basi Garda segera mencari tempat yang aman.
__ADS_1
*
Bengkel bekas basecamp geng motor ABABIL.
Ryan tampak duduk santai di dalam ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
"Ling, gimana nih? Yakin, kita semua gak bakalan ketahuan?" tanya Buchek tiba-tiba dengan rona kekhawatiran.
"Udah... aman... elo gak usah khawatir," sahut Ryan santai.
"Tapi, Ling... gue takut kalo sampai Om Andika tahu," tambah Buchek jujur. Ryan menatap wajah sahabatnya sejak duduk di bangku sekolah menengah itu.
"Yah, seperti yang sama-sama kita tahu gimana Om Andika dulu. Gue bener-bener takut kalo..."
"Udah, elo tenang aja, gue udah tanganin semua. Jadi kita semua aman," jawab Ryan menenangkan. Karena dia memprediksi apa yang akan terjadi dikemudian hari, maka semua hal yang berkaitan dengan peristiwa itu sudah dibereskan dengan rapi. Termasuk mengambil rekaman dan merusak kamera cctv yang mengarah ke kamar Garda saat di hotel.
Buchek bernapas lega setelah mendengar jawaban Ryan. Serta bisa tidur nyenyak dan makan enak tanpa ketakutan lagi.
*
"Bagaimana dengan rekaman cctv itu?" tanya Garda seraya berlalu melewati Dandi yang baru saja membukakan pintu ruang studio foto, tempat Bianca melakukan foto shot. Dengan cepat dia berjalan menyusuri lorong yang tampak sudah disterilkan oleh si asisten.
"Maaf pak bos, ternyata cctv yang mengarah ke kamar bos waktu itu rusak," jawab Dandi dari belakang Garda.
"Rusak?" Garda tiba-tiba menghentikan langkahnya seraya memiringkan wajahnya.
Untuk pengendalian diri Dandi sangat baik hingga tidak sampai menabrak si bos di depannya.
"Iya, Pak bos. Sepertinya ada orang yang sengaja merusaknya," terang Dandi memberi penjelasan.
Garda tertegun dan tidak berkomentar apa pun. Lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan bangunan bertingkat tiga itu.
Dandi terdiam memperhatikan punggung Garda yang yang perlahan menjauh dari pandangan matanya. Ada keraguan sekaligus kebingungan yang tidak bisa dijabarkan dan dimengerti oleh dirinya sendiri.
Sebelum si bos benar-benar pergi menjauh dari pandangannya, buru-buru dia mempercepat langkah kakinya menyusul Garda.
*
"Kenapa elo mendadak ngundurin diri dari kantor, Meel? Ada masalah apa? Sama siapa?Kalo elo gak berani cerita sama yang lain, elo bisa cerita dong ke gue, Meel..." Sederet pertanyaan yang diajukan Dita tidak satu pun dapat dijawab oleh Meella. Pertanyaan yang diucapkan saat hanya ada Dita dan Meella dalam ruangan kerja mereka.
__ADS_1
Gadis itu hanya diam membisu. Memberi senyum ambigu yang tidak dapat diterjemahkan oleh kata-kata.
"Meel, please deh, jujur sama gue. Ada apa setelah malam itu? Dan kemana elo pada malam itu? Karena gue udah nyariin elo muter-muter bareng Mbak Arien dan Mas Fadhlan, tapi gak bisa nemuin keberadaan elo," desak Dita.
Untuk masalah memalukan ini Meella benar-benar tidak bisa buka suara. Apalagi masih keperawanan yang hilang, sungguh sangat privasi. Walau pun Dita tipe orang yang bisa dipercaya. Dan masalah keperawanan bukan hal yang tabu lagi buatnya karena memang sudah dianggap suhunya. Tetap saja tidak mudah Meella ungkapkan secara blak-blakan.
"Maaf, gue gak bisa ngomong secara gamblang ke elo. Karena... bagi gue cukup memalukan buat dibagi ke orang lain. Dan... sebentar lagi gue kan mau nikah. Jadi, alasan satu-satunya yang bisa gue bagi ke elo... Gue udah sepakat sama calon suami gue, gue bakal resign sebelum hari itu terjadi," begitu jawaban Meella yang sepertinya tidak dapat diterima sepenuhnya oleh Dita. Selain itu yang diucapkan Meella tidak sepenuhnya jujur.
Setelah berpamitan hingga menciptakan suasana mengharu biru dengan semua teman satu kantornya. Lalu mengadakan pesta kecil-kecilan dadakan hanya bersama teman satu divisinya Dita, Arien juga Fadhlan. Meella menyempatkan waktu datang mengunjungi makam Garda, yang baru-baru ini sangat jarang disinggahi.
Dengan membawa seikat bunga sedap malam, Meella berjalan gontai menuju kompleks pemakaman Garda. Serta rasa malu yang tidak bisa dibunyikan pada jasad tak bernyawa, tertanam di dalam tanah di hadapannya. Air mata pun jatuh tak tertahankan tatkala melihat nama pada batu nisan itu.
Meella meneteskan air matanya saat memanjatkan doa untuk Garda di sana. Tidak lupa meminta maaf atas kekhilafan yang telah diperbuatnya. Walau pun tidak sengaja, tetap saja rasa berdosa itu tetap terasa sangat nyata.
Garda, maaf, maafin saya yang sudah mengkhianati kamu. Selain menerima lamaran dari lelaki lain, saya juga sudah membiarkan lelaki lainnya lagi merenggut kesucian saya. Tapi sungguh, semua itu bukan saya sengaja. Bukan mau saya sendiri. Semua terjadi tanpa persetujuan saya. Saya mohon maafkanlah saya, Gar... maaf...
*
Hari hampir senja saat Meella baru yg tiba di depan pintu gerbang rumah kontrakannya. Tubuh lelahnya ingin segera diistirahatkan. Penat yang buru-buru dienyahkan saat berada di dalam kamarnya. Sesekali ia memijat tengkuknya sendiri sambil menggerakkan kepala ke kiri dan kanan.
Sepertinya mandi air hangat lebih enak dari pada mandi air dingin. Pikirnya sambil terus melangkah.
'Oya, tas yang kemarin belum ketemu. Jadi, sebaiknya saya minta kunci serep sama ibu pemilik kontrakan. Semoga aja langsung dikasih tanpa banyak tanya,' batin Meella penuh harap.
Tetapi, belum sempat kakinya masuk ke dalam area rumah petak dua tingkat, berbentuk leter L itu, tiba-tiba jalannya dihadang oleh empat lelaki bertubuh kekar, berpakaian serba hitam dan berkacamata hitam.
Sontak Meella terperanjat kaget hingga refleks mundur beberapa langkah ke belakang.
"Siapa kalian?" tanyanya panik.
Keempat pria itu hanya berdiri mematung membentuk pagar agar Meella tidak bisa berkutik dari jangkauan mereka. Lalu bergerak perlahan mendekati gadis bertubuh kurus itu.
Dengan rasa takut yang teramat Meella berusaha kuat dan coba kabur dari cengkeraman mereka.
*
Hai readers... maaf ya kali ini author terlalu lama update karena saat ini jam kerja author di dunia nyata sudah normal, full day. Sampai author sempat ngedrop juga. Doakan author bisa sehat kembali.
See you next episode ya... 😘🥰❤️
__ADS_1