
Happy reading
Garda turun dari mobil mewahnya dengan tergesa, setelah memarkirnya asal di halaman luas mansion Andika. Masuk pintu utama begitu saja. Mengabaikan para asisten rumah tangga yang menyapanya hormat. Dia terus berjalan melewati mereka menuju tempat biasa Andika berada bila sedang di rumah.
Bukan karena urusan bisnis, atau panggilan mendesak dari sang Papa. Melainkan untuk mengkonfirmasi masalah penculikan yang baru saja didapatnya. Juga video yang mempertegas bahwa wanita tercintanya dalam bahaya.
Pria itu sangat yakin jika Andika terlibat di dalamnya. Pasalnya dia tahu si tua bangka itu bisa berbuat apa saja demi mencapai ambisinya. Sama seperti peristiwa kecelakaan enam tahun silam yang hampir merenggut nyawa Garda. Walau bukan Andika orang yang menyuruh pelaku itu menabraknya. Tapi Andika yang telah menyembunyikan identitasnya dari dunia. Serta membuat kematian palsunya.
Brakk!
Garda mendorong kasar pintu ruang kerja Andika, hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Anak tidak ada akhlak emang ini satu.
Seketika atensi Andika teralih pada pintu yang terbuka. Melihat api kemarahan yang berkobar di mata Garda. Andika langsung sudah bisa menebaknya, bahwa sesuatu telah terjadi. Jika tidak mana mungkin putranya bersikap sekasar itu.
Andika menutup dokumen yang sedang dibacanya, saat Garda mengayunkan langkah lebarnya mendekati meja kerjanya. Kedua alisnya terangkat, menatap serius sang putra yang tampak tak bersahabat.
Dengan sekali hentakan garda melempar semua tumpukan foto dalam genggamannya, berhamburan di atas meja kerja sang Papa.
Sontak Andika menurunkan kelopak matanya tanpa menggerakkan kepalanya. Netranya membola seketika melihat foto seorang gadis dalam posisi terikat pada sebuah kursi kayu. Tentu dia tidak melupakan wajah yang belum lama ini dia temui. Ya, dia adalah Meella. Sekretaris sekaligus selingkuhan Garda. Padahal gadis dalam foto itu bukan Meella, melainkan Mitha saudara kembarnya Meella.
''Aku gak tahu apa tujuan Papa melakukan hal buruk itu. Tapi kenapa Papa selalu menyakiti wanitaku?'' Garda melontarkan kalimat sarkasnya, seakan telah melupakan hubungan anak dan orang yang mereka miliki.
Andika berdecih disertai seringai miring meremehkan. Di mata Garda hal itu membuatnya mual juga benci pada pria berumur banyak itu. Seandainya Garda bisa protes pada Tuhan. Lalu diperkenankan untuk memilih dari orang tua bagaimana dia terlahir. Maka, sedari dulu dia sudah melakukannya. Sayang, takdir Tuhan bukan resep masakan. Apabila ada yang tidak sesuai bisa mencari resep alternatif.
''Apa kau bilang, wanita-ku?'' Andika mengernyitkan dahinya dalam.
''Iya, dia wanitaku. Saat ini dia sedang hamil anakku. Otomatis anak dalam kandungannya adalah cucu Papa,'' jawab Garda berapi-api.
''Jadi, jika sampai terjadi apa-apa padanya, Papa akan lihat gimana kemarahanku saat itu,'' tekannya.
__ADS_1
Andika membeliak lebar namun tetap stay cool, menyembunyikan keterkejutannya. Ada rasa marah dan mungkin bahagia secara bersamaan. Tetapi rasa marahnya yang lebih mendominasi. Sampai wajahnya merah padam.
''Apakah kamu sedang mengancam Papa, Pan-dega?'' tanya Andika dengan suara rendah dan beratnya. Tinjunya mengepal erat.
''Benar. Untuk kali ini aku gak akan diam saja melihat sikap semena-mena Papa. Dan aku terus berjuang mempertahankan cinta dan kebahagiaanku. Dengan kata lain aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan Papa, bila Papa terus-menerus menghalangi kami hidup bersama.''
Deg!
Andika tertegun melihat ekspresi kesungguhan Garda. Dia seakan Dejavu. Hal ini mengingatkannya pada saat enam tahun lalu. Saat Garda menunjukkan perlawanannya terhadap Andika karena tidak merestui hubungannya dengan Meella. Dimana hari sebelum terjadi kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa Garda.
"Sekarang katakan, dimana Papa menyekapnya!" raung Garda menyeret Andika kembali ke alam sadarnya.
''Papa tidak tahu,'' jawabnya simpel.
''Apa? Papa gak tahu? Bohong!"
Andika hanya diam. Karena kenyataannya dia tidak tahu. Dan tidak pernah terpikirkan untuk menculiknya. Jika pun ingin mencelakai, Andika tidak akan bermain kotor juga rendahan seperti itu. Dia lebih suka bermain cantik tapi mematikan.
Garda benar-benar melupakan batasannya sebagai anak. Dia mengabaikan tingkat kesopanan dan baktinya kepada Andika selaku orang tua.
"GARDA!" untuk pertama kalinya Andika meninggikan suaranya. Bangkit berdiri dengan tatapan mematikan.
"JANGAN PERNAH LUPA SIAPA DIRIMU, JUGA DIA. KALIAN TIDAK COCOK BERSAMA. DIA TIDAK SEPADAN DENGAN KAMU ATAU KELUARGA KITA. INGAT ITU!"
"PERSETAN DENGAN KECOCOKAN ATAU KESEPADANAN ANTARA AKU DAN DIA. AKU GAK PEDULI! SIAPA PUN DIA, DIA ADALAH CINTAKU, BELAHAN JIWAKU." Garda benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Dia kalap.
"GARDA! INGAT, KAMU SUDAH PAPA JODOHKAN DENGAN BIANCA. DAN HANYA BIANCA YANG COCOK DENGAN KAMU!"
"Bianca? HH, persetan dengan Bianca. Aku pastikan gak akan pernah ada pernikahan antara aku dan Bianca. CAMKAN ITU, PA!" sahutnya sengit.
__ADS_1
Di tempat berbeda. Rega memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut sakit. Memikirkan istrinya yang masih belum dapat kabar beritanya. Dia sangat khawatir akan terjadi sesuatu yang dapat mengancam keselamatan Mitha.
"Mitha... dimana kamu, sayang..." ucapnya lirih.
Sudah dua puluh empat jam, orang suruhannya bergerak mencari jejak Mitha, namun sampai detik ini masih belum perkembangan sama sekali.
Rega pun belum bisa menyampaikan berita hilangnya Mitha pada mertuanya. Begitu pun Karina, wanita yang sudah melahirkannya ke dunia fana ini.
"Ayah, kok dari semalam perasaan Mama tidak enak tidak hilang-hilang ya? Bahkan sampai sekarang masih terasa,'' keluh Maryam meraba dadanya sendiri.
''Walah... apa sih, Ma... kalo ngomong yang benar toh. Jangan aneh-aneh gitu. Perasaan gak mungkin kurang garam kali, Ma...'' sahut Gusti yang dibalas dengan candaan tidak bermutu.
''Ck, Ayah ini. Mama lagi ngomong serius dibecandain tidak jelas begitu. Tidak lucu tahu, Yah,'' decak Maryam sewot.
''Habis, Mama nya aja yang aneh, perasaan masa tidak enak? Tentu tidak enak lah, kan belum dimasak, juga belum dikasih bumbu. Hahaha...,'' pria yang rambutnya sudah mulai memutih itu tertawa geli.
''Huh, dasar suami tidak peka perasaan istri,'' sungut Maryam lalu beranjak pergi dari hadapan suaminya.
Gusti hanya tersenyum kecil melihat istrinya merajuk. Sudah lama rasanya dia dan Maryam tidak bersenda gurau seperti sekarang. Biasanya mereka akan saling membalas bila ada yang tidak sesuai suasana hati. Berakhir saling merajuk satu sama lain. Setelahnya Mitha yang bertugas mendamaikan dengan menyindirnya juga Maryam. Sementara Meella, gadis pendiam itu hanya tersenyum dan membuatkan makanan kesukaan mereka.
Haih... Gusti menghela napas berat dan panjang. Mengingat suasana di rumahnya tidak lagi sama seperti dulu. Saat ini dia hanya tinggal berdua dengan sang istri, sambil merintis usaha kuliner di rumah. Sementara Mitha tampak bahagia hidup bersama Rega. Sedangkan Meella, entah bagaimana kabar anak itu. Sejak malam gagalnya rencana pernikahannya dengan Mirza. Meella tidak lagi pulang ke rumah. Bertukar kabar via telepon pun hampir tidak pernah. Jika pun iya, dia hanya berbicara dengan Maryam. Itu pun tidak berlangsung lama. Hanya uang bulanan yang tidak pernah lupa ditransfer oleh anak itu masuk ke dalam rekening Gusti.
Tiba-tiba mata Gusti terasa mengembun dan basah mengingat anak gadisnya yang satu itu. Diam-diam si pria tua ini memendam rasa rindunya pada Meella. Namun egonya yang tinggi menyulitkan untuk mengungkapkan perasaannya.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi Meella. Tetapi ketika akan tersambung selalu direjeknya sendiri. Dan begitu seterusnya. Bahkan mengucapkan satu kata maaf saja dia tidak mampu. Dia begitu malu mengingat betapa banyak dosa yang dilakukan pada sang putri. Gusti juga sering berlaku pilih kasih antara Mitha dan Meella. Entah mengapa hatinya selalu berat sebelah. Anehnya, dia lebih cenderung memihak Mitha dan mengabaikan Meella.
'Bagaimana kabar kamu di sana, La?' bisik batin Gusti sendu.
*
__ADS_1
Hai readers... maaf ya ceritanya segini dulu ya. See you next episode 😘🥰🙏