
Happy reading...
********************************
Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.45 petang.
Tiba-tiba ada keributan besar yang terjadi di tengah jalan raya. Dua orang lelaki dewasa tengah terlibat pertengkaran sengit. Tentu saja mengganggu stabilitas arus lalu lintas di jalan raya.
Entah kebetulan atau memang ada sabotase dari oknum tidak bertanggung jawab. Yang terpenting saat ini Garda harus bisa menggunakan kesempatan dalam kesempitan di depan mata.
Garda sengaja menyuruh dua orang algojo yang selalu mengikutinya seperti bayangan untuk turun. Mereka diminta menangani keributan itu dengan alasan tidak terlambat sampai ballroom hotel.
Tanpa curiga kedua pria bertubuh tegap dan besar itu turun dari mobil. Melerai keributan agar segera reda. Dan menyingkir dari dari tengah jalan. Namun siapa menduga jika mereka berdua malah ikut terlibat hingga adu jotos.
Lagi, Garda meminta salah satu algojo yang tersisa turun tangan menghadapi mereka. Setelahnya, diam-diam Garda turun dari mobil saat algojo yang tersisa hanya satu orang. Itu pun duduk di jok kemudi. Pria itu sibuk memperhatikan kondisi di luar jendela depan mobil. Tanpa sadar mengabaikan Garda yang duduk di kursi penumpang di belakangnya.
Pada kesempatan emas itu, Garda diam-diam kabur. Menyetop sembarang pengendara motor yang kebetulan lewat. Dengan iming-iming bayaran mahal dia berhasil membujuk sang pemilik kendaraan meninggalkan tempat itu, berlainan arah.
Saat ketiga algojo itu datang kembali ke dalam mobil, mereka langsung kalang kabut seperti orang kebakaran jenggot. Saling mengalahkan hingga adu jotos tak pelak mereka lakukan. Namun mereka segera tersadar akan tingkah konyol mereka.
Apalagi setelah mendapat telepon dari Andika, sang bos yang meminta mereka segera datang. Kontan mereka gerak cepat mencari jejak keberadaan sang tuan muda.
*
Hore... bisa keluar rumah...
Begitu kira-kira gambaran kegembiraan hati Qameella, saat bisa bebas dari rumah yang lebih pantas disebut sangkar. Setelah cukup lama merana terkurung dalam sepi tidak bisa keluar rumah. Akhirnya, Gusti mengizinkannya. Luar biasanya lagi dia diizinkan menghadiri pesta ulang tahun Rega. Tidak lain adalah saudara kembarnya Garda. Apakah pria itu tahu fakta ini? Jawabnya, entahlah. Qameella tidak menyinggung yg hal itu. Yang terpenting saat ini dia bisa merdeka tanpa kungkungan Gusti.
Entah kalimat sakti apa yang Tari rapalkan pada Gusti, hingga pria keras kepala itu menyetujui
Qameella ikut dengannya. Pokoknya Tari adalah pahlawan bagi Qameella. Dia sangat bersyukur dan ucapan terima kasih tidak lepas dari bibirnya untuk Tari, sebagai ungkapan yang tentu tidak sebanding dengan usaha Tari.
Kini Qameella dan Tari sedang dalam perjalanan menuju pesta ulang tahun Rega dengan sepeda motor milik Tari. Menurut keterangan di surat undangan, pesta diadakan di rumah Rega. Karena pestanya dibuat sederhana. Tidak seperti pesta ulang tahun Garda yang diselenggarakan secara besar-besaran di ballroom hotel ternama.
"Apaan sih lo? Jangan lebay deh sampe segitunya bilang makasih ke gue. Seolah-olah jasa gue sebanyak pahlawan perang yang berjuang ngusir penjajah aja."
Qameella yang duduk di jok belakang hanya terkekeh ringan. Mensyukuri kebahagiaan yang ternyata masih tersisa untuknya. Bahagia memiliki sahabat yang mau peduli dengan keresahan hatinya.
Tiba-tiba angan Qameella menerawang kejadian sebelum berangkat menuju pesta ulang tahun Rega.
"Ingat, kalian harus kembali sebelum jam sembilan malam ya," Gusti berpesan pada kedua gadis itu sebelum beranjak pergi dengan motor metik.
"Yah, Pak De' gimana sih? Kita cuma capek di jalan doang dong... Masa pulang sebelum jam sembilan, sekarang aja jam tujuh. Terus, acara dimulai jam delapan," sahut Tari berusaha bernegosiasi pada pria kolot itu.
Qameella hanya menjadi penonton drama siaran langsung antara Tari dan Gusti, ayahnya.
"Jadi, kapan kita ikut pestanya Pak De'? Masa cuma nganterin jadi doang, abis tuh pulang. Capek deh...." Tari meletakkan punggung tangan kanannya di atas jidat seraya menunjukkan gaya lebay-nya.
"Ya sudah, tidak perlu kemana-mana, di rumah saja. Itu lebih bagus," ucap Gusti saklek.
"Pak De', mentang-mentang jadi orang tua jangan kolot-kolot amat dong. Masa diam di rumah aja? Emangnya kita anak ayam," seloroh Tari masih berusaha merayu agar bisa diberikan waktu lebih panjang lagi.
__ADS_1
"Kasian Meella, Pak De'. Dia kan kepengen kaya anak-anak yang lain," imbuh Tari mencubit hati Gusti.
Qameella hanya diam membisu. Tidak ingin ikut bicara. Rasa pesimis yang sudah mendarah daging membuatnya hanya bisa pasrah. Dia cukup tahu diri tidak meminta lebih. Jika tidak, dia sangat tahu konsekuensinya yang akan diterima nanti.
Tidak terasa sepeda motor milik Tari sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Rega yang tertutup rapat serta menjulang tinggi.
"Elo gak salah alamat kan, Tar?" tanya Qameella turun dari jok belakang seraya membuka tali pengait helm.
"Kayanya sih nggak," Tari celingukan melihat suasana di sekitar. Juga berusaha mengintip dari sela-sela jeruji pintu besi yang membatasi halaman rumah dengan jalan raya.
"Tapi kok sepi ya?"
"Mungkin yang diundang cuma sedikit kali," sahut Tari asal, masih memperhatikan pemandangan di dalam pintu gerbang.
"Tapi, di sana banyak mobil pada parkir tuh," lanjutnya terdengar lebih pelan hingga mirip suara desisan.
"Masa sih?" Qameella ikutan melihat ke arah yang sama. "ohh."
Tidak lama berselang. Seorang pria berseragam membuka pintu gerbang, mengejutkan kedua gadis itu.
"Eneng eneng ini mau apa ngintip-ngintip di depan gerbang?" todong pria itu.
"Ah, a-anu Pak," Qameella tergagap.
"Maaf Pak, apa benar ini rumahnya Rega bukan ya? Soalnya kita diundang datang ke ulang tahunnya dia gitu, Pak," sela Tari memotong pembicaraan.
Pria itu langsung membenarkan, lalu mempersilahkan masuk ke dalam. Dan menjelaskan orang yang diundang dalam pesta ulang Rega tidak banyak. Hanya teman-teman terdekatnya saja.
Tari memarkir sepeda motornya di area yang telah ditunjukkan oleh pria itu. Setelahnya beranjak masuk ke dalam ruangan pesta.
Tari yang sadar Qameella sudah tidak ada di sampingnya, langsung menoleh mencari keberadaan sahabatnya itu. Dia pun terkesiap dan nyaris bertindak, ketika melihat seorang cowok berpakaian formal sedang menggenggam tangan Qameella. Namun urung saat melihat wajah tidak asing itu.
"Rega, elo..."
"Garda," Qameella langsung mengenali. Kemudian saling berpelukan.
Tari mengernyit menciptakan kerutan dalam pada dahinya.
"Hah, Garda?" cicitnya mengulangi.
"Bi, kita harus segera pergi dari sini," ujar Garda panik. Dahinya penuh peluh yang mengucur hingga melewati pelipisnya.
"Apa, pergi?" tanya Qameella mengulangi seraya menepis pelukannya.
"Iya, sebelum bodyguard - bodyguard suruhan papa datang buat nangkep saya," jawabnya cepat.
Qameella tertegun.
"Ya udah, elo cepatan pergi sana," Tari ikutan panik.
"Bi, ayo kita pergi," pinta Garda agar Qameella mau ikut dengannya.
__ADS_1
"Tapi..." Qameella tampak ragu.
Tari terlihat gemas dengan sikap plin-plan Qameella. Padahal dia sudah membantu susah payah melakukan negosiasi alot dengan Gusti tadi. Agar Qameella bisa bertemu Garda. Pasalnya dia tahu, Qameella sangat merindukan si bocah tengik itu.
"Ya ampun, Meel... elo gak boleh ragu gitu dong. Garda udah di depan mata, ya udah sana elo ikut dia pergi aja. Emangnya elo mau dikurung lagi, terus elo gak bisa ketemu dia, elo baru tahu rasa?" Tari memperingati.
Qameella pun mencoba mengingat betapa menderitanya saat berada jauh dari Garda. Setiap hari menahan rindu dan air mata.
"Ayo, Bi," seru Garda menyentak Qameella dari lamunannya.
"Saya gak tahu setelah hari ini, apakah kita bisa bertemu lagi atau gak. Yang jelas, jika saya ketangkap mereka, maka kemungkinan kita bisa bersama itu mustahil," wajahnya tampak sendu mengucapkan kata-kata itu.
"Bi, plis... jangan ragu. Saya gak mau lagi kita pisah. Kamu istri saya, maka kamu berkewajiban mengikuti kemana aja saya pergi, dan selalu ada mendampingi saya."
Tari berusaha memprovokasi Qameella agar mau bersama Garda. Hingga keraguan di hati Qameella pupus. Dia pun merelakan sepeda motornya untuk mereka berdua.
Qameella memeluk erat tubuh Garda dari belakang. Agar tubuhnya tidak terpental jatuh ke belakang saat Garda menaikkan kecepatannya. Tanpa sadar dia teringat masa-masa awal pertemuan mereka dulu. Pertemuan yang membuatnya dongkol.
Tapi dia sangat bersyukur pada Tuhan, karena dari peristiwa itu dia dipertemukan kembali dengannya. Meskipun berawal dari insiden salah paham, akhirnya menyadari adanya cinta yang besar di antara mereka.
*
Sepeda motor metik milik Tari memang tidak secepat motor balap milik Garda. Namun bisa melarikan cintanya jauh dari jangkauan orang-orang yang ingin memisahkan mereka.
"Kita mau kemana?" tanya Qameella saat Garda selesai mengisi bensin di SPBU.
"Kita akan pergi ke tempat yang gak ada buat misahin kita lagi," sahutnya tersenyum lembut.
"Ayo naik!" titahnya setelah menyalakan mesin. Qameella pun duduk di jok belakang.
"Pegangan yang kuat," pintanya sambil menarik kedua tangan Qameella secara bergantian melingkari pinggangnya.
Dengan senang hati Qameella melakukannya.
Setelahnya, mereka pergi membelah jalan raya di hari yang sudah beranjak malam. Entah kemana mereka akan melabuhkan kendaraannya. Yang pasti mereka tidak akan mau terpisah lagi.
*
Syair lagu by Deddy Dores dan Mayang Sari
Jangan pisahkan, aku dan dia
Tuhan tolonglah, kucinta dia
Biarkan kami, tetap bersama
Di dalam suka dan duka
***********
Hai readers... maaf ya author telat banget updatenya. Episode kali ini sampai disini dulu ya. Untuk episode berikutnya mungkin ada kandungan bawangnya. Jadi siapin tisu dari sekarang ya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan memberikan vote, like, hadiah, dan komentar ya.
See you next episode... 😘