
Happy reading
Dalam hati Meella sangat jengkel pada bosnya yang mengikut sertakan dirinya, dalam perjalanan bisnis ke kota kembang Bandung. Padahal setahunya bila Garda melakukan perjalanan bisnis ke luar kota atau luar negeri, hanya mengajak Dandi saja. Makannya saat Garda mengajaknya sontak menciptakan kerutan dalam di dahi Dandi. Lelaki itu keheranan dengan perubahan sikap Garda belakangan ini. Namun dia tidak berani menanyakan langsung pada sang bos. Hingga hanya bisa menduga-duga saja.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, akhirnya Garda, Dandi juga Meella tiba di hotel tempat mereka menginap malam ini. Ketika itu waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan malam.
Selesai makan malam di restoran yang ada di hotel tersebut, Meella langsung pamit kembali ke kamar hotel. Dengan alasan mendadak tidak enak badan. Meella tidak bohong saat mengatakan tidak enak badan. Karena memang kenyataannya kondisi tubuhnya terasa greges-greges seperti akan meriang. Apalagi rasa pusing dan mual yang nyaris terasa bersamaan. Sudah sejak di mobil saat dalam perjalanan menuju kemari, begitu terasa menyiksa. Setengah mati dia menahan gejolak ingin menyemburkan semua isi perutnya.
Tapi Meella harus bersyukur dengan bantuan minyak angin, minyak kayu putih bahkan minyak telon mampu meredam mual tersebut. Yah... walau pun dia harus berkali-kali minta maaf pada kedua pria yang sesekali menatapnya horor. Risih dengan bau-bauan yang menurut mereka aneh.
Meella keluar dari kamar mandi masih menggunakan bathrobe. Lalu membawa langkahnya menuju kasur dengan rambut hitam legamnya dibungkus handuk setelah keramas saat mandi tadi.
Ketika langkahnya berhenti di samping tempat tidur, Meella mendudukkan bokongnya di tepi kasur. Dia mendesah pelan sambil membuka handuk yang menutupi rambutnya. Menggosok pelan rambutnya yang lembab dengan handuk di tangannya.
Angannya menerawang jauh melanglang buana ke dunia sana. Tiba-tiba Meella teringat dengan Mirza. Pria baik hati yang katanya mau menerima apa adanya. Bahkan saat dia bilang telah hamil, anak si pria yang sudah menidurinya tanpa sengaja. Pria berhati malaikat itu masih mau menerimanya. Padahal ketika itu dia bicara asal saja tanpa pikir panjang, agar bisa membatalkan rencana pernikahan mereka.
Kini, ucapan itu bagai kutukan bagi dia sendiri. Meella benar-benar hamil. Nahasnya, dia tidak berani buka mulut perihal kehadiran si jabang bayi pada ayah biologisnya. Bukan tanpa alasan. Ada banyak faktor yang membuatnya tetap bungkam. Bahkan sempat terlintas untuk melenyapkan makhluk yang masih bersemayam dalam perutnya. Seakan tidak mengizinkan buah hatinya melihat dunia terlebih dahulu.
''Maafin bunda, sayang,'' ujarnya pelan seraya menundukkan wajahnya, menatap perut yang masih rata seraya mengelusnya lembut.
Entah mengapa tiba-tiba saja Meella meminta maaf. Mungkin karena dia merasa bersalah telah pernah berpikir untuk melenyapkan bayi dalam rahimnya, yang bahkan belum berbentuk sempurna wujudnya sebagai manusia baru.
Drrrtttt.... Drrrtttt... Drrrtttt...
Selang beberapa tiga puluh menit, ponsel Meella bergetar di atas nakas samping tempat ranjang hotel. Setelah melihat siapa nama penelepon yang tertera pada layar ponselnya, barulah dia menggeser ikon tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
Ketika itu Meella sudah bersiap hendak tidur. Namun urung dengan suara getar berulang dari ponselnya. Keningnya terlipat dengan mata memicing mengamati nama penelepon.
'Pak Pandega? Ngapain malam-malam nelpon? Apa mungkin masih ada berkas laporan yang kurang lengkap ya?' pikir Meella malah bertanya pada diri sendiri.
''Halo,'' suara di ujung sana terdengar mendahului.
''Ya, ha-halo?'' mendadak Meella jadi tergagap tidak jelas.
''Meella...''
''Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?'' tanyanya formil.
__ADS_1
''Ya. Tapi ini bukan masalah pekerjaan,'' sahut orang di ujung sana menjelaskan.
Meella mengernyit heran dengan jawaban bosnya yang terkesan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bukan masalah pekerjaan? Sedangkan kedatangan mereka bertiga untuk melakukan pekerjaan. Walaupun hanya peninjauan proyek pembangunan pabrik produksi makanan beku. Sudah sejauh mana progresnya untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Lalu, apakah yang dimaksud si bos adalah masalah pribadi?
Ah, iya. Meella baru ingat. Dia dan Bosnya punya masalah pribadi sebelumnya. Berhubung otak Meella yang tidak seberapa besar itu, terlalu sibuk diajak berpikir dalam menyelesaikan pekerjaan setiap hari. Hingga terlupa dan nyaris tidak ingat lagi.
''Bisa kita bertemu sekarang?'' pinta Garda menyeret Meella ke alam sadarnya.
Walau terperangah dan kurang mempercayai apa yang telah didengarnya. Meella tetap mengiyakan ajakan Garda. Mengabaikan rasa lelah tubuhnya yang minta diistirahatkan. Namun anehnya, saat dia sudah menyetujui ajakan Garda, tubuhnya kembali bugar. Hilang rasa lelah dan letihnya dalam sekejap. Mungkinkah ini bawaan si cabang bayi dalam kandungannya. Bahagia akan bertemu ayah kandungnya.
Kini keduanya berada di luar hotel. Tepatnya di dalam mobil yang dikendarai Garda tentunya. Tapi sepanjang perjalanan yang memakan waktu lima belas menit itu. Tidak ada satu pun yang mau memulai pembicaraan. Suasana dalam kabin mobil dibiarkan sunyi.
Rasa canggung mendera hati Meella. Lantaran hanya ada mereka berdua saja. Bagai sepasang kekasih yang sedang berkencan. Dandi tidak ikut karena sedang diberi tugas oleh Garda. Meella hanya mengiyakan saja penjelasan Garda. Dan menurut saja apa yang diperintahkan oleh Garda. Asalkan jangan disuruh mati saja oleh bos anehnya itu.
''Saya ingin makan siomay Bandung asli di kota Bandung nya,'' imbuh Garda saat baru tiba di taman, yang berjarak sekitar sepuluh menit dari hotel tempat mereka menginap.
Garda memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Baik Garda maupun Meella masih belum beranjak dari tempat duduk masing-masing. Mesin mobil sudah dimatikan si empunya kendaraan merangkap sopir juga.
Meella hanya menoleh dalam diam mendengar penuturan Garda. Khawatir rungunya salah menangkap gelombang suara yang diucapkan Garda. Lalu mengangguk setuju saja dengan pendapat pria yang berada di balik kemudi itu. Setelahnya melihat keluar dari balik kaca mobil.
Di taman ini Meella melihat para pengunjung baik dewasa maupun anak-anak, sedang menikmati suasana taman yang indah pada malam hari. Sepertinya Meella juga mulai ikut menikmati suasana penuh cahaya warna-warni yang ada pada air mancur di tengah taman.
''Saya gak tahu tiba-tiba saja begini. Kalo kata Dandi, saya seperti orang yang lagi ngidam.''
Deg!
Refleks Meella menoleh ke samping kanannya. Dia tercengang, terperangah, tertegun dan ter-ter lainnya yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Menatap Garda yang rupanya juga sedang menatapnya lekat. Jantung Meella menghentak keras seolah ingin lepas dari tempatnya. Sepasang matanya di balik kacamata minusnya membola sakit terkejutnya.
Tentu saja wanita itu terkejut bahkan sangat kaget. Bagaimana mungkin Garda mengalami ngidam. Sedangkan Meella saja yang sedang hamil tidak merasakan apa-apa. Paling hanya pusing dan mual saja yang datang tiba-tiba.
Mendadak Meella jadi khawatir. Takut Garda mengetahui kehamilannya yang masih dirahasiakan ini. Sebab tidak ada satu orang pun yang diberi tahunya. Bahkan keluarganya atau pun rekan kerjanya di kantor.
Meella tidak mau juga tidak berani berbagi berita ini. Bagi orang pada umumnya. Apalagi pasangan suami istri yang mengharapkan kehadiran anak di tengah-tengah mereka. Sudah pasti menjadi berita bahagia yang sangat ditunggu. Sedangkan Meella yang notabene seorang lajang. Tidak terikat pernikahan dengan seorang lelaki mana pun. Sayangnya, tidak berlaku untuk Meella. Karena bisa jadi berita ini adalah aib baginya maupun keluarganya.
Masa sih? Bagaimana mungkin? Mustahil! Batin Meella tidak ingin percaya apa yang sudah diucapkan Garda.
Garda terkekeh pelan entah sedang menertawakan siapa. Kemudian tersenyum kecil seakan menanggapi kebingungan yang disiratkan dari wajah gadis di sebelahnya. Dia pun menjawab,
__ADS_1
"Yah... saya akui aneh tuh ucapan asisten saya itu. Kadang emang suka aneh-aneh. Cara bicaranya juga aneh. Masa saya dibilang kaya orang yang lagi ngidam," Garda mendengus pelan seraya menghentikan kekehannya yang terasa garing. Pasalnya sedari tadi lawan bicaranya hanya diam mematung. Hingga membuatnya seolah-olah sedang bicara sendiri.
Garda mengalihkan pandangannya ke depan. Menatap jalan Ibu Kota Jawa Barat yang tampak sedikit lengang. Meella pun ikut melihat ke arah jalan raya dengan pikiran kalut.
''Ayo, kita turun!" Garda bergerak ke samping membuka pintu mobilnya, setelah sebelumnya mengambil bungkusan berisi siomay Bandung yang sempat dibelinya di tengah jalan menuju taman ini komplit dengan air minumnya.
Tanpa diminta dua kali, Meella membuka pintu mobil, turun dari kursi penumpang dan menutup pintunya dari luar. Matanya melirik Garda yang sedang berjalan mengitari depan mobil, berhenti tepat di depannya. Tatapan keduanya bertemu. Entah mengapa Meella merasa tatapan Garda malam ini terlihat berbeda. Berhasil membuatnya canggung. Dia tidak mau mengartikannya. Khawatir salah tafsir berujung salah paham.
Buru-buru Meella mengalihkan pandangannya ke arah air mancur, yang terlihat bersinar di tengah taman untuk menghilangkan kecanggungannya.
Di sana sudah banyak pengunjung yang datang untuk menikmati keindahan taman itu. Berbagai aktivitas berbeda mereka lakukan di sekitar taman. Ada yang sedang duduk-duduk santai sambil ngobrol, dan ada yang sambil makan jajanan mereka bersama pasangan, teman, atau keluarga. Ada juga pengunjung anak-anak yang sedang bermain ditemani orang tuanya di sekitar air mancur bercahaya di tengah taman.
"Ayo, kita cari tempat duduk," ajak Garda menyadarkan Meella dari lamunannya.
"Baik."
Meella dan Garda berjalan beriringan memasuki area taman. Entah sejak kapan tangan kanan Meella berada dalam genggaman tangan Garda. Dia benar-benar tidak tahu. Sepertinya dia tidak sadar saat awal tangan Garda menyentuh tangannya.
Tanpa Meella dan Garda ketahui. Di kejauhan ada seseorang yang sedang mengawasi, dan memotret kegiatan keduanya. Orang itu sudah mengawasi dan mengikuti sejak mereka keluar dari hotel.
Setelah merasa cukup memotret, orang itu langsung mengirimkan hasil jepretannya pada orang yang telah menyewa jasanya.
Selang dua menit, ponsel orang itu bergetar. Menampilkan sebuah pesan sekaligus misi berikutnya.
'Segera kau kasih pelajaran pada wanita itu sialan itu. Cukup buat dia terluka. Jangan sampai membunuhnya. Ingat! Kerjakan sealami mungkin agar terkesan kecelakaan biasa. Juga jangan sampai menimbulkan kecurigaan pada orang lain. Terutama pria di dekatnya.'
'Oke.'
***
Owh, ada apa ini ya?
Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian. Author tunggu ya...
Sorry telat update lagi 🙏🙏🙏
See you next episode...😘🥰
__ADS_1