Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#7


__ADS_3

Hai para readers... author come back bawa episode terbaru nih...


Terima kasih 🙏🙏 pada para readers yang udah kasih komentar positif atas karya author ini. Baik readers di dunia maya mau pun di dunia nyata. Terutama reader yang di dunia nyata yang terus-terusan nanyain kapan update, kalo author lagi vacum. Gara lagi badmood buat nulis, atau lagi cari inspirasi baru. Ya maklum author kan punya kerjaan amfibi gini hehehe...


Cus deh, happy reading...


************************************************


Pagi sudah menyingsing ketika Qameella baru membuka mata. Semalam tidurnya tidak terlalu nyenyak. Dan entah tertidur jam berapa? Untuk saat ini Qameella sedang dirundung kesedihan, tentu saja karena kehilangan orang yang teramat dicintai dan disayanginya. Maklum baru kali ini gadis itu merasa dicintai dan diperjuangkan. Setelah sebelumnya selalu merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Jadi, semalam tadi dia terus-terusan teringat Garda bersama kenangan-kenangannya. Sungguh sangat menguras emosi, energi juga air mata. Tidak mudah untuk melupakan, karena rasa kehilangan yang teramat menyakitkan ini.


Qameella meringis menahan sakit saat tanpa sadar menggeliatkan tubuhnya. Huh, hampir saja lupa jika lukanya masih basah, tentu saja masih lama sembuhnya. Bahkan kakinya masih terbalut perban. Entah kapan dia akan bisa berjalan normal lagi. Saat ini terpaksa menggunakan kursi roda untuk melakukan aktifitasnya. Juga kruk bila melakukan kegiatan di dalam kamar tidur dan masuk kamar mandi. Karena bila menggunakan kursi roda terlalu merepotkan juga banyak makan tempat, mengingat kamar tidur dan dan kamar mandinya tidak terlalu besar. Lalu menghela nafas lelah.


Selesai sarapan pagi Gusti, Maryam dan Qarmitha pergi ke makam Garda untuk menemani Qameella. Dalam keadaan seperti ini mereka tidak mungkin membiarkan Qameella pergi sendirian. Selain itu mereka juga ingin berziarah ke makam Garda untuk memanjatkan doa kubur. Lantaran tidak sempat datang ke pemakaman Garda kala itu, sibuk mengurus Qameella di rumah sakit dan ***** bengeknya. Kala itu terbaring koma.


Gusti dan Maryam tidak bisa beranjak ke mana-mana menunggu Qameella bangun dari koma. Bahkan restoran mereka terpaksa diserahkan pada Qarmitha untuk diurus untuk sementara waktu. Entah benar atau tidak pembukuan restoran saat ditangani Qarmitha, Gusti tidak peduli. Yang terpenting bagi pria itu bisa memantau perkembangan putrinya. Dan usahanya sebagai mata pencaharian satu-satunya tetap berjalan lancar.


Gusti mendorong kursi roda yang diduduki Qameella. Sedangkan Maryam dan Qarmitha berjalan di belakang Gusti hendak menuju kompleks tempat peristirahatan terakhir Garda.


Jiwa Qameella terasa hanya separuh mendiami tubuhnya. Sisanya ikut hilang bersama lenyapnya Garda dari pandangan matanya. Tak ada gairah yang berpendar di mata Qameella, menunjukkan bahwa dia mampu melewati masa sulit ini. Hanya kehampaan tersisa di sudut hatinya yang sunyi.


"Meel," suara itu terdengar sangat familiar mengetuk gendang telinga Qameella. Sontak wajahnya yang tertunduk lesu terangkat ke sumber suara, bersamaan dengan berhentinya kursi roda yang diduduki. Pasalnya orang-orang yang sedang bersamanya juga tersentak kaget melihat sosok itu.


Garda? Ah, gak mungkin! Garda gak akan panggil gue dengan nama panggilan itu. Batin Qameella menyadarkan dirinya sendiri.


Wajahnya menengadah menatap lurus melihat dia, cowok yang hampir 99% mirip dengan Garda.


Bukan, dia bukan Garda. 'Bi'! Ya, dia hanya panggil gue dengan sebutan itu, 'Bi' bukan yang lain.


Gusti, Maryam dan Qarmitha tertegun melihat cowok berparas ganteng itu.


"Hai!" serunya pelan.


"Oh, hai!" sahut Qameella canggung.


Kemudian Qameella mulai menyadari jika para anggota keluarganya yang tengah mematung, tertegun melihat duplikat Garda tampak syok. Buru-buru dia menjelaskan agar tidak ada yang salah kaprah. Heh!


"Dia bukan Garda, Ma, Yah, dan elo, Tha pasti udah tahu kan siapa dia?"


Gusti, Maryam dan Qarmitha berusaha menetralkan kekagetan mereka. Tentu saja mereka kaget tidak terkecuali Qarmitha yang saat bukan kali pertama bertemu dengan cowok itu.

__ADS_1


"Ah, iya. Ma, Yah, dia Rega, kembarannya Garda. Juga pernah sekelas sama Lala," Qarmitha menambahkan dengan terbata.


"Oh, ternyata kalian juga kembar," Gusti tersenyum ramah. Tiba-tiba dia baru teringat bila Karina dan Andika juga memiliki anak kembar laki-laki. Dulu sempat bertemu mereka beberapa kali semasa menjadi karyawan perusahaan Andika.


Maryam hanya mengangguk, tanpa berkomentar apa pun.


Tidak ada obrolan panjang saat ini. Mereka semua langsung menuju makam Garda.


Pelan tapi pasti kursi roda yang diduduki Qameella sampai di depan papan nisan makam Garda. Sedari jauh ada gemuruh yang berkecamuk hebat dalam dadanya.


Saat kursi rodanya di arahkan tepat di sisi gundukan tanah merah. Di atasnya masih terlihat bunga-bunga warna warni bertaburan. Juga sebuah foto yang sengaja ditinggal, dan di letakkan di depan papan nisan.


Pandega Garda Negara


Bin


Andika Pratama Negara


Tatapan mata Qameella dingin dan kosong setelah membaca nama si empunya papan nisan. Dunianya seakan berhenti berputar. Waktu pun seolah berhenti berjalan. Rasa sesak mendadak menyerang, denyut sakit di sekitar dada membuat Qameella kesulitan mengatur nafas.


Dia tidak mampu lagi membendung air matanya. Sebisa mungkin dia menutupi rasa itu agar orang-orang di sekitarnya tidak khawatir. Namun air matanya sulit diajak kompromi. Cairan bening itu terus saja membanjiri, mendesak keluar dari pelupuk matanya. Hingga mengaburkan pandangannya. Langsung luruh dan terjun bebas, sesenggukan meratap.


Gusti menepuk pelan bahu Qameella. Juga menguatkan sang putri yang kini tengah rapuh.


Qameella mencengkeram erat sandaran tangan kursi rodanya. Berusaha bangkit dari duduknya setelah menurunkan sebelah kakinya yang tidak diperban. Rupanya gadis itu ingin turun ke tanah, memeluk nisan Garda.


Gusti yang menyadari pergerakan Qameella tidak menghalangi, malah membantunya dengan pelan dan telaten. Karena kondisi kaki Qameella yang masih sakit.


"Garda... kenapa bisa seperti ini?" todong Qameella meraung pilu di atas pusara.


"Kenapa kamu pergi tinggalin saya? Padahal kamu udah janji kita bakalan terus bersama..." tangan Qameella mencengkeram tanah beserta bunga-bunga yang ada di atas pusara. Tangisnya begitu pilu menyayat hati. Air matanya jatuh bertebaran di atas tanah.


Semua orang yang menyaksikan pemandangan itu tak pelak ikut terunyuh, dan menitikkan air mata.


Rega berjongkok di sisi Qameella. Tangannya terulur menyentuh bahu gadis itu yang tengah bergetar hebat. Mencoba menyalurkan kekuatan untuk melepas kepergian yang memang ditakdirkan untuk pergi untuk selamanya.


Jauh dari tempat mereka berada, diam-diam seorang pria berjas hitam dengan kacamata hitam yang bertengger pada batang hidungnya. Mengamati dengan cermat setiap gerak gerik mereka. Kemudian menghubungi seseorang via telepon.


"Halo," ujarnya setelah tersambung.

__ADS_1


"Bagaimana?" suara di ujung sana langsung melontarkan pertanyaan.


"Mereka sedang di sini Tuan. Sepertinya mereka percaya jika Tuan muda meninggal, Tuan," jawabannya jujur.


"Bagus. Awasi mereka terus," titah seseorang yang dipanggilnya Tuan itu si seberang sana.


"Tuan, maaf," suara pria itu terdengar ragu dan sedikit takut-takut. Sesekali netranya yang tertutup kacamata hitam mengawasi.


"Ada apa?" tanya dari seberang sana dingin.


"Di sini saya melihat di antara mereka ada seorang pemuda yang wajahnya mirip dengan Tuan muda, Tuan," orang di seberang sana tertegun sejenak mendengar laporan dari salah satu anak buahnya.


"Dia adalah saudara kembar putra saya," begitu selesai menyampaikan informasi sang Tuan langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


Di tempat lain. Di salah satu rumah sakit terbesar negara Amerika serikat.


Orang yang baru saja memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak adalah Andika. Pria itu kini sedang berdiri menyamping dalam ruang ICU. Lalu menoleh ke arah brankar di sampingnya. Di situ tergolek tak berdaya seorang pemuda tanggung.


Di tubuhnya banyak ditempeli alat-alat medis yang terhubung langsung dengan layar monitor di sisi brankar. Tidak ketinggalan selang oksigen sebagai alat bantu pernapasan, juga bertengger di lubang hidung sang pasien.


Dia adalah Pandega Garda Negara, atau yang kerap disapa Garda. Cowok tampan yang terbaring koma dengan wajah pusatnya, sekilas terlihat tak bernyawa.


Dalam kecelakaan itu cedera yang dialami Garda lebih parah dari Qameella. Terutama pada bagian kepala yang sempat mengalami pendarahan. Akibatnya, cowok itu kemungkinan mengalami amnesia. Tetapi semua itu belum terbukti akurat, sebelum Garda benar-benar siuman dari komanya.


Andika tersenyum puas telah berhasil menipu Qameella dan keluarganya. Sekaligus menipu dunia. Bagaimana tidak? Demi memisahkan Garda dan gadis ingusan itu, dia rela menyebarkan kabar palsu tentang kematian putranya sendiri. Bahkan mantan istrinya, Karina, dan putranya yang lain, Rega tidak tahu tentang skenario yang dirancangnya sendiri.


Tak tanggung-tanggung Andika pun sengaja membeli tanah makam kosong untuk dijadikan kuburan Garda. Selain itu dia juga membayar dengan nominal yang tidak sedikit. Membeli jasad tak dikenal dari rumah sakit, tempat Garda pertama kali ditangani sebagai pengganti, agar semua orang percaya bahwa ada tubuh yang terkubur di dalam pusara Garda.


Tidak sulit bagi Andika untuk melancarkan aksinya. Merekayasa kematian putranya. Tentu saja dengan bantuan orang dalam. Apalagi dengan statusnya sebagai pemilik rumah sakit. Pasti tidak ada seorang pun yang berani membantah permintaannya. Dan semudah membalikkan telapak tangan, semuanya berjalan sangat lancar.


Licik dan egois! Itulah sifat Andika yang sesungguhnya. Demi egonya sendiri dia rela mengorbankan masa depan putranya.


Andika tersenyum miring. Dalam hati bersorak gembira.


***


Sampai di sini dulu ya episode kali ini. Niat hati pengen update 2 episode sekaligus. Berhubung menggunakan hp jadi episode berikutnya masih otw y.


See you next episode 😘🥰

__ADS_1


__ADS_2