
Happy reading
Di tengah perbincangan hangat namun kaku. Lantaran Meella yang kurang luwes berbicara dengan orang lain. Walau pun dia sudah kenal lama dengan Rega. Bahkan lebih dulu dibandingkan perkenalannya dengan Garda. Itu pun karena faktor ketidaksengajaan.
Selain itu, Rega adalah orang yang sebenarnya disukai Meella saat itu. Tetapi takdir malah membuatnya terikat dengan Garda. Orang asing berwajah familiar selalu berusaha menarik perhatian Meella, agar selalu mata dan hatinya hanya tertuju pada Garda.
Masa bodoh dengan sikap tengilnya yang membuat Meella sakit kepala. Bodo' amat dengan segala penolakan yang Meella berikan terhadapnya. Hingga putus berkali-kali pun Garda tidak peduli. Karena kenyataannya Meella hanya miliknya seorang. Dan sudah terbukti saat ini. Sehebat dan selicik apapun Andika memisahkan Garda dan Meella. Tetap saja Garda tidak akan bisa melepaskan Meella. Kini ikatan keduanya makin kuat karena janin yang dikandung Meella adalah benih Garda.
Tetapi bila mengingat obrolan terakhirnya dengan Andika, si bapak mertua yang tidak pernah mau merestui hubungannya dengan Garda sejak dulu. Tekad Meella ingin membina rumah tangga secara utuh bersama Garda goyah. Perempuan itu memang terlalu naif dan impulsif. Itu sebabnya dia tidak pernah berani menata kebahagiaannya sendiri. Selalu saja takut dan menyerah di bawah ancaman siapa pun yang tidak merestui hubungannya dengan Garda. Bisa dibilang mental Meella cemen.
''Tinggalkan Pandega,'' sengaja Andika menyebut nama Garda dengan nama depannya.
''Aku tahu hubungan kalian bukan hanya sekedar sekretaris dan atasan. Bahkan saat ini kamu sedang hamil.''
Ketika itu Andika tiba-tiba saja menghubungi Meella. Lalu meminta bertemu di sebuah ruang VIP restoran bintang lima. Tentu saja diluar sepengetahuan Garda. Supaya aksinya memisahkan mereka berjalan mulus sesuai rencana.
Meella hanya membelalakkan mata terkejut. Tapi berusaha menormalkan degup jantungnya yang mendadak melompat-lompat karena takut. Dia takut Andika akan melenyapkan bayi yang belum sempat melihat dunia. Bahkan dirinya sendiri ikut bisa saja lenyap bersama bayinya. Sebagaimana dulu pria itu menyuruh orang lain membuat skenario kecelakaan. Hingga drama kematian Garda yang nyaris bikin Meella hilang nyawa juga depresi.
''Ambillah uang ini,'' Andika menyodorkan segepok uang yang terbungkus rapi dalam amplop coklat kecil persegi panjang. Sengaja menyorong amplop yang tergeletak di atas meja lebih dekat ke depan Meella.
Arah pandang Meella mengikuti gerak tangan Andika. Kemudian mengangkat pandangannya dengan tatapan datarnya. Dia tidak berkomentar, hanya diam menunggu pria yang umurnya tidak jauh beda dengan Ayahnya itu menyelesaikan ucapannya.
''Gugurkan anak itu. Aku tidak mau memiliki cucu dari wanita yang tidak sederajat dengan keluargaku,'' sarkas Andika tidak berperasaan.
Sungguh tidak berprikemanusiaan sekali ucapan pria tua itu. Entah punya hati nurani atau tidak. Dia begitu enteng sekali meluncurkan kalimat seperti itu. Tanpa mempedulikan hati Meella yang hancur tercabik-cabik tapi tak nyata.
''Dan kamu tahukan apa konsekuensinya jika kamu berusaha membantah perintahku?'' aura pria itu menggelap dan suram.
Meella tentu tidak buta dan tidak juga tuli, hanya sekedar melihat apa saja efek dari kemarahan Andika, pemilik perusahaan terbesar di negara ini.
Meella tersenyum tenang namun menghadirkan aura dingin.
__ADS_1
''Saya akui memang saya bukan berasal dari keluarga berada seperti tuan. Saya juga gak menampik jika setiap manusia yang hidup di dunia ini butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitu pun saya. Tapi saya bukan tergolong dalam manusia materialistis yang berlebihan. Jadi, tuan gak usah repot-repot mengeluarkan banyak uang hanya untuk menyingkirkan saya pergi meninggalkan anak tuan. Jika hanya untuk itu tuan gak perlu khawatir. Karena saya memang sudah berencana untuk meninggalkan putra kesayangan tuan. Untuk masalah pun anda gak usah memikirkannya. Ini tanggung jawab saya. Dan saya memang sudah berencana untuk melakukan aborsi,'' jawaban yang sangat menohok Andika dari mulut seorang Meella. Perempuan sederhana dengan kacamata minus yang selalu bertengger di pangkal hidungnya.
Andika dibuat speechless oleh perempuan di depannya itu. Tanpa dia sadari, dia mengagumi pernyataan bijaknya. Sungguh berbeda dari perempuan-perempuan yang pernah ditemui. Bahkan Bianca pun tidak berpikiran seterbuka Meella. Inikah poin plus yang dilihat Garda dari perempuan yang sekilas terlihat tidak menarik sedikitpun? Tetapi bila dicermati dengan baik. Perempuan bernama lengkap Qameella Aulia Rahmah itu ternyata menyimpan sejuta pesona yang terpendam. Bagai mutiara terpendam. Tetap berkilau walau berada dalam lumpur sekali pun.
Pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Itu berarti proses operasi yang dijalani Mitha belum selesai.
Rega dan Meella kembali terdiam. Seakan keduanya sudah kehabisan bahan obrolan. Ditambah sifat dasar mereka yang nyaris sama. Sama-sama kalem dan pendiam. Komplit deh pakai telor. Huh, author jadi ngelantur ini, dikira jamu kali... pake komplit segala ada telornya juga lagi. Haduuuh eror dah!
Suara hentakan kaki pada lantai lorong rumah sakit terdengar menggema dan kian mendekat. Benar saja itu suara hentakan kaki Gusti dan Maryam yang sedang berlari kecil agar segera sampai di depan ruang operasi.
Sontak Rega dan Meella mengangkat wajah mereka. Setelah rungu mereka sedikit terganggu dengan suara langkah kaki mereka.
''Nak, Rega,'' seru Maryam cepat saat baru sampai di depan sang menantu.
Rega langsung beranjak berdiri melihat raut kecemasan yang sangat kentara di wajah wanita tua itu. Dia menatap Gusti dan Maryam secara bergantian dengan tatapan sendu. Rupanya kedua mertuanya langsung bergegas ke rumah sakit setelah menerima kabar Mitha darinya.
''Bagaimana kondisi Thatha, Nak? Apakah parah?'' tanyanya sambil berurai air mata.
''Sabar, Ma...'' Gusti berusaha menguatkan istrinya, kendati hatinya goyah dan pilu.
''Tapi, Yah... Mama khawatir dengan kondisi Thatha,'' bantah Maryam sedikit kesal dengan suaminya yang meminta sabar.
''Iya. Ayah mengerti kegelisahan Mama. Ayah juga khawatir. Tapi kita harus sabar dulu sampai operasi Thatha selesai,'' kilah Gusti berusaha tetap tenang dan bijak. Lalu merengkuh tubuh Maryam dalam pelukannya.
''Ya Allah... ya Tuhanku... kenapa bisa seperti ini pada anakku?'' Isak Maryam menyesali semua yang terjadi pada Mitha.
Meella beranjak berdiri dengan gerakan lambat. Tatapan matanya tidak lepas dari kedua orang tuanya. Berharap mereka bisa menyadari keberadaannya. Namun harapannya sia-sia karena mereka sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Bagai makhluk tak kasat mata yang tak terlihat. Hatinya sedih merasa diabaikan.
Dia pun tidak berinisiatif untuk menyapa dan mendekati mereka. Karena merasa sungkan mengingat dosa-dosanya yang sepertinya tidak bisa mereka ampuni. Apalagi saat Maryam menangisi kondisi Mitha. Hatinya terasa mencelos, ya mengapa harus terjadi pada Mitha? Kenapa tidak pada dia saja yang merupakan target mereka. Mungkin dengan begitu mereka tidak perlu bersedih lagi seperti ini. Juga dia bisa langsung mati saja agar tidak menanggung beban derita ini lagi.
Di saat mereka tengah berusaha menenangkan Maryam. Diam-diam Meella berjalan pelan pergi meninggalkan mereka. Baginya keberadaannya akan menambah luka mereka. Dia sudah menanam pikiran buruk tentang dirinya sendiri. Tentu setelah apa yang mereka lalui dan sialnya itu semua karena dirinya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari pintu ruang operasi. Semua orang mengalir atensi mereka pada sang dokter. Lalu menghampiri sang dokter dengan pertanyaan mengenai Mitha.
Meella yang belum benar-benar pergi jauh. Buru-buru mencuri dengar dari balik dinding pembatas antara ruang operasi dengan lorong rumah sakit.
Maryam tetap menangis saat dokter mengabarkan kondisi Mitha yang sudah berhasil melewati masa kritisnya. Namun akibat luka tusuk itu menyebabkan ada kerobekan pada dinding rahimnya. Hingga dokter tidak bisa menyelamatkan kandungan Mitha yang baru menginjak usia empat Minggu.
Hati Rega mencelos juga sedih atas kabar itu. Walau pun tidak memprediksi kehamilan Mitha. Tetapi dia tetap menyayangkan kepergian anak yang bahkan belum ia ketahui keberadaannya.
Apalagi saat dokter menambahkan, akibat tusukan tersebut membuat Mitha sulit mengandung kembali.
Maryam melabuhkan kepalanya pada dada Gusti. Menumpahkan air matanya di sana bersama sesak yang menderanya.
Tidak henti-hentinya Gusti membujuk istrinya agar tetap tegar. Meski dirinya sendiri ikut menangis setelah tahu kondisi putrinya di dalam sana. Dan kehilangan cucu yang belum sempat diketahui bentuknya bukanlah pengalaman yang mengasyikkan.
Rega tetap berusaha tegar atas apa yang sudah menimpa istri dan calon anaknya.
Sementara Meella membalikkan tubuhnya. Menyandarkan punggungnya pada dinding tempatnya bersembunyi. Menangisi sesenggukan menyesali semua yang terjadi pada saudara kembarnya.
Maafin gue, Tha. Seandainya bukan elo yang diculik. Mungkin elo gak kaya gini. Anak lo selamat dalam kandungan sampai detik ini. Maaf... maafin gue, Tha...
Ya Tuhan, mengapa bukan hamba aja yang ada di posisi Mitha? Biarkan hamba yang menanggung semuanya. Agar kesedihan mereka tidak sebesar ini...
Meella segera menghapus kasar air matanya dengan punggung tangannya. Kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu, sebelum mereka menyadari keberadaannya yang mungkin akan menambah luka hati mereka.
*
Hai readers... 😭 sampai di sini dulu ya ceritanya. Author takut kebanjiran air mata nih.
Jangan lupa jejak cantik kalian ya.
See you next episode ya... 😘🥰❤️🙏
__ADS_1