Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Hah, Hamil???!!


__ADS_3

Hai readers.... author up lagi nih...


aduh.... author benar-benar keliyengan bikin cerita kali ini, karena author harus bolak balik menyusun alur cerita.


Semoga cerita kali ini para readers merasa terhibur.


Happy reading... and selamat bermalam mingguan...


...****************...


Qameella tidak bisa tinggal diam melihat kesedihan Tari. Dia harus melakukan sesuatu untuk membantu meringankan beban hati sahabatnya. Tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Ditatapnya wajah Tari yang tampak damai, terbaring di atas kasur dan menyembunyikan separuh tubuhnya di balik selimut. Sepertinya gadis itu tertidur setelah lelah menangis, meluapkan isi hatinya pada Qameella.


Kini Meella terdiam duduk sendiri di pinggir tempat tidur Tari. Mengusap wajahnya pelan, lalu kembali menatap wajah Tari yang tampak terusik dengan kehadirannya.


Mungkinkah Tari hamil? Setelah dua Minggu telat datang bulan, maka kemungkinan satu-satunya yang terjadi adalah...


Qameella menghela napas berat, panjang dan pelan. Khawatir desah napasnya akan menggangu tidur sahabatnya.


Mungkin inikah yang ditakutkan ayah kalo gue pacaran? Hufth, kalo udah begini gue jadi beneran takut. Emang sebaiknya gue harus menghindari makhluk yang berjenis kelamin cowok deh. Terutama yang namanya Garda. Ish, nyosor Mulu udah kaya soang. Batin Meella bicara sendiri.


Apa gue cari si Dimas aja, ya? Tapi....masa sih sekarang? Sekarang udah malam. Nanti orang tua gue nyariin. Terus kalo mereka tahu gue keluyuran, apa iya mereka gak marah sama gue?


Qameella mengalihkan pandangannya pada jam kecil yang berada di atas meja belajar Tari.


Baru jam 8 lewat 20. Kayanya gak papa kalo gue pergi sekarang. Nanti gue akan pulang sebelum jam 10.


Gadis berkuncir kuda itu bangkit berdiri sambil menarik ujung bawah jaketnya untuk merapikan. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat akan memutar gagang pintu kamar Tari.


"Tapi... gue mau cari di mana? Kenal aja sama Dimas aja nggak?" tanyanya pada diri sendiri bingung.


"Ah, gue tahu!" serunya pelan. Kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar Tari.


*


Iwan dan Sonik masih mengobrol di depan teras basecamp geng ABABIL. Kali ini mereka ditemani oleh Rombeng. Rupanya cowok dengan model rambut semi mohawk itu, lama-lama tidak betah juga atas kehadiran ketiga cewek yang cuma bisa memecah bangsa.


Ketiga cowok yang rata-rata bertubuh kurus, dan model rambut yang berbeda kini sedang asyik menikmati seloyang pizza yang dipesan Fiola melalui jasa pengiriman online.


Tidak apa-apa malas sama orangnya, yang penting makanannya bikin perut kenyang. Lumayan kan makan makanan gratis. Tidak perlu rogoh kocek sendiri. Langsung santap tanpa keluar keringat, nikmat!


Di dalam basecamp, Fiola berusaha menyuapi Garda dengan sepotong pizza dari tangannya sendiri. Namun berulang kali Garda menolaknya. Bahkan dia juga tidak berniat menyentuh sendiri makanan khas negara Italia itu.


Bukan karena tidak doyan. Tapi melihat tingkah polah Fiola yang sangat agresif membuat Garda hilang nafsu makan.


Sebuah sepeda motor berhenti tepat di pinggir jalan, depan markas besar geng motor ABABIL. Kemudian seseorang yang entah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, lantaran pencahayaan di luar kurang terang, dan juga orang itu memakai masker dan menutupi kepalanya dengan hoodie jaket, lalu turun dari jok belakang. Namun jika diperhatikan dari bentuk tubuhnya, orang itu menunjukkan berjenis kelamin betina.


"Siapa tuh, bro?" tanya Sonik rada heboh, gara-gara orang tersebut datang menghampiri mereka.


"Tahu!" sahut Iwan santai.


"Paling orang mau tanya alamat doang," timpal Rombeng asal-asalan.


Sonik, Iwan dan Rombeng tetap melanjutkan makan mereka, hingga orang yang sedari tadi mereka perhatikan berdiri di depan mata mereka.


"Permisi..." suaranya terdengar lembut.


"Iya..." sahut mereka bertiga serentak sambil memicingkan mata, menatap orang itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Tanpa komando, lagi-lagi ketiga cowok jomblo itu kompak terkejut kala orang itu membuka maskernya yang menutupi pangkal hidung sampai dagu. Rupanya Qameella yang datang. Sontak mereka beranjak berdiri kaku menyambut kedatangan gadis itu.

__ADS_1


Meella...


Qameella terkesiap melihat sikap mereka bertiga yang terkesan aneh. Refleks memundurkan kepalanya ke belakang dengan mata yang melebar.


Sonik, Iwan dan Rombeng tentu tahu siapa gadis yang sedang berdiri di depan mereka. Dia adalah gadis kesayangan Garda, ketua geng mereka. Selain itu status yang dimilikinya bukan hanya sekedar pacar. Tetapi istri sah. Itu sebabnya Garda sering memanggilnya 'Bini'.


"Elo.... Meella kan?" tanya Sonik ragu.


Qameella hanya menganggukkan kepalanya.


Buru-buru Rombeng membuka pintu markasnya yang memang sudah terbuka lebih lebar lagi. Kontan mereka semua yang ada di dalam terkejut mendengar suara daun pintu yang membentur dinding di belakang pintu. Mengalihkan pandangan ke arah luar pintu.


"Bro, bro, ada Bini lo datang," pekik Rombeng menerobos masuk dengan tergesa.


Garda mengerutkan keningnya, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja diberitakan Rombeng.


Serta merta raut wajah Fiola berubah masam. Dia tidak suka mendengar kabar itu. Apalagi melihat orangnya. Tanpa sadar dia meremas ujung sepotong pizza yang masih di tangannya, menggantung di udara karena tadinya sedang berusaha menyuapi Garda.


"Bini, gue?" reaksi yang sangat telat tunjukkan Garda. Gadis itu sudah berdiri di depannya. Hanya dibatasi meja persegi panjang dengan tinggi 60 cm.


Tatapan mata Garda bersirobok dengan mata yang selalu dibingkai kacamata minus Qameella. Semburat rona bahagia terpancar di mata Garda. Ingin rasanya dia memeluk dan mencium bibir Qameella yang ranum. Namun dia harus menahan diri untuk menjaga image-nya. Walau bagaimanapun dia orang yang masih punya harga diri. Gadis itu telah memutuskan hubungan dengannya. Jadi, tidak boleh mudah terpengaruh.


Garda pura-pura mengalihkan perhatian pada pizza yang ada di tangan Fiola. Membuka mulut, mengisyaratkan minta disuapi oleh gadis yang duduk di sisinya. Gayung pun bersambut. Dengan senang hati Fiola menyorong sepotong roti pipih dengan toping daging, jamur dan keju ke mulut Garda.


Fiola tersenyum penuh kemenangan seraya merapatkan tubuhnya pada dada bidang Garda.


"Eh, hmm... maaf udah ganggu kalian semua," akhirnya Qameella bersuara, setelah sekian detik tertegun menatap kemesraan Garda dan Fiola.


Gue mau lihat seberapa kuat elo bertahan. (Garda)


Kesempatan bagus buat tunjukkin ke cewek cupu itu, kalo sekarang Garda bakal jadi pacar gue. (Fiola tersenyum angkuh)


Gue gak boleh terpengaruh! Gak boleh! Gak boleh! Gue harus bisa nolong Tari. Harus! (Qameella)


Di luar dugaan, Qameella mengabaikan Garda yang sudah kepedean bisa membalas sakit hatinya. Harga diri cowok itu sangat terluka saat diputuskan secara sepihak oleh gadis berkacamata itu.


Qameella mengalihkan pandangannya pada Ryan. Bocah berkulit paling gelap di antara yang lainnya itu sedang sibuk menghabiskan dua potong pizza sekaligus. Kedua tangan kanan dan kirinya memegang masing-masing satu potong, lalu menggigitnya secara bergantian.


"Keling, eh maksudnya Ryan," panggil Qameella canggung seraya merapikan kacamatanya.


Garda membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Kok, dia malah nyuekin gue sih?


"Ya," sahut Ryan dengan mulut yang penuh. Lalu menguyah sangat rakus.


"Gue... hamil!" ujar Qameella tanpa basa-basi.


"Apa?!" pekik Garda terperanjat kaget. Beranjak berdiri dengan kilatan amarah di matanya. Tanpa peduli Fiola yang sedari tadi menempel bagai prangko, tiba-tiba limbung.


"Elo hamil sama si cengunguk Keling ini, Bi?" tanya Garda dengan kilatan amarah di matanya, jari telunjuknya mengacung ke arah cowok berambut ikal itu.


Tanpa menyelidiki terlebih dahulu, dia langsung menuduh Qameella. Amarah dan cemburu menyatu memenuhi hatinya, lalu menjadi racun yang dapat mematikan cinta dan kasih sayangnya di dalam sanubarinya. Karena emosi tingkat tinggi, Garda sampai melupakan kata saya dan kamu sopan yang selalu digunakan ketika berbicara dengan Qameella.


"Hah?" Ryan terperanjat kaget, hingga mulutnya terbuka lebar, menunjukkan isi di dalamnya yang masih belum halus dan belum ditelannya habis. Lalu tersedak melihat mata elang Garda yang terasa tajam menukik.


"Hah, hamil?" suara mereka semua terdengar kompak seperti paduan suara.


Qameella melambaikan kedua tangannya di udara. Gadis itu mencoba mengkonfirmasi bahwa semua itu tidak benar. Namun lidahnya tiba-tiba terasa keluh.


Garda menarik gemas kerah baju Ryan. Bocah berbadan gempal itu terpaksa berdiri, mendongakkan wajahnya bertatapan langsung dengan bola mata Garda.

__ADS_1


"Keling. Elo adalah teman gue yang paling ngertiin. Setiap ada sesuatu gue pasti cerita sama elo," lirih Garda mengungkapkan kekecewaannya pada teman yang selama ini dianggapnya paling mengerti dirinya.


Dengan cepat Ryan mengangguk mengerti.


"Tapi kenapa... elo malah ngancurin hati gue? Padahal elo udah tahu gimana hubungan gue sama Bini gue, heh?" Ryan mengangguk-angguk mengerti.


"Tapi kenapa??" lanjut Garda setengah berteriak sambil mengguncang tubuh Ryan.


"Sekarang mending elo ngomong jujur aja sama gue. Udah berapa lama elo main serong sama Bini gue, heh?" Garda menarik gemas kerah baju Ryan. Bocah berbadan gempal itu terpaksa berdiri, mendongakkan wajahnya bertatapan langsung dengan bola mata Garda.


"Ayo jawab!" desak Garda dengan suara menggelegar.


Seketika tubuh Ryan bergetar hebat. Mendadak jadi meriang, panas dingin karena ketakutan. Tanpa sadar menjatuhkan potongan pizza yang tersisa tinggal setengah dari tangannya.


Sontak suasana tiba-tiba berubah terasa mencekam. Tidak ada yang berani bersuara saat ini. Mereka semua diam melihat amarah Garda. Semua pasang mata yang ada dalam ruangan ini mendadak mengintimidasi Ryan dan Qameella.


"Berapa lama kalian berdua berhubungan diam-diam di belakang gue?" Garda berdiri menjulang tinggi di depan Ryan. "udah sejauh mana?"


Melihat sikap Garda yang tiba-tiba berubah liar, Qameella jadi panik dan khawatir. Tetapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menetralisir suasana.


Ya ampun... gimana ini? Kok, jadi gini sih? Kenapa jadi marah sih? Batin Qameella meracau gelisah. Dia tidak menyadari jika apa yang diucapkannya tadi adalah sebuah kesalahan.


"Busyet dah! Ternyata diam-diam elo punya nyali gede juga, Ling," decak Tikeng memelankan suara sambil geleng-geleng kepala. "Udah bosen idup, lo?" lanjut Tikeng ketus.


"Gue gak nyangka, ternyata elo bisa makan teman sendiri lo, Keling," timpal Rombeng mencibir.


"Lihat tuh, Gar. Ternyata cewek cupu yang selama ini banggain selingkuh di belakang lo," hardik Fiola sinis. Sengaja memprovokasi Garda. Tersenyum miring.


Masih banyak lagi cibiran yang keluar dari mulut pedas mereka, yang hanya dapat memperkeruh suasana. Bahkan menyudutkan Qameella.


Qameella menatap Fiola dalam diam. Dia tidak mau terpengaruh oleh ucapan yang tidak berdasarnya.


"Gue gak nyangka kalo pesona Garda, kalah sama si Keling, cowok gelap gulita kaya lagi mati lampu," bisik Mona di telinga Nadin. yang ditanggapi senyum sinis meremehkan Qameella dan Ryan.


Ryan semakin merinding takut. Kepalanya menoleh kaku seperti robot ke arah Garda. Dilihatnya hidung Garda kembang kempis mengeluarkan asap. Wajahnya memerah dengan mata menyala merah pula. Gigi taring ketua gengnya pun tampak memanjang, keluar dari sudut bibir seakan siap menyantap daging tubuhnya yang tebal dan berlemak. Tentu bukan beneran ya, karena ini hanya fantasi Ryan yang sedang ketakutan setengah mati.


"Ampun, ampun bos..." Ryan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pengampunan.


"Gue berani sumpah demi Tuhan, kalo gue gak pernah punya hubungan apa-apa sama nyonya bos," ujar Ryan berusaha menjelaskan di tengah ketakutannya. Mengangkat kedua jari tangannya, telunjuk dan jari tengah menunjukkan kesungguhannya.


"Elo jangan pernah coba-coba bohongin gue..." geram Garda dengan rahang yang mengeras. "kalo elo gak punya hubungan apa-apa, terus kenapa Meella bilang hamil? Pasti kalian udah...."


"Suwer tekewer-kewer dah bos, kalo kita berdua gak ada apa-apa," sela Ryan lirih.


"Elo udah tahu kan gimana sifat gue?" bisik Garda di depan wajah Ryan. "gue bisa berbuat nekad. Menghilangkan nyawa orang pun gue sanggup. Jadi, lebih baik elo ngaku aja sekarang!" bentaknya diakhir kalimat.


"Nggak, itu gak benar. Gue gak pernah ngapa-ngapain si Meella, bos... gue sumprit bener dah," kembali dua jari kanan Ryan, telunjuk dan jari tengah terangkat di udara, menunjukkan sumpah dan kesungguhannya.


"Boro-boro bikin dia hamil, nyentuh kulitnya aja gak pernah," lirih cowok itu menitikkan air mata.


"Meel... tolong elo bantuin gue ngomong, jelasin ke bos Garda, kalo kita gak ada hubungannya apa-apa," pintanya mengiba.


"Gar," suara Qameella terdengar bergetar.


"Gantung dia!" titah Garda berang dan tidak mau dibantah, seraya menghempaskan tubuh Ryan ke lantai.


Ryan segera bangkit berdiri dengan kedua lututnya. Mengatupkan kedua tangannya di depan dada, berlutut di hadapan Garda meminta pengampunan.


Tikeng, Rombeng, Sonik, Iwan dan anggota yang lainnya langsung bergerak mengikuti instruksi sang ketua geng. Mereka meraih lengan Ryan di kanan dan kiri.


??

__ADS_1


...****************...


🙏 maaf ya tuk bab ini masih ada beberapa perubahan atau penambahan untuk di sana sini. Semoga hal ini tidak menggangu konsentrasi para readers semua.


__ADS_2