
Hai readers... author update lagi bawa episode terbaru nih...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya... berupa vote, like, hadiah dan komentar yang bisa membangkitkan semangat author buat update episode terbaru terus.
Happy reading...
***************************
Qarmitha terpaksa menahan kantuknya. Lantaran diintrogasi habis-habisan oleh Gusti dan Maryam. Bak seorang kriminal yang harus menjawab rentetan pertanyaan yang dilontarkan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Udah deh, Yah... biarin aja lagi. Ngapain juga ayah ngehalang-halangin Lala sama si Garda? Mereka kan udah nikah. Dosa lho, kalo sampe Ayah misahin mereka," ujar Qarmitha santai.
Gusti speechless.
Maryam pun tidak berani bersuara.
Tanpa permisi Qarmitha langsung melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Gusti dan Maryam hanya mendengus berat melihat tingkah polah putrinya itu.?
*
Tari tidak bisa tidur. Gadis itu hanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Pikirannya hanya tertuju pada Garda dan Qameella. Entah harus bahagia atau menyesal membantu mereka kabur. Walau pun Gusti belum menanyainya banyak pertanyaan, tapi terasa menyudutkan sekaligus menyalahkannya.
Kedua orang tuanya pun ikut-ikutan bersikap seakan memusuhinya. Kendati niat awalnya baik, pada akhirnya tidak membawa keberuntungan. Apalagi Andika sudah menyebar semua anak buahnya untuk melacak keberadaan Garda dan Qameella.
"Hufthhhh..." Tari menghembuskan napas berat. "semoga aja kalian berdua bisa selamat. Bisa dapetin tempat yang baik, yang bisa memberikan kebahagiaan buat kalian. Aamiin," doanya penuh harap.
*
Qameella dan Garda sudah berada di dalam kamar penginapan yang baru. Tempat yang direkomendasikan Buchek. Pasalnya penginapan itu adalah milik pamannya. Dan tidak butuh proses lama untuk melakukan check in di sini. Karena Buchek sudah melakukan konfirmasi terlebih dahulu pada bagian resepsionis.
Garda langsung meminta Qameella segera beristirahat di kasur. Sementara dirinya memilih tidur di atas sofa dekat tempat tidur. Dia sengaja tidak tidur bersama Qameella. Selain untuk berjaga-jaga takut terjadi sesuatu yang tidak terduga saat mereka tidur. Juga agar tidak menggangu istirahat Qameella yang sudah tampak kelelahan, mengikutinya bergerilya mencari tempat aman.
Besok adalah hari dimana saya dan Qameella bisa hidup bersama, tanpa seorang pun yang mengganggu hubungan kami. Pikir Garda menerawang jauh ke dunia sana.
Garda membayangkan akan menjadi suami yang bertanggung jawab untuk Qameella. Dia akan bekerja keras untuk mendapatkan uang. Membelikan rumah walau tidak sebesar istana. Setelahnya, mereka akan memiliki anak-anak yang lucu. Dan hidup bahagia hingga akhir hayat.
Seulas senyum cerah nan lebar tersungging di bibir Garda mengingat rencana indah masa depannya bersama Qameella. Diliriknya Qameella yang terbaring di atas kasur. Matanya telah terpejam rapat dengan napas yang teratur.
Dia udah tidur rupanya. Bisik batin Garda tersenyum kecil. Lalu ikut
__ADS_1
memejamkan mata, larut dalam buaian mimpi.
*
Anak buah Andika masih mencari keberadaan Garda. Setiap pelosok dan sudut kota sudah mereka jelajahi. Namun keberadaan Garda belum juga bisa mereka endus.
Pada waktu yang sama di dalam basecamp ABABIL. Ryan dan kawan-kawan masih khawatir dengan kondisi Garda dan Qameella. Mereka belum merasa lega hingga sepasang suami istri belia itu sampai tempat tujuan.
Mereka berharap Garda dan Qameella bisa segera sampai di rumah nenek Garda. Karena wanita tua itu akan memberikan perlindungan kepada mereka. Bahkan Andika pun tidak akan berani mengusik kenyamanan mereka bila sudah berada di bawah pengawasan sang nenek.
"Ling, apa kita perlu kawal mereka sampai di sana?" tanya Rombeng.
Ryan berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Gue rasa Bro Garda gak setuju kalo kita ikut turun tangan dengan masalah mereka," sahut Ryan mengingat pesan Garda sebelum mereka berpisah. "karena dia udah wanti-wanti ke kita, supaya gak perlu ikut campur urusan mereka."
"Tapi Ling, gue kuatir sama bokap-nya Garda. Maklumlah orang punya kedudukan juga banyak duit kaya dia. Gak mungkin kan dia tinggal diam, duduk anteng aja setelah anaknya gak bisa dia lacak," sanggah Tikeng yang sangat tahu karakter Andika.
"Tapi kita kan udah nyembunyiin dia di tempat yang jauh," kilah Ryan.
"Yah elo kaya gak tahu kekuasaan bokap-nya Garda aja. Anak buahnya banyak, sadis-sadis lagi," sergah Sonik. "gue rasa Garda belum tentu bisa melewati malam ini. Dan gue kasihan sama si Meella, bocah polos, kalem kaya gitu diajak ugal-ugalan sama si Garda. Emang sih udah laki bini. Tanggung jawab Garda buat jagain dia. Cuma gue kasian aja kalo bokap si Bro Garda sampai misahin mereka di tengah jalan. Gue ngenes aja sama tuh cewek. Dan gak bisa kebayang gimana nantinya sama dia."
Akhirnya Ryan menyetujui permintaan kawan-kawannya untuk selalu berada dekat dengan Garda. Meskipun mereka juga bergerilya agar keberadaan mereka tidak mengusik sepasang pengantin remaja yang mungkin saat ini mereka sedang indehoy.
Ryan memberi komando pada kawan-kawannya untuk bergerak, menuju penginapan tempat Garda dan Qameella berada dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.
*
Gusti dan Maryam tidak bisa tidur hingga subuh menjelang. Semalaman penuh mereka mencari tahu keberadaan salah satu putri kembar mereka, yang tiba-tiba pergi entah kemana.
Semua teman-teman sekolah Qameella ditelepon Gusti dan Maryam secara bergantian, guna mencari keberadaan Qameella. Tetapi hasilnya nihil. Tidak ada satu orang pun mengetahui keberadaannya. Termasuk Tari, orang yang terakhir bersama Qameella.
Gusti terdiam duduk di ujung sofa panjang. Satu tangannya dibiarkan menopang dagu. Sementara satu tangannya yang lain sibuk membolak-balikkan benda pipih yang biasa digunakan untuk berkomunikasi secara asal.
Tiba-tiba hatinya tercubit setelah mendengar penuturan teman-teman sekolah Qameella. Bahwa mereka tidak akrab dengan Qameella. Karena bila di sekolah Qameella sangat jarang berkomunikasi dengan teman-teman sekolahnya. Lantaran Qameella lebih sering menyendiri di dalam perpustakaan, atau bila tidak ada tugas dia duduk sendiri di kursi taman belakang sekolah. Dibandingkan duduk dan kumpul bareng dengan teman sekelasnya.
Kemudian Gusti dapat menyimpulkan, jika selama ini Qameella tidak memiliki teman dekat di sekolah, selain Tari. Dia pun jadi ingat kata-kata Qarmitha
"Sampai kapan sih ayah mau ngekang Lala? Apa-apa harus ikut omongan ayah sama mama. Lala harus nurutlah, berbaktilah, laporanlah setiap ngelakuin apa aja diluar rumah, udah mirip tamu yang datang harus laporan ke pak rt 1 X 24 jam… emang sih itu udah kewajiban anak. Tapi… apa harus segitunya? Kasihan lho yah, masa remaja kita Cuma ada sekali seumur hidup. Kalo bukan sekarang kita nikmati, mau kapan lagi? Mau tunggu kita udah jompo, gitu?"
"Tha…” suara Qameella terdengar berbisik.
__ADS_1
“La, elo bukan anak bayi yang selalu diprotek. Gue tahu apa mau lo, karena gue bisa ngerasain tanpa elo ngomong langsung ke gue. Gue tahu kalo elo gak nyaman setiap hari cuma berkutat dengan buku-buku perpustakaan yang ngebosenin itu buat menjaga nilai-nilai elo tetap stabil. Tapi kenyataannya gak sesuai ekspektasi lo karena murid-murid di kelas elo lebih pintar dari elo. Dan gue tahu alasan elo ngelakuin semua itu sampai mengabaikan kesenangan elo. Cuma mau bahagiain ayah sama mama doang kan? Sekalian buat nebus kesalahan gue yang susah diatur. Iya kan?"
Gusti menghela napas panjang. Pikirannya terlalu kacau saat ini. Matanya terasa sepat. Memijat pangkal hidungnya sendiri. Lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Menengadahkan wajahnya ke arah lampu yang menggantung di plafon ruang tamu.
Maryam sibuk dengan pikirannya sendiri. Merutuki kebodohannya sebagai seorang ibu. Tidak becus mengurus Qameella dan Qarmitha dengan baik. Keduanya memang selalu membuat kepalanya pening dengan cara yang berbeda. Namun Qameella tidak terlalu membuatnya lelah hayati. Putrinya satu itu cenderung nyaris tidak pernah membuatnya jengkel seperti Qarmitha.
Tetapi sekalinya berbuat kesalahan seakan membuat seluruh organ tubuh Maryam copot dari tempatnya. Ia tidak menyangka jika Qameella begitu banyak kejutan yang tidak terduga. Hingga saat ini Qameella belum pulang. Apakah Maryam telah gagal mendidik Qameella? Dan kenyataannya iya.
Bukan, bukan, bukan gagal. Lebih tepatnya kurang perhatian pada Qameella. Karena menganggap Qameella bisa mengurus diri sendiri. Selama ini perhatiannya hanya terfokus pada Qarmitha. Dia pun selalu abai dengan perasaan salah satu putri kembarnya itu. Saat Gusti menekan Qameella untuk terus mengikuti kemauannya. Maryam seakan tutup mata. Padahal dia tahu Qameella meminta pertolongan dengan tatapan tidak berdaya terarah padanya.
Bahkan ia pun ikut-ikutan Gusti memusuhinya, setelah insiden makan malam. Hatinya sakit mengingat kesedihan Qameella yang selalu menangis diam-diam di dalam kamar.
Andai saja bisa memutar waktu, Maryam ingin memeluk tubuh rapuh Qameella yang kian kurus. Mungkin semua ini tidak perlu terjadi.
Andai saja dia bisa menggunakan naluri keibuannya, lalu berbicara dari hati ke hati dengan Qameella, mungkin ceritanya berbeda dengan saat ini.
Andai, andai, dan andai... Maryam hanya bisa berandai-andai saja. Sungguh sangat tidak berguna sama sekali. Hanya bisa menyesal setelah semua yang terjadi.
Diam-diam Maryam menangis pilu.
*
Garda terpaksa membangunkan Qameella yang masih terlelap dalam tidurnya. Karena anak buah Andika berhasil melacak keberadaan mereka.
Tidak butuh waktu lama membuat Qameella segera bangun dari tidurnya. Dan gadis itu cukup gesit untuk ikut setiap pergerakan Garda.
Sepasang suami istri belia itu segera check out dari penginapan. Dengan sepeda motor Garda memboncengi Qameella pergi membelah hari yang mulia beranjak pagi.
Qameella sengaja mengeratkan pelukannya pada pinggang Garda, untuk menetralkan suhu tubuhnya di tengah dinginnya udara pagi.
Garda tersenyum lebar melihat sepasang tangan Qameella yang memeluknya posesif. Hatinya menghangat. Sehangat suhu tubuhnya dalam pelukan Qameella.
*
Tepat jam setengah delapan pagi. Garda menepikan sepeda motor yang dikendarainya di sebuah warung makan sederhana pinggir jalan. Setelah sebelumnya mengisi bensin di salah satu SPBU yang dilaluinya. Mereka akan mengisi perut yang sudah kelaparan di tempat itu. Sebelum melanjutkan perjalanan panjang mereka.
*
Sampai di sini dulu ya ceritanya
See you next episode 😘😘
__ADS_1