Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#46


__ADS_3

Happy reading...


************************************


Mitha hampir terlelap saat dering ponselnya berteriak minta segera diangkat. Terpaksa mengurungkan niatnya untuk segera beranjak tidur. Berdecak kesal sepertinya tidak ada gunanya ketika dengan penasaran melihat nomor yang tidak dikenal muncul pada layar ponselnya.


"Datanglah ke hotel X saat ini juga. Maka kamu akan tahu apa yang sedang terjadi di sana. Tut... Tut... Tut..." belum sempat Mitha bertanya pada penelepon misterius sambungan telepon sudah diputus secara sepihak.


"Ada apa sebenarnya orang iseng itu maksud?" tanyanya sendiri bingung.


Mitha tidak ingin peduli. Makanya memilih tidak menggubrisnya. Lalu membaringkan tubuhnya kembali ke atas kasur. Berhubung kamarnya dipenuhi bunga-bunga dan dekorasi lainnya. Oleh sebab itu, malam ini dia menginap di kamar Meella.


Lagi si penelepon misterius itu mengganggu ketenangan Mitha. Tapi kali ini berisi pesan.


Datanglah ke kamar hotel 315 segera. Sebelum kamu menyesal pada akhirnya!


"Ih... rese banget nih orang. Apa maunya sih ganggu orang istirahat," keluhnya yang pada akhirnya mengikuti petunjuk si penelepon misterius.


Sebenarnya saat ini Mitha sedang dipingit. Gadis itu dipantang untuk keluar rumah. Apalagi besok adalah besarnya. Ih, tidak sabar deh bila ingat hari esok!


Tapi telepon dan isi pesan yang dikirim orang misterius itu membuat Mitha penasaran. Ada sejumput kekhawatiran yang muncul di sudut hatinya. Mungkinkah hal ini berhubungan dengan Meella? Mengingat saudari kembarnya pernah dijebak oleh Raisya. Atau...


Mitha tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Dia hanya bisa mengikuti keinginan orang misterius itu untuk memastikan apa yang terjadi.


Tanpa berpikir panjang dan mengabaikan adat istiadat yang berlaku. Mitha diam-diam nekat keluar dari rumah. Memakai jaket untuk menangkal dinginnya malam yang sudah larut. Tidak ketinggalan ponsel untuk memesan taksi online dan dompet.


Setibanya di hotel X, Mitha langsung bertanya letak kamar 315 pada seorang petugas di meja resepsionis. Setelah mendapat petunjuk, gadis itu masuk ke dalam lift menuju kamar yang dituju.


'Ah, itu dia kamarnya!' seru batinnya entah senang atau bagaimana. Mitha tidak bisa merefleksikan perasaannya saat ini. Karena yang terpenting saat ini melihat dan membuktikan apa yang terjadi di dalam sana.


Perlahan tapi pasti langkah kaki Mitha sudah berada tepat di depan pintu kamar 315. Belum sempat kepalan tangannya menyentuh permukaan pintu. Tiba-tiba dia melihat celah pada pintu. Menandakan pintu dalam keadaan tidak terkunci. Masa sih gak dikunci? Pikirannya heran.


Kemudian urung diketuk. Mendorong pelan sambil mengucapkan kata-kata permisi pada si pemilik kamar. Namun tidak ada seruan apa pun dari dalam. Sampai langkah kakinya yang tidak sopan masuk ke dalam kamar yang menampakkan selimut yang menggembung, seakan ada sosok di baliknya. Dengan gerakan turun naik. Dan... sulit sekali menjabarkannya lebih gamblang.


Entah ada berapa jumlah makhluk yang bersarang di sana. Entah itu sosok siluman atau makhluk jadi-jadian yang sedang bergumul dalam selimut. Mitha tidak mau tahu dan tidak ingin tahu. Lagi pula untuk apa dia tahu? Toh, gak ada hadiahnya bila bisa menebaknya!


Sesekali rungu Mitha menangkap suara aneh yang berasal dari dalam selimut itu. Suara-suara aneh yang lebih mirip suara ******* dan lenguhan nikmat saling bersahutan. Dia bergidik jijik.


Ish... sangat menjijikan!


'Btw, ngapain gue ke sini malam-malam buta rata kaya gini? Gila aja kalo gue jauh-jauh datang ke sini cuma disuruh ngeliatin adegan absurd gini doang, ih najis! Mending gue pulang. Bobo cantik supaya besok gue bangun pagi tetap cantik. And, jadi pengantin cantik juga,' gumamnya dalam hati.


Mitha menghembuskan nafas lelah lalu memutar tubuh hendak melangkah menuju pintu keluar. Sialnya, belum sempat tubuhnya berbalik sempurna rungunya mendengar suara ******* lagi.


"Beiiihhhb... uchhh!"


Bulu kuduk Mitha merinding hingga bergidik jijik. I-yu... Sangat-sangat menjijikan. Ingin muntah rasanya mendengar suara-suara yang eh... uwek! Susah dijelaskan dengan kata-kata.


"Sah...ya...ng..."

__ADS_1


Walau hanya mendesah Mitha mendadak merasa sangat familiar dengan suara lelaki itu.


'Apa mungkin? Ah, mustahil! Tapi...'


Mitha ragu. Tapi nekat berputar haluan. Berjalan mendekati tempat tidur laknat itu. Matanya memicing melihat rambut yang menyembul di ujung selimut. Perlahan semakin mendekat semakin terlihat bentuk kepala.


Dengan bergetar tangannya menjulur ke arah selimut. Sekuat tenaga menarik ujungnya perlahan hingga matanya membulat sempurna.


Astaga!


Spontan Mitha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terperanjat kaget melihat siapa makhluk jadi-jadian itu. Sepasang kaki kokohnya mendadak menjadi lemas. Lututnya pun seakan ingin copot dari tempatnya. Tanpa sadar dia berjalan mundur dua langkah ke belakang. Hawa panas terasa menyebar ke seluruh tubuhnya.


Bersamaan dengan itu, sepasang makhluk tidak berperasaan yang sedari tadi bergumul dalam selimut menoleh. Karena merasa terusik dengan kehadiran gadis itu. Sontak keduanya terjengit kaget. Tidak peduli dalam kondisinya yang sedang gancet. Pokoknya secepat kilat mereka langsung memisahkan diri.


"Mi-Mi-Mitha?" cicit pria itu gugup. Buru-buru membungkus tubuh polosnya dengan selimut. Begitu juga dengan lawan mainnya. "sayang?"


Sepasang mata nanar Mitha memanas setelah mengetahui siapa sosok itu. Air matanya pun tak pelak dapat ditahan.


"Mitha, sayang... a-aku... aku..." pria itu hendak bangkit. Namun urung setelah melihat kondisinya sendiri yang tidak berpakaian sama sekali.


Mitha sangat geram melihat kelakuan busuk pria yang seharusnya besok pagi mengucapkan sumpah janji sehidup semati di depan penghulu. Benar! Pria itu adalah Dicky, calon suaminya.


Pria yang selama ini dikenalnya sebagai orang baik-baik. Beradab. Sangat sopan dan tidak pernah kurang ajar pada siapa pun. Bahkan selama menjalani hubungan dengan status pacaran, Dicky tidak pernah melakukan tindakan amoral selain pegang tangan dan berciuman.


Tapi mengapa sekarang dia berubah? Di saat acara akad nikah dan resepsi mereka sudah di ambang pintu. Seakan Dicky sedang menunjukkan belangnya pada Mitha. Apakah terlalu terlambat bagi Mitha mengetahui semua ini?


"Beib... kok udahan sih?" pertanyaan konyol yang mendadak menginterupsi lengkap dengan ******* manja dari si lawan main Dicky. "aku belum puas."


Mitha seketika membuka matanya, melotot tajam. Netranya yang hitam pekat langsung mengarah ke sumber suara. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat wajah yang sudah lama dibencinya. Wajah polos bak malaikat. Tapi kenyataannya tidak ubahnya iblis perusak. Dadanya berdenyut nyeri melihat kenyataan pahit ini.


Beberapa waktu lalu wanita itu telah merusak mimpi indah saudari kembarnya, Meella. Padahal tinggal beberapa Minggu lagi akad nikahnya dilaksanakan. Tanpa dia sadari hal itu juga merusak harapan kakak kandungnya sendiri, Mirza.


Kini, tanpa berdosa wanita itu lagi-lagi menjadi monster penghancur. Dia benar-benar telah berhasil menghancurleburkan hati, harapan juga cinta Mitha.


Raisya?!


Wajah Dicky memucat. Seakan tahu konsekuensi yang akan terjadi padanya nanti. Lehernya mendadak terasa kaku saat menoleh ke arah wanita yang sedang bergelayut manja di lengannya. Hingga terlihat seperti robot.


"S-sa-sayang... sayang, aku bisa jelasin! Aku... aku..." Dicky sangat terbata karena terlalu gugup menghadapi calon istrinya akibat tertangkap basah.


Mungkin bila Mitha sekelas Meella yang begitu sabar menghadapi semua musibah hidup. Maka yang akan terjadi saat ini, dia akan diam saja lalu pergi berurai air mata. Atau seperti perempuan lain yang hanya menangis tidak berdaya setelah diselingkuhi. Mitha akan menangis tersedu-sedu sambil meracau, menyesali apa yang sudah terjadi di depan matanya.


Tetapi Mitha bukan Meella atau seperti perempuan-perempuan lain yang lemah. Mitha adalah Mitha. Perempuan tangguh si guru olahraga. Pandai pencak silat dan ilmu bela diri lainnya.


Tubuh Mitha menegang. Kedua tangannya terkepal erat di kedua sisi tubuhnya hingga buku-buku tangannya memutih. Emosinya sudah sampai ubun-ubun dan tidak bisa dibendung.


Tanpa aba-aba Mitha langsung bergerak impulsif. Menarik Dicky dari atas kasus hingga jatuh pakgedebug di atas lantai. Sampai pria itu keblingsatan saat tubuh polosnya terekspos. Kemudian menjambak rambut Raisya sekuat tenaga. Tidak peduli dengan kerontokan yang akan terjadi pada rambut panjang nan indah gadis itu. Terpenting bagi Mitha adalah dapat menuntaskan semua amarahnya yang meledak-ledak tidak bisa dipadamkan.


Dicky langsung mengambil ****** ********, dan segera dipakainya. Juga celana panjangnya. Setelahnya dia berusaha melerai pertikaian dua perempuan itu walaupun masih bertelanjang dada. Kasihan Raisya wajahnya tampak babak belur mendapat tamparan keras dari Mitha si tenaga kuli.

__ADS_1


"Ini tamparan buat elo yang udah sodara gue, Lala patah hati!" seru Mitha disertai satu tamparan mendarat di pipi kanan Raisya.


"Ini tamparan buat elo karena udah menjebak Lala tidur sama cowok lain!" satu tamparan keras di pipi kiri gadis itu.


"Ini tamparan buat elo yang kepingin ngejebak gue melalui foto-foto sialan itu!" satu tamparan mendarat mulus di pipi kanan gadis yang mulai tampak mengenaskan.


"Dan, ini tamparan buat elo yang udah ngerampas calon suami gue!" pekiknya sangat keras sambil melayangkan satu tamparan terakhir di pipi kiri gadis yang sudah terlihat bonyok.


"Sayang, sayang, udah cukup ya... kasihan Raisya. Wajahnya udah ancur kaya gitu," Dicky meminta belas kasihan untuk gadis itu. Karena wajah cantiknya kini sudah berubah mengenaskan. Dan sudut bibirnya berdarah.


Sontak Mitha melepaskan gadis itu yang langsung ambruk jatuh ke atas lantai. Lalu tatapan matanya yang tajam seperti elang beralih pada Dicky. Mendapat tatapan membunuh seperti itu seketika nyali Dicky menciut bagai balon kehabisan udara.


"Kamu yang katanya cinta sama aku, ternyata main serong di belakang aku?" todong Mitha.


"Bu-bukan begitu sayang... kamu salah paham sama aku. Aku bisa menjelaskan semua ini, sayang..." sebisa mungkin Dicky membela diri.


"Sayang, hm?" ulang Mitha menyeringai sinis. Matanya memicing tajam. Merah padam.


"Iya, sayang..." suara Dicky dibuat selembut mungkin.


Mungkin dalam kondisi normal Mitha akan luluh begitu saja. Namun situasi saat ini berbeda. Justru malah membuatnya mual ingin muntah.


"Sayang..." Mitha mengulangi lagi seraya tersenyum miring. Lebih terkesan sedang mencemooh.


"Iya... sayang... sayang, sayang pala lo peyang!" hardik Mitha. Seketika Dicky tertunduk takut.


"Nih, namanya sayang!" satu pukulan mendarat mulus di perut Dicky. Sampai pria itu terpaksa membungkukkan badannya karena kesakitan. Walau pun Mitha seorang gadis namun tenaganya tidak ubahnya seperti Mike Tyson.


"Ini namanya cinta sejati, tapi selingkuh?" satu pukulan mendarat di pipi Dicky.


"Ngaku setia tapi mendua?" kali ini Mitha menggunakan kakinya untuk menendang. Sialnya tepat mengenai juniornya Dicky.


Kontan pria itu kejer tidak ketulungan. Dari awal Dicky memang sengaja tidak melawan agar bisa segera meredakan emosi Mitha. Tapi siapa sangka bukannya reda malah membabi-buta.


Setelah melihat kedua makhluk menjijikan itu terkapar di lantai. Mitha tidak lagi melakukan kekerasan pada mereka.


Dari luar Mitha memang terlihat tegar dan kuat. Tapi dalam hatinya sangat rapuh. Tanpa Dicky sadari saat ini sebenarnya Mitha sedang menangis. Ditatapnya cincin pertunangan yang pernah Dicky sematkan di jari manis kirinya. Dengan berat hati dilepaskan dari jarinya.


"Ini adalah cincin yang pernah kamu berikan sama aku, sebagai bukti ketulusan cinta kamu. Sekarang aku kembalikan karena aku gak Sudi hidup bersama dengan pria penzina seperti kamu!" Mitha melempar cincin itu pada Dicky.


"Aku pastikan tidak ada pernikahan antara aku dan kumu!" tukasnya. Kemudian beranjak pergi tanpa mau mempedulikan makhluk berkelakuan bejat seperti mereka.


*


Sampai di sini dulu ya readers cerita episode kali ini. Mohon maaf untuk episode kali ini author sangat sulit mencari pemilihan kalimatnya. Juga author sering kehilangan mood buat nulis. Karena kondisi author yang emang masih belum sempat 100% setelah sakit selama 3 hari. Author benar-benar drop sampai gak masuk kerja.


Harap readers gak marah karena episode kali ini full ceritanya tentang Mitha.


Oke. Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak manjanya ya. See you next episode....

__ADS_1


__ADS_2