
Happy reading....
*******************************
Malam ini wajah Qameella terlihat lebih cerah dari hari-hari yang lalu. Pendar keceriaan tampak jelas di matanya. Bayangan momen-momen kebersamaannya dengan Garda tadi sepulang sekolah, menari-nari indah dalam pikirannya. Hmm. Terlalu sayang untuk dilupakan begitu saja. Apalagi ciuman hangat bibir Garda menyentuh bibirnya. Beuh! Tanpa sadar sudut bibir Qameella melengkung membentuk senyum tipis.
Sebenarnya Qameella ingin berusaha terlihat biasa. Namun rona itu diluar kendalinya. Hingga tidak bisa disembunyikan. Juga tidak luput dari perhatian Gusti.
"Kamu kenapa, La? Mesem-mesem sendiri kaya gitu?" tegur Gusti dengan tatapan penuh selidik.
Qameella langsung merubah ekspresi wajahnya. Menatap Gusti sekilas lalu menundukkan pandangan. Hanya menggeleng kemudian memfokuskan dirinya sendiri pada piringnya yang telah terisi sedikit nasi serta lauk yang tidak seberapa.
"Huh, aneh sekali," desis Gusti mencemooh.
Maryam menatap prihatin Qameella. Lalu tersenyum senyum getir.
"Biarkan saja, Yah... Lala seperti itu. Dari pada sepanjang hari manyun terus. Kasihan nanti cepat tua, hahaha..." sela Maryam menghibur diakhiri dengan tawa garing yang diacuhkan oleh semua anggota keluarganya.
"Tambah lauknya, La?" tawar Maryam pada Qameella, mengalihkan pembicaraan. Namun hanya ditanggapi dengan kebisuan dan gelengan kepala.
Qarmitha menatap Qameella dengan tatapan tidak terbaca sambil mengunyah makanan yang masuk dalam mulutnya. Pikiran dan hatinya diliputi penuh tanya mengingat kejadian saat pulang sekolah. Dia hanya syok dan tidak menyangka saudari kembarnya itu, bisa-bisanya pelukan dengan cowok lain selain Garda.
Padahal Garda sudah mati-matian membuktikan perasaannya pada Qameella. Qarmitha pun bisa merasakan ketulusan cinta Garda. Walau pun saat itu hanya kesalahpahaman. Tetapi cinta Garda sangat nyata.
Mungkin si Qameella sudah bisa move on? Masa sih secepat itu? Pikir Qarmitha serius.
Suasana di meja makan saat makan malam kali ini terasa tidak biasa. Asing dan dingin. Memang sejak pertemuan antara keluarga Qameella dengan keluarga Garda terjadi. Kemudian berujung pada pertengkaran dan perselisihan. Hubungan Qameella dan Gusti tidak sehangat dulu. Kendati hubungan ayah dan anak itu tidak terlalu akrab, setidaknya ada interaksi yang lebih baik dari sekarang.
Qameella bangkit berdiri dari kursinya.
Gusti, Maryam dan Qarmitha langsung memfokuskan atensi mereka pada Qameella.
"Mau kemana kamu?" tanya Gusti dingin.
"Ke kamar," sahut Qameella tidak kalah dingin. Lalu beranjak pergi tanpa berkata apapun lagi.
Gusti mendengus berat seraya meletakkan kasar sendok dan garpu dari tangannya di atas piring. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Maryam menyentuh punggung tangan Gusti. Seolah sedang memberi penguatan pada sang suami.
Qarmitha memilih tidak mau peduli dengan keadaan sekitar. Mungkin lebih baik bersikap masa bodoh saja menghadapi drama keluarga ala telenovela.
*
Garda dan Rega sudah berganti posisi seperti semula. Sesuai dengan kesepakatan mereka diawal. Kini kedua cowok kembar itu sedang berada di kamar masing-masing. Melakukan ritual yang biasa mereka melakukan setiap hari di rumah.
Tetapi nasib Garda tidak seberuntung Rega. Bagai burung yang hidup di alam bebas. Hingga bisa terbang bebas dan hinggap di dahan mana pun yang dikehendakinya.
Sedangkan Garda bagai burung yang terjebak dalam sangkar emas. Hanya menawarkan kemewahan tanpa adanya kebebasan. Namun bukan Garda namanya yang hanya duduk diam sambil berpangku tangan.
Dengan otak jeniusnya seperti Mac Gyver (bagi generasi 80an-90an tahu tokoh film seri televisi dari Amerika Serikat) Garda menghubungi anak buahnya dengan alat khusus karyanya sendiri. Cukup menekan satu tombol, sinyal yang dikirim langsung tersambung pada ponsel semua anak buahnya.
__ADS_1
Setelahnya, Garda memakai kemeja tanpa dikancing, membalut kaos putih polos lengan pendek yang sudah dipakainya terlebih dahulu. Sebelum benar-benar beranjak pergi dia menyambar jaket kulitnya. Barulah dia keluar meninggalkan kamarnya.
Eeh, apakah kalian pikir Garda akan keluar lewat pintu kamarnya? Lalu menghadapi para algojo yang berjaga di luar pintu selama 24 jam secara bergantian? Tentu saja jawabannya TIDAK!
Garda punya pintu rahasia yang bisa tembus sampai pintu belakang rumahnya. Kemudian dia bisa keluar dari gerbang belakang. Untuk mencapai jalan raya, dia harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak, dan menerobos kegelapan malam di tengah kebun yang ditanami berbagai macam pohon besar dan kecil milik Andika.
Ryan dan anggota geng yang lainnya sudah menunggu di atas kuda besi masing-masing, di sisi jalan dekat pagar pembatas, tembusan kebun yang dilalui Garda.
Keresahan dan kekhawatiran terlihat jelas di wajah-wajah sangar mereka. Menanti kedatangan sang pemimpin yang belum juga kunjung menunjukkan batang hidungnya.
"Gimana Ling? Masih belum ada tanda-tanda?" tanya Tikeng gelisah.
"Belum. Kita tunggu aja lima menit lagi. Kalo masih belum nongol juga, kita langsung turun ke medan," sahut Ryan mantap.
Mereka pun langsung setuju dengan keputusan Ryan. Menunggu sampai lima menit ke depan.
Tetapi sudah lima menit berlalu, masih belum menunjukkan adanya tanda-tanda kemunculan Garda. Mereka pun mulai gelisah. Bahkan ada yang berinisiatif turun dari motornya hendak menerobos masuk dalam kebun yang sangat gelap gulita.
Melihat ada yang mulai melakukan pergerakan. Maka yang lainnya tidak tinggal diam. Ikut bergerak tanpa menunggu instruksi. Tanpa ada yang melarang, salah satu di antara mereka langsung ambil start duluan.
Belum sempat mereka memanjat dan masuk melewati pagar pembatas kebun. Tiba-tiba Garda muncul dari arah entah dari mana asalnya. Kemunculan ketua geng mereka sudah seperti Jelangkung saja.
"Woy! Mau ngapain elo-elo pada?" teguran itu sukses menarik atensi mereka sekaligus menghentikan aksi nekad mereka juga.
Sontak mereka berhamburan memeluk Garda secara bergantian, setelah sebelumnya melakukan tos ala mereka.
"Wih, jalan dari mana lo, Bro?" Rombeng langsung bertanya mencari tahu. "kok bisa dadak muncul di sini?"
"Ada lah... gue punya jalan rahasia. Jalan yang cuma gue aja yang tahu," sahutnya ringan.
Mereka hanya mengangguk membenarkan.
"Ya udah, ayo kita segera cabut dari sini. Sebelum ada yang menyadari gue kabur dari rumah," seru Garda mengingatkan. Lalu menerima helm yang disodorkan Ryan padanya. Setelahnya duduk di jok belakang sepeda motor cowok yang lebih sering dipanggil Keling itu.
Mereka pun langsung gerak cepat. Menaiki kembali kuda besi masing-masing. Menghidupkan mesin sepeda motor masing-masing. Kemudian beranjak pergi membelah jalan raya yang tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan, menuju basecamp kebanggaan mereka.
*
Qameella membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Setelah selesai belajar, itu pun hanya membolak-balikkan buku pelajarannya. Lantaran tidak bisa fokus belajar. Lalu memasukkan buku sesuai jadwal esok hari ke dalam tas sekolahnya.
Bayangan itu masih saja menari-nari di dalam ingatannya. Sulit untuk dilupakan karena memang sayang untuk dibuang. Senyum lebar yang terus menerus terbit, sudah membuktikan perasaannya saat ini teramat sangat bahagia.
Selang beberapa menit kemudian. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kaca jendela kamar Qarmitha.
Entah siapa yang orang iseng itu. Hal tersebut membuat si empunya kamar berdecak geram. Dia ingin langsung meninju orang itu.
Tanpa ba-bi-bu Qarmitha membuka kasar jendela kamarnya. Dan... saat dibuka, sepasang matanya langsung membelalak terkejut.
"Elo?" ujarnya dengan nada bertanya. Buru-buru menutup mulutnya sendiri setelah sadar suaranya lumayan kencang. Netranya menoleh keluar, kanan kiri secara bergantian melihat keadaan sekitar.
"Mitha?" Garda mengerutkan keningnya. Dalam hati bertanya, mengapa ada Mitha. Seingatnya ini adalah kamar Meella. Karena awal dia mengantar istrinya pulang lewat jendela kamar ini. Tapi mengapa sekarang...
__ADS_1
"Ngapain elo ke sini?" teguran Qarmitha dengan suara pelan. Namun menghenyakkannya dari lamunan.
"Elo sendiri ngapain di kamar bini gue?" bukannya menjawab Garda malah balik bertanya.
Qarmitha berdecak sebal sambil memutar bola matanya malas.
"Ini kamar gue kali..." sahutnya ogah-ogahan.
"Tapi waktu itu, gue pernah nganter dia pulang. Terus, manjat jendela ini," terang Garda.
"Iya. Itu gue yang nyuruh lewat sini. Tapi kamar ini tetap punya gue," Qarmitha menjelaskan sejelas-jelasnya. Tentu saja langsung dimengerti Garda.
"Ya udah, sekarang elo bisa gak bantuin gue. Eh, tepatnya bantuin kita sih. Seperti yang udah elo tahu kalo kita berdua gak boleh ketemuan. Jadi sekarang gue..." belum sempat Garda menyelesaikan ucapannya, Qarmitha sudah menyelanya.
"Iya, iya gue tahu. Ya udah elo masuk aja sendiri ke sini. Bisa kan?"
Garda mengangguk.
"Elo tungguin dulu di sini," Qarmitha hendak berbalik. Namun diurungkan sejenak untuk memberi pesan pada kakak iparnya. "kalo lo udah masuk, ingat ditutup lagi jendelanya supaya nyamuk-nyamuk gak pada ikutan masuk juga."
"Oke."
Qarmitha segera beranjak pergi meninggalkan kamarnya.
Garda langsung memanjat jendela kamar adik iparnya. Menutup daun jendela sesuai titah si empunya kamar. Setelahnya duduk di pinggir kasur gadis yang lebih akrab disapa Mitha itu. Matanya berkeliling mengamati kamar bernuansa biru laut. Mengamati foto-foto dan poster-poster yang menempel di dinding kamar.
Brak!
Srekk!
Garda langsung menoleh ke sumber suara. Sepasang netra coklatnya mencari sesuatu yang menimbulkan bunyi. Beranjak berdiri saat melihat Mitha keluar dari celah dinding kamarnya yang menyerupai pintu.
"Tuh, elo bisa lewat situ," tanpa basa-basi Mitha menunjuk tempat dia keluar tadi.
Garda hanya bisa menuruti perintah Mitha, si empunya wilayah. Siapa sangka ternyata itu adalah akses keluar masuk. Atau lebih tepatnya jalan pintas menuju kamar sebelah yang ditempati Meella.
Senyum cerah terbit di bibir Qameella maupun Garda.
"Bi..."
"My hubby..." Qameella menghambur dalam pelukan Garda.
Malam ini terasa sangat indah. Namun tidak seindah kenyataan. Mereka berdua harus bergerilya hanya ingin bertemu melepaskan rindu. Itu pun tidak berlangsung lama. Tidak lebih dari sepuluh hingga lima belas menit. Jika tidak, mereka akan menderita lagi menghadapi perpisahan.
*****
Hai readers... author update lagi. Gimana seneng gak baca cerita kali ini?
Untuk episode selanjutnya masih ditulis ya. Author usahakan secepatnya selesai ya.
Jangan lupa jejak-jejak manis kalian yang selalu jadi penyemangat author, dan selalu ingin buru-buru update.
__ADS_1
See u next episode 😘😘😘