
🙋Hai… para readersku yang baik hati dan budiman…
Terima kasih🙏🙏 banyak atas komentar-komentar kalian yang super sekali👍👍. Komentar yang selalu buat author melek buat update episode baru. Karena komentar kalian juga buat author jadi punya semangat 💪 ’45 berpikir untuk membuat
cerita yang menarik untuk kalian baca setiap hari.
Selain itu author juga mengharapkan 🙏 kalian memberikan like+rate untuk menaikkan level supaya bisa lulus kontrak.
Happy reading ya…😘🥰🥰😉
*****************************
Garda memegangi pipinya yang panas setelah sebuah tamparan keras mendarat mulus di wajahnya. Dia tertegun melihat ekspresi kemarahan Qameella. Juga tidak marah dengan sikap kasar istrinya. Karena sadar akan perbuatannya yang tidak sopan. Walaupun sudah sepantasnya berhak atas diri gadis itu, tetapi dia tetap tidak boleh melakukannya tanpa seizing cewek yang kerap dipanggilnya Bini.
Qameella menangis lalu berlari pergi meninggalkan Garda yang masih terdiam di tempatnya.
“Busyet! Cewek mana tuh, punya nyali gede juga nampar Bro Garda?” decak salah satu cowok di antara mereka memecah keheningan sambil menatap kepergian mereka.
“Iya. Gak takut mati kali ya?” sahut yang lainnya menimpali. “atau jangan-jangan dia ngerasa punya nyawa Sembilan kali…”
“Seharusnya itu bersyukur dicium sama ketua kita. Karena gak semua cewek bisa dapat perlakuan istimewa kaya gitu. Cewek sekelas Fiola aja gak pernah dicium kaya cewek tadi, di muka umum lagi.”
Fiola merasa tercubit dengan ucapan mereka. Jauh dari lubuk hatinya tidak memungkiri ucapan mereka memang benar. Garda memang sangat baik terhadap siapa pun, termasuk dirinya.
“Ehem, ehem, ehem,” Fiola sengaja berdehem untuk menyadarkan mereka agar tidak bergunjing lagi.
Namun siapa cewek itu? Mengapa Garda tiba-tiba menciumnya di depan umum? Batinnya jadi bertanya-tanya.
Mendadak Fiola dilanda cemburu dengan gadis tadi. Pasalnya Garda tidak pernah menyambut dan tidak pula menanggapi perasaan serta perhatian yang jelas-jelas ditunjukkan padanya. Garda selalu menganggap dan memperlakukannya tidak lebih hanya sebagai teman biasa.
Mungkinkah mereka pacaran? Tapi… mustahil banget kalo mereka pacaran. Soalnya cewek tadi berani menampar wajah Garda.
Fiola berjalan mendekati Garda hendak menenangkannya, sekaligus menghasut agar membalas perlakuan cewek gak ada akhlak tadi. Namun belum sempat kakinya melangkah jauh, tiba-tiba Garda berlari mengejar Qameella.
"Lho, kenapa Garda malah pergi?" tanya salah seorang cewek yang sedari tadi mengawasi bersama tiga orang teman ceweknya.
Fiola terdiam di tempatnya. Kedua tangannya yang berada di sisi tubuhnya mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih.
__ADS_1
Setelah itu disusul oleh Tari yang juga ikut mengejar. Padahal tinggal selangkah lagi dia bisa menemui Dimas. Cowok yang sudah beberapa hari dicarinya seperti seorang buronan.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan seperti ini membuatmTari mengabaikan segala urusannya. Sebagai bentuk tanggung jawab karena secara tidak langsung telah membuat Qameella dalam masalah.
Ah, lagi-lagi begini. Tapi gue gak bisa mengabaikan si Meella. Walau gimana pun gue ikut tanggung jawab. Duhhh, Meella… elo kenapa sih terus-terusan berurusan sama si Garda? Emangnya elo gak tahu apa dia siapa? Kenapa elo tadi bikin ulah segala pake nampar si Garda, entar kalo sampai dilibas sama dia gimana gue bisa jelasin ke bonyok lo di rumah… huh! Riweuh pisan! gerutunya dalam hati.
*
Langit sudah gelap saat Qameella tiba di rumah. Sebelum masuk melewati pintu gerbang rumahnya, dia menghapus kasar sisa air matanya.
Qameella masuk ke dalam rumah yang ternyata tidak ada seorang pun di sana. Berkali-kali dia memanggil Mama dan ayahnya secara bergantian, setelah sebelumnya mengucap salam, tidak ada seorang pun yang menjawab panggilannya.
Apa mungkin mama dan ayah belum pulang? Tapi… pintu depan gak dikunci. Kemana ya mereka? pikirnya resah. Tapi dia tidak mau ambil pusing. Segera dia beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Qameella menghela napas berat saat mendudukkan diri di atas tempat tidurnya. Diloloskannya tali tasnya melewati kepalanya. Lalu di letakkan di atas kasur tidak jauh dari tempatnya duduk.
Pada waktu yang hampir bersamaan. Garda sedang melajukan sepeda motornya menuju rumahnya. Setelah sebelumnya memastikan Qameella tiba di rumahnya dengan selamat. Dia memang sengaja membuntuti gadis itu diam-diam. Karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Akibat ulah nakalnya.
Sori Bini, gue udah bikin elo marah. Gue minta maaf jika perbuatan gue gak berkenan di hati lo. Tapi elo harus tahu, gue sengaja lakuin itu buat nunjukkin ke elo, kalo gue gak main-main sama elo. Gue serius sama
elo. Gue janji, gue bakalan buat elo jatuh cinta sama gue. Saat itu tiba, gue gak bakalan bikin elo terluka lagi. Gue bakalan jaga elo dan cinta lo demi cinta kita bersama.
Ampun deh… kira-kira si Garda udah ngapain si Meella ya? Secara tuh bocah udah berani nampar si Garda. Pikirnya dalam hati.
Tari menghela napas berat.
“Bodo amat dah, kok gue jadi ikutan pusing? Sedangkan urusan gue sama Dimas belum kelar.” Tari langsung memasukkan sepeda motornya masuk ke dalam garasi rumahnya.
*
Garda langsung disambut hangat oleh Mak Lela, wanita paruh baya yang sudah merawatnya sejak kecil. Di mata cowok berambut coklat itu, Mak Lela bukan hanya sekedar seorang pembantu rumah tangga keluarganya. Tapi sudah seperti ibunya pasca perceraian kedua orang tuanya.
“Baru pulang, den?” tegur Mak Lela yang dijawab anggukan kepala oleh Garda.
Seperti biasa bocah bangor yang hanya nurut dengan Mak Lela itu, melepaskan tas sekolah dan jaketnya lalu berpindah tangan pada wanita yang sudah tidak muda lagi di hadapannya.
“Den Garda mau makan sekarang, atau mau mandi dulu?” tanya wanita itu untuk memastikan.
__ADS_1
“Mandi aja dulu, Mak. Soalnya badan saya udah lengket banget,” jawabnya berlalu pergi menuju kamarnya di lantai dua.
Garda duduk di pinggir tempat tidurnya sambil membuka sepatu dan kaos kakinya. Mendadak terlintas ingatannya saat mencium bibir Qameella yang ranum dan manis. Jika bukan Bini mendorong tubuhnya, entah sampai kapan melepaskan bibirnya yang seperti magnet di bibir Qameella. Tanpa sadar bocah tengil itu tersenyum senang sambil menyentuh bibirnya.
Ternyata di tempat berbeda, Qameella masih duduk di pinggir tempat tidurnya sambil juga memegangi bibirnya yang nyaris di telan Garda. Anehnya dia masih merasakan hangatnya bibir Garda menyentuh bibirnya.
Sedetik, dua detik, tiga detik, Qameella masih terhanyut dalam lamunannya. Sedetik berikutnya, kewarasan menghenyakkannya dari lamunan. Dia langsung bergidik ngeri. Beringsut berdiri kemudian beranjak ke kamar mandi.
Setelah selesai melakukan ritual mandi dan ganti pakaian, Qameella pergi ke ruang makan. Dia pun mulai menyantap makan malamnya seorang diri dalam keheningan.
*
"Kenapa den? Kok senyum-senyum sendiri?" teguran Mak Lela sukses membuat wajah Garda bersemu merah. Ketika itu Garda sedang menikmati makan malamnya sendiri di temani oleh Mak Lela.
Tetapi Mak Lela sudah makan sebelum tuannya pulang. Sehingga dia hanya duduk menemani mengobrol layaknya seorang ibu, setelah melayani kebutuhan makan majikannya.
"Apa sih Emak ini? Kepo deh sama urusan anak muda," kilah Garda menutupi rasa malunya yang telah tertangkap basah senyum-senyum sendiri.
"Oh... urusan anak muda toh..." ejek Mak Lela manggut-manggut sambil mencebikkan bibir.
"Jangan rese deh, Mak," pinta Garda tersipu malu.
Mak Lela hafal betul dengan watak Garda, bocah lelaki yang tangguh dan mandiri, serta memiliki karakter yang kuat. Mungkin karena dia sudah dibiasakan sedari kecil untuk menghadapi masalah sendiri. Dengan sifat seperti itu dia sering mengalami kesulitan untuk mengekspresikan perasaannya sendiri.
Wanita yang sudah menginjak usia kepala lima itu, sudah faham sifat anak majikannya yang terkadang suka nyeleneh. Tapi kali ini rona wajahnya tampak berbeda. Terlihat lebih berseri-seri persis orang yang sedang kasmaran.
Meskipun Garda adalah Don Juan dikalangan teman-temannya. Namun sejauh ini dia tidak pernah bertingkah seperti ini.
"Ah... Mak tau, Aden pasti lagi jatoh cinta ya..." goda wanita itu.
"Ih Mak, sotoy deh," Garda mengerutkan dahinya berpura-pura marah.
"Iya... iya... Mak Lela emang suka soto. Apalagi sotoy mie Bogor, wih... enak tenan," sahutnya mengalihkan pembicaraan sambil menunjukkan ibu jari kanannya.
Garda geleng-geleng kepala menghadapi pembantu rumah tangganya yang sudah memiliki lima orang cucu.
"Itu soto namanya Mak, bukan sotoy," Garda mendengus dan menggelengkan kepalanya. "dasar nenek-nenek jaman now," lanjutnya bersuara pelan.
__ADS_1
Mak Lela hanya cekikikan sendiri.