
Hai... readers... author datang lagi semoga ceritanya gak bosenin ya.
Jangan lupa untuk memainkan jempol cantik para readers agar author dapat vote, like n komentar positif buat author juga author tunggu untuk menaikkan level ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Happy reading...
*****************************************
Langit sudah terlihat gelap saat sepeda motor Garda berhenti di pinggir jalan sebelum pintu gerbang kompleks perumahan yang ditinggali keluarga Qameella. Dia terpaksa menuruti keinginan Qameella yang minta diturunkan jauh dari rumahnya. Dengan alasan takut Gusti bertambah marah, setelah sebelumnya melihat kebersamaan mereka di depan rumah sakit sore tadi.
"Bi, kita masih bisa melanjutkan hubungan kita kan?" tanya Garda ingin memastikan. Dia tahu Qameella masih meragukan kesungguhannya.
Qameella tidak menjawab. Gadis itu tampak ragu untuk menjawab apa. Dia masih belum siap menjalani hubungan yang seserius ini bahkan sedari awal hubungan ini terjadi. Walaupun hubungan yang dijalani bersama Garda biasa saja tidak terjadi yang iya-iya. Tetap saja keraguan masih berlanjut.
"Bi, kalo kamu masih diam aja. Jangan salahin saya kalo diamnya kamu, saya anggap sebagai bentuk persetujuan kamu atas hubungan kita."
"Gak bisa gitu juga kali, Gar..." akhirnya Qameella buka suara.
"Sebaiknya elo jadian aja sama Mitha, kayanya kalian lebih cocok. Dari pada sama gue yang gak ada menarik-nariknya," sebenarnya Qameella hanya takut ayahnya marah setelah melihat dirinya bersama Garda tadi. Namun Garda berpikir Qameella sedang merajuk karena cemburu.
"Jadi, kamu masih mau menjodohkan saya sama Mitha nih?" goda Garda dengan seringai jahil. Qameella hanya meliriknya sekilas tampak tak mau terpengaruh.
"Oke!" mendadak dada Qameella terasa nyeri. Ada sejumput kesedihan terselip di sudut hatinya yang paling dalam. "aku jadian sama Mitha, tapi hubungan kita gak bakalan berubah."
"Kok gitu?" protes Qameella.
"Iya. Kan kamu udah ngizinin saya poligami," sahutnya ringan.
"Eh, kepedean... gue kebiri baru tahu rasa lo!" buru-buru Qameella menutup mulutnya yang mendadak lancang. Seolah bersikap seperti istri galak yang tidak terima dipoligami.
Garda terkekeh geli. Dia senang melihat reaksi cemburu yang ditunjukkan Qameella.
"I...ih, kok ketawa sih?" Qameella menghentakkan kakinya. Dengan kesal gadis itu beranjak pergi.
"Maaf, maaf," cicit Garda masih terkekeh. Dia beranjak turun dari jok motornya yang telah terparkir sempurna. Buru-buru menarik lengan Qameella menahan kepergiannya.
"Maaf," tatapan matanya menunjukkan ketulusan dan keseriusannya. "saya janji, gak akan menodai kesucian hubungan kita dengan hadirnya orang ketiga, keempat sampai tak terhingga." Qameella mengerutkan keningnya serius.
__ADS_1
Sedetik, dua detik, dua insan remaja berbeda jenis kelamin itu beradu pandang. Terkunci dalam tatapan mata masing-masing. Larut dalam keheningan yang tidak sengaja tercipta tanpa suara. Walaupun deru suara kendaraan yang melintas di sekitar jalan raya dekat mereka berdiri cukup membisingkan telinga. Tetapi tidak memberi pengaruh apa pun.
Sedetik berikutnya, Qameella membalikkan tubuhnya menghindari tatapan mata Garda, yang semakin lama semakin menyihirnya masuk ke dalam dunia yang entah apa namanya.
Dalam satu hentakan tangan Garda dapat mendekap Qameella dalam pelukannya. Sontak Qameella berjengit kaget. Bayangan saat Garda mengambil ciuman pertama Qameella tiba-tiba muncul di benaknya.
"Ap-ap-pa yang lo lakuin ke gue?" todong Qameella panik. Garda menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. "elo... elo... jangan coba macam-macam..."
"Tenang, jangan takut!" bisik Garda menghirup aroma tubuh Qameella yang tentu saja membuat bulu romanya meremang.
"Saya hanya ingin peluk kamu. Saya kangen." tangannya membelai lembut rambut dan punggung Qameella.
Qameella sangat risih mendapat perlakuan posesif seperti itu dari Garda. Nyaris saja dia ikut tenggelam dalam lautan perasaan tanpa dasar bersamanya. Untung saja kewarasan masih mendominasi hingga bisa membuat gerakan untuk menepis pelukan Garda yang semakin lama semakin membuatnya sesak napas.
"Jangan! Jangan tampar saya lagi!" seru Garda lirih sambil mengeratkan pelukannya.
"Itu rasanya sakit," lanjutnya mengendurkan pelukannya, memberi jarak antara dirinya dan Qameella. Tangannya menyentuh pipi yang pernah ditampar Qameella. "lebih baik kamu balas aja dengan ciuman supaya lebih nikmat."
Qameella mendorong kasar tubuh Garda hingga menciptakan jarak yang cukup jauh.
"Dasar cowok mesum!" hardiknya kesal langsung berlari pergi meninggalkan Garda di tempatnya. Cowok itu tersenyum lebar melihat sikap gadisnya yang masih malu-malu.
Seorang satpam yang sedang berjaga di pos melihat tingkah aneh gadis itu, langsung menegurnya. Tetapi sang gadis masih terlarut dalam kebahagiaannya sendiri. Hingga tidak mengindahkan teguran tersebut. Dia terus berlari sampai jalan menuju blok rumahnya.
*
Turnamen pekan olahraga tahunan antar sekolah menengah atas se-kota Bekasi, akhirnya berlangsung meriah dengan sekolah tempat Qameella menuntut ilmu sebagai tuan rumahnya.
Acara diawali dengan upacara pembukaan diikuti oleh semua perwakilan sekolah yang mengikuti turnamen. Mereka semua telah berkumpul di aula sekolah yang bisa menampung kisaran tiga sampai empat ratus orang.
Selama turnamen berlangsung tidak ada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Murid-murid yang tidak terlibat dalam kepanitiaan diliburkan. Setiap hari para atlet dari cabang olahraga yang berbeda datang dari sekolah berbeda sebagai perwakilan sekolah.
Hari kedua turnamen tim basket dari sekolah Qameella bertanding melawan tim basket dari SMA Negeri XX sebagai pembuka pertandingan. Dan turnamen futsal perwakilan dari SMA Negeri X melawan SMA B.
Qarmitha tersenyum miris duduk di tribun penonton, menyaksikan teman-teman satu timnya bertanding. Dengan kaki yang masih diikat perban dan terpaksa menanggalkan seragam basket kebanggaannya. Lantaran dia tidak bisa diikut sertakan dalam pertandingan kali ini, mengingat kondisinya yang masih belum pulih. Gadis itu hanya memakai seragam SMA-nya.
Kedua tangan Qarmitha mencengkeram kuat ujung bangku tribun penonton. Saat tim perwakilan sekolahnya gagal mencetak poin. Dalam hati dia ingin segera bangkit menggantikan salah satu di antara mereka.
__ADS_1
Bodoh! Kalian semua tidak ubahnya seperti serangga kecil di hadapan mereka, kalo kalian gak segera ubah strategi! pekik batin Qarmitha.
Dilihatnya Yasmin yang tampak kelelahan menghadapi serangan mereka. Biasanya dalam kondisi terjepit seperti itu, dia akan bergerak gesit membantu dan memecahkan kebuntuan yang terjadi.
"Kaki sialan! Kenapa harus cedera di saat gak tepat gini sih?" umpatnya pada diri sendiri dengan rahangnya mengeras, mengingat kecelakaan yang mengakibatkan cedera pada kakinya.
Qameella bersama seorang teman ceweknya, yang merupakan murid di sekolahnya tengah berjalan berdampingan membawa keranjang berisi berbagai macam bola. Barang-barang tersebut akan diserahkan pada panitia seksi perlengkapan yang ada di lapangan. Oya, di sini Qameella dan temannya menjadi anggota panitia seksi perlengkapan. Lumayan tugas yang diembannya cukup melelahkan.
Dering ponsel Qameella berbunyi nyaring membahana memenuhi ruangan kepanitiaan. Ponsel itu tidak sengaja tertinggal di atas meja saat hendak membawa barang, Qameella lupa memasukkan ke dalam saku celananya.
Lama ponsel itu berdering tidak ada yang mengangkat karena ruangan tersebut sedang kosong. Hingga mati sendiri. Tidak lama kemudian ponsel itu kembali berdering. Kali ini ada seseorang yang mengangkatnya. Dahinya mengernyit heran saat melihat nama yang tertera di layar. Nama yang tertulis tidak biasa.
"Halo, Bi..." seru suara dari seberang.
"Halo."
"Bi, suara kamu kok beda?" tanya Garda heran.
Si penerima telepon mengerutkan keningnya lebih dalam lagi. Mengenali suara orang yang berada di ujung telepon.
"Sorry, yang punya hp lagi pergi. Gue temannya. Kalo elo mau ngobrol ntar elo hubungi lagi aja." pungkasnya mengakhiri panggilan secara sepihak.
"Rega?" tiba-tiba Qameella masuk, terkejut saat melihat ponselnya ada di tangannya.
"Maaf, itu... hp gue ya?" tanyanya ragu-ragu. Rega menoleh pada benda pipih persegi yang sedang digenggamnya.
"Oh, iya." Rega buru-buru menyerahkan ponsel itu pada si empunya. Qameella menatap cowok itu dengan tatapan tidak percaya.
Pasalnya cowok super kalem, cuek dan tidak pernah mau tahu urusan orang lain. Tiba-tiba saja menyentuh benda pribadinya yang seharusnya menjadi hal yang bersifat privasi.
"Sorry, gue terpaksa angkat telepon elo, karena berisik gak mau berhenti. Tapi elo gak usah khawatir, gue gak bilang macam-macam sama dia. Cuma bilang hubungin lo balik." tuturnya menjelaskan agar Qameella tidak salah paham.
Qameella hanya mengangguk kaku, masih tidak percaya dengan sikap Rega.
"Oya, tadi gue denger suara cowok. Panggil 'Bi' gitu." Rega langsung berlalu pergi dari hadapan Qameella. Setelah itu dia duduk di meja kerjanya di sudut ruangan.
Garda? Qameella membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Semoga aja dia gak ngamuk," harap Qameella dalam hati.