
Hai readers... author gak bisa ngomong apa-apa lagi, selain minta vote, like juga komentar.
Happy reading...
*
Sudut bibir Qarmitha terus saja terangkat mendengar berbagai macam pujian dan sanjungan terus terlontar dari bibir para pendukung sekaligus penggemarnya. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya yang bertanding di tengah lapangan tadi. Mereka hanya tahu gadis yang berlaga dalam turnamen yang baru beberapa saat lalu berakhir adalah jagoan mereka, Qarmitha.
Qarmitha bersama Yasmin dan Maya begitu bangga. Di sepanjang koridor sekolah yang mereka lalui, tidak henti-hentinya teman-teman sekolahnya memberikan ucapan selamat, juga turut bangga karena tim basket sekolahnya masuk ke babak final.
Dari kejauhan Rega melihat Qarmitha dengan euforianya bersama teman-temannya, hanya menyeringai misterius, tidak bisa diartikan.
Sementara Garda tampak tertegun melihat segerombolan orang yang terus saja bersorak, meneriaki kemenangan mereka. Siapa lagi kalau bukan Qarmitha dan konco-konconya.
Berisik! Hanya itu kata yang terbersit di benaknya. Setelah itu dia sibuk mencari keberadaan Qameella yang tiba-tiba raib, seakan ditelan bumi.
Garda menghela napas kasar melihat wajah Qarmitha. Wajah yang pernah membuatnya tersesat karena saking miripnya. Heh! Tersesat? Lucu!
Kali ini Garda meyakinkan diri sendiri tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tidak ingin jatuh ke dalam lubang yang sama. Tapi... tiba-tiba cowok ganteng berlesung pipi itu teringat saat pertemuannya dengan Qameella di tribun penonton.
Gadis yang dinikahi karena insiden tidak terduga itu, hari ini terlihat berbeda. Walaupun Qameella tipe cewek yang dingin dan pendiam. Namun Garda merasa sedang berhadapan dengan orang yang berbeda. Perasaan yang sama, yang pernah dialaminya ketika pertama kali kekeliruan itu terjadi.
Oh, my God! Jangan-jangan...
Buru-buru Garda beranjak pergi mencari istrinya, Qameella.
*
Qameella keluar dari ruang ganti yang ada di dalam basecamp tim basket di sekolahnya secara sembunyi-sembunyi. Dia telah berganti baju yang sama dengan dipakai Qarmitha saat duduk di tribun penonton tadi. Begitu pun Qarmitha yang sudah pergi bersama teman-temannya, memakai kostum basket yang dipakai Qameella. Ya, kedua gadis kembar itu selain bertukar posisi, juga bertukar baju serta atributnya agar meyakinkan setiap orang yang melihat mereka.
Agar penyamarannya tidak terbongkar, Qameella sengaja keluar di saat suasana sudah sepi. Diam-diam dan penuh kehati-hatian gadis itu bergerak meninggalkan tempat itu.
Hembusan napas lega keluar dari rongga hidung dan mulut Qameella. Hatinya bersorak bahagia tidak ada yang melihatnya keluar dari basecamp. Dengan langkah cepat dia bergegas. Namun langkahnya surut saat terdengar suara berat yang khas menyapa indra pendengarannya.
"Ngapain lo diam-diam di sini, dengan gerak-gerik mencurigakan seperti pencuri?" Qameella menoleh ke sumber suara. Gadis terjengit kaget disertai desiran halus bergejolak di hatinya, saat netranya menangkap sosok itu.
Rega!
Qameella menebak cowok ganteng berambut pendek rapi, dengan warna hitam pekat. Penampilannya pun sangat rapi dengan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam.
__ADS_1
Walaupun wajah sama gantengnya, karena keduanya memiliki kemiripan mencapai 99% sama. Tetap saja sepasang cowok kembar itu memiliki perbedaan. Garda yang bangga dengan rambut warna coklat gelap. Dia senagaja membuat rambutnya agak berantakan, dan masih mempertahankan potongan rambut pendek, meski tidak sependek rambut Rega.
Bila diperhatikan sikap Rega terlihat lebih tenang dan kalem. Tidak grasa-grusu dan cuek seperti Garda.
Rega tersenyum miring yang tidak bisa Qameella artikan.
"Eh, gue..."
"Elo gak perlu berpura-pura jadi orang lain, yang hanya merusak karakter lo sendiri. Apalagi sampai membohongi diri sendiri," ujarnya yang entah sebuah nasihat atau makian yang ditunjukkan pada Qameella. Sungguh, cewek berkacamata minus itu tidak mengerti. Namun hati Qameella berkata jika Rega mengetahui sesuatu. Mungkinkah cowok itu mengetahui penyamarannya? Qameella membulatkan matanya.
"Elo cukup jujur pada diri sendiri. Jadilah elo yang apa adanya. Be your self!" tandas cowok itu seraya menatap lekat manik mata Qameella yang terbingkai cantik dibalik lensa kacamatanya.
OMG! Seumur-umur mengenal Rega, baru kali ini cowok itu menatap Qameella dengan intens. Makin membuat jantung Qameella dag-dig-dug.
Belum sempat Qameella merespon ucapan Rega, tiba-tiba sebuah lengan kokoh melingkari lehernya, seakan ingin menggaet serta mencekiknya. Refleks tubuh Qameella bergerak seirama dengan sentakan yang langsung merapatkan pada tubuh kekar di belakangnya.
"Jangan pernah gangguin Bini gue. Dia, adik ipar lo," ucap Garda sarkas masih memeluk tubuh Qameella dari belakang dengan gerakan posesif.
Garda tampak sangat cemburu melihat kebersamaan sang istri dan kakak kembarnya. Apalagi bila melihat tatapan mata Qameella yang begitu terpana saat melihat Rega. Padahal wajahnya Rega dan Garda tidak jauh berbeda, yang notabene kembar identik, tetapi cewek itu tidak pernah menatapnya seperti menatap Rega penuh cinta. Mungkinkah Qameella jatuh cinta pada Rega?
Sontak Qameella terperanjat kaget hingga kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya melorot. Menolehkan wajahnya menyamping sambil mendorong kacamatanya dengan satu jari telunjuknya, memastikan orang yang sedang memeluknya adalah benar Garda, suami yang tidak diinginkannya itu.
Mendadak suasana hati Qameella menjadi tidak karuan. Dan serba salah.
Garda semakin mengeratkan pelukannya. Seolah-olah dia takut gadisnya direbut orang lain.
Qameella terpaksa menyentuh lalu mencengkeram lengan Garda yang melingkar di bahu dan pinggangnya. Dia benar-benar sangat risih berada dalam posisi aneh seperti ini. Apalagi orang yang harus menyaksikan pertunjukan ini adalah orang yang disukainya. Oh, Tuhan... dosa apa si Qameella?!
Wajah Qameella seketika memucat disertai gugup. Kemudian tertunduk tidak berani menatap karena terlalu malu. Berkali-kali dia berusaha berontak dan meminta dilepaskan. Namun Garda sengaja menulikan telinganya.
Rega tersenyum dingin menanggapi sikap Garda yang terlihat kekanak-kanakan.
"Bini?" Rega mengernyit bingung.
"Iya. Meella adalah bini gue," sahutnya penuh percaya diri.
"Elo faham gak dengan apa yang barusan lo omongin?" tanya Rega meremehkan. "Bini?" lanjutnya tertawa kecil sinis.
"Lo pikir gue anak TK... ough!" terpaksa Qameella menyikut perut Garda, hingga cowok itu tidak bisa melanjutkan ucapannya dan mengaduh sakit.
__ADS_1
Alhasil Qameella bisa menghentakkan kasar tangan Garda, dan lepas dari pelukan posesifnya yang terasa melilit serta mencekiknya.
"Bi..."
"Sorry, sorry..." Qameella tidak enak hati. Netra matanya menatap Garda, lalu beralih ke arah Rega. Sungguh pemandangan yang sangat langka. Melihat kedua cowok ganteng dengan paras yang nyaris mirip sempurna, membuatnya seperti melihat satu orang yang berdiri di depan pantulan cermin.
Ternyata bukan Qameella saja yang memiliki saudara kembar identik di sini. Tetapi ada Garda dan Rega. Entah apa yang akan terjadi jika suatu saat Qameella dan Qarmitha memiliki pasangan kembar identik juga seperti Rega dan Garda. Mungkinkah hal itu terjadi? Hufth, impossible!
Garda langsung menarik tangan Qameella pergi menjauhi Rega. Hatinya tidak kuat menahan denyut sakit akibat cemburu yang terus saja meracuni perasaannya. Walaupun dari awal dia tahu Qameella menyukai Rega. Tetapi setelah mengalami secara langsung pemandangan yang tidak enak dinikmati, ternyata dapat menimbulkan luka yang tak kasat mata. Namun sakitnya mengalahkan luka yang berdarah-darah.
"Gar... Garda..." panggil Qameella berulang-ulang. Namun Garda mengabaikannya.
"Elo kenapa sih? Bisa gak sih jalannya pelan-pelan aja? Gue capek..." ingin sekali Qameella berkata demikian, namun melihat ekspresi wajah garang Garda urung dilakukan.
Tiba-tiba Garda menghentikan langkahnya. Qameella yang berjalan di belakang Garda, dan tidak tahu jika cowok aneh di depannya mengerem mendadak tanpa aba-aba, kontan keningnya menambrak punggung Garda cukup keras.
"Aduh..." Qameella memekik pelan.
Garda membalikkan tubuhnya menghadap Qameella. Netra matanya menatap gadis yang hanya setinggi ujung hidungnya.
Qameella yang tidak tahu isi otak dan pikiran Garda hanya diam membatu, menatap balik dengan perasaan yang tidak menentu. Ada rasa takut bercampur gugup dan rasa-rasa yang lain. Bisa dibilang saat ini perasaan Qameella nano-nano, ramai rasanya.
Apa dia lagi marah? Tapi, apa salah gue? Perasaan sedari tadi gue gak ngapa-ngapain. Terus, dimana letak salahnya? Batinnya bingung.
Untuk mengusir kekakuan yang cuma bikin canggung, Qameella mencoba berujar. Tapi... belum sempat dia buka suara. Tiba-tiba Garda mendorong tubuh Qameella ke dinding kelas yang dilaluinya. Setelah itu merengkuh tengkuk dan pinggang Qameella. Dengan sekali sentakan Garda berhasil menarik tubuh mungil Qameella mendekat. Lalu menyerang bibir Qameella dengan bibirnya.
Dua kali! Ya ini adalah kedua kalinya Garda mencium bibir Qameella.
Qameella terperanjat kaget mendapat serangan mendadak ini. Pada detik pertama sampai ketiga, Qameella diam karena efek kagetnya. Kemudian detik berikutnya dia berontak. Mendorong tubuh Garda yang terus saja menjepitnya ke arah dinding. Dia tidak bisa berteriak meminta tolong karena bibirnya dikunci oleh bibir Garda.
Qameella tidak habis akal, tangannya tidak dibiarkan menganggur. Dia gunakan untuk memukuli tubuh Garda. Sayang, cowok itu tidak meresponnya seolah mati rasa.
Garda yang sudah diselimuti cemburu dan nafsu terus saja melahap bibir Qameella tanpa henti. Setelah mendengar suara tangis Qameella barulah Garda menghentikan aksi bejatnya.
"Maaf, maaf,maaf," bisik Garda menyesal di depan wajah lalu beralih ke telinga Qameella seraya memberikan pelukan hangat.
Garda mencium puncak kepala Qameella. Lalu dibelainya sayang.
"Maaf Bi... saya khilaf. Maaf..."
__ADS_1
Qameella hanya menangis dalam pelukan Garda.