Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#93


__ADS_3

Happy reading


Maryam memindahkan sepiring nasi putih yang dicetak rapi, lengkap dengan sepotong paha ayam bakar madu, tempe, tahu, juga sayuran untuk lalapan dan sambal dari nampan yang dibawanya dari dapur kedai. Selain itu ada segelas teh manis hangat. Ada lagi cah kangkung yang merupakan menu favorit Rega. Ya, dokter muda itu selalu me request nya bila makan di sini.


Garda hanya menatap dalam diam semua hidangan yang tertata rapi di atas meja. Perutnya mendadak lapar mencium aroma sedap dari makanan yang ada di depannya. Tapi dia kurang berselera melihat sayuran hijau yang ada di piring di depannya. Jujur saja Garda kurang suka makan sayur.


''Ayo, silakan dimakan, Nak Rega,'' seru Maryam saat melihat Garda yang tak jua menyentuh makanannya.


Kening Maryam berkerut dalam melihat pria muda yang dianggapnya sebagai Rega itu tampak aneh. Dia tidak menyadari jika yang dianggapnya Rega adalah Garda. Pemuda yang selama ini dianggapnya sudah meninggal dunia. Dalam hati dia merasa ada yang aneh dengan sikap Rega. Biasanya setiap kali datang ke sini, Rega akan ringan tangan membantu mengantar pesanan ke meja-meja pelanggan. Tapi kenapa, saat tadi di depan Rega tampak berbeda? banyak pertanyaan yang melintas dalam pikiran Maryam.


''Ada apa?'' tanya wanita itu heran. ''apa... mau diganti lauknya atau...''


''Gak, gak usah Ma. Gak usah,'' sahut Garda cepat terbata seraya menggelengkan kepala.


Maryam menautkan kedua alisnya. Mengamati rona menantunya yang tampak tak biasa.


''Nak Rega ada masalah dengan Mitha?'' tanya Maryam tiba-tiba. ''maafin anak Mama yang satu itu, ya. Dari kecil Mitha memang keras kepala juga susah diatur. Bila ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia akan mati-matian menolaknya. Begitu pula sebaliknya.''


Garda mengangkat pandangannya pada wanita paruh baya itu. Sempat bingung mendengar curahan hati Mama mertuanya sambil tersenyum kecut seperti itu. Tapi dia tidak menggubrisnya. Hanya menjadi pendengar yang baik saja. Dia tidak perlu menjawab. Toh, yang dibahas bukan dirinya atau istrinya. Melainkan Rega dan istrinya, Mitha. Walau dalam hati dia ingin sekali menanyakan perihal Meella. Namun dia urungkan, khawatir Maryam akan berpikir macam-macam.


''Maklum pernikahan kalian bukan atas dasar cinta. Mungkin Mitha masih belajar untuk menerima dan mencintai Mitha. Jadi, Mama harap nak Rega tidak marah juga bosan mengajarkan cinta pada Mitha,'' ucap Maryam penuh harap pada menantunya. Walau pun sama-sama menantu, tetapi orang yang dituju bukan orang yang dimaksud.


Garda tersenyum canggung. Agak tersentil dengan ucapan Mama mertuanya. Lantaran pernikahannya dengan Meella juga bukan atas dasar cinta. Parahnya lagi mereka belum saling mengenal satu sama lain.


''Oya, apa Mitha tahu kalo Nak Rega datang ke sini?'' selidik Maryam ingin tahu.


''Ah, mmm...'' belum sempat Garda menjawab mendadak ponsel di saku baju Maryam menginterupsi dengan suara yang cukup nyaring.


Maryam mempersilakan Garda menikmati makanan yang sudah dihidangkan di atas meja. Setelahnya dia izin mengangkat telepon di luar seraya merogoh sakunya yang terdapat ponsel yang masih berdering.


Garda mengangguk mengerti. Menikmati makan malam untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dan pasca ingatannya kembali. Sebelumnya dia sudah berkeliling di kompleks perumahan yang dulu pernah ditinggali keluarga Meella. Namun menurut keterangan para tetangga sekitar mereka sudah lama pindah rumah.


*


Mitha meronta dari tali yang mengikat kedua tangannya. Mulutnya ditutup rapat menggunakan lakban hingga tidak bisa berteriak minta tolong. Sejak sadar dari pingsannya dia berusaha untuk membebaskan diri sendiri. Namun nihil karena tangan dan kakinya terikat kuat pada sebuah kursi kayu. Rasa takut pada diri Mitha jangan ditanya. Tentu dia sangat takut dan hal itu sangat manusiawi sekali. Walau pun dia bukan wanita lemah karena punya sedikit ilmu bela diri.


'Sialan, siapa sih orang yang udah jahatin gue? Pake acara nyulik gue segala. Awas aja kalo gue sampai tahu siapa orangnya. Gue libas dia nanti jadi perkedel!' batinnya bergemuruh marah.

__ADS_1


Di tempat berbeda, Meella begitu gelisah di atas pembaringannya. Entah mengapa terasa hatinya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan resah. Tapi apa? Meella tidak tahu.


''Elo kenapa sih, Meel?'' tegur Tari sambil mengucak matanya. Dia merasa terusik tidurnya dengan pergerakan sang sahabat di sampingnya.


Keduanya kini sudah merubah posisi mereka menjadi duduk.


''Elo abis mimpi buruk?'' selidik Tari melihat kegelisahan yang terpancar di wajah sendu Meella.


''Bukan. Gue bahkan belum bisa tidur dari tadi.''


Tari melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya. Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas lewat dua puluh lima menit.


''Ini udah malam banget. Hampir tengah malam malah. Ngapain elo belum tidur?''


Meella menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Menghela nafas berat.


''Gue juga gak tahu. Sedari tadi gue cuma keingetan Thatha. Gue khawatir dia kenapa-kenapa.''


''Ck. Elo kenapa sih masih khawatirin di Mitha? Kan elo pernah bilang kalo sekarang dia udah bisa hidup bahagia sama Rega. Atau... elo takut si Mitha bernasib sama kaya artis-artis yang ada di berita infotainment. Jadi korban KDRT dari si rega?'' celoteh Tari asal. ''tenang, Rega bukan tipe suami kasar. Elo sama gue sama-sama tahu gimana Rega.''


''Bukan begitu juga, Tar...,'' Meella menggelengkan kepalanya.


''Gue gak tahu. Yang jelas elo gak bakalan bisa mengerti perasaan gue,'' tukas Meella bingung harus menjelaskan seperti apa.


''Terserah lo aja deh. Gue ngantuk, mau tidur. Elo jangan bikin pergerakan yang signifikan ya,'' ujar Tari tidak lupa memberi pesan pada Meella agar tidak menggangu tidurnya.


Meella hanya diam saja, menatap pergerakan Tari hingga tenggelam di bawah selimut.


'Semoga elo baik-baik aja di sana, Tha,' bisik batin Meella penuh harap.


*


Rega pulang ke apartemennya setelah menyelesaikan operasi terakhirnya di rumah sakit. Saat membuka pintu unit apartemennya, suasana sangat gelap gulita. Tidak seperti biasanya. Pikirnya.


Rega meraba dinding mencari saklar lampu.


Klik

__ADS_1


Lampu pun terang benderang. Semua yang bisa dijangkau oleh netranya tampak jelas. Rega bergerak menuju sofa yang ada di ruang tamu. Melepaskan jas putihnya lalu melepaskan dua kancing teratas kemejanya. Sebelum duduk dia meletakkan jas di tangannya ke atas sandaran sofa.


Rega sengaja tidak langsung masuk ke kamarnya bersama Mitha. Dia ingin melepas penat terlebih dahulu dengan merenggangkan tubuhnya di atas sofa, seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Karena dia tahu jika jam-jam seperti ini, istrinya, Mitha sudah terlelap dalam buaian mimpi. Dia tidak mau mengganggunya dulu. Apalagi dia tahu bahwa istrinya sudah memulai aktivitasnya. Dia yakin tugas sebagai guru olahraga tidak mudah. Praktek lapangan lebih sulit dan melelahkan dibandingkan teori di dalam ruang kelas.


Rega mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya nyaris bertaut. Ketika melihat kamarnya dalam kondisi kosong tak berpenghuni. Dia pun mencari di dalam kamar mandi juga tidak ditemukan keberadaan istrinya.


''Kemana dia malam-malam begini masih belum juga pulang,'' gumamnya heran.


Rega benar-benar bingung kemana perginya Mitha. Setelah menghubungi semua sahabat Mitha, ternyata tidak ada satu pun di antara mereka yang bertemu dengan istrinya seharian ini. Dia juga tidak habis akal. Menghubungi Mama mertuanya. Jawabannya tetap sama. Tidak bertemu Mitha. Lalu kemana perginya dia?


*


Maryam menatap nanar layar ponselnya yang sudah gelap. Pikirannya mendadak kacau setelah menerima telepon dari Rega. Selain khawatir Mitha akan berulah lagi. Tapi ada satu hal yang lebih mengusik pikirannya. Yaitu sosok Rega yang tadi sempat makan di kedainya. Walau pada kenyataannya dia bukan Rega, melainkan menantunya yang lain,Garda.


Kenapa pemuda itu tidak mengatakan apapun perihal rumah tangga mereka. Dan baru sekarang mengatakan Mitha tidak ada di rumah. Ada apa sebenarnya dengan mereka. Maryam benar-benar dibuat tujuh keliling.


"Ma, sudah selesai belum teleponnya?" tegur Gusti memaksa orang yang dipanggil menoleh.


"Oh, sudah Yah," sahutnya agak terbata.


Kini kedai mereka sudah sepi, karena memang sudah tutup. Semua sampah sudah dibuang pada tempatnya. Lantai pun bersih setelah disapu dan dipel. Kursi juga sudah selesai disusun di atas meja. Pintu gerbang dan pintu rumah tidak lupa dikunci oleh Gusti.


"Ayah," panggil Maryam menghentikan langkah kaki Gusti menuju ruang tengah. Lalu menolehkan kepalanya.


"Ya, Ma. Ada apa?"


"Thatha, Yah," sahut Maryam sedih.


Gusti memutar tubuhnya menghadap istrinya. Lalu menghela nafas berat.


"Ada apa dengan anak itu? Baik-baik saja kan, Ma?" Gusti sudah menebak ulah anaknya yang satu itu. Pasti membuat hal aneh-aneh lagi. Setelah sebelumnya berusaha menceraikan suaminya.


**


Hai readers... maaf ya author baru update sekarang. Karena pekerjaan author di dunia nyata baru kelar.


Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian ya...

__ADS_1


See you next episode 😘🥰❤️🙏


__ADS_2