Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Haruskah Berakhir?


__ADS_3

Hai readers.... maaf ya jika author sering telat update. Maklum disaat-saat seperti ini pekerjaan author di dunia nyata lagi banyak-banyaknya.


Jangan lupa untuk selalu memberikan vote, like n komentar buat karya author yang bisa dibilang cerita kacangan.


Happy reading ya....


************************************


"Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi kembali beberapa saat lagi..." Garda berdecak kesal saat mendengar suara operator yang menjawab panggilannya. Dengan marah dia langsung menggeser ikon tombol berwarna merah, memutuskan sambungan teleponnya.


Garda menyandarkan kepalanya di atas sandaran sofa panjang yang didudukinya. Mengangkat sebelah tangannya ke atas wajah, menutupi alis dan sepasang matanya. Basecamp yang saat ini sunyi dan hening karena anggota geng motor ABABIL lainnya sedang berada di luar, mengurus masalah pribadi masing-masing.


Bagi Garda tempat ini adalah tempat yang paling nyaman ketimbang di dalam rumahnya sendiri yang besar layaknya istana. Di sana dia tidak pernah merasakan indahnya cinta sebuah keluarga, yang hilang setelah perceraian kedua orang tuanya. Rumah besar itu menjelma bak kuburan. Sunyi, hening, dingin dan tidak betah berlama-lama berada di dalamnya. Kecuali jika Garda benar-benar ingin tidur di kamarnya, dan makan masakan buatan Mak Lela. Wanita paruh baya yang sudah merawatnya sejak kecil.


Klik! Seketika ruangan yang tadinya gelap gulita, kini menjadi terang benderang.


Sontak Garda membuka matanya. Lalu menurunkan lengannya dari atas wajahnya.


"Kenapa lo duduk di kegelapan sendirian?" tegur Fiola sambil berjalan mendekati Garda. Kemudian duduk di sisi Garda.


Dahi Fiola mengerut menatap wajah cowok itu yang tampak murung, tersirat kesedihan mendalam. Bibirnya tertarik ke atas, melengkung hingga menciptakan garis senyum yang kentara.


"Ada apa sama wajah lo? Tumben ditekuk gitu, kaya orang patah hati aja," selidiknya mengundang tanya dalam hati.


Garda mendengus panjang. Merubah posisi duduknya sambil menegakkan punggungnya.


"Ya. Elo benar. Gue emang lagi patah hati." sahutnya jujur.


Fiola yang mendengar hal itu tidak bisa percaya begitu saja. Gadis itu nyaris tertawa terbahak jika tidak memandang lebih jelas raut kesedihan yang tampak di wajah cowok ganteng di depannya.


"Heh, jangan bercanda lo. Mana mungkin seorang Garda, ketua geng motor ABABIL yang selama ini disegani dan ditakutin teman juga musuh. Digilai banyak cewek cantik, patah hati? Heh heh... sakit lo?" umpat Fiola.


Ada perasaan senang di hati gadis cantik itu, melihat wajah muram yang ditampilkan Garda. Seringai licik mampir di sudut bibir tipisnya.


"Gue serius, Fi..." Fiola menatap wajah Garda mencari kebenaran. Dan tidak ada kebohongan yang tersirat dari sorot matanya.


"Hah?! Yang serius lo?" Fiola terkejut, namun hatinya bersorak gembira.


"Ya udah kalo lo gak percaya."

__ADS_1


"Cewek mana yang buta udah nolak cowok seganteng, semacho dan sehebat kaya elo?"


Lagi-lagi Garda mendengus berat.


"Jangan bilang cewek cupu berkacamata yang waktu itu," Fiola menyipitkan matanya.


"Ya." Garda menganggukkan kepalanya.


"Kurang ajar tuh cewek! Belum tahu dia siapa elo," Fiola berkacak pinggang berpura-pura galak.


Garda kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Menyisir rambutnya ke belakang dengan jari sebelah tangannya.


Mendadak dia teringat saat Qameella menangis setelah dicium paksa olehnya. Jujur hatinya merasa terluka melihat air mata gadisnya mengalir akibat ulahnya sendiri. Dia pun sangat merutuki kebodohannya yang mudah terbakar api cemburu. Hanya karena melihat Qameella bersama Rega.


Garda takut Qameella pergi meninggalkannya, seperti mamanya yang pergi bersama Rega tidak kembali lagi, setelah perceraian yang dialami mama dan papanya. Dia khawatir hatinya tidak sanggup menanggung rindu tanpa batas, seperti rindunya terhadap mamanya.


Dulu saat Garda masih kecil, setelah kepergian mama dan Rega dari rumah dengan koper besar. Garda selalu menantikan kepulangan mereka di depan pintu. Hatinya sangat berharap jika saat itu mereka benar-benar kembali. Namun setelah menunggu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga berganti tahun. Mama maupun Rega tetap tak kunjung kembali.


Bahkan papa, keluarga satu-satunya yang tersisa juga tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di rumah. Lelaki itu malah mengabaikan Garda. Dia menyibukkan diri dengan bekerja tanpa henti di kantor, juga wanita-wanita yang mampu memuaskan hasrat dunianya. Seolah lupa pada rumah dan putranya yang tinggal semata wayang.


*


Rega dan Garda memang memiliki paras yang nyaris mirip sempurna. Namun Qameella tidak bisa membohongi perasaannya. Bahwa perasaannya hanya tertuju pada Rega. Sekeras apapun Garda berusaha menerobos dinding hatinya yang dingin. Tetap saja sulit tergoyahkan. Apalagi dia tidak menyukai sikap Garda yang arogan, posesif, impulsif, dan banyak hal lain lagi.


"Maaf, Gar, gue benar-benar udah gak bisa jalanin hubungan ini. Gue rasa elo juga begitu, kan?" ujar Qameella saat sebelum berpisah dengan Garda di luar gerbang kompleks perumahan tempat Qameella tinggal.


"Gue dan elo gak saling cinta. Sejak awal hubungan kita emang gak semestinya terjadi. Semuanya adalah sebuah kesalahan."


Hati Garda benar-benar terluka mendengarnya. Walaupun dia tidak menampik apa yang diucapkan Qameella semuanya benar. Tetapi dia tidak bisa mengabaikan rasa memiliki Qameella terlanjur hadir, tumbuh dan mulai bersemi di dalam hatinya. Sungguh keputusan yang sulit diterima.


"Ya. Semua yang kamu omongin emang bener. Tapi kita bisa saling membuka diri. Belajar saling mengenal dan mencintai satu sama lain kan, Bi..."


"Tapi, gue gak bisa Gar. Karena gue udah terlanjur suka sama orang lain," tanpa keraguan Qameella mengungkapkan isi hatinya. Namun bagi Garda terasa bagai disambar petir di siang bolong.


"Jadi, maaf sebaiknya kita akhiri semua ini," pinta Qameella lirih.


"Si-siapa orang yang udah ngerebut hati kamu, kalo saya boleh tahu? Dan tolong kasih tahu saya."


"Apa yang elo lakuin sama dia, jika gue kasih tahu?" tanya Qameella khawatir.

__ADS_1


"Nggak. Kamu tenang aja. Saya gak bakalan mukul orang sembarangan. Dan saya gak akan sepengecut itu kok."


Qameella menatap sepasang manik mata Garda terlihat sendu. Penuh luka dan kesedihan. Sama seperti apa yang dirasakan di dalam hatinya. Tetapi dia tidak mau mengakui itu. Dengan ragu-ragu akhirnya Qameella memberanikan diri menjawab,


"Rega."


Garda membeliakkan mata. Ingin rasanya tidak percaya dengan apa yang sudah didengarnya. Tapi inilah kenyataannya. Orang yang disukai gadisnya adalah saudara kembarnya, Rega. Mungkinkah selama mereka bersama, Qameella merasa selalu bersama Rega? Notabene Garda dan Rega merupakan sepasang cowok kembar identik, memiliki kesamaan wajah dan tubuh mendekati kata sempurna. Bagai pinang di belah dua.


Tubuh Garda membeku di tempatnya. Air mata nyaris saja meluncur di sudut mata cowok yang terkenal sangat tangguh. Hatinya hancur hingga menimbulkan rasa nyeri dan sakit. Namun luka tidak berdarah ini terasa begitu menyakitkan melebihi sakitnya luka sayatan di tubuh.


"Haruskah berakhir seperti ini Bi?" tanya Garda masih berharap ada keajaiban untuk memperbaiki hubungan mereka berdua.


"Saya sangat menyayangi kamu, Bi... dan saya yakin kalo saya udah jatuh cinta sama kamu," jujur Garda ucapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Qameella hanya terdiam membisu.


*


Rega termenung seorang diri setelah selesai membaca buku tentang ilmu kedokteran yang beberapa hari lalu dibelainya di toko buku. Cowok yang lebih suka menghabiskan waktu sendirinya dengan membaca buku itu, entah mengapa dia teringat saat peristiwa tadi di sekolah. Ketika takdir mempertemukannya kembali pada saudara kembarnya yang sudah lama tidak bertemu.


Kini Rega dan Garda dipertemukan kembali. Namun pertemuan kali ini terpaksa menjadi kurang mengenakkan. Pasalnya Garda tampak kurang senang saat Rega berbicara pada Qameella, teman sekelasnya.


Setelah perceraian kedua orang tuanya, Rega maupun Garda tidak pernah bertemu dengan suasana menyenangkan. Selalu saja diawali dan diakhiri dengan ketegangan. Entah apa yang sudah mengisi pikiran Garda, hingga selalu berpikir buruk tentangnya. Namun dia tidak pernah merasa sakit hati atau pun dendam padanya, belahan jiwanya.


Tetapi ada satu hal yang hingga detik ini terasa janggal. Yaitu hubungan Garda dengan Qameella. Dimana tadi siang Garda panggil Qameella dengan sebutan Bini. Sebagai seorang yang jenius, tidak mungkin Rega tidak tahu arti kata itu.


Bini adalah kata lain, atau bisa dibilang persamaan kata, atau sinonim dari kata istri. Berarti perempuan yang sudah dinikahi dan bersuami. Mungkinkah jika Qameella dan Garda sudah menikah? Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Huft, otak Rega terasa mau pecah bila memikirkan hal yang sama sekali tidak masuk akal.


Akhirnya Rega memutuskan tidak ingin terus memikirkan yang bukan ranahnya. Lebih baik dia menikmati hidupnya yang berjalan normal, tanpa hambatan yang berarti. Kemudian beranjak dari meja belajarnya beralih ke tempat tidur, mengistirahatkan otak dan pikiran, serta tubuhnya.


*


Garda menepis kasar tubuh Fiola yang sudah setengah menindihnya hendak menggoda iman kelelakiannya.


Fiola berdecak kesal mendapat penolakan dari Garda. Usahanya merayu Garda gagal begitu saja. Padahal dia sudah yakin akan berhasil dengan pesonanya yang cantik dan seksi. Seharusnya semua cowok yang didekatinya


"Kenapa sih Gar, elo gak terima gue aja jadi pacar lo? Dari pada elo terluka, menanggung sakit karena diputusin cewek cupu, jelek gak jelas kaya mantan lo itu?" tuntut Fiola geram.


"Sorry Fi, gue gak bisa. Lagian kita kan teman baik. Gue gak mau jika pertemanan di antara kita rusak," tukas Garda beranjak berdiri. Lalu pergi meninggalkan basecamp setelah sebelumnya menyambar jaketnya yang tersampir di atas sandaran sofa tunggal.

__ADS_1


"Brengsek si cewek cupu itu. Gue gak bisa tinggal diam begitu aja. Gue harus berbuat sesuatu supaya Garda bisa berada dalam pelukan gue," ujar Fiola dengan hasrat menggebu ingin memiliki Garda, diakhiri dengan seringai licik penuh ambisi.


__ADS_2