
Happy reading....
***************************************
"Bi," Garda menatap sendu gadis yang berdiri di depan batang hidungnya. Matanya memerah tidak kuasa menahan emosi. Emosi untuk meluapkan kerinduannya.
Qameella tersadar jika cowok itu benar adalah Garda. Spontan dia menghambur dalam dekapan cowok yang telah resmi menjadi suaminya.
Garda membalas dekapan Qameella lebih erat, seakan tidak ingin melepaskan untuk selamanya. Tangan kanannya bergerak membelai puncak kepala istrinya. Juga menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi di sana.
Perlahan bahu Qameella bergetar disertai sayup-sayup terdengar suara isak tangis dalam dekapan Garda.
Garda mendorong pelan bahu Qameella, memberi jarak agar bisa melihat wajah sedihnya.
Air mata bersimbah di pipi Qameella dengan hidung yang memerah. Bibirnya mengatup rapat tidak kuasa berkata-kata. Hanya suara isakan meluncur dengan lancar.
Garda menangkup wajah istri kecilnya dengan kedua telapak tangannya. Menuntunnya agar menatap dirinya juga. Sepasang netra kelam itu kini tampak memerah dan basah. Dia pun tidak kalah sedih melihatnya seperti itu. Pun tak kuasa menahan air mata yang juga ikut keluar.
Hah, tidak ada yang menyangka jika seorang Garda, pemimpin geng ABABIL yang terkenal garang dan sangat disegani, ternyata bisa meneteskan air mata hanya seorang gadis biasa seperti Qameella.
Garda mengusap air mata Qameella dengan kedua ibu jarinya di kanan dan kiri pipi sang istri. Diluar dugaan, Qameella pun mengusap air mata sang suami dengan tangannya sendiri. Lalu keduanya tersenyum cerah seakan melupakan kesedihan mereka.
Sejenak mereka terdiam tanpa kata. Sepasang mata mereka saling berpandangan. Seolah mewakili hati mereka untuk berbicara. Betapa tersiksanya mereka hidup berjauhan, tanpa pertemuan yang biasa mereka lakukan. Lantaran kedua orang tua mereka yang menghalanginya.
Entah sejak kapan Garda memajukan wajahnya hingga tidak menyisakan jarak dengan wajah Qameella. Perjalanan ujung hidungnya menyentuh ujung hidung Qameella.
Tanpa perlawanan Qameella terlihat pasrah, saat tangan Garda mengarahkan wajahnya lebih menengadah. Mendekatkan bibirnya menyentuh bibir istrinya sampai menempel. Dan di biarkan beberapa saat di sana.
Setelahnya menjauhi untuk melihat ekspresi wajah Qameella. Garda tersenyum melihat rona merah di pipi Qameella. Ibu jarinya bergerak lembut memberi belain hangat.
"I miss you, Bi," bisiknya lembut.
"I miss you too," sahutnya lebih lembut lagi.
"I love you," desahannya langsung menyambar bibir ranum Qameella. Dia mengecupnya lembut dan intens.
Qameella membalasnya impulsif.
*
Garda dan Qameella duduk di salah satu bangku yang ada di depan kelas X, lantai satu. Keduanya sengaja tidak segera keluar dari gedung itu. Karena mereka tahu, jika berada di luar gedung ini mereka harus terpisah kembali.
Sepasang kekasih sekaligus suami istri belia itu duduk bersisian. Garda merangkul pundak kiri Qameella posesif. Sementara tangannya yang bebas menggenggam tangan kanan Qameella, dengan menyelipkan jari tangannya disela jari tangan istrinya. Lalu meletakkannya di atas pangkuannya.
Qameella menyandarkan kepalanya di atas pundak Garda. Mendengarkan cerita yang rada nyeleneh perihal pertukaran posisi sedang dijalani dari cowok di sisinya, sambil menikmati belaian tangan yang lembut, bergerak naik turun dari atas puncak kepalanya hingga punggung.
"Jadi, kamu sengaja ngelakuin ini?" Garda menjawab dengan gumaman disertai anggukan pelan.
"Terus yang di perpus tadi, kamu kenapa diam aja gak ngomong apa-apa sama saya?" protes Qameella seraya mendongakkan wajahnya menatap Garda geram.
__ADS_1
"Itu karena saya lagi berperan jadi Rega, Bi..." Garda mencubit pipi Qameella gemas. "kalo saya langsung kaya gini, emangnya kamu mau besok tersebar kabar kamu pacaran sama Rega? Atau kamu emang ngarepin kaya gitu?" lanjutnya menunjukkan kecemburuannya.
"Gak lah, mana mungkin saya kaya gitu. Emangnya kamu," sindirnya telak.
"Kok jadi saya sih Bi?"
"Iya, kamu kan pernah kaya gitu. Lupa? Udah jalan sama Mitha?"
Hati Garda tercubit langsung teringat kesalahannya dulu. Dan rasa bersalah itu memenuhi perasaannya yang lembut. Kemudian mengusap wajahnya kasar.
"Ya maaf. Waktu itu saya kan gak tahu kalo kalian kembar identik. Lagian salah Mitha juga yang gak terus terang sama saya," kilah Garda membela diri.
"Dasar cowok, dimana-mana emang sama, curang," umpatnya menekan kata terakhirnya sambil menggeser posisi duduknya, memberi jarak agar tidak terlalu dekat dengan Garda.
Namun Garda tidak terima. Dengan sekali sentakan Qameella kembali merapat padanya.
"Curang apa sih sayang... saya gak curang. Cuman khilaf doang, itu juga cuman dikit..." dengan kocak Garda memainkan suaranya disertai gerakan ibu jari dan jari telunjuknya di udara.
Qameella mendengus kesal sambil memalingkan wajah ke samping.
"Hei.... jangan marah," rayu Garda manja. Menarik wajah Qameella agar menoleh ke arahnya kembali.
Qameella mengerucutkan bibirnya maju dua sentimeter ke depan. Mendengus sebal.
"Cantik, plis... jangan marah dong..." Garda masih berusaha membujuk agar bisa berdamai. "Kalo kamu marah saya jadi sedih lo. Apalagi kondisi seperti ini, kita gak bisa ketemuan sebebas dulu."
Qameella tersentak dengan pernyataan Garda. Sepasang mata beningnya basah dan memerah setelah menyadari kenyataan yang sedang dia dan Garda alami. Hatinya sedih mengingat pertemuan kali ini akan segera berakhir. Lantaran Gusti dan Qarmitha sudah menunggunya untuk pulang.
"Maaf," desis Qameella di dada Garda. "my hubby," terkekeh kecil sambil mendusel.
Garda agak merinding dengan pergerakan Qameella di dadanya. Membuat bulu roma bangkit dari tidurnya. Garda tersenyum bahagia sambil mengelus rambut sang istri. Namun mendengar kata terakhir yang Qameella ucapkan membuatnya tergelitik ingin tahu.
"Apa? Hubby?"
Qameella melepaskan pelukannya, menjauhkan tubuhnya dari Garda. Lalu mengangguk.
"Hubby, my hubby," tegas Qameella terdengar manja.
Garda mengacak-acak puncak kepala Qameella gemas. Setelahnya mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
Qameella mengernyit bingung.
"Kalung ini adalah mahar yang saya kasih ke kamu, saat kita nikah waktu itu," imbuh Garda memamerkan benda itu di udara. "tapi kamu kembaliin sewaktu kamu minta putus sama saya. Awalnya saya gak tahu dan kecewa kenapa kamu tiba-tiba minta kita gubaran. Makanya saya berusaha sebisa mungkin untuk mencari tahu, juga berusaha untuk dekat lagi sama kamu. Tapi sayang, saat kita udah benar-benar dekat. Orang tua kita gak mau merestui hubungan kita."
"Dan hari ini, dengan jelas saya ucapkan sama kamu, apa pun yang terjadi kita akan selalu bersama. Dimana pun kamu berada, saya akan ngikutin kamu seperti bayangan. Saya pun berharap kamu bisa melakukan hal yang sama. Karena saya gak bisa pisah sama kamu."
Hati Qameella menghangat mendengar pernyataan Garda yang tulus dan sungguh-sungguh.
"Kamu masih mau kan jadi istri saya, Bi?" tanya Garda lirih.
__ADS_1
Dengan cepat Qameella menganggukkan kepala.
"Iya, mau. Saya mau jadi istri kamu. Sampai kita menua bersama. Sampai nyawa terpisah dari raga. Saya mau tetap jadi istri kamu, hubby," sahutnya dengan mata berkaca-kaca.
Garda tersenyum puas. Dia pun memakaikan kalung di tangannya pada leher jenjang Qameella. Setelahnya mereka berpelukan hangat.
"I love you, Bi."
"Love you too, my hubby..."
*
Gusti melirik jam yang melingkar di lengan tangan kanannya. Dahinya langsung berkerut. Mendadak hatinya gusar menyadari salah satu putri kembarnya belum juga keluar. Padahal putri kembarnya yang lainnya sudah sedari tadi duduk di bangku penumpang di sebelahnya. Bahkan nyaris mati kebosanan, itulah yang sedari tadi Qarmitha keluhkan pada sang ayah.
Selain itu sudah tidak ada lagi murid yang keluar meninggalkan koridor sekolah. Sebagian besar dari mereka sudah pulang. Tinggal beberapa yang masih tinggal, mungkin menunggu jemputan mereka yang datang terlambat. Atau ada hal lain hanya mereka yang tahu.
Pintu gerbang pun sudah ditutup oleh penjaga sekolah. Hanya menyisakan sedikit celah untuk orang yang berlalu lalang.
"Tha, coba kamu cek ke dalam, masa sih jam segini Lala belum juga keluar," titah Gusti langsung ditanggapi decak kesal Qarmitha. Namun gadis itu tetap melakukan apa yang sudah diinstruksikan padanya.
Sebenarnya Qarmitha paling ogah kalau disuruh-suruh seperti ini. Apalah daya, dia harus menuruti perintah Gusti. Ditambah dia sudah sangat bosan menunggu, ingin segera pulang. Entah apa yang menahan Qameella di dalam sekolah hingga sepuluh menit lebih. Tentu saja menghambat waktu pulang sekolah.
"Lagian ada apaan sih sama si Lala, sampai jam segini belum keluar juga," Qarmitha tidak henti-hentinya ngedumel, menyusuri koridor sekolah yang sudah lengang.
Tiba-tiba langkah Qarmitha terhenti. Sepasang netra kelamnya membola. Kemudian memicing untuk mempertegas indra penglihatannya. Khawatir dia salah lihat. Namun matanya masih sangat normal, tidak ada masalah sama sekali.
Qarmitha mendengus berat saat sudah yakin tidak ada yang salah dengan penglihatannya. Ya, dia melihat saudari kembarnya sedang sambil berpelukan duduk di bangku di depan kelas X, bersama seorang cowok berseragam sama dengan dirinya dan Qameella. Tepat sekali, cowok itu murid sekolah ini.
My God... sejak kapan si Lala jadi segila itu? Pikir Qarmitha terheran-heran. Kemudian melanjutkan langkahnya untuk melihat lebih dekat lagi.
Qarmitha speechless. Lalu dia sadar tidak boleh membiarkan hal buruk itu terus berlanjut.
"Ekhm!" sengaja Qarmitha mengeraskan dehemannya agar pasangan berbeda jenis itu segera mengakhiri pelukan mereka.
Sontak Qameella dan Garda menoleh. Secepat kilat mereka saling mengurai pelukan masing-masing. Keduanya terlihat sangat terkejut tertangkap basah oleh Qameella.
Owh, owh, owh... apa-apaan ini?
Lagi, Qarmitha dibuat terkejut. Mungkin saat ini bisa dibilang sport jantung. Lantaran cowok yang bersama saudari kembarnya adalah duplikat Garda.
"Lala? Elo ngapain masih di sini, pake peluk-pelukan segala lagi?" Qarmitha mulai berang. Tatapan matanya sangat tajam dan mengintimidasi.
"My God Lala... elo punya mata gak sih... dia itu Rega bukan Garda. Jangan mentang-mentang elo kangen sama si Garda. Terus elo lihat si Rega yang fotokopiannya si Garda, elo boleh berbuat gak senonoh kaya tadi, gitu?"
"Elo lagi Rega, ngapain juga mau-mau'an diajak pelukan sama si Lala? Ekhm... maksud gue Meella," Qarmitha menurunkan intonasi suaranya pada kalimat terakhirnya.
Garda dan Qameella saling beradu pandang sebentar. Lalu kembali menatap datar wajah garang Qarmitha, yang sebenarnya lebih terlihat sedang cemburu. Seperti seorang cewek menangkap basah pacarnya sedang selingkuh dengan cewek lain.
*****
__ADS_1
Hai readers... sampai disini dulu ya Qarmitha ngomelnya. Author mau rehat dulu sambil cari inspirasi untuk melengkapi episode cerita hari ini. Mohon maaf belum bisa crazy update ya. Insyaallah dilain waktu ya...
Jangan lupa vote, like, hadiah dan komentarnya ya...