
Hai... readers... 🙏 maaf ya author telat update, karena untuk episode ini pikiran author bercabang lantaran terlalu banyak ide-ide, sampai rada ribet menyusun jadi satu kesatuan cerita yang menarik.
Jangan lupa untuk vote, like n komentar para readers kesayangan ya...
Happy reading...
******************************************
Qameella hanya bisa diam dan pasrah saat kata-kata bernada sumbang yang mengklaim dirinya sebagai 'pengkhianat'. Mungkin semua teman-teman sekolahnya sudah membencinya saat ini. Apa mungkin besok dia akan di blacklist dari sekolah?
Apalagi saat ini Qameella terang-terangan berada di antara Garda dan teman-temannya merayakan kemenangan mereka di sebuah kafe.
Garda sengaja membooking kafe itu, agar semua teman dan para pendukungnya dapat merayakan kemenangan mereka bersama, berhasil masuk ke babak semifinal.
Di tempat lain, teman-teman sekolahnya sedang sedih karena mengalami kekalahan setelah bertanding melawan tim futsal yang digawangi Sonik. Walaupun dalam cabang olahraga basket sekolah Qameella menang tipis. Tetap saja rasa bersalah tersemat di dalam hatinya. Mungkin bukan hanya pengkhianatan saja juga penjahat.
"Kenapa?" teguran Garda membuyarkan lamunan Qameella. Sepasang manik matanya saling bertatapan dengan manik mata Garda yang sedang menatapnya intens.
Degup jantung Qameella terasa ingin melompat keluar mendapat perlakuan istimewa seperti ini. Darahnya pun berdesir hebat, menimbulkan sensasi berbeda di dalam dua rongga dadanya, saat tangan kekar milik Garda memeluk bahunya erat.
"Kamu gak suka sama makanannya atau minumannya? Biar nanti pesan lagi yang lain, yang kamu sukai, hm?" Garda memeluk bahu Qameella yang duduk bersisian dengannya, seakan tidak ingin gadisnya jauh darinya.
Tikeng menyikut Rombeng yang sedang sibuk menyuapi makanan pada seorang teman ceweknya, yang bisa dibilang sebagai gebetannya. Sontak menoleh ke arah orang yang menyikutnya.
"Apa sih lo, gak boleh orang senang dikit, ganggu aja?" keluh Rombeng tidak senang.
"Lihat tuh!" titah Tikeng menunjuk dengan mengayunkan dagu. Rombeng pun melihat ke arah dimaksud.
"Ck! Apaan sih?" decak Rombeng kesal.
Kedua cowok itu berbinar senang melihat kelakuan sang ketua geng, tampak sok romantis bersama ceweknya, yang diakuinya sebagai istri. Walau mereka tidak terlalu yakin dengan status suami-istri. Tetapi mereka ikut bahagia jika ketuanya bahagia.
Terbukti saat pentolan geng motor ABABIL itu menunjukkan sisi romantis dan posesifnya. Seakan sedang menunjukkan kepada dunia bahwa gadis yang bersamanya adalah miliknya. Tidak ada yang boleh mendekati, apalagi sampai menyentuhnya. Maka, dia tidak akan segan-segan membasmi orang itu seperti bakteri dan virus. Kemudian hilang dari atas bumi ini.
Tubuh keduanya sangat dekat nyaris tidak berjarak. Begitu pula dengan wajah kedua remaja berbeda gender itu. Karena terlalu dekatnya, mereka berdua dapat merasakan hembusan napas, dan dapat mencium aroma tubuh masing-masing.
__ADS_1
Qameella menggeleng canggung sembari menepis tangan Garda yang nangkring di atas bahunya, merasa tidak ada yang salah dengan hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Lalu menundukkan wajahnya, gerogi dan tidak nyaman dalam posisi seperti ini.
Garda terlanjur nyaman dengan posisinya, tidak mengindahkan reaksi canggung Qameella. Dia mengunci pergerakannya. Kontan detak jantung Qameella terasa memompa lebih cepat, darahnya berdesir hebat menjalar ke seluruh tubuh.
"Udah lama gue gak lihat si Garda sesenang itu," ujar Tikeng haru.
"Iya, gue juga."
"Tapi... "
"Tapi apa?"
"Gue gak pernah lihat sikap Garda seromantis itu sama cewek mana pun, sampai cewek sekelas Fiola aja, Garda gak sampai segitunya."
"Yah, kalo soalnya itu, elo kan udah tahu jalan ceritanya. Sampai kapan pun si bro Garda gak bakal nganggap dia lebih dari teman."
Rombeng mengangguk setuju.
Diam-diam seseorang dari meja sebelah Tikeng mendengar pembicaraan kedua cowok itu. Hatinya terasa tercubit mendengar kata-kata mereka. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya. Hanya menelan asa di dalam sanubarinya sambil mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
*
Tetapi dia tidak bisa mengabaikan kekuatan timnya yang tampak kendor tanpa kehadirannya. Hatinya terasa miris melihat Yasmin dan Maya bersusah payah meraih poin demi poin. Sementara anggota yang lain tidak bisa diandalkan.
"Pak, saya mohon beri satu kesempatan buat saya maju dipertandingan berikutnya. Saya janji saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membela tim basket sekolah kita," pinta Qarmitha sungguh-sungguh.
"Maaf Qarmitha, bukan bapak tidak memberi kamu kesempatan maju, tapi cedera kaki kamu itu yang buat kamu tidak bisa," tukas Pak Jajang, pelatih basket.
"Tapi pak, kalo dibiarin begini terus kasihan Yasmin sama Maya. Apalagi ada anggota tim yang jelas-jelas gak bisa diajak solid sama tim sendiri," bantah Qarmitha sarkas seraya melirik sinis Ririn, Desi, dan Anggi. Trio tengil yang menyebabkan dia mengalami cedera. Mereka bertiga berdiri di sudut basecamp, juga meliriknya dengan tatapan yang sama.
Yasmin dan Maya berusaha menenangkan Qarmitha. Dan mereka akan selalu mendukung keputusan yang terbaik untuk Qarmitha.
"Sekali lagi bapak katakan pada kamu, bapak tidak akan menurunkan kamu membela tim, selama cedera kamu masih belum sembuh, titik!" final ucapan pak Jajang tidak ingin dibantah. Kemudian beranjak pergi.
Ririn, Desi, dan Anggi yang dijuluki oleh Qarmitha Trio tengil itu, tampak sedang bersorak bahagia. Tidak lupa mencemooh mereka kegilaan Qarmitha yang dianggap terlalu halu untuk menjadi pahlawan.
__ADS_1
"Sabar Tha..." ujar Maya sambil memeluk punggung Qarmitha dari belakang. Gadis tomboy itu hendak memukul wajah Ririn yang bermulut pedas, sepedas sambel setan.
"Udah, udah, Tha..." timpal Yasmin juga memeluknya. "biarin aja mereka, kita buat perhitungan nanti. Jangan sekarang, ingat kondisi lo." lanjutnya setengah berbisik.
Qarmitha mendengus kasar. Kemudian menepis pelukan kedua temannya, berbalik menghadap mereka.
"Gue punya rencana, tapi gue butuh bantuan lo berdua supaya rencana gue bisa berjalan lancar," cetusnya yang langsung disetujui oleh kedua cewek di hadapannya.
*
Akhirnya Qameella bisa lepas dan terbebas dari keposesipan Garda yang seakan mencekiknya. Malu rasanya diperlukan terlalu istimewa oleh cowok itu. Apalagi harus disaksikan oleh belasan pasang mata dengan berbagai tatapan, yang tidak bisa diartikan satu per satu.
Gadis berkacamata minus itu memilih toilet umum khusus wanita menjadi tempat ternyamannya. Pasalnya di dalam sini Garda tidak akan ikut masuk bersamanya. Jika tidak, wah bisa berabe urusannya.
Seseorang masuk ke dalam toilet yang sama dengan Qameella masuki. Ketika gadis itu membasuh wajahnya dengan air yang mengalir di atas westafel toilet. Kemudian berdiri di samping Qameella menghadap cermin.
"Gue heran, mantra apa yang udah elo gunain buat melet Garda," imbuh gadis itu terdengar sarkas dengan tetap menatap cermin.
Qameella tersentak kaget dengan suara bernada tuduhan itu. Dengan satu gerakan dia menghentikan aliran air yang sedang mengalir. Sejenak menyempatkan menoleh untuk memastikan. Tetapi dia tidak berkata apa-apa untuk merespon ucapannya. Lalu meraih tisu toilet yang tergantung di dinding. Mengeringkan wajahnya yang basah dengan tisu. Dia pun menyempatkan membersihkan lensa kacamata minusnya sebelum dipakai.
Dalam hati Qameella tidak mengerti apa maksud dari ucapan gadis di sebelahnya. Entah siapa yang sedang diajaknya bicara pun Qameella tidak tahu. Namun di dalam toilet ini selain mereka berdua tidak ada orang lain lagi. Mungkinkah orang yang sedang diajaknya bicara adalah Qameella?
Fiola! Siapa yang lagi diajak bicara? Apa mungkin gue? Tapi kita gak akrab.
"Hng! Sebenarnya gue gak yakin, kalo Garda itu tulus sama elo. Yah, karena gue tahu kriteria cewek idaman Garda. Dan itu bukan elo. Cewek biasa-biasa aja yang gak ada istimewa-istimewanya. Seenggaknya punya tampang oke," lanjutnya sinis.
"Kecuali... kalo elo gunain mejik, bisa aja sih..." Qameella tersenyum getir.
"Gue rasa... anak muda milenial di zaman now gak bakalan punya pemikiran dangkal. Tapi punya pemikiran yang lebih logis dan visioneris," sahut Qameella tenang namun saklek, dan mampu menohok lawan bicaranya.
"Jangan hanya karena rasa iri dan dengki, merubah haluan menjadi pemikiran sempit dan berjiwa kerdil," lanjutnya sukses membuat Fiola mati kutu.
Qameella langsung beranjak pergi meninggalkan Fiola sendiri. Semoga setelah hari ini, tidak ada perdebatan lain.
Ah, males banget berdebat cuma gara-gara cowok doang!
__ADS_1