
Happy reading
Dia membuka pintu mobilnya, menjejakkan kaki, lalu keluar menunjukkan wajahnya yang tampan.
"Den Rega, udah balik cepat, emangnya udah ketemu sama neng yang tadi?" tegur pria itu, berdiri tidak jauh darinya.
"Neng? Neng siapa?" tanya Garda bingung.
Si satpam pun mengerutkan keningnya ikut bingung.
'Masa iya sih, baru barusan Den Rega udah lupa? Padahal tadi lari kayak orang kesurupan ngejar Si Eneng cantik. Eh, sekarang kok lupa gitu aja,' gumamnya dalam hati seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang, kamu udah kembali?" suara seorang wanita mampir dalam rungunya. Begitu familiar hingga memaksanya untuk menoleh.
Netra Garda bersih robot dengan netra wanita itu, menghadirkan rasa rindu yang entah datang dari mana asalnya. Seakan ingin membuncah dalam hatinya.
'Siapakah wanita itu? Mengapa aku merasa begitu mengenalnya? Mungkinkah dia...'
Garda masih berpikir keras untuk mengingat siapa sosok wanita itu. Namun bayang-bayang samar tentang masa kecilnya bersama seorang wanita, mungkin adalah Mamanya, terus berkelebatan mengisi memori ingatannya. Cukup memberikan efek rasa sakit disertai nyeri pada kepalanya. Matanya terpejam menahan serangan rasa sakitnya, dengan tangan terangkat hendak menyentuh kepalanya yang sudah cenat-cenut.
"Sayang...," wanita yang tidak lain adalah Karina, menepuk pelan bahu Garda.
Garda tersentak kaget, sedikit linglung dengan rasa sakit yang masih mendera.
"Kamu kenapa? Mama tanya sedari tadi kok kamu cuekin?" tegurnya kecewa.
"Ah?!" Garda tampak gelagepan.
'Mama?'
Tiba-tiba dering ponsel Garda menginterupsi. Dia pun langsung mengangkat panggilan itu.
Sementara Karina mengerutkan dahinya, hingga kedua alis hitamnya nyaris bertaut. Sejenak dia memperhatikan penampilan Rega yang tampak berbeda dari sebelumnya. Dia masih ingat pakaian putranya baik dari model hingga warnanya.
'Sejak kapan Rega memakai setelan jas dan celana bahan seperti pegawai kantoran? Masa sih secepat itu Rega ganti baju? Tapi, apa mungkin dia sempat berganti baju, sementara dia harus mengejar istrinya,' batin Karina begitu penasaran menelisik penampilan putranya yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Maaf, saya harus segera pergi sekarang, karena ada urusan yang mendesak," ucap Garda canggung.
Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang mengaku sebagai Mama nya, dia segera beranjak masuk ke dalam mobilnya kembali. Menghidupkan mesin mobilnya lalu melesat pergi meninggalkan pelataran rumah Karina yang luas.
Karina tertegun melepas kepergian putranya. Mendadak hatinya berkata, bahwa pemuda itu bukan Rega. Melainkan putranya yang lain.
"Ya Tuhan, Garda?!" serunya seraya menyentuh dadanya, berdebar disertai bulir bening yang jatuh dari sudut matanya. Kendati dia tahu kabar kematian Garda. Juga ada bukti konkretnya berbentuk makam di kompleks pemakaman umum. Namun hatinya tetap berkata, 'dia adalah Garda. Putranya masih hidup!'
__ADS_1
*
Meella menghela nafas panjang, setelah meletakkan kantong belanjaannya di atas meja makan. Sore tadi sepulang kerja, dia sengaja mampir untuk belanja keperluan sehari-hari di supermarket tidak jauh dari apartemennya. Juga keperluan membuat kue. Yupz! Besok rencananya Meella akan membuat kue ulang tahun. Bukan ulang tahun dirinya atau teman kantornya. Melainkan ulang tahun Garda.
Sebelah tangannya terangkat memijat tengkuknya yang terasa pegal. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sering cepat lelah, dan tidak enak badan. Ah, mungkin sekarang-sekarang ini dia terlalu stress karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan cepat.
Walau pun Garda sudah lama meninggal dunia. Meella selalu merayakan hari lahir sang suami setiap tahunnya. Kemungkinan kue yang akan dibuatnya adalah donat. Sama seperti tahun-tahun lalu, dan awal pertama kali Meella memberikan kejutan ulang tahun Garda saat sehari sebelum tragedi berdarah itu.
Tidak pernah sekalipun Meella lupa dengan hari ulang tahun Garda. Seperti yang Mitha katakan pada Rega dan Karina, bahwa gadis itu setengah gila karena saking cintanya pada Garda. Mungkin untuk kasus Meella sudah termasuk bucin akut kali ya.
Biasanya Meella akan merayakannya bersama foto Garda sambil tiup lilin. Tentu yang tiup bukan foto ya, tapi diwakili oleh Meella. Setelah itu dia pergi nyekar ke makam sang suami. Memanjatkan doa selamat agar Garda dapat keringanan siksa kuburnya.
Setelah menata semua belanjaannya di dalam kulkas. Tapi ada juga yang diletakkan dalam lemari penyimpanan. Meella memutuskan mandi air hangat, ganti pakaian yang nyaman, dan terakhir tidur selepas menunaikan shalat isya.
*
Rega memukul gagang stir mobilnya kesal. Lalu menyugar rambutnya ke belakang dengan kedua tangannya, seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Pemuda itu tampak sangat putus asa lantaran tidak dapat menemukan Mitha. Bahkan di rumah orang tuanya sekali pun.
Tentu saja Rega sudah menjelaskan apa yang terjadi di rumah ibunya. Dan bersyukur bapak dan Ibu mertuanya bisa memahaminya. Karena pernikahan Mitha dan Rega sangat mendadak. Sampai Rega tidak sempat meminta restu orang tuanya.
Kemudian ibu mertuanya membantu Rega dengan menelepon semua teman akrab sang istri, Mitha. Kendati usaha Maryam berakhir nihil. Karena tak ada satu pun yang mengetahui keberadaannya.
"Mitha, kenapa sih kamu langsung pergi gitu aja, sebelum kita bicara dulu?" tanyanya tepatnya bertanya pada diri sendiri, menyesali tindakan Mitha yang kekanakan.
"Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!" Rega kembali memukul gagang stir mobilnya dengan sebelah tangannya, menghardik dan menyalahkan dirinya sendiri.
*
"Elo yakin dengan tindakan Lo begini?" tanya Yasmin setelah menerima telepon dari Maryam.
Mitha yang baru saja mendudukkan bokongnya di atas kursi kayu di samping Yasmin, hanya mencebikan bibirnya seraya mengedikkan bahu. Gadis itu tampak cuek tidak mau memedulikan masalah yang sedang dihadapi saat ini. Lalu menyeka keringat yang bercucuran di keningnya menggunakan tisu, setelah beberapa kali berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Saat ini Mitha dan Yasmin sedang berada di pinggir lapangan basket, di halaman belakang rumah keluarga Yasmin yang luas. Tidak hanya ada lapangan basket. Di sana juga terdapat kolam renang, taman komplit dengan gazebo, serta kolam ikan hias plus air mancur.
"Elo tega sama gue. Masuk neraka ngajak-ngajak gue," dumel Yasmin kesal.
Mitha memutar kepalanya menatap Yasmin bingung. Sebelah alisnya terangkat dengan bentukan bibir masih belum berubah. Dia tidak mengerti maksud ucapan Yasmin.
"What the hell?!"
"Dimana-mana tuh, yang namanya bestie ngajak yang enak-enak," protesnya. "ini malah bikin susah orang."
"Stress lo!" hardik Mitha tidak mau peduli. Kemudian dia kembali ke tengah lapangan. Memainkan si bundar, memantulkan beberapa kali setelahnya dilempar ke dalam ring.
__ADS_1
Inilah cara Mitha setiap kali dalam menghadapi masalah. Hanya olahraga tempatnya melampiaskan segala emosi jiwa. Mungkin lebih baik seperti ini, dari pada melampiaskan emosi dengan hal negatif.
"Dasar bestie gila!" balas Yasmin.
"Biarin aja. Kalo gue gila. Berarti elo ODGJ, hahaha...," sahut Mitha sambil tertawa geli hingga suaranya membahana memecahkan keheningan malam.
*
Garda menghentikan mobilnya di tepi jalan. Yang ternyata bukan hanya mobilnya saja yang terparkir di sana. Tetapi sudah ada lebih dari sepuluh mobil yang berjajar rapi di sudut kiri jalan. Dia hanya mengikuti instruksi si asisten, Dandi, setelah sebelumnya meneleponnya. Kemungkinan dia sudah sampai di tempat yang ditujunya.
Dari kejauhan dia melihat kerumunan orang yang tergabung dalam dua kubu. Mereka masing-masing kubu berdiri di sisi kiri dan kanan jalan. Sementara di bagian tengah jalan beraspal yang tampak lengang, tidak ada satu kendaraan pun yang berlalu lalang.
Juga suara deru mesin motor yang masih posisi pere, bersahutan dengan suara pekikan semangat para penonton. Menandakan ada perlombaan di sini. Ditambah masing-masing di antara mereka berteriak, menyebut salah satu nama yang mendukung di trek balapan.
"Derry!"
"Derry!"
"Derry!"
"Edo!"
"Edo!"
"Edo!"
Suara itu bersahutan memekak gendang telinga Garda. Suasana ini membuatnya de Javu.
Tiba-tiba Garda merasa pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Bukan hanya sekedar melihat, bahkan dia menjadi bagian di dalamnya. Hal itu diiringi sebuah bayangan masa lalunya.
"Garda!"
"Garda!"
"Ilham!"
"Ilham!"
Di antara kedua pemuda tanggung yang siap bertanding di trek, seakan-akan ia melihat ada sosok dirinya sendiri pada zamannya. Menggunakan helm full face, dengan kaca helm yang tertutup rapat dan sarung tangan berwarna gelap. Tetapi tidak memakai pakaian khusus pembalap seperti yang ditayangkan pada program MotoGP di tv. Hanya memakai jaket kulit dan celana jeans. Tentu saja tidak bisa dapat melindungi tubuh mereka apabila tiba-tiba terjadi gesekan dengan aspal.
Seorang gadis berpakaian seksi bergerak maju ke arah mereka membawa bendera. Ketika bendera terangkat ke udara secepat kilat mereka melesat pergi membelah jalan raya.
Para penonton tidak henti-hentinya bersorak mengiringi kepergian mereka. Kemudia menanti kedatangan mereka di garis finish.
__ADS_1
Garda berdiri di pinggir trek, berbaur dengan penonton lainnya. Sejenak dia benar-benar larut menonton balap liar itu. Seakan dia kembali pada dunianya yang telah lama hilang. Dunia yang baru ditemuinya setelah sekian lama mencari.
'Selamat datang duniaku!'