Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Meminta Restu


__ADS_3

Gusti mengerutkan dahi seraya menghela napas resah.


"Baguslah, jika kamu tidak mempermainkan putri-putri saya. Tentu saya ucapkan terimakasih sama kamu. Tapi yang jadi pertanyaan saya... buat apa kamu datang ke sini?"


"Sebenarnya tujuan saya ke sini..."


"Ayah, Ma, Lala udah selesai cuci piring. Jadi, Lala mau langsung ke kamar aja," pamit Qameella menginterupsi obrolan menantu dan mertua itu. Kemudian beranjak pergi.


Belum sampai lima langkah tiba-tiba langkah Qameella terhenti. Bukan tanpa alasan. Melainkan karena ulah jahil Garda.


"Saya mau minta restu Om," ucap cowok tengik itu tanpa basa basi.


Dasar cowok tengik! Nggak berperasaan. Ngapain juga dia ngomong kaya gitu sama bokap gue? Katanya gak punya hubungan sama gue atau Mitha. Tapi malah minta restu sama bokap gue. Dasar cowok nggak danta! Umpat batin Qameella.


Garda tersenyum samar melihat reaksi Qameella yang tampak diam di tempat. Menunggu kelanjutan ucapannya. Sepertinya dia sudah termakan umpannya.


Kena kamu, Bi! sorak batin Garda penuh kemenangan.


"Restu?" Gusti memicingkan matanya menatap pemuda tanggung yang duduk sejurus dengannya. "restu untuk apa?"


"Itu, Om..." Garda mengalihkan pandangannya pada Qameella.


"Apa? Kamu sedang tidak mempermainkan saya atau putri-putri, kan?"


"Tentu. Tentu aja, Om. Saya gak pernah berpikiran untuk mempermainkan putri, Om. Itu sebabnya sekarang saya langsung minta restu Om, agar mau merestui hubungan saya dengan putri Om."


Qameella mengepalkan tangannya menahan kegugupan dan ketakutannya sekaligus. Dadanya berdebar kencang menanti kejujuran Garda di depan orang tuanya. Namun dia juga ingin agar Garda tidak membongkar status yang selama ini dirahasiakannya.


"Jadi, kamu minta restu atas hubungan kamu sama Mitha, Nak Garda?" sela Maryam tidak sabaran.


Entah mengapa hati Qarmitha mendadak berbunga-bunga saat namanya disebut. Dan pipinya merona tersipu malu.


"Ih, apaan sih Mama," Qarmitha beranjak berdiri dari kursinya. Lalu beranjak pergi meninggalkan ruang makan.


Berbanding terbalik dengan Qarmitha yang tersipu. Qameella malah sedih. Lagi-lagi harus menelan pil pahit. Tanpa menunggu lagi dia beranjak pergi menyusul saudari kembarnya masuk ke dalam kamar. Namun langkah keduanya terpaksa surut saat Garda secara terbuka mengakui yang seharusnya jadi rahasia antara dirinya dan Qameella.


"Bukan Tante. Saya minta Om dan Tante merestui hubungan saya dengan Meella," ujarnya mantap.


Jederrr...


Pukulan telak untuk Qarmitha agar tidak terlalu percaya diri. Lagian ngapain segitu pedenya? Hahaha... yang punya hubungan kan bukan dia. Tapi Meella dan Garda. Mungkinkah dia memang selama ini berharap bahwa Garda benar-benar jatuh cinta dengan dirinya? Huh, halu!


Qameella tersentak kaget langsung membalikkan badan. Mengkode cowok itu agar tidak membuka rahasia mereka. Tetapi hanya ditanggapi seringai jahil olehnya.


"Lho, tadi Lala bilang kamu pacarnya Thatha. Sekarang malah mau sama Lala. Bagaimana sih kamu tidak konsisten sekali?" keluh Gusti bingung. Sepertinya dia merasa sedang dipermainkan.


"Maaf Om dan Tante. Seharusnya saya nyatain ini lebih awal. Berhubung hubungan saya selama ini dengan Meella sering pasang surut. Atau tepatnya sering surut karena berkali-kali saya ditolak sama dia," kejujuran yang tidak bisa terbantahkan. Memang pada dasarnya semua yang diucapkan Garda adalah jujur dari dasar hatinya.

__ADS_1


"Stop! Jangan dilanjutin lagi!" tukas Qameella menginterupsi seraya berjalan mendekat. Garda bangkit berdiri.


Qarmitha memutar tubuhnya ingin menyaksikan drama apa yang sedang diperankan oleh saudari kembarnya dan Garda selanjutnya.


Gusti dan Maryam beradu pandang. Keduanya mendadak seperti orang dungu yang tidak tahu apa-apa.


"Bi, maaf. Kali ini saya harus mengungkapkan yang sebenarnya di depan keluarga kamu. Saya gak bisa terus-terusan menahan beban di hati saya. Saya ingin hubungan kita..."


"Stop! Plis... Gar... gue mohon," pinta Qameella mengiba.


"Ada apa ini sebenarnya?" geram Gusti bangkit berdiri. "Lala, ada apa ini? Mengapa kamu menghentikannya berbicara. Ada rahasia apa yang kalian sembunyikan dari Ayah?"


Qameella langsung mengkerut takut. Terdiam sembari menundukkan wajahnya.


"Garda, coba sekarang kamu jelaskan. Ada hubungan apa dengan kalian berdua, sehingga Lala begitu ketakutan saat kamu akan mengungkapkannya?" tanya Gusti langsung beralih pada Garda, saat tidak mendapat jawaban dari Qameella.


"Baiklah, Om. Mungkin memang saat ini udah saatnya Om dan Tante tahu hubungan kami yang sebenarnya," jawab Garda tanpa keraguan.


"Gar," rajuk Qameella berusaha menghentikan sikap Garda yang dianggapnya konyol.


Tetapi cowok itu tanpa ragu mengaitkan jemari tangannya yang dimasukkan ke dalam sela jari tangan Qameella. Walau pun mendapat perlawanan tidak menyurutkan segalanya.


Qarmitha memicingkan matanya mengamati setiap gerak gerik sepasang ABG labil alias ABABIL dari tempatnya berdiri.


"Sebenarnya kami berdua udah menikah Om... Tante..."


Bagai petir di siang bolong. Mengejutkan semua yang ada di situ.


Gusti, Maryam dan Qarmitha speechless. Tidak ada yang bersuara hanya kebisuan mengisi ruangan.


"Apa?" Gusti jatuh terduduk lemas di atas kursinya.


"Elo apa-apaan sih ngomong kaya gitu di depan bokap nyokap gue?" protes Qameella menghentakkan tangannya yang digenggam erat Garda agar terlepas. Namun pada kenyataannya nihil.


"Maaf Bi, kita nggak boleh terus-terusan merahasiakan hubungan kita ini. Orang tua kita harus tahu kenyataan ini dari mulut kita langsung. Saya gak mau para orang tua kita salah paham dengan hubungan kita. Apalagi sampai tahu dari mulut orang lain. Bisa jadi, mereka yang nggak suka dengan hubungan kita mengurangi atau malah melebihkan cerita kita, yang dampaknya merusak hubungan kekeluargaan di antara kita."


"Tapi Gar..."


Gusti tiba-tiba teringat dengan ucapan salah satu pelanggannya tempo hari datang ke rumah makan miliknya. Orang itu mengatakan ada sepasang anak remaja yang terpaksa ditangkap nikah karena dituduh melakukan hubungan asusila di lingkungan rumah tinggalnya. Tanpa tahu jelas cerita yang sebenarnya dia mengecap perbuatan sepasang remaja itu. Dan kini dia baru mengetahui bahwa sepasang remaja yang dikecamnya berdiri tepat di hadapannya.


"Mengapa? Mengapa kalian sampai menikah? Apakah kalian berdua sudah melakukan hal-hal diluar batas?" selidik Gusti dengan nada suara yang meninggi diakhir kalimatnya.


"Apa, apa kamu sudah hamil Lala? Cepat jelaskan, Ayah mau dengar semuanya!" titahnya yang tentu saja tidak mau dan tidak bisa dibantah.


"Sabar, Yah... ingat darah tinggi Ayah..." ujar Maryam lembut seraya mengelus lembut bahu suaminya.


Qameella benar-benar melempem dibentak oleh Gusti. Dia tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Garda prihatin dengan sang istri. Kemudian dengan keberanian yang penuh mengambil alih. Dia yang menceritakan semua kronologi peristiwa yang mengharuskannya menikah. Dari awal hingga akhir tanpa melupakan satu momen sekali pun.


"Om, boleh percaya atau nggak dengan cerita saya barusan. Tapi yang harus Om percaya adalah Meella masih murni. Kami gak pernah melakukan hal-hal yang melanggar norma. Baik sebelum maupun sesudah kami resmi menjadi suami istri."


Gusti mengusap kasar wajahnya. Laju darahnya merangkak cepat naik hingga ke ubun-ubun. Menyebabkan kepalanya pening. Sepertinya tensi darahnya sudah meningkat. Dan hanya obat penurun darah tinggi yang bisa menolongnya menstabilkan tensi darahnya.


"Ma, bantu Ayah ke kamar," pintanya lemah yang langsung diangguki Maryam. Kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan.


"Hei, anak muda! Urusan kita masih belum selesai," ujarnya sebelum benar-benar pergi.


"Baik Om."


Setelah Gusti dan Maryam pergi, Qameella melepas paksa tautan jemarinya dan Garda. Dia sangat kesal dengan kejujuran Garda di depan kedua orang tuanya. Ingin rasanya dia menjambak-jambak wajah tampan suaminya itu seperti rambut kusut. Tetapi hanya ditanggapi senyum kemenangan oleh Garda.


"Kenapa kalian gak pernah bilang kalo udah nikah selama ini?" tegur Qarmitha menginterupsi.


Garda dan Qameella saling bertukar pandang sebelum menjawab pertanyaan Qarmitha.


"Itu..."


"Kita memang sengaja merahasiakannya karena ingin mencari timing yang tepat buat menceritakan semuanya," sela Garda tidak sabaran.


"Oya?"


"Dan sekarang elo udah tahu status gue sama Meella. Jadi gue harap elo berhenti berpura-pura menjadi Meella. Atau berpenampilan menyerupai Meella," pinta Garda ketus.


"What?!"


"Garda, elo ngomong apaan sih?" tanya Qameella tidak terima dengan ucapan suaminya. Walau pun ucapan itu jelas-jelas ditujukan pada saudari kembarnya, Qarmitha.


"Bi, maaf. Saya tegas ngomong kaya gini supaya gak ada lagi kesalahahaman lagi diantara kita," jelas Garda memberi pengertian.


"Tapi gak gitu juga. Kita berdua kembar Garda. Elo harus ingat ekstra kayanya deh. Lagian kalo emang benar kamu itu cinta sama gue, seharusnya elo bisa bedain sendiri. Makanya lihat buka cuma pake mata doang. Tapi juga hati dipake," ujar Qameella sengit. Dan terasa menohok hati Garda yang seakan buta.


Garda terdiam menyadari kesalahannya.


Qameella beranjak pergi.


"Sori, kalo selama ini gue udah bikin rumit hubungan elo sama La... maksud gue Meella. Tapi gue gak bakal tinggal diam jika satu saat elo nyakitin Meella. Gue gak segan-segan buat ngebiri elo kalo sampe Meella patah hati gara-gara elo."


"Elo tenang aja. Walau pun gue cowok brandalan. Tapi kalo masalah cinta gue gak bakal bikin skandal. Elo bisa pegang kata-kata gue. Gue akan setia sama Meella sampai kapan pun," ucap Garda penuh percaya diri.


"Oke. Gue pegang kata-kata lo." Qarmitha langsung beranjak pergi.


Garda jadi bingung sendiri. Celingak-celinguk tinggal sendiri. Semuanya telah pergi meninggalkannya.


"Lah, kok gue jadi sendirian kaya gini sih?" tanyanya bingung pada diri sendiri seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "ditinggal tuan rumah di sini. Gue jadi kaya kucing dapur kalo kaya begini."

__ADS_1


__ADS_2