
Atmosfer di dalam ruang VVIP itu mendadak terasa pekat dan sesak. Tatapan mata tajam dan penuh amarah mendominasi Andika dan Gusti. Ada sorot permusuhan yang sepertinya bersumber dari luka masa lalu. Luka yang masih menganga di hati masing-masing.
Flashback On
Sembilan belas tahun lalu.
"Mas, ini anak kamu. Demi Tuhan, aku tidak pernah selingkuh dengan pria mana pun seperti yang kamu tuduhkan," jelas Karina berurai air mata di depan suaminya, Andika.
Lelaki itu telah mencurigai istrinya memiliki hubungan dengan lelaki lain. Diam-diam dia telah memata-matai istrinya dengan menyewa seorang detektif swasta. Atas hasil penyelidikan si detektif itu mengungkap kedekatan Karina dengan seorang lelaki bernama Gusti. Teman kuliyah Karina sewaktu dulu. Juga karyawan tetap Negara's Company, perusahaan keluarga Andika.
Entah apa sebabnya Andika begitu mencurigai istrinya. Padahal Karina dan Gusti telah membuktikan bahwa di antara mereka tidak ada hubungan apa pun selain pertemanan biasa. Rasa cintanya yang selalu diagungkan beranjak memudar ditelan bara api cemburu. Untuk melampiaskan kekesalannya, Andika tidak lagi menghiraukan Karina. Dia lebih sering menghabiskan waktu dengan wanita-wanita yang ditemuinya di dunia malam.
Saat sepasang putra kembarnya lahir dari rahim sang istri, Andika segera melakukan tes DNA untuk membuktikan anak-anak itu benar berasal dari benihnya atau tidak. Alhasil, tes itu membuktikan 99% si kembar Rega dan Garda benar darah dagingnya. Sontak dia terkejut dengan hasilnya. Berulang kali berusaha menyangkalnya dan berulang kali melakukan tes yang sama di tiga rumah sakit yang berbeda. Semuanya mengatakan hal yang sama pula.
Andika galau, terpukul, juga malu kehilangan muka di depan Karina. Harga yang sangat mahal untuknya menebus kesalahannya. Perusahaannya harus kehilangan karyawan terbaiknya serta memiliki dedikasih tinggi. Ya, Andika telah memecat Gusti secara tidak hormat. Dan kehilangan cintanya. Rasa sesal tiada guna lagi untuk ditangisi, meskipun air mata tidak bisa tidak bisa dibendung.
Flashback Off
Maryam, Qameella dan Garda tampak bingung dengan kedua pria dewasa di hadapan mereka. Tatapan mereka seperti aliran listrik yang siap menyetrum orang lain. Berbeda dengan Karina yang tahu tahu sejarah permusuhan mereka hanya mematung menjadi penonton.
Andika melirik seseorang yang selalu dirindukannya. Namun tidak bisa direngkuhnya. Dalam hatinya menebak-nebak, apakah wanita itu masih memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Masih adakah sejumput rindu terselip di sudut hatinya. Karena dia tahu, hingga detik ini wanita itu masih setia dalam kesendiriannya. Mungkinkah?
"Pa, kenalin ini Om Gusti dan Mama Maryam, orang tuanya Bi...," Garda menjeda ucapannya saat mendapat pelototan menakutkan dari Qameella. Seakan menginterupsi agar tidak mengguna menggunakan panggilan konyol itu. "eh... maksudnya orang tua Meella, Pa."
Suara Garda berhasil menarik atensi Andika. Sontak memutus kontak matanya pada Karina, lalu mengalihkan pandangan pada putranya. Menaikkan sebelah alisnya, mengernyit heran saat Qameella mendekat meraih tangan kanannya, dan mencium punggung tangannya.
"Meella? Orang tua... Mee...lla?" desis Andika mengulangi seraya memiringkan kepalanya ke kanan.
Garda tergugu karena belum menjelaskan hubungannya dengan Qameella pada sang Papa. Bukan salah dia juga yang belum menceritakan secara detil. Tapi salah Papa-nya yang terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor, dan... wanitanya.
"Siapa Meella? Apa hubungannya dengan kamu?" Andika melirik gadis sederhana yang berdiri di sisi Garda. "cih! Jangan bilang gadis ini yang kamu maksud, hm?" decihnya menunjukkan rasa tidak sukanya.
"I-iya, Pa. Ini Meella. Is..."
"Oh... jadi anak Papa sekarang sudah merasa besar ya?" kalimat sindiran Andika seakan menampar wajah Garda. "tiba-tiba mengundang Papa datang ke sini, hanya untuk menghadiri pertemuan yang tidak jelas. Atau... kamu memang sengaja membuatkan pesta reuni kita yang... oh God...," Andika memijat pangkal hidungnya. Lalu menghela napas kasar.
Gusti meradang melihat sikap Andika yang begitu sombong. Luka di hatinya kembali basah. Dan tidak ada obat mana pun yang dapat menyembuhkan. Kedua tangannya di sisi tubuhnya mengepal erat dengan rahang yang mengetat. Ingin rasanya kepalan itu di benamkan pada wajah sombong Andika.
"Maaf Pa, saya gak bermaksud seperti itu," Andika mengerutkan keningnya mendengar ucapan putranya yang terkesan sangat sopan. Tidak seperti biasanya yang selalu membuat tensi darahnya naik.
"Saya hanya ingin memperkenalkan Meella dan keluarganya sama Mama dan Papa," tambahnya seraya menatap Karina dan Andika secara bergantian. "karena saya udah gak bisa lagi nyembunyi'in hubungan kita berdua, Pa."
"Hubungan?" Andika mengulangi dengan raut setengah terkejut. "hubungan apa? Pacar?" pria itu meremehkan. Berjalan menunju kursi kosong. Sang asisten yang sadar tuannya hendak duduk, buru-buru menarikkan kursi untuknya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Ada yang anda butuhkan?" tanya sang asisten sopan di sampingnya seraya membungkukkan badan.
"Tidak," jawabnya. Lalu dengan satu kibasan tangan pelan Andika memberi kode pada asisten tampan yang datang bersamanya agar segera keluar. Tanpa bertanya atau membantah pria muda itu menggerakkan badan setengah membungkuk, memberi hormat baru setelahnya keluar meninggalkan atasannya.
"Bukan Pa," bantah Garda.
"Lalu?"
"Pak Andika yang terhormat," Gusti mulai bersuara dengan suara lugas.
Kontan si pemilik nama menoleh. Juga yang lainnya ikut mengalihkan pandangannya serentak.
"Mohon maaf jika sudah menyita waktu Pak Andika yang begitu berharga, karena harus menghadiri pertemuan keluarga ini atas permintaan saya pribadi. Saya memang sengaja meminta anak muda itu untuk mengundang orang tuanya guna membicarakan masalah anak-anak..."
"Masalah anak-anak?" Andika memajukan bibir bawahnya maju ke depan seraya mengangguk-anggukkan kepala. Ekspresi wajah yang terlihat kurang senang dan terkesan meremehkan.
"Ada apa dengan anak-anak? Dan anak-anak mana? Anak siapa?" sengaja pria itu memberondong pertanyaan agar Gusti memperjelas ucapannya.
"Ya... anak-anak kita," jawab Gusti cepat.
"Oya?" Andika menatap Qameella dan Garda secara bergantian. Entah apa yang sedang bersarang di dalam otaknya.
Garda tampak gugup mendapat tatapan dari Papa-nya. Meskipun bukan tatapan mengintimidasi. Tetap saja menghadirkan aura tidak enak pada dirinya.
"Ada apa rupanya dengan mereka?" tanya Andika santai seakan masalah yang dihadapi putranya adalah masalah kecil. Dengan gerakan lambat dia menepuk-nepuk bahu Garda. Seringai misterius tersungging di sudut bibirnya. Membuat pemuda tanggung itu bertambah gugup.
"Mas," tiba-tiba suara Karina terdengar memekik.
Andika langsung menoleh ke sumber suara. Tertegun sejenak karena kaget. Setelahnya tersenyum lebar. Membiarkan tangannya masih bertengger di atas pundak Garda.
"Begini kah sikapmu terhadap putra kita? Sadarkah kamu jika dia sedang menghadapi masalah?" protes wanita itu yang tidak digubris sama sekali oleh pria yang diajaknya menjadi lawan bicara. Hatinya terkoyak melihat putranya yang ditinggalkannya pada sang mantan suami. Mungkinkah pria brengsek itu tidak mendidik putra mereka dengan baik?
Andika mengernyit seakan ada yang dipikirkannya. Namun tidak ada niatan untuk menyanggah ucapan sang mantan istri.
"Oh, kamu ada masalah apa, jagoan Papa, hm?" dia menjeda ucapannya sejenak. "apakah kamu sudah meniduri gadis itu? Apakah hamil? Sudah berapa bulan?"
Garda menatap Qameella penuh bersalah dan penyesalan atas sikap Papanya diluar ekspektasi.
"Berhubung kalian masih di bawah umur, sebaiknya digugurkan saja. Toh, jalan kalian ke depannya masih panjang. Bukan begitu, Sayang?" Andika mengerlingkan sebelah matanya jahil ke arah Karina. Dan benar-benar tidak menganggap ada keberadaan Gusti dan Maryam.
"Masya Allah..." Maryam menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Air matanya langsung menetes begitu saja mendengar pernyataan Andika. Mungkinkah hubungan putrinya dengan putra orang itu sudah sejauh itu?
Gusti meremat jarinya kuat, ingin memukul wajah tampan mantan bosnya itu.
__ADS_1
"Pa."
"Tapi, karena sudah diadakan acara pertemuan seperti ini. Mungkin pihak keluarga gadis yang kamu hamili tidak terima dengan ide Papa barusan. Mereka inginkan lebih. Baik, Papa akan tuliskan cek buat ganti rugi, bagaimana?"
"Cukup!" bentak Gusti dengan suara baritonnya. Dia sudah tidak mampu membendung arus emosinya kian meletup-letup melihat sikap sombong Andika. Sontak aura di dalam ruangan kian memanas.
"Masih tidak cukup? Tenang saja nominal yang saya tuliskan akan cukup dimakan tujuh turunan oleh keluarga anda," ucapan Andika memang benar-benar menyulut emosi Gusti. Sama saja sedang membangunkan macan yang sedang tidur.
Tanpa berkata lagi, Gusti beranjak dari tempat duduknya. Langsung berjalan mendekati dan menarik kerah baju Andika. Kemudian melayangkan satu bogeman mentah di pipi pria sombong itu. Hingga sudut bibirnya mengalir darah segar.
Dua wanita yang duduk bersisian berteriak histeris nyaris bersamaan, "Ayah""Mas Gusti!"
Qameella refleks menutup mulutnya. Terkejut dengan emosi pria yang dipanggilnya 'Ayah'. Selama ini dia hanya tahu perangarai Ayahnya yang penyayang dan tegas. Tidak pernah dia melihat sisi kejam seperti saat ini disaksikannya. Dan dia bahagia, ternyata Ayahnya sangat menyayanginya. Pria itu rela merusak image-nya hanya karena membela harga diri sang putri.
"Aku peringatkan padamu. Kami bukan pengemis. Aku datang menemui bukan menginginkan uangmu," rahang Gusti mengetat. Satu tangannya masih mencengkeram kuat kerah baju Andika. Sedangkan tangannya yang bebas sudah mengepal erat siap memberikan bogeman kembali.
"Hn."
"Om, Om, tolong maafin ucapan Papa saya," Garda buru-buru menengahi berusaha melerai perkelahian dua pria dewasa. Namun kelakuannya mirip anak TK. Pemuda itu memohon agar tidak melanjutkan perkelahian. Dengan berat hati Gusti mau lepaskan kasar cekalannya. Mundur memberi jarak.
"Pa, plis... Garda gak seburuk itu. Kami tulus saling menyayangi. Walau pada awalnya terjadi karena insiden. Tapi percaya Pa, Garda gak pernah menodai kesucian Meella," terang Garda sungguh-sungguh. Disambut senyum hangat dari Andika.
"Bagus jika tidak terjadi apa-apa. Itu artinya Papa tidak perlu keluar uang kan? Jadi, selesai kan urusan kita sampai di sini."
"Pa, sebenarnya alasan Garda mengadakan pertemuan keluarga ini bukan karena sudah menghamili Meella," Garda menggamit jemari Qameella. "tapi, kami meminta restu sama Papa, Mama, Om, dan Tante karena kami berdua sudah resmi menikah secara agama dua bulan yang lalu," tambahnya penuh keyakinan.
"Bullshit!" suara Andika setengah memekik karena terkejut. Tanpa bisa dibendung Andika meledak memarahi anaknya seperti anak TK yang sudah berbuat salah. Hinaan demi hinaan pun dilontarkan dengan begitu mulusnya pada Qameella. Ya, dia mencaci gadis itu dengan berbagai julukan hingga menuding mendekati Garda hanya demi uang.
Hati Qameella hancur berkeping-keping tidak nyata. Air matanya pun lolos tidak bisa dibendung lagi.
Tidak peduli sekeras apapun Garda membelah istrinya, Andika tetap tidak mau merestui hubungan mereka.
"Lala, Ma, sebaiknya kita segera pulang saja," cetus Gusti tiba-tiba. Dia sudah tidak sanggup menahan bara api di hatinya atas hinaan-hinaan itu. Berusaha meredam emosi yang hampir meledak. Dia yakin jika sampai terjadi, akibatnya akan lebih dahsyat dari semula.
"Hei, anak muda. Kamu sudah dengar kan apa yang diucapkan Papamu?" Garda mengangguk paham.
"Jadi saya minta, mulai detik ini kamu jangan pernah menghubungi atau menemui anak saya lagi. Hubungan kalian berakhir sampai disini, dan lupakan tentang pernikahan bodoh kalian, karena tidak ada yang mengakuinya, titik!" pungkas Gusti tidak memberi kesempatan Garda memeluk istrinya atau berkata sepatah kata pun.
Betapa sedihnya hati Qameella dan Garda yang tidak bisa menyatu. Pernikahan yang pernah mereka lakukan tidak diakui oleh masing-orang tua mereka.
***
Hei readers... gimana yang udah nebak kemarin, sesuai gak dengan ekspektasi kalian. Yang sesuai selamat ya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya... vote, like, hadiah n komentar kalian yang selalu author tunggu-tunggu.
See you to the next episode...