Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Bini


__ADS_3

🙋 Hai readers yang budiman di rumah aja atau dimana aja...


🥳🥳Happy new year... 🥳🥳selamat tahun baru 2021 ya...


🤗 semoga di tahun baru ini banyak keberkahan yang kita dapat. Juga wabah yang menjadi musibah nasional dan internasional ini segera berlalu... 😁😁😁


🥰🥰 Luv u all ❤️... happy reading...😉


Jangan lupa vote, 👍 like n komen yang selalu jadi vitamin tersendiri buat author ya... kalo bisa boom like 👍 ya...


********************


Qameella masih terbengong tidak percaya dengan apa yang sedang dihadapinya. Sampai cowok itu memasangkan helm di kepalanya. Lalu mendudukkannya di atas jok belakang motornya.


"Kita ngapain ke sini?" tanya Qameella akhirnya, ketika motor cowok itu berhenti di depan sebuah kafe.


Rona bingung dan gugup masih terlihat sangat kentara di wajah polos gadis bermata indah itu. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertamanya jalan bareng dengan seorang cowok. Walau pun bukan pengalaman pertama bersama cowok asing yang selalu membuatnya salah mengira dia adalah sosok Rega yang ditaksirnya. Tetapi tetap saja memberikan efek mendebarkan yang tidak bisa dijabarkan hanya sekedar kata-kata. Maklumlah pengalaman sebelumnya sepasang insan muda itu selalu terjebak dalam situasi genting.


"Mau makan lah, masa mau numpang mandi." sahut cowok itu asal setelah membuka helmnya.


Qameella turun dari dari jok motor.


"Tapi gue gak laper." sanggahnya cepat. Niat hati Qameella ingin kabur atau setidaknya menghindari cowok itu. Namun tiba-tiba... "krukuuuuukkk!" cacing-cacing menjerit keras dari dalam perutnya, sukses membuatnya malu setengah mati. Wajahnya langsung tertunduk menyembunyikan semu merah di pipinya sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


"Gak laper tapi perut lo bunyi." sindir cowok itu terkekeh geli. Dia berinisiatif membukakan helm yang masih bertengger di atas kepala Qameella. Pasalnya cewek itu masih dia mematung di hadapannya.


"Ayo masuk!" seru cowok yang bernama lengkap Pandega Garda Negara itu, setelah menyimpan kedua helmnya di atas kaca spion dan di atas tengki motornya.


"Tunggu!" sergah Qameella menahan langkah kaki cowok itu.


"Ada apa?" cowok itu menoleh.


"Gue mau tanya sesuatu dulu sama elo." sahut Qameella.


"Bisa gak tanyanya entar aja? Soalnya gue udah laper. Elo juga sama kan?"


Qameella terdiam. Kemudian Garda menarik lengannya, sontak membuatnya gelagepan dan hanya menurut saja, mengikuti langkah kaki Garda masuk ke dalam kafe.


Garda menarik kursi dan mempersilahkan Qameella duduk. Kemudian dia duduk di kursi di sampingnya agar lebih dekat bersama gadis yang telah berstatus sebagai istrinya itu.

__ADS_1


Dengan gelisah Qameella celingukan melihat ke sekeliling. Untuk memastikan tidak ada orang yang mengenalinya. Syukur-syukur sih tidak ada. Tapi jika ada, aduh... dia harus putar otak mencari alasan. Apalagi sampai ada orang yang kenal dengannya, juga dengan orang tuanya. Waduh! Bisa berabe! Bisa saja orang itu akan mengadukan perbuatannya diluar sekolah. Jalan bareng dengan seorang cowok asing yang tidak jelas.


Semoga aja aman! bisik batin Qameella memanjatkan doa.


"Kenapa sih lo? Tegang amat? Si amat aja gak tegang." seloroh Garda sambil menelisik kegundahan gadisnya.


"Gue mau langsung pulang aja." ujar Qameella hendak beranjak berdiri. Namun dengan cepat Garda menarik tangan Qameella hingga terduduk kembali di kursinya.


"Nanti aja pulangnya. Setelah kita selesai makan, gue janji bakalan anterin lo pulang." tukas Garda masih menggenggam erat tangan Qameella.


Qameella langsung menepis genggaman tangan Garda setelah menyadari ada tangan asing sedang menyentuhnya.


"Apaan sih lo, pegang-pegang tangan orang sembarangan." sungut Qameella tidak terima.


"Elo pikir gue lagi buang sampah sembarangan," sanggah Garda. "lagian wajar kali kalo gue pegang tangan lo. Toh, elo kan udah jadi bini gue." lanjutnya terdengar santai dan ringan.


"Bini?" tanya Qameella meminta penjelasan.


"Iya, bini," jawab Garda tanpa malu-malu lagi. Lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Qameella. "alis istri." bisiknya membuat Qameella merinding.


"Siapa bilang?" Qameella berusaha menyangkalnya. Namun memori di dalam otaknya sedang memutar peristiwa pada pagi yang tidak mengenakkan itu.


"Tapi itu kan..." Qameella tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Iya. Tapi sah menurut hukum agama." Garda menyeringai penuh kemenangan. "lagian, gue udah kasih lo maskawin..."


"Cuma kalung murahan." gumam Qameella pelan tapi masih bisa didengar jelas oleh Garda.


"Oke. Anggap aja begitu. Tapi elo gak usah khawatir. Kalo elo butuh duit, elo masih bisa menjualnya di toko perhiasan kok. Lumayan kalo diduitin bisa sepuluh atau lima belas..." Garda melirik gadis di sebelahnya sinis.


"Ribu?!" Qameella menyeringai mengejek.


"Bukan... juta!" Garda menyeringai lebar sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Qameella menelan salivanya terkejut mendengar nominal harga kalung yang sudah diberikan Garda kepadanya.


"Tapi kalo sama liontinnya bisa lebih dari itu. Dua puluh juta atau lebih... sori, gue bukan tukang perhiasan." Garda menyeringai kocak.


Qameella mengalihkan pandangannya sambil meremas jemari tangannya di atas pangkuannya sendiri.

__ADS_1


Garda menjentikkan jarinya untuk memanggil pelayan. Seorang lelaki muda dengan seragam pelayan segera datang menghampiri meja mereka.


"Mau pesan apa?" tanya Garda sambil melihat daftar menu yang tersedia.


"Yah?" Qameella terpaksa memutar kepalanya, menatap cowok di sampingnya setelah mendapat sikutan.


"Jangan bilang gak laper lagi. Elo gak perlu bohongin gue. Tapi kalo elo mau sakit... ya itu sih terserah elo."


Qameella hanya terdiam membisu.


*


Tari celingukan mencari Qameella yang katanya menunggunya di depan gerbang sekolah. Tetapi tidak kelihatan batang hidungnya.


"Ini bocah kemana sih? Mendadak ngilang. Apa kesedot ke dalam botol kali ya?" tanyanya pada diri sendiri. Dia cukup bingung mau mencari kemana temannya itu. "ih, kaya jin botol itu mah."


Selama kenal Qameella dari kecil, dia tidak pernah menunjukkan sikap yang aneh. Yang dia tahu Qameella termasuk pribadi yang anteng tidak banyak laga maupun gaya. Tidak seperti saudari kembarannya, Qarmitha, yang cenderung hiperaktif. Makanya sejak kecil gadis itu sudah dikenalkan dengan berbagai kegiatan. Terutama kegiatan olah raga, seperti sepak bola dan basket. Pasalnya gadis itu sering membuat kedua orang tuanya sakit kepala dengan tingkah polahnya bila di rumah.


"Ya udah, gue telepon aja deh, dari pada gue garing di sini tungguin dia gak jelas dimana rimbanya." Tari langsung mengeluarkan gawainya dari dalam tas selempangnya.


"Kemana sih nih bocah, gak diangkat-angkat? Gue mau buru-buru pulang. Perut gue udah laper banget..." gumamnya kesal.


Di tempat berbeda, Qameella sedang makan dalam diam bersama Garda. Menu pilihan Garda karena Qameella menolak memilih menu makanan yang akan mereka makan. Mendadak ponselnya bergetar sontak menghentikan aktifitasnya. Beralih pada ponselnya yang berdering.


"Dari siapa?" telisik Garda melirik gadis itu sambil terus mengunyah makanan yang masih ada di dalam mulutnya.


"Teman." jawab Qameella singkat. Netranya menatap nama yang tertera pada layar, 'Tari'.


Garda mengerutkan dahinya. Cowok itu tampak tidak suka ada orang yang mengusik barang miliknya. Terutama gadis yang sedang bersamanya yang notabene sudah sah menjadi miliknya.


"Halo." suara dari seberang terdengar tidak sabaran saat Qameella baru menempelkan ponselnya di telinga.


"Tar..." belum sempat Qameella melanjutkan ucapannya, mendadak Garda merebut ponselnya.


"Halo, ini siapa?" tanya Garda tanpa basa-basi. Dia takut orang yang menelepon Qameella adalah seorang cowok.


"Elo siapa?" tanya balik dari orang seberang sana terdengar terkejut dan bingung.


"Hp gue... balikin!" rengek Qameella hendak merebut ponselnya dari tangan cowok sotoy itu. Namun tangan Garda mengibas dan menghalangi si empunya mengambil miliknya.

__ADS_1


__ADS_2