Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#45


__ADS_3

Happy reading...


********************************


Meella langsung pulang ke apartemen yang katanya fasilitas yang disediakan kantor untuknya. Tetapi sebenarnya apartemen pribadi Garda yang sengaja diberikan pada gadis itu dengan dalih fasilitas kantor.


Tanpa Meella ketahui di setiap sudut ruangan itu sudah dipasang kamera pengawas yang tentu saja tidak disadari si penghuni. Alasannya sangat klise. Yaitu untuk memata-matai pergerakan Meella bila ada kegiatan abnormal di sana. Tentu saja setelah menyelesaikan pekerjaannya. Termasuk ikut menyambut kedatangan Mr. Darwin dari Australia.


Bahasa Inggris Meella tidak buruk. Jadi dia ikut membantu bosnya berbicara melobi nota kesepakatan kerjasama antar dua perusahaan raksasa beda negara. Bukan bermaksud menepuk dada sendiri atas keberhasilan yang dicapai. Tetapi juga berkat kekompakan tim yang dipimpin oleh Garda.


Meella langsung masuk ke kamarnya di lantai dua. Apartemen mewah memiliki tiga kamar. Satu di lantai bawah, dan dua di lantai atas. Juga ada satu ruangan lagi di sana. Tapi dia tidak tahu ruangan apa itu. Karena selalu terkunci sejak pertama kali menempatinya.


Bekerja seharian penuh membuat tubuh Meella sangat lelah. Apalagi kondisi tubuhnya memang sedang tidak fit. Sepertinya mandi air hangat dapat membantu merilekskan tubuh dan otot-ototnya yang tegang.


Setelah meletakkan tas kerjanya di atas kasur. Meella langsung membuka kancing blazernya satu demi satu dengan tenang. Tanpa curiga bila ada mata yang sedang mengintainya dari balik kamera pengawas yang di pasang di sudut kamar yang ditempatinya. Pasti sudah pada tahu siapa makhluknya, kan? Yups! Dia adalah Garda.


Pria itu diam-diam sedang memantau pergerakan Meella yang langsung tersambung ke layar laptopnya. Walau pun berada jauh dari dan tidak bisa menjangkau dengan kedua tangannya, Garda tetap masih bisa memantaunya dengan baik.


Tiba-tiba…, ups! Garda terkejut langsung menutup laptopnya, saat adegan Meella hampir telanjang di depan pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Garda meraup wajahnya kasar. Pipinya terasa menghangat sepertinya sedang merona merah. Buru-buru dia menghembuskan nafas untuk menetralkan debaran aneh dalam dua rongga dadanya.


Sial!


Seharusnya Garda bisa bersikap biasa saja melihat adegan tadi. Toh, dia pernah menikmati keelokan tubuh perawan gadis itu. Jadi, untuk apa dia merasa semalu ini?


Pasti ada yang tidak beres dengan otaknya. Tapi Garda bukan tipikal pria Casanova yang suka berhubungan dengan banyak wanita di luaran sana. Hingga terbiasa dengan hal-hal yang berbau 21+. Hufh! Sepertinya sifat buruk Andika tidak menurun pada Garda atau Rega.


*


Malam sudah larut. Lampu kamarnya sudah dimatikan tiga jam yang lalu. Hanya lampu tidur yang dinyalakan menciptakan suasana temaram. Namun mata Meella masih belum bisa terpejam dengan baik. Menyelami mimpi yang jarang terasa indah. Sejak kematian Garda, Meella memang hampir setiap hari dihantui oleh mimpi buruk. Hingga membuatnya menderita insomnia.


Meella beranjak duduk. Pelan dia menyibak selimut tebal yang sempat menutupi tubuhnya hingga dada. Menurunkan kakinya menyentuh lantai. Berjalan menuju jendela kamarnya yang besar. Menarik untuk membuka gorden polos berwarna kuning gading. Menampilkan langit malam yang cerah penuh bintang gemintang. Juga kelap-kelip lampu kota di kejauhan begitu terang. Menghadirkan suasana malam kota yang seakan tidak pernah tidur.


Meella membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Angin berhembus pelan namun terasa dingin menembus baju tidurnya yang tipis. Melipat kedua tangannya seraya mengelus, menghangatkan lengannya yang terasa dingin. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan tidak bermakna.


Di tengah kota besar seperti ini, dengan segudang aktivitas yang menyita hampir seluruh waktu dan tenaganya, ternyata tidak kuat membuatnya melupakan segala luka dalam hati Meella. Kesedihan dan kekecewaannya akan hidup yang terasa tidak adil buatnya.


Bagaimana tidak?


Permasalahan yang membuatnya terjebak dalam lingkaran ketidakberdayaan. Padahal pangkal masalahnya bukan pada Meella. Tetapi pada Raisya. Namun Pandega sepertinya tidak melakukan apapun pada mantan calon adik iparnya. Mirza dan keluarganya pun seakan tutup mata. Malah menjebaknya dengan dalih pekerjaan.

__ADS_1


Keluarga yang sangat diharapkan dapat membelanya, terutama Gusti. Diam seribu bahasa. Sepertinya sudah tidak menganggap Meella anaknya lagi. Pada pertemuan terakhirnya dengan sang Ayah, Meella berlutut meminta maaf berharap ada kata-kata penguatan untuknya tetap kuat pada kenyataan pahit ini. Sayang harapan itu hanya harapan belaka. Gusti malah membuang muka seolah sudah membuang Meella.


Sakit?


Sangat! Sangat sakit dan perih! Tidak terkira rasa itu menusuk seakan ingin menembus jantung.


Walau pun Maryam dan Mitha menghentikan langkahnya. Bahkan Mirza sekali pun dengan bujuk rayunya. Tidak mampu mengobati luka hati yang terlanjur berdarah.


Tidak terasa air mata Meella mengalir membasahi pipi. Dan terasa dingin saat pipinya tertiup angin.


"La, gue tahu elo masih sedih karena pernikahan lo yang gagal. Tapi... bisa gak lo pulang saat hari pernikahan yang seharusnya hari pernikahan kita?" sangat hati-hati Mitha mengucapkan kalimat permohonan pada Meella via menelepon beberapa waktu lalu.


Ya, akhirnya hari itu tiba.


"Sorry, gue bermaksud buat menghina atau bikin elo malu. Tapi... gue ngomong begini, sebagai anggota keluarga...," suara Mitha terdengar bergetar di ujung telepon.


Meella pun meneteskan air mata. Sebisa mungkin suara tangisnya tidak terdengar oleh lawan bicaranya.


"Walau pun ini gak adil buat lo. Gue ingin di hari bahagia gue, keluarga kita bisa hadir lengkap dan kompak."


Meella maju dua langkah ke depan. Kedua tangannya mencengkram erat besi pagar pembatas balkon yang sedingin es. Wajahnya ditundukkan ke bawah. Berusaha melepaskan semua sedih dan air matanya yang luruh langsung menyentuh lantai. Ingin teriak sekeras-kerasnya agar dunia tahu luka hatinya terlalu dalam. Tidak ada obat mujarab yang mampu menyembuhkan semua lukanya itu.


*


Setelah membuka kode akses masuk, Garda berjalan masuk seraya melonggarkan dasi yang serasa mencekik lehernya. Melepaskan jas lalu diletakkan asal di atas sandaran kepala sofa.


Hari ini lumayan membuatnya lelah. Terutama saat berhadapan dengan Papanya Bianca. Lelaki tua itu selalu membujuknya secara halus agar dapat memenangkan tender proyek yang sedang diperebutkan oleh banyak perusahaan. Karena si tua-tua keladi itu tahu, Andika memiliki andil besar dalam hal itu. Makanya dia membujuk Garda agar bisa memuluskan jalannya.


Walau Garda tidak berjanji untuk dapat membantu sang calon mertua. Tetapi beban itu terasa berat menggelayut pundaknya.


Garda menghela nafas berat. Sedikit meringankan beban di dadanya.


Mendadak Garda teringat tentang gadis yang menjadi tawanannya dengan berkedok sebagai sekretarisnya.


'Sekarang, dia lagi ngapain, ya?' tanya batinnya penasaran.


Buru-buru dia membuka ponsel pintarnya, ternyata dapat tersambung dengan cctv yang ada di apartemen ditempati Meella. Dari situ pula, pria itu dapat melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu saat ini.


Meella sedang berdiri mematung di depan manekin gaun pengantin, yang tadi pagi dilihatnya dengan tatapan yang sama. Samar terlihat senyum terukir di wajah dingin dan pucat, yang selalu ditunjukkan padanya saat di kantor.


Garda tidak menampik bila gadis itu memiliki paras yang cantik tanpa kacamata minusnya. Apalagi rambutnya yang digerai seperti itu makin memperkuat kecantikan yang selalu disembunyikannya selama ini.

__ADS_1


Bila di kantor Meella selalu berpenampilan lebih tua dari usianya. Kini dia tampak mempesona lebih muda dari biasanya. Jujur, Garda tampak tertarik dengan gadis itu.


Kemudian dari layar ponselnya Garda melihat Meella bergerak melepaskan gaun pengantin itu dari tempatnya semula. Gaun pengantin yang sengaja dibelinya khusus untuk Meella. Dan dikirim langsung ke alamat apartemen yang Meella tempati. Tepat setelah gadis itu selesai mandi, gaun itu tiba melalui kurir khusus dari butik.


Entah mengapa Garda membelinya. Tidak ada alasan khusus. Bahkan Meella pun tidak memintanya karena sempat menolak saat ditawari. Dia hanya ingin, itu saja. Dan seakan dia sedang menunaikan janjinya pada gadis itu. Namun tidak tahu janji apa yang pernah diucapkan sebelumnya. Pasalnya pertemuan antara Garda dan Meella belum lama terjadi. Sungguh, bagai misteri yang tidak dapat dipecahkan!


Meella berdiri di depan cermin panjang sampai menyentuh lantai. Sesaat dia tampak bahagia memakai gaun itu. Berputar sekali dengan senyum lebar. Namun sedetik kemudian, tampak menangis berurai air mata. Hingga menjatuhkan diri ke lantai seraya menutup wajahnya yang penuh air mata.


Tentu saja Garda tidak mengerti. Menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya. Apakah dia sedang menangis bahagia? Atau menangis karena benar-benar sedih? Dia tidak bisa menebaknya.


Setelahnya dia memutuskan untuk mematikan ponselnya. Tidak ingin melihat Meella terpuruk seperti itu. Lagi, lagi Garda tidak mengerti mengapa dia ikut bersedih saat melihat gadis itu menangis pilu seperti itu.


*


Rumah Gusti


Kamar Mitha sudah disulap menjadi kamar pengantin yang dipenuhi dekorasi indah. Khusus malam ini dia tidak akan menempati kamarnya sendiri. Alasannya mudah. Tidak mau merusak dekorasi yang sudah diciptakan oleh tangan-tangan terampil para petugas dari wedding organizer yang disewanya.


Gedung yang disewa untuk acara pernikahan Mitha dan Dicky pun sedang dalam proses penyelesaian dekorasi. Karena hari yang dinanti telah tiba. Tepatnya besok pagi, pukul 9.00 proses ijab qobul dilakukan Dicky di depan penghulu.


Tidak perlu ditanya bagaimana perasaan Mitha saat ini. Pasti rasanya campur aduk. Senang, sudah pasti. Tidak ada seorang perempuan pun yang tidak bahagia saat dirinya sebentar lagi akan menikah dengan pria yang mencintainya. Dan dia pun sebaliknya.


Namun ada kesedihan di sudut hatinya yang lain. Kesedihan yang mendalam untuk saudari kembarnya yang jauh dari pandangannya. Kesedihan karena Mitha tidak bisa menikah di hari dan di tempat yang sama dengan Meella sesuai rencana.


Andai saja tidak ada peristiwa laknat itu.


Andai Raisya tidak membencinya.


Mungkin semua kesedihan ini tidak pernah terjadi. Walau pun dia tahu tidak ada cinta untuk Mirza dari Meella. Tetapi Mitha yakin bila Meella masih bisa bahagia mendapatkan cinta dari Mirza.


Kasihan Meella harus menderita akibat ulah jahat calon adik iparnya, Raisya.


*


Hai readers... author udah up nich!...


Sebenarnya author mau update hari Minggu atau Senin kemarin. Karena ada kendala yang gak bisa author jelasin secara rinci. Jadi, update nya baru sekarang.


Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak cantik dan manis manja di setiap episode ya...


See you next episode ya 😁😘🥰❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2