
Happy reading...
*********************************************
Gusti beranjak berdiri dari duduknya dengan wajah merah karena malu. Setelah meminta maaf dan memohon izin
pada kedua calon besannya untuk berbicara secara pribadi pada putrinya, Mitha. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih. Apalagi memikirkan tentang rencana pernikahan antara Mitha dan Dicky. Apakah dapat terus berlanjut hingga mereka benar-benar menikah di depan penghulu? Atau, apakah harus batal karena foto-foto sialan itu? Otak Gusti benar-benar kacau.
Orang tua Mirza dan orang tua dari pihak Dicky langsung berdiskusi sangat serius setelah Gusti pergi. Mereka sangat menyayangkan perbuatan Mitha yang tercela itu. Namun orang tua Dicky sudah mengisyaratkan untuk membatalkan rencana penikahan putranya dengan Mitha, jika foto itu benar-benar nyata dilakukan calon menantunya.
Jujur saja, di dunia ini tidak ada seorang pun yang mau mendapat hal buruk juga kesialan seperti yang dihadapi Mitha saat ini. Tetapi jika sudah terjadi seperti ini, siapa yang bisa menolak atau menawarnya?
Begitu pula yang dirasakan Gusti saat ini. Pria yang sudah tampak sakit-sakitan itu tidak berdaya.
“Mitha,” seru Gusti pelan.
Mitha langsung menoleh ke sumber suara. Lalu beranjak pergi setelah mendapat titah dari Gusti dengan gerakan kepalanya.
“Awas, lo!” bisik Mitha menolehkan kepala pada Raisya yang tengah tersenyum licik ke arahnya. Lalu berjalan mengekori Gusti menuju ruang kerja.
‘Malam ini gue jamin, pernikahan lo dan Dicky bakalan batal. Abis itu gue bisa deketin Dicky yang lagi patah hati. Dan... gue bisa miliki Dicky sepenuhnya,’ batin Raisya sangat percaya diri jika rencana jahatnya akan berhasil seratus persen.
“Lihat deh sayang,” seru Mirza menunjukkan selembar foto yang tercecer di lantai.
Mau tidak mau Meella menoleh. Menyaksikan dirinya sendiri bersama seorang pria yang bukan muhrimnya dengan wajah pias. Walau hanya terlihat punggungnya saja dalam satu selimut. Tapi dia tidak bisa membohongi diri sendiri. Sungguh perbuatan yang tercela dan memalukan sekali. Entah bagaimana reaksi Mirza jika perempuan dalam foto itu bukan Mitha. Tetapi tunangannya sendiri, Meella.
Ya Tuhan, mungkin ini cara-Mu untuk hamba mengakui dosa hamba pada semua orang demi kebaikan Bersama. Terutama Mitha. Tapi… apakah hamba mampu menanggung lagi setelah sebelumnya beban masa lalu belum sepenuhnya ringan.
*
Di dalam ruang kerja Gusti dan Mitha terlibat pertengkaran sengit. Kedua orang keras kepala itu saling adu argumen. Gusti bersikeras memaksa Mitha mengakui perbuatannya yang tercela. Sementara Mitha tetap pada pendiriannya, membela diri menyangkal segala apa yang dituduhkan. Karena memang tidak pernah melakukan perbuatan memalukan itu.
Hingga pada titik dimana Gusti mengalami kebuntuan. Lantaran Mitha tidak jua menyerah dan mengakui perbuatannya. Alhasil, amarah Gusti memuncak. Tak pelak mengangkat sebelah tangannya ke udara hendak menampar wajah Mitha.
Namun, belum sempat tangan Gusti terayun menyentuh pipi mulus Mitha, tiba-tiba Meella menerobos masuk tanpa permisi. Dengan panik menangkap tangan Gusti.
"Ayah, tolong jangan pukul Thatha!" seru Meella langsung menghentikan aktifitas Gusti. Hingga tangan pria yang dipanggil Ayah itu hanya menggantung di udara.
Meella berjalan cepat lalu meraih tangan Gusti. Menatap mata Gusti yang memerah.
"Thatha gak salah apa-apa, Yah..." lanjutnya sedih.
Gusti langsung menoleh pada sepasang tangan lemah yang bertengger serta berusaha menghentikannya. Kemudian balik menatap mata Meella yang juga memerah dan basah. Tapi masih bisa menahan air mata yang perlahan memenuhi pelupuk matanya.
__ADS_1
"La-la..." Mitha terbata. Terharu mendapat pembelaan dari saudari kembarnya.
"Ayah," tiba-tiba Meella merendahkan tubuhnya dengan berlutut di depan Gusti.
Pandangan Gusti mengikuti gerak tubuh Meella. Gadis itu tertunduk dalam. Dalam ingatan Gusti, ini adalah kali kedua Meella berlutut di depannya. Ketika itu Meella berlutut di depannya sama persis seperti saat ini, untuk memohon restu untuk hubungannya dengan Garda. Setelah mendapat penolakan keras dari Gusti dan Andika. Tapi untuk saat ini, untuk apa dia lakukan? Apakah untuk membela Mitha, atau ada hal lainnya yang sangat serius? Entahlah, Gusti tidak bisa memprediksinya.
"Orang yang ada dalam foto itu bukan Thatha. Tapi, itu... Lala," tanpa keraguan Meella langsung mengungkapkannya.
Jegerrr!!!
Gusti terasa bagai disambar petir di siang bolong, saat mendengar ujung ucapan Meella yang sangat mengejutkan. Saking terkejutnya dia sampai refleks mundur satu langkah ke belakang. Tubuhnya melunglai seperti tidak bertulang. Untung saja dia dapat meraih ujung meja kerjanya, lalu bersandar walau tidak sepenuhnya dapat menopang tubuhnya yang besar.
"Gak! Gak mungkin! Elo jangan bercanda La...," sergah Mitha sedih, langsung berjongkok mensejajarkan tubuhnya seraya mendekap bahu Meella.
"Gak lucu, tahu!" lanjut Mitha mentak bahu Meella agak kasar.
Meella menoleh, tatapannya bertemu dengan tatapan sendu Mitha. Menarik sudut bibirnya membetuk senyum tulus namun kaku dan terlihat miris.
"Gak, Tha... yang gue omongin adalah kenyataan yang sebenarnya."
"Bohong! Elo jangan bohong dong La... jangan jadiin diri lo korban di sini, cuman buat belain gue," Mitha masih tidak mau mempercayai kebenaran yang sesungguhnya.
"Gue yakin foto sialan itu hasil editan si cewek jelangkung itu," dalam hati Mitha masih berharap foto-foto itu hanya hasil rekayasa semata.
"Bukan. Bukan kata gue berarti bukan, titik!" tukas Mitha sambil memapah Meella berdiri.
"Cukup!" bentak Gusti keras sontak mengejutkan sepasang gadis kembar itu, menoleh cepat, menatapnya penuh tanya.
Sekuat tenaga Gusti menstabilkan dirinya dan berusaha tetap tenang. Kendati kepalanya sudah pusing karena tensi darahnya naik tiba-tiba.
"Sebaiknya sekarang kalian berdua cepat katakan yang sebenarnya. Sebelum Ayah memaksa kalian berdua dengan cara kasar," ancamnya.
Maryam yang sedari tadi hanya menguping di balik pintu, karena tidak mendapat izin dari Gusti untuk ikut masuk ke dalam. Tetapi wanita itu tidak bisa berdiam diri begitu saja, hanya menjadi penoton yang tidak beguna. Makanya setelah menyadari kondisi di dalam ruang kerja suaminya terdengar sudah tidak kondusif lagi, ia pun nekat masuk guna memastikan apa yang sedang terjadi di sana.
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi Meella.
Tentu saja hal itu disaksikan Maryam dengan jelas, bertepatan dengan pintu yang baru dibukanya. Terperanjat kaget. Hatinya hancur menyaksikan salah satu putrinya disakiti oleh ayah kandungnya sendiri.
Mitha sangat kecewa dengan perbuatan Gusti. Dan turut sedih melihat saudarinya diperlakukan seperti itu. Dia ingin protes atas tindakan kasar Gusti, namun urung dilakukan saat tiba-tiba Maryam berteriak keras.
"Ayah!" menyeruak masuk, berjalan cepat menghampiri Meella.
__ADS_1
Mitha hanya menyaksikan wanita yang telah melahirkannya ke dunia menangis pilu, memegang kedua bahu Meella. Mengelusnya lembut penuh kasih sayang. Lalu sepasang matanya seakan memindai wajah Meella. Air matanya jatuh saat melihat pipi Meella yang memerah akibat tamparan itu.
"Beginikah cara kamu memperlakukan anak perempuanmu, Mas?" Gusti seakan tertampar oleh pertanyaan Maryam. Dia langsung menyadari kekhilafnya seraya menatap telapak tangannya yang digunakan untuk menampar wajah Meella barusan. Batinnya menangis menyesali perbuatannya. Lagi, dia berbuat kesalahan pada putri yang seharusnya disayangi dan dibelanya.
Kemudian dia menatap wajah Meella yang tertunduk diam menahan kesakitan. Namun gadis itu tidak mau menunjukkann rasa sakitnya pada siapa pun, karena memang sangat pandai menutupi semua rasa sakit dan luka batinnya. Air mata pun disembunyikannya dalam kebisuan.
"Apakah caramu ini dapat dibenarkan, Mas?" Maryam meninggikan suaranya.
"Ma...," suara Meella terdengar lemah. Air matanya runtuh juga.
Gusti tertegun. Lidahnya keluh.
Maryam memeluk putrinya yang selalu dalam kemalangan itu. Tidak ada satu ibu di dunia ini mengharapkan hal buruk pada anak-anaknya. Begitu pula dengan Maryam, tidak pernah satu mimpi pun dalam hidupnya mengharapkan keburukan pada kedua putri kembarnya. Tapi mengapa Tuhan sering memberikan ketidak beruntungan pada salah satu putrinya, Meella?
"Ma..., Lala yang salah...," Meella tidak bisa melanjutkan ucapannya lantaran Maryam tiba-tiba mendorong bahunya, hingga terlepas pelukan keduanya.
"Nggak! Bukan kamu yang salah, Nak... tapi Mama yang salah, gak bisa jaga kamu dengan baik," selanya dengan wajah serius sambil memegang kedua bahu Meella. Lalu menepisnya pelan. Membalikkan tubuhnya menghadap Gusti.
"Hatiku sakit melihat putriku kamu tampar begini, Mas...," suara Maryam bergetar menuding dadanya sendiri, disertai air mata yang tidak dapat dibendungnya.
"Kenapa kamu gak pukul aku saja, Mas? Kenapa?" bentak wanita tidak berdaya itu. "aku yang salah karena gak bisa menjaga anakku yang satu ini dengan baik," tambahnya lirih, menoleh ke arah Meella sambil membelai kepalanya.
"Maaf..." suara Gusti terdengar mengambang dan tenggelam di udara.
"Maafin Lala, Ayah, Ma..., semua ini salah Lala sendiri yang gak bisa jaga diri. Maaf..."
"Gak mungkin!" tiba-tiba suara Raisya terdengar menginterupsi.
Sontak Gusti dan anggota keluaganya menoleh ke sumber suara. Rupanya percakapan mereka sudah didengar oleh semua orang. Entah sejak kapan para besan dan calon-calon menantu Gusti, juga Raisya sudah berada di depan pintu ruang kerjanya. Mungkinkah mereka sudah mendengar semuanya?
"M-mana mungkin...," wajah Raisya tampak pias.
'Mana mungkin gue salah sasaran jadi Meella? Padahal malam itu jelas-jelas si Mitha. Jika seandainya... bukan Mitha berarti...,' batin Raisya tiba-tiba bergejolak. Apalagi saat setelah melirik Meella dan Mirza secara bergantian. Pada saat itu juga Mirza balik menatapnya penuh selidik.
'Mampus gue!'
Raisya benar-benar ketakutan.
*
Hai readers... maaf ya author belum konsisten update-nya. Selain faktor sibuk ada kendala dengan sambungan internet author yang ternyata menghambat banget buat cus ke episode baru.
Oke deh, see you next episode. Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak sebagai penyemangat author supaya bisa update cepat ya...
__ADS_1