
🙋 Hai readers... 🙏 maaf ya author telat update karena masih ikut workshop selama satu Minggu ini. Tapi author akan tetap update sebisanya.
Jangan lupa untuk memberikan vote, like n komen ya vitamin buat author 😁😁😁
Luv you all 💕💕💕😘
Happy reading 😁😁😁
**********************************************
Di depan Yasmin, Sarah dan Amel tanpa malu Qarmitha menangis menyesali kebodohannya yang telah menyakiti Qameella. Padahal selama ini saudari kembarnya itu tidak pernah mengusik hubungannya dengan cowok-cowok yang dekat dengannya. Tetapi mengapa dia malah merusak hubungan yang baru dijalin antara Qameella dan Garda.
"Udah deh, Tha... gak usah nangis Bombay gini juga kali..." Sarah ambil suara karena lelah mendengar ratapan Qarmitha.
"Kalo elo emang ngerasa salah, kan elo tinggal ngomong aja langsung ke si Meella, beres kan?" lanjutnya memberikan ide cukup cemerlang.
"Lo ngomong apaan sih, Sar? Bukannya menghibur elo malah bilang begitu." protes Amel tidak setuju dengan ide Sarah.
"Yah... dari pada nangis kaya begitu, cuma bikin mata bengkak doang. Ya mending ngomong langsung aja ke orangnya. Gue yakin Meella gak bakalan marah. Dia kan orangnya gak bisa marah."
Qarmitha memilih tidak menggubris omongan Sarah. Dia hanya diam dan menjadi pendengar yang baik disela isakannya.
*
Garda tiba di lokasi biasa tempat yang telah disepakati. Semua anggota geng ABABIL tampak sudah hadir terlebih dahulu bersama geng ANEN. Bukan hanya itu, para pendukung dua geng itu pun turut meramaikan suasana.
Di lintasan balap, sudah hadir dua orang rider terbaik masing-masing geng. Mereka akan berlaga membela dan mengangkat pamor geng masing-masing.
"Siapa yang tanding malam ini?" tanya Garda ketika baru turun dari sepeda motornya.
"Dari geng kita si Rombeng, kalo geng ANEN mereka ngutus si Rocky, boss." jawab Tikeng.
"Hmm. Ya udah." Garda menanggapinya dingin.
Sedetik berikutnya balap dimulai. Kedua rider itu melesat pergi membelah jalan raya, diiringi sorak sorai tepukan tangan dan teriakan para suporter dari masing-masing geng.
Tikeng menganggukkan kepalanya.
"Lo lihat si Deming apa gak?" tanya Garda mencari keberadaan Dimas.
"Iya. Tadi sih nongkrong di sana bareng anak-anak," sahut Tikeng menunjukkan arah keberadaan Dimas. "sambil ngenalin cewek barunya."
Wajah Garda tampak suram saat mendengar kalimat terakhir Tikeng. Kedua tangannya langsung mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia geram dengan kelakuan salah satu anak buahnya itu. Terlalu mudah menebar pesona dan mengumbar rayuan gombal untuk merayu cewek.
Tidak butuh waktu lama Garda dapat menjumpai Dimas dengan seorang cewek cantik, yang digadang gadang sebagai pacar barunya.
__ADS_1
Sebenarnya Garda tidak mau ikut campur dalam urusan asmara anak buahnya. Dia pun tidak pernah peduli dengan masalah yang dihadapi oleh mereka.
Tetapi tidak untuk kali ini. Garda terpaksa ikut campur atas permintaan Tari. Walaupun sebenarnya bukan itu tujuan utamanya.
*
"Gue gak minta si Dimas milih gue. Karena gue gak mau ngemis-ngemis supaya dia gak ninggalin gue." ujar Tari lirih ketika itu. Wajah cantiknya terlihat terluka, namun tidak ingin ditunjukkannya.
"Tapi gue cuma mau dia nemuin gue langsung. Kalo emang dia udah gak mau jalan lagi sama gue, ya udah, putusin gue baik-baik. Gue akan terima kok." gadis itu tampak sangat pasrah.
"Terus terang gue gak nyaman kaya gini, digantung gak jelas." Tari menundukkan wajahnya menutupi air mata yang nyaris lepas landas dari pelupuk matanya.
Garda terdiam sejenak. Menimbang permintaan Tari.
"Keuntung apa yang gue dapet, jika gue bantuin elo?" tanyanya seakan mengajak Tari bernegosiasi.
"Jujur, gue akuin gak bisa kasih lo apa-apa. Tapi gue bisa bantu lo ketemuin Meella." jawaban Tari membuat Garda tidak bisa menolak permintaannya.
*
"Beb, nih kenalin ketua geng kita, bro Garda." ujar Dimas kepada pacar barunya.
Gadis itu melemparkan senyum terbaiknya kepada Garda sambil mengulurkan tangannya.
"Hai, gue Mala." ujarnya centil.
"Garda." sahutnya dingin.
"Oh, udah ganti cewek nih ceritanya. Terus, si Tari udah lo putusin belum?" sindirannya berhasil mencubit hati Dimas.
Wajah Dimas memucat tersindir oleh Garda. Dia melirik gadis yang tengah berdiri di sampingnya, sudah memancarkan aura suram membuat bulu kuduknya meremang.
"Elo ngomong apaan sih, bro." Dimas mencoba menghalau ucapan Garda. Agar gadis yang baru satu bulan dipacarinya tidak marah terhadapnya.
"Jadi, elo belum putus sama Tari?"
"Bukan, bukan begitu." Dimas tergagap.
"Sori, gue bukan bermaksud ikut campur urusan elo. Tapi menurut saran gue, kalo elo mau bertindak seperti buaya. Nyali elo jangan bermental cicak." pungkas Garda berlalu pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Diam-diam dia tersenyum sinis.
Dimas sangat mengerti apa yang diisyaratkan Garda. Tetapi dia ragu untuk menghadapi kenyataan yang ada.
Mala merajuk pergi meninggalkan Dimas. Hatinya terasa sakit merasa dibohongi oleh Playboy cap kadal tengik seperti Dimas.
Dimas berusaha mengejar dan membujuknya. Sayang, amarah Mala lebih besar dari pada rasa cintanya. Cewek itu mengundangnya dengan tetap pergi tidak mengindahkan bujuk rayunya.
__ADS_1
*
Qameella duduk di pinggir kasur Tari sambil mengelus bahu sang sahabat. Dia memang tidak punya kata-kata bijak untuk menghibur. Apalagi solusi atas masalah yang sedang dihadapi Tari. Bukan hanya tidak berpengalaman mengenai asmara. Cewek itu memang buta masalah cinta.
"Sabar, Tar... mungkin si Dimas emang bukan jodoh lo kali. Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng dari si Dimas." hanya kalimat sederhana itu yang bisa keluar dari mulut Qameella.
"Ngomong sih enak, Meel. Tapi kenyataannya gak semudah yang kita bayangin." sanggah Tari dengan wajah murungnya.
"Selama dunia belum kiamat, kenapa gak lo coba aja dulu?"
"Terus, gimana sama elo?" telisik Tari mencari celah yang tepat, agar topik obrolan mereka teralih mengenai Garda.
"Kok gue, apa hubungannya?" Qameella balik tanya tidak mengerti.
"Iya. Mau sampai kapan elo jadi jomblo akut?" sahut Tari to the points.
Wajah Qameella bersemu merah. Perlahan menundukkan wajah dan memalingkan pandangannya.
"Mumpung dunia belum kiamat, gak ada salahnya kan, elo nikmatin masa remaja yang cuma sekali seumur hidup."
Gadis itu hanya mengulum bibirnya, bingung entah apa yang harus diucapkan.
"Elo masih normal kan, Meel?" tanya Tari sengaja memancing reaksi Qameella.
"Apaan sih lo, pake bilang gue masih normal?" geram Qameella.
"Ya kali..."
"Sialan lo, Tar!" hardik Qameella menoyor bahu Tari gemas, hingga terjatuh menyamping di atas kasur.
Tari tergelak melihat ekspresi marah Qameella yang terlihat lucu.
"Abis, dari dulu sampai sekarang, elo gak pernah kelihatan naksir sama cowok mana pun. Apalagi pacaran." sindiran Tari ternyata cukup sukses mengobrak abrik pertahanan hati Qameella.
Qameella terdiam lagi. Hatinya mencelos mendengar ungkapan Tari. Di saat remaja seusianya sibuk dengan urusan asmara diluar sekolah. Tetapi Qameella sama sekali tidak tertarik dengan masalah cinta monyet semata.
Hidupnya terlalu sibuk dengan urusan sekolah dan sekolah. Karena dia takut jika nilainya jeblok, maka tidak bisa lagi bersama Rega dalam satu kelas. Di luar sekolah, dia selalu berusaha menjadi anak yang baik di mata Ayah dan Mamanya. Mengikuti semua aturan di rumah tanpa ada niatan untuk melanggarnya.
Cukup Qarmitha saja yang menjadi sumber air mata dalam keluarganya. Sementara dirinya hanya ingin menjadi sumber kebahagiaan kedua orang tuanya. Oleh sebab itu, dia tidak pernah mau pacaran sebelum lulus SMA.
"Elo gak usah khawatir," Qameella tersenyum kecil. "gue masih normal kok." lanjutnya menenangkan Tari.
Tari hanya mendengus kesal menanggapi ucapan Qameella.
Si tempat yang berbeda. Garda tenggelam dalam kesendiriannya. Dengan berteman sebatang rokok, dia menikmati kesunyian di tengah bisingnya suara sorak sorai tepukan tangan para suporter, yang sedang menantikan kedua rider jagoan mereka menjelang garis finis.
__ADS_1
Entah sudah yang keberapa kali asap rokok yang telah dihisapnya disemburkan ke udara. Dalam hati Garda terus saja melafalkan nama Qameella. Dan mengharapkan kehadirannya.
Bini, gue kangen sama elo.