Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#78


__ADS_3

Happy reading...


Mitha memasang wajah cemberut di depan Yasmin dan Sarah. Saat ini mereka bertiga berada di dalam kantor Sarah. Terletak di lantai dua restoran miliknya yang sedang viral. Kedua gadis itu susah payah menahan tawa mereka, setelah memperhatikan penampilan Mitha dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Keduanya takjub melihat penampilan sahabat mereka yang satu itu.


Tidak seperti biasanya memakai dress selutut yang terlihat sangat feminim. Padahal sehari-harinya dia hampir tidak pernah memakai pakaian wanita. Mungkin karena dari dulu sudah tomboi, dan guru olahraga pula yang tidak perlu tampang feminim segala. Seolah-olah yang berdiri di depan mereka bukan Mitha melainkan sosok Meella.


Sekarang penampilannya seratus delapan puluh derajat sangat berbeda dari Mitha yang biasa. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai menutupi setiap sisi leher dan pipinya. Dan satu lagi yang membuat perempuan itu terkesan aneh. Yaitu cara jalannya yang tidak normal. Dia tampak tertatih dan terkadang meringis seakan menahan sakit setiap kali melangkah. Seakan ada sesuatu yang membuatnya sakit diantara selangkangannya.


Sebenarnya Mitha nekat keluar kamar hotel tempatnya dan Rega menginap semalam. Bisa dibilang nekat karena kondisinya setelah dijajah habis-habisan oleh pria tampan tapi kelakuan iblis itu. Penampilan berantakan dengan banyaknya kiss Mark dimana-mana, membuatnya susah menutupinya. Tidak ada yang bisa digunakan untuk menutupi. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah membiarkan rambutnya terurai. Berharap bisa menutupi merah di bagian lehernya.


Tentu tanpa sepengetahuan sang suami. Lagian ngapain juga dia izin segala. Rega saja pergi meninggalkannya sendiri di kamar hotel. Ya... walau pun dia sempat meninggalkan sepucuk surat. Tapi itu tidak berarti apa-apa baginya.


Awalnya Mitha sempat frustasi dengan kondisinya yang seperti itu. Apalagi baju yang sudah disiapkan Rega model dress yang bukan Mitha banget. Potongan dada rendah dan hanya sebatas lutut. Karena baju yang kemarin dipakainya hancur dirudapaksa dokter tampan. Namun kelakuan kaya setan. Ngeselin aja emang tuh orang.


Belum lagi sepatu hak tinggi yang akan membuat kakinya keseleo. Halo... perlu kalian tahu ya, Mitha paling alergi dengan sepatu modelan cewek banget kaya gitu. Dia biasa pake sepatu kets, atau flat shoes yang emang kesukaannya. Tidak bikin kakinya pegel. Tapi apa mau dikata. Gara-gara kelakuan setan bin iblis itu kemarin, sepatunya tidak sengaja jatuh sebelah. Dan tidak sempat mengambilnya lantaran dibopong terus kaya karung beras sampai di kamar hotel.


"Kamvret lo pada!" semprot Mitha geram melihat kelakuan dua sahabatnya, di masih menatap penuh selidik dari tempat mereka duduk. "bukannya prihatin sama kondisi gue, elo-elo malah bawain gue. Elo pikir lucu, apa?"


Sontak tawa keduanya pecah, dan terbahak-bahak melihat kemarahan Mitha yang malah terkesan lucu.


"Ya ampun neng... sensi banget jadi orang," seloroh Sarah meredakan emosi Mitha. Beranjak berdiri menghampiri lalu menarik lengan Mitha, menuntunnya duduk di sofa yang terdapat dalam ruangannya.


"Lagian sih elo aneh. Tumben banget penampilan lo cewek banget. Kemaren aja waktu gue dandanin elo nyerocooos terus. Jangan menor lah, gaunnya gak usah terlalu cewek banget. Haloooo yang namanya gaun emang cewek. Kalo mau kaya cowok ya elo pake tuxido sama dasi kuku," keluh Yasmin.


"Nah, sekarang elo lagi mau ada acara apa, kok pakean lo kaya gini? Padahal elo kan biasanya fifty fifty," timpal Yasmin berusaha mengendalikan suara tawanya.


"Apaan fifty fifty?" Mitha mengerutkan keningnya.


"Yaaah, setengah cewek setengah cowok. Alias tomboi," terang Yasmin membuat Mitha berdecak sebal.


"Sialan lo!" hardik Mitha memukul pelan bahu kanan Yasmin, duduk di samping kirinya.


Tanpa Mitha sadari rambutnya sedikit tersibak saat bergerak memukul bahu Yasmin. Hingga Sarah yang duduk di sebelah kanannya dapat melihat apa yang sedang berusaha disembunyikan oleh sang sahabat.


Dengan iseng dan jahil Sarah menyibak rambut Mitha. Terpampang lah warna merah yang begitu kontras dengan warna asli kulit Mitha yang putih. Sebenarnya warna kulit Mitha putih ya. Hanya saja aktivitas sebagai guru olahraga yang sering di outdoor, membuat kulit luarnya berubah warna. Sedangkan kulit yang tertutup tetap pada warna aslinya.


Matanya pun membola seraya menutup mulutnya yang terbuka kaget, segera menutup mulutnya yang melebar dengan sebelah tangannya. Speechless. Karena warna merah yang ditemuinya tidak hanya satu. Ada beberapa. Eh, banyak deh. Mungkin dari balik gaun yang dipakai Mitha ada lebih banyak lagi.


"Anjrit!" pekik Sarah kaget.

__ADS_1


Merasa Sarah telah mengotak-atik rambutnya, buru-buru Mitha menutupinya lagi dengan rambut dan tangannya. Dia sangat malu dengan noda-noda yang menempel di kulitnya. Walau pun itu tanda gairah dan cinta sang suami padanya. Ih, pantas gak sih dibilang tanda cinta? Emangnya Rega udah cinta apa sama Mitha? Perasaan gak deh...


"Heh, kenapa lo, Sar?" tanya Yasmin ingin tahu.


"Sialan lo, Sar. Pake singkap-singkap segala. Kepo lo!" semprot Mitha sinis, wajahnya merah padam malu aibnya terbongkar.


"Tuh, lihat aja sendiri. Lo pasti takjub sendiri," saran Sarah membuat Mitha melotot tajam ke arahnya.


Mitha mencoba menghindar dan berusaha menakuti dengan pelototan matanya. Baik Yasmin maupun Sarah tidak ada yang takut. Bahkan tidak berpengaruh sama sekali. Malah lebih berani menyibak juga mengangkat rambut yang sedari menjuntai hingga melewati bahunya.


"Busyet! Banyak emen..."


"Emang anjrit lo pada... kamvret kalian..." pekik Mitha seraya menggeliat ke sana-sini sembari menutupinya dengan tangan. Tetap saja percuma. Kedua sahabatnya sudah berhasil mengobrak-abriknya. Bagusnya tidak sampai ditelanjangi.


"Ck, ck, ck. Abis berapa ronde neng... bertarungnya?" seloroh Sarah menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya, tapi setelahnya tawanya kian meledak.


"Ronde, ronde, emang lo kira gue main tinju apa?" sungut Mitha bertambah kesal seraya merapikan rambutnya lagi, terus-menerus jadi bahan Bullyan kedua sahabatnya.


Untung Amel masih otw ke sini. Si ibu muda itu mengantar anaknya ke sekolah lebih dahulu, setelah itu ikut bergabung ke sini. Jadi dia masih bisa tahanlah sedikit untuk beberapa saat. Jika tidak telinganya bisa jontor sama seperti bibirnya dikenyot terooos sama si Rega.


"Ho-oh. Kayanya sampe pagi nih," timpal Yasmin.


"Huh, katanya cerai, cerai. Gak cinta lah, tai kucing lah. Hiiiihhh... malam main kebo-keboan, sampe udah kaya macan tutul gitu," keluh Yasmin.


Dia masih ingat bagaimana Mitha merengek agar minta dibantu mengusahakan proses perceraiannya dengan Rega agar cepat tanpa ribet. Tapi prakteknya malah sebaliknya.


"Ah, kalian gak tahu sih gimana kondisi gue," kilah Mitha.


"Elo tuh, gak bersyukur banget. Gue kurang tahu gimana tentang kondisi lo. Surat cerai udah gue usahain. Gue bela-belain tuh buat mohon sama pengacara keluarga gue. Faktanya apa?" semprot Yasmin berapi-api.


Mitha mendengus pasrah. Rasanya tidak nyaman bila menelan sendiri permasalahan yang dihadapi saat ini. Apalagi sebelumnya sudah ada campur tangan sahabat-sahabatnya. Terutama Yasmin. Akhirnya dia memilih menceritakan semua kronologi terjadinya tanda kiss Mark di tubuhnya. Tentu tidak menceritakan semua yang vulgar pada dua sahabatnya yang masih perawan. Kasihan mereka bila ternoda sebelum waktunya.


"Jadi, si Rega belum tanda tangan surat cerai yang Lo kasih kemarin?" selidik Yasmin.


"Boro-boro buat tanda tangan. Lihat bentuknya tuh surat cerai, katanya juga belum," gumam Mitha.


"Yakin lo? Ya... siapa tahu si Rega bohong," Sarah tidak percaya. Mereka semua lihat saat Mitha menyerahkan surat cerainya pada Rega langsung di restoran miliknya.


"Iya. Dia bilang gak tahu," sahut Mitha membenarkan tanpa ragu. "lagian dia bilang, dia gak bakalan cerein gue sampai kapan pun. Karena dia gak mau ada perceraian dalam pernikahan kita."

__ADS_1


Yasmin terdiam sambil berpikir dan menopang dagunya. Begitu pula dengan Sarah yang ikut berpikir.


"Terus, kalo bukan si Rega waktu itu. Lalu, siapa cowok itu? Gak mungkin kan kalo itu si Garda," tiba-tiba terlintas di benak Yasmin begitu saja. "karena selain tuh manusia, gak ada lagi yang mukanya sama. Kalo pun ada yang mirip sama dia dengan orang lain. Kemiripan mereka gak sama seperti Rega Garda," lanjutnya beralibi.


"Elo gimana sih Yas, masa iya gitu? Kenapa lo nyebut nama tuh manusia, dia kan udah lama mokat," sanggah Sarah mengingatkan.


Tiba-tiba mereka bertiga terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Juga membenarkan apa yang sudah diucapkan Sarah. Dan tidak menampik ucapan Yasmin, jika Rega hanya memiliki satu orang duplikat dengan status saudara kembar, yaitu Garda. Tetapi tuh makhluk sudah lama meninggal dunia. Ah, apa iya...


*


Meella kembali melakukan aktivitasnya di kantor setelah dua hari libur kerja. Walau kondisinya masih lemas dia tetap memaksakan diri menyelesaikan tugasnya yang menumpuk di atas meja kerjanya. Melupakan keresahannya akan janin yang bersemayam dalam rahimnya.


Rona wajah Dandi sungguh tidak enak dipandang mata. Karena Meella sakit dia yang menghandle pekerjaannya. Berkali-kali pria itu berpesan agar wanita yang diam-diam sedang mengandung anak bosnya, mengkonsumsi vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh supaya tidak mudah sakit.


Teori sih gampang. Tapi, orang yang memberi nasihat itu lupa. Ada Tuhan yang maha mengatur segalanya yang ada di semester raya. Termasuk takdir setiap umat-Nya.


"Bagaimana kondisimu, sudah segar?" tanya Garda begitu formal saat Meella masuk ke dalam ruangannya untuk menyerahkan berkas yang diminta.


"Alhamdulillah, sudah Pak," jawabnya, anggap saja sudah jujur seratus persen.


"Baguslah bila begitu," ujar Garda menutupi kekhawatirannya.


Ya, dia memang selalu mengkhawatirkan dan memikirkan istrinya tanpa ada seorang pun yang tahu. Bila perlu Tuhan juga tidak perlu tahu. Sayangnya, Tuhan Maha Tahu. Jadi sia-sia bila manusia ingin membohongi Tuhan. Sombong namanya. Padahal sombong adalah pakaiannya Tuhan.


Seperti biasa dia hanya bisa memantau Meella dari kamera cctv yang tersambung langsung pada gadgetnya. Karena hanya cara itu yang membuatnya selalu tahu kabar terkini tentang istrinya tanpa diketahui oleh orang lain. Termasuk orang yang sedang dipantaunya.


Meella hanya menundukkan wajahnya. Dalam diam berpikir, apakah dia harus mengatakan tentang kehamilannya pada Garda? Karena hanya dia lah satu-satunya pria yang sudah menidurinya. Tapi... apakah atasan sekaligus calon ayah dari bayi yang dikandungnya akan mempercayainya begitu saja?


"Sayang...," tiba-tiba Bianca masuk begitu saja ke dalam ruangan Garda.


Tanpa rasa bersalah dengan sengaja menabrak bahu kiri Meella yang hendak berbalik meninggalkan ruangan Garda. Rasa bencinya masih terasa diubun-ubun acap kali melihat gadis malang itu.


Sontak Garda yang sedang menunduk hendak membaca berkas di tangannya mendongak. Melihat perempuan asing, tapi harus bersandiwara seakan menjadi pasangan yang saling mencintai.


Matanya memicing saat netranya melihat Bianca sengaja menabrak Meella. Hatinya berdenyut sakit. Ingin sekali dia menampar wajah perempuan sialan itu, sudah berani mengusik istrinya. Lagi, dia harus menahan diri agar sandiwaranya tidak terbongkar terlalu dini.


"Makanya kalo jalan pake mata dong," hardik Bianca kesal. Sengaja menuduh Meella yang tidak bersalah. Padahal dia sendiri yang bersikap seperti orang yang tidak memiliki mata.


Garda mengeraskan rahangnya juga mengepalkan tangannya erat meredam emosi yang hampir meledek.

__ADS_1


Perempuan sialan, awas saja kau nanti! Bisik batin Garda mengancamnya.


__ADS_2