Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#9


__ADS_3

Hai readers... gimana cerita episode lalu, seru gak? Moga kalian semua terhibur ya...


Readers... mulai episode ini cerita 'Kesengsem Cinta Kembar season 2', para tokohnya sudah beranjak dewasa dengan alur cerita dan konflik baru juga ya.


Sebelum ke cerita selanjutnya, cus, lihat dulu visual Qameella dan Qarmitha terkini pada episode terbaru ini.


Mari berhalusinasi check ✔️




Qameella sudah bertransformasi menjadi gadis yang lebih matang dan serius dalam bekerja di salah satu perusahaan. Kini usianya sudah 24 tahun.




Qarmitha, si guru olahraga cantik, pintar pada bidangnya. Di sekolah, gadis itu paling disukai oleh hampir semua guru, terutama guru laki-laki. Juga, guru paling difavoritkan dan sangat disukai oleh para murid. Terlebih murid laki-laki. Tentu tidak sedikit yang membencinya. Siapa lagi jika bukan murid perempuan. Karena mereka merasa tersaingi kecantikannya oleh sang guru.


Happy reading...


***************************************


Priiiitt!


Suara peluit melengking panjang terdengar begitu membahana, nyaris bersamaan dengan suara dering bel istirahat. Ada beragam ekspresi saat benda kecil yang menjepit di antara bibir Qarmitha, ditunjukkan oleh para murid-muridnya dari kelas IX B. Sebagian menunjukkan ekspresi senang dan gembira karena kelas pelajaran olahraga yang melelahkan telah berakhir. Juga reaksi sedih serta dengus kecewa lantaran harus mengakhiri kebersamaan mereka dengan sang guru, sekaligus primadona mereka.


Sejak kehadiran Qarmitha di sekolah itu, tidak sedikit para yang semangat dan antusias mengikuti pelajaran olahraga. Bahkan para guru lelaki pun tidak kalah memberi minat. Berharap bisa menarik perhatiannya. Namun tidak ada satu pun di antara mereka yang mampu meluluhkan hati sang guru olahraga cantik itu.


Bukan bermaksud untuk menjadi orang yang angkuh dan sombong dengan kecantikan yang dimiliki. Qarmitha memang sengaja tidak membuka peluang untuk siapa pun. Agar tidak terjadi patah hati massal, akibat di PHP'in olehnya. Pasalnya hati dan cinta Qarmitha sudah terlanjur ada yang memiliki.


Sepulang mengajar di sekolah, Qarmitha bertemu dengan ketiga sahabatnya di salah satu rumah makan di pusat kota. Sejak kuliah dan bekerja mereka memang jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing.


"Mana si Amel?" tegur Qarmitha saat baru tiba di tempat pertemuan mereka. Ketika itu hanya Amel yang belum menunjukkan batang hidungnya.


"Yah, paling lagi ngurus anaknya dulu," sahut Sarah berspekulasi. "atau mungkin lagi bujuk si Tikeng kali. Gue denger-denger dia sekarang jarang dibolehin keluar-keluar gitu sama suaminya itu."


"Masa sih si Tikeng kaya gitu?" tanya Yasmin tidak percaya.


"Hm!" gumam Sarah seraya mengedikkan bahu. "mungkin lagi hamil muda kali," tambahnya masih berspekulasi.


"Ah, ngarang lo, Sar," Qarmitha tidak percaya.


"Kan gue bilang mungkin," sanggah Sarah membela diri. "lebih jelasnya entar kita tanya aja sama-sama," cetusnya yang langsung diangguki Qarmitha dan Yasmin.


Tak lama berselang orang yang dinanti akhirnya datang dengan segala keribetannya. Mamah muda itu tampak menggandeng dua anak sekaligus di kanan dan kiri tangannya. Dan di belakangnya ada seorang lelaki yang tak lain adalah suaminya. Berjalan mengekori sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. Di pundaknya sudah tersampir tas tangan tentu saja milik sang istri, Amel.

__ADS_1


"Hei gaes, sori ya gue datang telat. Maklum gue bawa pasukan jadi rempong deh," ujar Amel menyesal.


"Iya, iya, dimaafin," Qarmitha langsung menyahut, bangkit berdiri memberikan cipika-cipiki pada Amel. Kemudian diikuti oleh Yasmin dan Sarah secara bergantian.


"Hei Mas Bro, apa kabar nih?" sapa Qarmitha ramah seraya menunjukkan tinjunya, lalu disambut oleh orang yang disapanya hingga kedua tinju mereka saling beradu pelan


Dilanjutkan jabat tangan persahabatan.


"Baik," jawab Tikeng singkat. Setelahnya melakukan hal yang sama pada Sarah dan Yasmin.


Qarmitha mempersilahkan keempat orang yang baru datang itu untuk duduk. Sementara Yasmin dan Sarah kembali pada tempatnya semula.


Amel duduk di sisi kanan Qarmitha. Sedangkan Tikeng harus menyeret tiga kursi terlebih dahulu untuk dirinya sendiri dan untuk kedua anaknya yang masih kecil, di meja sebelah karena meja yang ditempati oleh para gadis juga ibu muda itu hanya memuat empat orang saja. Selain itu Tikeng juga ingin memberi kebebasan pada sang istri bereuni ria untuk sesaat. Pasalnya setelah acara pertemuan mereka usai, Amel akan kembali dengan kodratnya sebagai istri sekaligus ibu dari dua bocah bersamanya.


Lama mereka mengobrol ngalor ngidul membahas kenangan mereka semasa sekolah dulu. Sesekali terdengar suara gelak tawa mereka, disela kegiatan mereka menikmati menu makanan yang sudah dipesan sebelumnya.


"Gimana Tha, sama kelanjutan hubungan lo sama si doi? Denger-denger elo berdua udah serius mau ke jenjang pernikahan," tegur Sarah.


Qarmitha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Dia udah lamar elo?" kini Yasmin yang bersuara, terkesan sangat kepo.


"Belum sih. Tapi gue udah ngenalin dia sama bonyok gue. Gue juga udah dikenalin sama keluarga besarnya," terang Qarmitha jujur. Ada binar bahagia terpancar di matanya.


"Katanya sih, satu atau dua bulan lagi dia sama orang tuanya datang ke rumah buat ngelamar gue gitu," lanjutnya tersipu.


"Syukur deh," ucap Amel lega. "kita-kita jadi ikut seneng dengernya," Yasmin dan Sarah mengangguk mengiyakan.


Tetapi terlihat awan mendung yang bergumul di sorot mata Qarmitha yang teduh. Lalu mendesah lelah saat Sarah tiba-tiba menyinggung tentang Qameella.


"Terus, si Meella gimana? Udah punya pengganti buat gantiin posisi si Garda? Secara udah lama Garda pergi."


"Nah, itu dia... sampai detik ini dia masih belum move on dari masa lalunya," jawab Qarmitha sedih.


"Masa sih, Tha? Si Meella sampai segitunya gak bisa lupain Garda? Masalahnya ini udah bertahun-tahun," kali ini Tikeng yang ambil suara.


Qarmitha mengedikkan bahu seraya mendengus berat. Kemudian menceritakan tentang kebiasaan Qameella yang sering datang ke makam Garda di saat awal meninggalnya Garda. Bila di rumah ia selalu berdiam diri di kamar. Menghabiskan waktu berjam-jam menatap jendela seraya memeluk foto Garda. Tidak jarang berbicara pada foto Garda, seolah-olah berbicara dengan orang hidup.


Pada malam hari, Qameella membaca surat Yasin, memanjatkan doa untuk Garda. Lalu meletakkan foto Garda di atas kasur, seakan menjadi teman tidurnya. Dan hal itu masih berlanjut sampai sekarang. Bedanya saat ini sudah agak jarang datang berziarah karena kesibukannya bekerja di kantor.


Kedua orang tuanya sudah berkali-kali menjodohkannya dengan anak dari teman mereka, agar Qameella bisa melupakan Garda dan hidup normal. Namun selalu ditolaknya, malah membuat Qameella pergi dari rumah. Memilih tinggal di rumah kontrakan tidak jauh dari tempatnya bekerja.


"Kasian banget ya, mudah-mudahan Allah masih kasih stok jodoh buat si Meella, supaya dia gak sendirian sampai tua," Amel merasa prihatin.


Mereka semua mendengus lelah. Kecuali dua bocah bersama Tikeng. Kedua bocah polos itu tidak mengerti apa-apa, sedang sibuk dengan mainan yang dibawanya. Sesekali terdengar suara decakan mereka. Dan suara gaduh minta disuapi membuat Tikeng sedikit kerepotan, bila bocah-bocah itu minta secara bersamaan dan tidak ada yang mau mengalah.


*

__ADS_1


Di perusahaan tempat Qameella bekerja.


Qameella tampak sedang tenggelam dengan pekerjaan di meja kerjanya. Sesekali sepasang mata yang berbingkai kacamata minus, melihat layar komputer untuk mencocokkan data di hadapannya. Wajahnya yang serius dengan ekspresi dingin tampak tidak berkedip sedikit pun.


Itulah Qameella kini, yang lebih asyik dan selalu menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dibandingkan dengan bergaul dengan gadis seusianya, atau bergosip disela-sela kesibukannya dengan rekan kerjanya yang mayoritas adalah perempuan.


Kehidupan Qameella selalu monoton. Kerja terkadang lembur, tidur di waktu sudah larut, dan saat hari libur akan menghabiskan waktu berziarah ke makam Garda. Dalam hidupnya hanya hitam dan putih. Tidak ada warna lain setelah Garda pergi untuk selamanya.


Entah Qameella harus bersyukur atau tidak dengan kehidupannya yang selalu kesepian. Karena berkat itu pula ia bisa mencapai dititik ini. Titik dimana ia sudah dianggap sukses dalam bekerja. Walau belum memiliki pangkat tinggi.


Tetapi karirnya terbilang baik dalam dua tahun ini. Mungkin tiga atau empat tahun lagi dia akan dipromosikan menjadi manajer. Pasalnya manajer yang lama akan dimutasi ke kantor cabang lain. Bukan mau omong kosong belaka. Itu hanya perkiraan semata. Dan semoga saja terjadi.


Qameella beranjak dari tempat duduknya setelah data yang diperiksanya sudah siap. Kemudian ia akan ke kantor manager di ujung koridor ruangannya.


Selesai menyerahkan dokumen itu, Qameella pergi ke kafetaria di lantai bawah, karena sudah jam makan siang. Berhubung ruangan yang ditempati di lantai lima, maka ia harus menggunakan lift untuk menuju tempat itu.


Ting!


Pintu lift terbuka. Qameella melangkahkan kaki masuk ke dalam, bersamaan dengan seorang pria berjas hitam yang juga melangkah tetapi keluar. Tangan kanannya menempelkan benda pipih ke telinganya. Sepertinya orang itu sedang melakukan panggilan telepon.


"Iya, Bi...," suara itu terdengar berbarengan meninggalkan lift.


Deg!


Degup jantung Qameella mendadak memompa lebih cepat. Wajahnya yang sedari tadi menunduk menatap lantai lift, langsung terangkat kaget dengan mata melebar terkejut. Suara pria itu terdengar familiar, seakan menghentak di gendang telinganya. Memori ingatannya langsung memutar saat Garda memanggilnya,


"Bi..."


"Bi,"


"Bi."


Garda?


Mungkinkah Garda?


Garda!


Garda!


Pintu lift langsung menutup otomatis saat Qameella membalikkan badan. Sosok itu langsung menghilang di balik pintu.


Ingin sekali dia menerobos lift yang terus berjalan menurun ke bawah, untuk memastikan siapa orang itu. Tetapi dia bukan hantu yang bisa menembus benda. Juga tidak memiliki kantong Doraemon, yang dapat mengeluarkan pintu ke mana saja.


Sial! Qameella memukul pintu lift yang masih tertutup rapat seraya tertunduk lesu. Namun sedetik kemudian ia tersadar, bahwa pria tadi bukan Garda. Karena Garda sudah lama meninggal. Tidak mungkin orang mati bisa hidup kembali. Mustahil!


*

__ADS_1


Maaf ya ceritanya sampai di sini dulu. Mood author lagi kurang bagus soalnya. Tunggu episode berikutnya ya...


Happy weekend...


__ADS_2