
Hai readers... author come back again nih. Jangan lupa vote, like n komen kalian yang selalu author tunggu.
Berhubung hari ini seluruh umat muslim di dunia merayakan hari raya Idul Adha atau Idul Qurban. Author dan keluarga mengucapkan selamat hari raya Idul Adha. Semoga kita semua menjadi orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar saat digoda imannya oleh setan, agar membatalkan niatnya untuk menyembelih Nabi Ismail kecil. Aamiin...
Happy reading...
********************************************************
Satu pekan telah berlalu. Ujian sekolah pun sudah berakhir. Tinggal menunggu pembagian rapot yang akan dibagikan minggu depan. Sambil menunggu proses penulisan rapot yang dilakukan para wali kelas. Ada beberapa murid yang terpaksa mengikuti remedial karena dianggap nilai mereka tidak sesuai dengan KKM yang telah ditentukan sekolah. Sayangnya, Qameella ada dalam deretan murid yang mengikuti remedial. Ada tiga pelajaran yang harus diremed yaitu, Matematika, Fisika dan Kimia. Sepertinya tahun depan dia tidak bisa belajar di kelas yang sama dengan Rega. Cowok yang pernah mengisi sudut hatinya yang tersembunyi.
Aduh... ini pasti gara-gara Garda deh. Yang suka neror gue waktu belajar. Jadi gagal fokus. Nasib... nasib...
Pihak sekolah pun mengadakan acara class meeting yang berupa pertandingan olah raga basket, voli, futsal dan bulu tangkis antar kelas. Setiap hari mereka bertanding menggunakan lapangan sebaguna dan aula sekolah. Pada babak penyisihan mereka akan bertanding dengan lawan yang berasal dari kelas yang satu tingkat. Bagi yang menang akan ikut tanding lagi dengan kelas lain yang berbeda tingkat pada babak semi final. Kemudian pada babak final semua pemenang akan bertanding dengan pihak yang juga berhasil menang sebelumnya.
Perasaan ketar-ketir juga was-was kini dirasakan Qameella. Entah bagaimana bentuk nilainya setelah mengikuti remedial. Jika nilai ujiannya benar-benar jeblok, alamat akan dikarantina Gusti. Selain uang jajannya dipotong, Ayah dua putri itu tidak segan untuk mengekang kebebasannya. Apabila hal itu benar-benar terjadi, Qameella tidak tahu apakah masih punya stok sabar seperti biasanya. Atau malah depresi menghadapi hidup terisolir di dalam rumah. Walau pun dalam hati ingin sekali memberontak seperti yang Qarmitha sudah lakukan. Tapi... dia tidak punya keberanian untuk itu.
Gusti keluar dari ruang kelas dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca oleh Qameella. Air mukanya menunjukkan kesedihan. Tangannya mencengkeram erat ujung rapot yang sedang dipegangnya. Sangat berbeda pada saat awal datang ke kelasnya, setelah sebelumnya datang ke kelas Qarmitha juga mengambil rapot. Entah keluhan apa yang diucapkan wali kelasnya pada Gusti. Yang jelas dia tidak berani bertanya, hanya menundukkan wajahnya dalam. Kemudian berjalan mengekor di belakang Ayahnya.
Gusti dan Qameella kembali pulang ke rumah mereka menggunakan taksi online. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana Bu, perkembangan putri saya selama belajar di kelas ini?" tanya Gusti saat duduk di depan wali kelas Qameella dengan di batasi meja guru di antara mereka.
__ADS_1
"Qameella termasuk anak yang rajin dan giat belajar. Dia sampai sering menghabiskan waktunya membaca buku di perpustakaan sekolah. Tapi saya justru kasihan pada Qameella yang sangat jarang menghabiskan waktu dengan beristirahat di kantin. Dia juga sangat jarang bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Dia lebih suka menyendiri dengan membaca buku," tutur Bu Aida, wali kelas Qameella.
"Bagus itu, saya senang mendengarnya," sahut Gusti bangga. "saya lebih suka anak saya rajin membaca dari pada banyak ngobrol dengan temannya. Lama kelamaan anak saya akan abai terhadap pelajaran sekolahnya."
"Saya setuju dengan pendapat Bapak. Saya pun mengakui apa yang dilakukan Qameella bukan hal yang buruk. Tapi ada hal yang saya khawatirkan dengan sikap Qameella yang penyendiri. Saya hanya takut kelak, saat putri bapak terjun ke masyarakat akan menjadi orang yang anti sosial. Mohon maaf kepada bapak sebelumnya. Saya bukan bermaksud memberikan opini buruk pada Qameella. Tapi ini demi masa depan Qameella kelak. Karena kita adalah makhluk sosial, yang selalu membutuhkan orang lain. Bukan hidup terisolir di daerah terpencil."
Gusti dibuat tercengang dengan fakta yang dijabarkan Bu Aida. Hati kecilnya membenarkan semua ucapan wanita berhijab itu. Namun lisannya menyangkal semua analisis tersebut. Dia tidak mau mengakui pola pikirnya yang salah. Dengan membiarkan Qameella dalam kesendirian tanpa memikirkan dampak yang terjadi kelak. Mungkinkah pemberontakan yang selama ini dilakukan Qarmitha merupakan bentuk protes tidak terima pada setiap kebijakannnya di rumah?
"Ayah, kita udah sampai. Ayo kita turun!" Gusti terkesiap dan terhenyak dari lamunannya.
"Oh, sudah sampai ya?"
Qameella dan Gusti keluar dari taksi online, setelah sebelumnya membayar sejumlah uang sesuai argo yang ada diaplikasi.
*
Garda tidak bisa berkutik melihat Gusti yang terus menempel pada Qameella. Seakan-akan pria itu tidak mengizinkan lelaki mana pun mendekatinya. Sebenarnya cowok super nekat seperti Garda bisa saja mendekati istrinya tanpa khawatir apa pun. Tapi diam-diam Qameella memberi isyarat agar tidak mendekat. Gadis itu masih belum siap mempublikasikan hubungannya pada siapa pun. Alhasil dia hanya menjadi penonton di kejauhan.
Setelah Qameella pulang bersama Ayahnya, Gusti. Garda pun beranjak pergi. Namun belum sempat dia melajukan sepeda motornya yang siap tanpacap gas, tiba-tiba netranya menangkap sosok yang bertahun-tahun dirindukannya muncul.
Seorang wanita yang masih terlihat cantik kendati usianya tidak lagi muda. Tubuhnya ramping, tinggi semampai, masih terlihat paripurna.
__ADS_1
"Mama..." suara panggilan itu langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Senyumnya mereka menyambut kedatangan putranya. Memeluknya hangat.
"Mama baru datang?" tanya sang putra seraya menengadahkan wajah tanpa melepas pelukan mereka.
Sekarang tinggi putranya sudah melampauinya. Membuatnya tersadar jika satu putranya yang lain pasti sudah setingginya.
"Iya." senyumnya kian melebar.
Kemudian wanita itu pergi sesuai arahan putranya. Mereka hendak mengambil rapot di dalam ruang kelas.
Garda masih terpatri menatap kepergian mereka dengan hati pilu. Rasa rindunya sudah di ujung mata. Namun kedua belah tangannya tidak mampu menggapai. Hingga mereka hilang di telan hiruk pikuk keramaian para orang tua dan murid sekolah itu.
"Mama," lirihnya dalam hati.
*
Sementara di lain tempat lain. Seorang wanita paruh baya menjejakkan kaki di koridor sekolah SMA XX, tempat Garda menimba ilmu. Dia adalah Mak Lela, pengasuh sekaligus asisten rumah tangga Garda. Sejak SD, wanita itulah yang berperan sebagai pengganti orang tua Garda. Yang saat ini hak asuhnya jatuh di tangan Ayahnya, Andika. Namun pria itu tidak pernah sekali pun mau peduli dengan pendidikan putranya di sekolah. Makanya tidak heran hasil didikannya membuat Garda selalu haus kasih sayang keluarga.
Selayaknya orang tua pada umumnya, Mak Lela bertanya tentang Tuannya selama belajar di sekolah. Dia sudah terbiasa jika jawaban yang diberikan wali kelas akan selalu mengatakan hal-hal buruk tentang Garda. Karena sejak SD bocah tengik itu selalu membuat ulah. Entah berkelahi dengan teman sekelasnya, kakak kelasnya, atau siapa pun yang mengusik ketenangannya. Namun wanita itu percaya bahwa Garda adalah anak yang baik.
Alangkah terkejutnya Mak Lela saat ini setelah mendengar penjelasan wali kelas. Pria itu menjelaskan perubahan sikap Garda yang menjadi lebih tenang dan lembut. Sudah tidak terdengar lagi pertengkaran, keributan apalagi perkelahian yang bisa dibilang selalu identik dalam diri Garda. Nilainya pun terbilang bagus, masuk lima besar.
__ADS_1
Tidak henti-hentinya Mak Lela mengucap syukur dengan perubahan positif itu. Dia berjanji dalam hati untuk mengucapkan terima kasih pada seorang gadis yang kemarin dibawa pulang oleh Garda ke rumah. Gadis yang diakui sebagai istri masa sekarang dan masa depannya. Benar-benar telah memberi dampak baik bagi kehidupan tuan mudanya.