Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#22


__ADS_3

Hai reader... author come back di bulan puasa gini yang bikin author mager. Jadi, sori banget ya kemarin author updatenya kelamaan. Ayo donk readers... kasih author vote, like. Kalo komen dan hadiah terserah ya...


Happy reading...


***************************************


Garda berjalan melewati lorong kantornya menuju ruang rapat. Diikuti oleh seorang wanita muda di belakangnya, ya dia adalah sekretarisnya, Gina. Hari ini dia sudah punya jadwal penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan lain.


Di dalam ruang rapat sudah menunggu seorang pria muda, bila ditilik usianya tidak berbeda jauh dengan Garda. Dan pria itu tidak sendiri. Dia ditemani oleh seorang asisten laki-laki, juga berusia tidak jauh berbeda dengannya. Anggap saja bila mereka semua satu angkatan.


Ketika pintu ruangan itu terbuka, si pria dan asistennya langsung berdiri seraya merapikan jasnya. Sepasang netra gelap milik si pria membola terkejut, kala baru pertama melihat sosok Garda muncul dari balik pintu. Matanya memanas membuat air mata keluar dari pelupuknya.


Gina hendak memperkenalkan Garda pada si pria itu. Namun belum sempat bibirnya berucap, si pria langsung berhambur dan memeluk Garda erat dengan air mata terburai. Bahunya bergetar dan naik turun.


"Ternyata firasat gue benar. Elo masih hidup, Bro. Elo masih hidup," tuturnya bergetar pilu. Kedua tangannya erat merengkuh tubuh kekar Garda.


Hah?!


Semua orang termasuk Garda bingung dengan sikap si pria. Apalagi mendengar ucapannya yang tidak masuk akal. Dasar aneh!


Garda celingukan sambil mengerutkan dahi tidak mengerti dengan sikap klien yang seperti orang gila. Mungkin bila tidak ingat ada rencana kerjasama, Garda sudah menghajar habis orang ini. Kemudian dia ingin mendorong tubuh pria berkulit sawo matang ini agar menjauh dari tubuhnya. Tetapi si pria lebih dulu mendorong tubuh Garda menjauhinya, dengan kedua tangan tetap mencengkeram bahu Garda. Dia masih mengalirkan air mata, haru melihat tubuh Garda yang segar bugar.


"Bro, elo masih ingat gue? Gue Ryan, Keling. Sahabat elo dulu. Kita dulu anak geng motor, geng ABABIL. Ingat?" tanya pria muda itu antusias.


Hah? Geng motor ABABIL?!


Belum sempat Garda memberikan jawaban dari pertanyaan yang membingungkan itu. Tiba-tiba asisten pria bernama Ryan itu menepuk bahunya, menyadarkan dari lamunannya.


Sialan, ternyata gue halu! Batinnya menghardik dirinya sendiri.


"Pak Ryan, perkenalkan ini adalah CEO kami yang baru. Beliau adalah Pak Pandega," ujar Gina memperkenalkan atasannya.


Garda! Ya, benar elo Garda, Bro!


Tapi, gimana mungkin?


Ryan menyeringai lebar seraya mengulurkan tangan mengajak berjabatan tangan. Kemudian disambut Garda dengan senyum ramah.


"Senang berjumpa dengan anda, Pak Ryan," suara yang sangat familiar di telinga Ryan, bertambah keyakinannya dengan dugaannya.


"Tentu saja saya yang lebih senang bisa berjumpa dengan anda," sahut Ryan jujur.


Garda segera mempersilahkan Ryan dan asistennya duduk. Diikuti dengan dirinya dan terakhir Gina, sang sekretaris.


Kedua pebisnis muda itu berjabatan tangan kembali setelah selesai menandatangani kontrak kerjasama masing-masing. Tanpa bicara panjang lebar keduanya yang diikuti oleh sekretaris masing-masing meninggalkan ruang rapat.


"Terima kasih, semoga kerjasama ini dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan kita bersama," ujar Garda sebelum melepas kepergian Ryan seraya berjabatan tangan untuk terakhir kali.


"Sama-sama, saya juga mengharapkan demikian," sahut Ryan melepas jabatan tangan masing-masing.


Ryan dan asisten merangkap sebagai sekretarisnya masuk ke dalam mobil hendak melesat pergi meninggalkan perusahaan Andika. Tetapi kini ada campur tangan Garda sebagai regenerasi.


"Tolong kamu cari data tentang CEO Negara's Group yang baru," titah Ryan tiba-tiba.


"Hah? Maksud Bapak... Bapak Pandega?" tanya asistennya terkejut. Pasalnya mereka baru saja bertemu, tetapi mengapa...


"Iya, siapa lagi, Danu??? Kamu?!" sahut Ryan dengan suara sedikit meninggi dengan sepasang mata melebar. Seolah sorot matanya dapat menghanguskan objek yang dipandangnya.


Pria muda berkacamata itu hanya menyeringai bodoh seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi, Pak..."

__ADS_1


"Gak pake tapi-tapi. Saya mau besok pagi semua data lengkap tentang CEO itu sudah ada di atas meja saya, titik!" tukasnya tanpa ingin dibantah lagi. "dan, harus detail, ingat itu!"


"Ba-baik, Pak," asisten bernama Danu itu tergagap terpaksa menyanggupi.


Ryan bergumam menatap jalan raya. Sesekali kepala tampak manggut-manggut.


Mobil yang mereka tumpangi terus melaju membelah jalan raya ibu kota yang terbilang sangat ramai, namun tidak terjadi kemacetan yang berarti.


*


Hari berikutnya.


Setelah menyelesaikan tugas kantornya yang tidak terlalu banyak, Ryan sengaja mendatangi basecamp ABABIL yang kini sudah berubah fungsi. Dulu bangunan tua itu hanya tempat kumpul-kumpul para anggota geng ABABIL. Tetapi setelah kematian Garda dan bertambahnya usia, juga setelah insiden kecelakaan dalam kegiatan balapan liar salah satu dari mereka nyaris drop out dari dunia ini, alias hampir mati maka mereka memutuskan tidak lagi menjadi anggota geng motor ABABIL. Mereka semua sepakat membubarkan diri namun tetap tidak meninggalkan geng ABABIL dan basecamp.


Oleh karena itu, Ryan mengusulkan juga memberikan modal usaha bengkel dan steam pencucian motor serta mobil dengan memanfaatkan bangunan itu. Selain itu memberdayakan tenaga terampil mantan anggota geng motor ABABIL tentunya. Syukur Alhamdulillah, bengkel dan steam pencuci motor-mobil berjalan dengan baik. Mendatangkan keuntungan bagi Ryan sekaligus tempat usaha untuk mengais rezeki para mantan anggota geng tentunya. Tidak semua anggota mantan geng motor ABABIL yang ikut mengembangkan usaha tersebut. Hanya beberapa di antata mereka seperti, Rombeng, Sonik dan Buchek.


Kendati basecamp yang mereka cintai sudah beralih fungsi. Mereka masih mempertahankan barang-barang pada bentuk aslinya. Anggaplah sebagai kearifan lokal. Terutama ruangan yang mereka pernah gunakan sebagai tempat berkumpul. Serta sofa-sofa yang memang sudah tidak layak lagi juga ketinggalan zaman. Ada beberapa bagian yang sudah mengalami kerusakan karena dimakan usia. Namun mereka berusaha memperbaikinya dengan mempertahankan bentuk dan corak seperti aslinya. Selain sebagai kenang-kenangan juga sebagai pengobat rindu mereka pada sosok mantan ketua geng mereka, Garda.


Ryan melihat pada dua plang papan nama yang berbeda dengan sedikit mendongakkan wajah dari kaca depan mobilnya,


BENGKEL SEPEDA MOTOR ABABIL


STEAM PENCUCI MOTOR DAN MOBIL ABABIL


Mobil Ryan berhenti dan memparkirnya sempurna di depan bengkel ABABIL. Lalu membuka pintu mobilnya, keluar dan menutupnya kembali sebelum meninggalkan mobil sport mewahnya.


“Weihs… Bos,” sambut Rombeng hangat saat melihat kedatangan Ryan. Buru-buru pria yang kini memelihara kumis dan jenggot tipis itu, meninggalkan mesin dan peralatan bengkelnya. Sebelum pergi dia sempat mengelap kedua tangannya yang kotor oleh minyak dan oli mesin. Dia juga menitip pekerjaannya pada asistennya.


Ryan mengangkat telapak tangan kanannya ke udara. Membentuk hi-five membalas sapaan Rombeng. Sementara sebelah tangan kirinya memegang amplop coklat. Lalu melakukan salaman khas mereka sejak pertama bergabung dalam geng ABABIL. Setelahnya berpelukan.


“Gimana bengkel? Rame?” tanya Ryan berbasa-basi seraya mendorong pelan tubuh Rombeng yang terlihat tidak kurus juga tidak terlalu gemuk.


“Lumayan. Yang namanya rezeki pasti ada aja seperti sekarang. Walau gak banyak, tapi bisa buat dapur di rumah ngebul," jawab Rombeng penuh makna yang mendalam.


"Pantesan, sekarang badan lo lebih berisi sedikit," seloroh Ryan, menepuk-nepuk punggung Rombeng.


"Bisa aja lo," Rombeng tersipu.


"Mana yang lain?" Ryan celingukan mencari seseorang.


"Ada. Buchek sama Sonik masih gawe. Nanti gue suruh bocah buat panggilin dia-dia pada. Yok, masuk dulu!" pria berpakaian bengkel itu langsung mengajak masuk ke ruangan yang biasa dulu mereka gunakan untuk kumpul-kumpul.


Sontak air mata Ryan mengambang melihat ruangan yang tidak berubah sedikit pun. Tetap sama seperti dulu. Membuatnya sejenak halu dan rindu pada suasana saat-saat itu. Di benaknya berseliweran kenangan semasa SMA. Semuanya masih terekam jelas tanpa ada yang kurang sedikit pun.


"Duduk dulu, Bos!” suara Rombeng menghenyakkan Ryan ke dunia nyata.


Ryan tersenyum canggung.


"Kenapa? Elo kangen sama kenangan kita dulu?" selidik Rombeng kepo.


Ryan tidak menjawab. Hanya senyum yang mengambang di bibirnya. Seolah sebagai jawaban dari pertanyaan Rombeng. Kemudian dia duduk di kursi favorit Garda.


Rombeng mengamati tingkah Ryan, juga dapat merasakan apa yang terpancar dari sorot mata sahabatnya itu.


"Woy, Bro! Baru nongol lo?" tegur Buchek hangat langsung mengajak salaman khas mereka.


"Woy!" sapa Sonik mengikuti gerak yang dilakukan Buchek.


Ryan pun menyambut salaman khas dari mereka satu per satu.


"Biasalah... namanya juga orang sibuk," sahut Ryan berseloroh.

__ADS_1


"Iya, iya, gue tahu lo sibuk," ungkap Buchek setuju.


Keempatnya duduk di posisi masing-masing. Mereka pun sempat bernostalgia tentang hari-hari yang pernah mereka lalui di tempat ini.


Ryan sangat berterima kasih pada Rombeng, Buchek dan Sonik yang masih menjaga tempat ini dengan baik. Terutama pada ruangan tempat mereka berada beserta atributnya yang dibiarkan tetap pada bentuk dan posisi yang tidak berubah sedikit pun.


Tidak lama berselang Ryan mendorong amplop coklat yang dibawanya di atas meja ke arah mereka.


"Apa ini?" selidik Rombeng bingung.


"Elo gak lagi kasih kita surat wasiat, kan?" celoteh Sonik asal.


"Sialan lo! Lo pikir gue mau mati, pake kasih surat wasiat segala. Kalo pun iya, masa iya gue kasih ke elo-elo pada?" semprot Ryan kesal.


"Ya kali aja gue sih, siapa tahu gue dapat warisan mobil dari lo, hehehe..." tambah Sonik tertawa garing.


Sontak Buchek mentoyor kepala Sonik sebal.


"Huh, anjir lo!"


"Trus, apa isi amplop ini?" tanya Rombeng tidak sabaran.


"Buka aja!" titah Ryan yang langsung dilakukan oleh Rombeng.


Sonik dan Buchek langsung merapatkan tubuh mereka masing-masing pada Rombeng, penasaran juga ingin tahu apa yang yang terkandung dalam amplop itu.


Perlahan tapi pasti Rombeng mengeluarkan semua isi dari dalam amplop yang Ryan bawa lembar demi lembar. Ada beberapa tumpukan tipis kertas HVS dengan deretan tulisan yang belum sempat Rombeng baca. Serta dua buah lembar foto berukuran post card. Dia dapat mengenali orang dalam foto tersebut karena memang wajahnya sudah sangat familiar.


"Rega? Ini foto Rega kan, Ling?" tanya Sonik meraih salah satu foto itu. Lalu menggantungnya di udara seraya menunjukkan pada Ryan.



Ryan mengangguk membenarkan.


"Iya."


Kemudian Buchek juga meraih foto lainnya, yang sudah tentu berparas sama dengan Rega.


"Yang ini juga, foto Rega juga, kan?" melakukan hal yang sama dengan Sonik.


Rombeng mengambil foto di tangan Sonik dan Buchek. Lalu meletakkan kasar di atas meja.


"Ngapain elo bawa foto si Rega, terus elo nunjukin ke kita, hah?"



Ryan tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya. Setelahnya mengambil sebatang, melemparkan sisanya yang masih terbungkus rapi dalam bungkusnya di atas pelan.


Dilanjutkan mengambil pemantik api dari saku lainnya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, langsung menyalakan rokoknya. Lalu menghisapnya perlahan. Begitu pula saat menghembuskan asapnya.


"Ada apa nih? Elo lagi kangen sama dia (Garda)?"


Ryan hanya nyengir santai seraya membuang abu rokok ke dalam asbak.


"Iya," sahut Ryan pada akhirnya.


*


Readers sampai di sini dulu ya episode kali ini. Author udah gak kuat melek. Nanti kita lanjut lagi ceritanya ya...


See you... next to new episode...

__ADS_1


Love you... 😘


__ADS_2