Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#81


__ADS_3

Happy reading...


Garda dan Meella mendudukkan bokong mereka pada salah satu bangku taman panjang yang menghadap langsung ke arah air mancur. Posisi duduk keduanya berdampingan dan hampir tidak berjarak, hanya celah kecil menjadi pembatas mereka. Pandangan keduanya pun langsung tersita pada air mancur di hadapan mereka.


''Wah, indah banget,'' gumam Meella kagum dengan senyum lebarnya. Ingin rasanya dia menyentuh air itu.


Mendengar suara gadis di sebelahnya yang terdengar seperti bisikan, namun masih terdengar jelas di rungunya memang jaraknya dekat. Garda menoleh ke arah Meella. Tatapan matanya terpaku sejenak. Tanpa berkedip melihat senyum yang tidak pernah dilihatnya lagi sejak pertemuan pertama mereka.


Garda menikmati setiap pahatan indah wajah cantik istrinya yang tampak bersinar karena pantulan cahaya lampu taman. Istri? Hehhh... geli rasanya dan ingin tertawa bila mengingat gadis berstatus istri, atau yang sering dipanggilnya 'Bini', tapi dia lebih sering memanggilnya dengan sebutan 'Bi'. Karena kini Garda tidak bisa memeluk maupun menciumnya sesuka hati seperti dulu kala.


Akibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Garda sendiri, dan menghilangkan ingatannya. Juga, sebab kecelakaan itu semua orang menganggapnya sudah mati. Hingga Garda tidak bisa mengungkap identitasnya sendiri pada orang-orang terdekatnya. Terlebih ada nisan di makam yang bertuliskan namanya. Membuatnya kian sulit membuktikan dirinya masih hidup dan panjang umur hingga detik ini. Namun untuk saat ini, dia akan membiarkan hal itu terjadi. Juga merahasiakan ingatannya yang sudah pulih untuk mengungkap kebenaran dibalik kecelakaannya. Serta ingin mengetahui motif Andika memberikan identitas barunya sebagai Pandega, bukan Garda.


Garda menghela napas lelah. Walau orang yang sedang diharapkan mengenalinya, malah tidak tahu siapa dia sebenarnya. Asalkan dia dan Meella dapat selalu bersama seperti ini, menurutnya sudah lumayan cukup untuk mengobati rasa rindunya pada istrinya. Dia pun tersenyum cerah melihat wajah sumringah Meella. Sudah lama dia merindukan senyum itu terukir di bibir Meella.


Tatapan mata garda terusik kala melihat tubuh Meella yang mengkerut seakan menahan dingin. Dia baru menyadari bila Meella tidak memakai jaket. Bajunya pun berbahan biasa juga tidak tebal dan berlengan pendek. Mungkin gadis itu tidak memiliki persiapan saat keluar meninggalkan hotel. Dia pun lupa mengingatkan untuk memakai jaket. Karena udara malam di kota ini lebih dingin dari pada kota tempat tinggal mereka.


Saat kedua tangan Meella bergerak memeluk bahu dan lengannya. Kemudian melakukan gerakan berulang-ulang menggosok bahunya, untuk dapat menghalau rasa dingin itu dengan telapak tangannya. Pandangan matanya tidak sedikit pun lepas dari objek yang sedari tadi menyita perhatiannya.


Melihat Meella yang sedang kedinginan Garda pun tidak tega. Tanpa diminta dia membuka jaketnya sendiri. Lalu menyampirkan jaketnya di atas bahu Meella.


Sontak Meella tersentak kaget bersamaan dengan aroma maskulin, parfum mahal Garda, terhidu dalam rongga penciumannya. Pandangan matanya teralihkan pada sosok tampan bak patung dewa Yunani kuno. Manik matanya bergerak mengikuti gerakan yang dilakukan Garda.


Garda...


Tiba-tiba saja terlintas nama dan bayangan Garda di pelupuk mata Meella. Betapa dia sangat mendambakan kehadiran sosok yang tidak bisa lagi dipeluknya. Andai kamu masih hidup, mungkin yang saat ini berdiri di depan saya adalah kamu, Gar. Bukan dia, bukan orang lain. Tapi mengapa wajahnya sangat mirip dengan kamu... hingga rasa rindu ini sering mengusik ketenangan saya...


''Pakailah, supaya badan kamu gak kedinginan,'' seru Garda saat Meella hendak menolak jaket pemberiannya. Dia sengaja sedikit memaksa agar gadis itu tetap mau memakai jaket miliknya. Kemudian merapikan dan membetulkan posisi jaketnya di bahu Meella.


''Ah, Pak Pandega?'' Meella mengangkat pandangannya lalu bersirobok dengan tatapan Garda. Dia tidak enak merepotkan atasannya dengan mengorbankan diri sendiri melawan dingin dengan hanya memakai kaos polos berwarna abu-abu.


Sangat canggung sekali mendapat perhatian dari bosnya. Seakan-akan sedang dimanja oleh sang kekasih. Kedua pipi Meella menghangat. Mungkin juga saat ini pipinya sudah memerah karena malu. Untung saat ini malam hari, jadi tidak terlalu kentara sekali. Coba kalau siang hari, aduh, pasti malunya pake banget.


Ya ampun, apa-apaan ini?


Buru-buru Meella menepis perasaan yang nyaris membuatnya melayang sudah diratukan oleh Garda. Serta hampir membuatnya lupa siapa dirinya. Ya, dia hanya seorang sekretaris. Harus profesional tidak boleh terbawa perasaan yang pada akhirnya mengacaukan segalanya. Semoga saja hal buruk itu tidak akan pernah terjadi.


''Tapi, Pak...''


''Udah, pake aja. Saya lihat kamu kedinginan. Saya khawatir kamu masuk angin,'' tukas Garda menjelaskan.


''Maaf, Pak...''

__ADS_1


''Santai aja,'' lagi, Garda memotong ucapan Meella. Seakan tidak mengizinkan gadis itu menolak kebaikannya.


''Lagian, salah saya yang udah ngajak kamu ke sini. Dan gak ngingetin kamu pake jaket saat keluar hotel tadi,'' terangnya memberi penjelasan sekaligus pengertian.


Meella tidak tahu harus bicara apa pada bosnya yang suka seenaknya ini. Dia pun tidak mengerti mengapa Garda begitu perhatian padanya. Padahal sebelumnya sangat arogan padanya. Bahkan dia pernah disekap agar dia mau mengakui telah berkomplot dengan seseorang untuk menjebak Garda di malam sial itu. Namun seiring berjalannya waktu. Dan tidak ada bukti kejahatan yang berkaitan dengan Meella. Sikap Garda pun berubah hangat.


''Pak...,'' Meella menoleh hendak mengatakan sesuatu. Mendadak urung dilakukan lantaran sendok siomay Garda layangkan ke dalam mulutnya.


Sontak Meella tertegun dengan sendok plastik dan potongan siomay masuk ke dalam mulutnya.


''Gimana rasanya? Enak?''


UHUK!


Meella langsung terbatuk dan nyaris tersedak siomay yang disuapkan Garda.


''Minumlah!''


Buru-buru Garda menyorong teh hangat yang sempat dibelinya di pinggir jalan bersama siomay tadi.


Meella terpaksa menerima dan meneguknya, untuk menghilangkan rasa terbakar di tenggorokannya akibat saos kacang siomay bercampur saos sambal.


''Maaf, saya gak bermaksud mencelakai kamu,'' sesal Garda seraya menyeka sudut bibir Meella yang terkena saos kacang dari siomay.


Meella pikir Garda sudah menjauhkan wajahnya dan duduk di posisi semula. Tapi saat dia menoleh wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Garda. Refleks memundurkan kepalanya ke belakang untuk memberi jarak. Karena posisi mereka benar-benar sangat dekat hingga dapat merasakan hembusan napas masing-masing.


"Pak, maaf... tolong jaga jarak. Karena kita terlalu dekat. Saya gak enak jika dilihat orang. Mereka akan salah paham pada kita," pinta Meella memperingati akan posisi tidak nyamannya.


"Kenapa? Kamu malu dekat dengan saya?" bukannya menuruti permintaan Meella, Garda malah melontarkan pertanyaan tidak masuk akal. Dan kian mengikis jarak mereka. Dia pun meraih tengkuk Meella agar tidak terlalu ke belakang.


"Bukan begitu, Pak. Saya merasa gak etis aja. Kita hanya patner kerja. Bapak atasan saya di kantor..."


"Tapi sekarang kita kan gak lagi di kantor. Tapi di taman. Jadi saya bukan atasan kamu. Kita adalah teman," sanggah Garda cepat.


"Tapi, Pak... saya gak mau membuat masalah. Terutama dengan tunangan Bapak..." Meella menahan geramnya menghadapi pria keras kepala seperti Garda. Mengapa tidak juga paham bila dirinya tidak ingin di dekati. Bukan berarti sedari tadi Meella diam saja. Gadis itu sudah berusaha menjauh dengan menggeser duduknya ke samping. Namun tetap saja Garda akan terus mendekat seiring pergeseran Meella. Sampai bokong Meella di ujung bangku dan hampir jatuh.


''Bianca gak ada di sini. Hanya ada kita berdua. Saya...,'' Garda hampir mengungkapkan perasaan dan jati dirinya.


''Apa maksud Bapak?'' Meella bangkit berdiri dengan suara sedikit lebih tinggi.


Walau suara Meella tidak terlalu keras. Namun gerak tubuhnya yang mengisyaratkan perlawanan, membuat Garda terkejut.

__ADS_1


''Bapak gak boleh seperti ini. Saya tahu Bapak tampan dan kaya. Tapi, tolong hargai hubungan Bapak sama tunangan Bapak. Jangan jadi pria hidung belang yang gak cukup satu wanita,'' geram Meella dengan sikap Garda yang menurutnya ingin merayunya.


Aku gak boleh termakan ucapannya. Pikir Meella.


Orang-orang di sekitar mereka mulai terusik dengan suara Meella dan sikap tegasnya. Para pengunjung tampak mulai berbisik, dan saling bertanya satu sama lain perihal yang terjadi pada Meella dan Garda.


Garda yang peka terhadap lingkungan sekitar langsung memeluk tubuh Meella. Dengan begitu dapat menggiring opini, bahwa Garda dan Meella adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Kini mereka berdamai ditandai dari pelukan yang Garda berikan.


Padahal pada kenyataannya Garda sengaja mengalihkan perhatian seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dan Meella. Ya, sedari tadi Garda sadar kedatangan mereka ke taman ini telah diikuti sejak keluar dari hotel. Entah ada motif apa yang melatarbelakangi orang itu selalu membuntuti. Siapa orang yang telah memerintahkan orang misterius itu, Garda akan segera mencari tahu.


Sementara Meella membeku di tempat. Tanpa bisa berontak. Karena sebelumnya Garda sudah memperingatinya,


"Tolong jangan berontak. Diamlah!"


"Kenapa...."


"Sssttthh! Tenanglah, ada seseorang yang sedang mengintai kita. Jadi, saya minta kamu jangan buat pergerakan yang membuat orang itu curiga sama kita," terang Garda memberi pengertian.


Meella pun diam menuruti instruksi Garda.


Di tempatnya bersembunyi, orang misterius itu berdecak kesal karena gagal menjalankan misinya. Lantaran banyak orang yang memperhatikan Garda dan Meella. Dan yang paling menjengkelkannya, aksi Garda yang memeluk Meella mendapat tepuk tangan meriah dari para pengunjung yang menonton kemesraan mereka.


''Sial!" decaknya kesal.


'Gimana tugasmu hari ini? Berhasil?'


Sebuah pesan masuk menyambangi ponsel orang misterius itu. Dan langsung dibaca. Juga dijawab,


'Maaf, Bos. Tugasnya gagal karena terlalu banyak orang yang menonton mereka di taman ini. Saya gak mau membuat perhatian pengunjung lain teralih pada saya.'


'Bodoh! Pokoknya aku gak mau tahu. Sebelum mereka kembali ke Jakarta, perempuan ****** itu harus sudah kau habisi. Mengerti?!'


'Siap, bos! Akan saya lakukan sesuai perintah.'


Percakapan berakhir melalui chat, orang misterius itu pergi meninggalkan taman sembari berpikir langkah apa yang akan dilakukannya besok. Dengan mobil sedan putih, orang itu pun benar-benar pergi meninggalkan targetnya.


***


Huhhh... kayanya gawat nih.


Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian di kolom komentar, juga like dan votenya ya...

__ADS_1


See you next episode...😘🥰🙏


__ADS_2