
Happy reading
Meella tertegun melihat kehadiran Mirza di tempat yang sama dengannya. Dan kini pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Tatapan keduanya bersirobok. Jika tatapan Mirza tampak sendu, mengandung rindu yang besar. Berbanding terbalik dengan wajah dan tatapan mata Meella yang terkesan dingin tak terbaca.
Dandi menatap bingung melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan Garda. Atasannya itu menunjukkan tatapan tidak sukanya melihat Meella yang sedang berbicara dengan Mirza.
''Kalian saling kenal?'' tegur Garda heran. Lalu berbalik arah berjalan menghampiri Meella.
Meella ingin menjawab. Namun Mirza lebih dulu menjawab,
''Ya, kami memang sudah saling kenal.''
Mirza tersenyum bahagia.
''Sejak kapan?'' kejar Garda begitu penasaran hubungan diantara mereka.
Dandi yang masih berdiri di tempatnya sampai membelalakkan mata melihat reaksi tidak biasa bosnya. Ada apa yang terjadi dengan Garda? Mengapa dia begitu ingin tahu hubungan Meella dengan Mirza? Apa mungkin... ah, tidak mungkin. Ya, sepertinya tidak mungkin. Mana mungkin Garda tertarik dengan gadis bermuka datar seperti Meella. Bianca lebih cantik dan lebih segalanya. Jadi tidak mungkin bosnya berpaling ke lain hati.
Mirza adalah pemilik perusahaan kontraktor yang berhasil bekerja sama dengan Negara's Group dalam pengerjaan proyek pembuatan pabrik produksi makanan beku. Jadi, Garda tidak bisa berbuat apa-apa dalam hal ini. Bukan karena takut. Tapi untuk kredibilitasnya sebagai seorang CEO yang bijak. Tidak mencampur adukkan urusan hati dengan pekerjaan. Walau sebenarnya dongkol banget pastinya. Istri tercintanya sedang didekati pria lain yang bukan suaminya.
''Kami pernah satu kampus saat kuliah dulu. Pak Mirza adalah senior saya,'' terang Meella dengan ekspresi wajah seperti biasa.
Hati Mirza mencelos mendengar Meella menyebutnya dengan sebutan 'Pak' di depan namanya. Entah karena mereka berada di tempat bekerja. Atau mungkin sengaja memberi jarak agar dia tidak bisa mendekatinya lagi.
Garda hanya ber-'oh' ria saja sambil mengangguk mengerti, menanggapi jawaban Meella. Dan sedikit kelegaan. Itu tandanya selama ini Meella tidak pernah macam-macam di belakangnya. Selama mereka terpisah lama.
''Bukan,'' Mirza menginterupsi.
Sontak Garda mengerutkan keningnya.
Tubuh Meella menegang. Dia yakin Mirza masih belum bisa merelakannya. Makanya dia ingin mempublikasikan hubungan mereka yang hampir masuk ke jenjang pernikahan. Semoga aja Mirza gak ngomong tentang hubungan kami. Harapnya dalam hati.
''Kita memang pernah satu kampus saat kuliah. Tapi saat itu kita gak dekat apalagi akrab. Bahkan kamu gak kenal sama aku. Hanya aku yang kenal kamu,'' bantah Mirza mematahkan jawaban Meella tadi.
Meella hanya menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Lalu sedikit memalingkan wajahnya agak menyamping. Dia berpikir kalimat apa yang tepat untuk menyanggah ucapan Mirza nanti.
''Oh, ayolah, Meella... jangan bilang kalo kamu malu mengakuinya. Padahal baru tiga bulan lalu kita ...,'' Mirza tidak bisa melanjutkan ungkapan kekecewaannya gara-gara terdengar suara deheman seseorang.
''Ehm! Khmkhmmm!"
Sontak mereka semua melihat ke sumber suara. Rupanya Garda sengaja melakukannya. Dia sudah tidak tahan melihat kebersamaan Meella dengan pria asing itu.
''Maaf, Pak Mirza. Sepertinya saat ini waktu yang kurang tepat membahas masa lalu. Karena sekarang bukan di ruang pribadi. Tapi di ruang publik. Saya minta profesionalitas Bapak sebagai penanggung jawab proyek ini, agar bekerja dengan baik dan benar. Itu pun jika Bapak tetap ingin melanjutkan kerjasama kita,'' peringatan yang cukup keras diberikan Garda pada rivalnya itu. Tetapi dengan intonasi yang dibuat selembut mungkin agar kemarahannya tidak terlalu nampak jelas. Setelah mengucapkan semua kalimat itu, Garda menyeringai lebar.
''Maaf, Pak,'' sahut Mirza menyadari kesalahannya. Setelah sebelumnya menatap ke sekeliling. Ada lebih dari lima orang berdiri di sekitarnya dengan memakai helm proyek yang sama, sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.
__ADS_1
Mirza langsung memandu mengelilingi seluruh gedung yang sebagian besar masih dalam tahap pengerjaan. Ada juga beberapa bagian gedung yang sudah tahap finishing.
Di saat semua orang sibuk memperhatikan penjelasan Mirza, juga dibantu dua orang pekerja proyek menjelaskan lebih detailnya. Kala itu mereka berjalan membentuk kelompok. Garda, Mirza dan Dandi berjalan beriringan di posisi depan. Dua orang lelaki dewasa yang bertugas membantu Mirza jika ada perlu penjelasan tambahan seputar pembangunan proyek ini. Sedangkan Meella di paling belakang sendiri.
Meella tidak nyaman berada di antara para lelaki. Apalagi dengan aroma maskulin mereka yang menguar dari parfum-parfum beragam varian wangi dan merk. Sungguh, membuat kepala Meella pening dan ingin muntah secara bersamaan.
Tiba-tiba sebuah crane yang tidak beroperator, bergerak melepaskan beban yang masih menggantung di udara, jatuh ke tanah hampir menimpa Meella yang pergerakannya mulai gontai. Wanita itu sibuk mencari dopingnya berupa minyak angin aromatherapy di dalam tas yang dibawanya, senjata paling ampuh saat seperti ini.
BRUKKK!
Suara itu sontak mengejutkan semua orang. Mereka pun menoleh hampir bersamaan ke sumber suara.
"Meella!" suara Mirza berteriak sekeras mungkin. Dia langsung berlari panik melihat gadis itu.
Syukurlah Meella dapat diselamatkan dari kejatuhan oleh seorang pekerja berada tidak jauh dari tempat kejadian. Hanya kakinya yang tergores terkena serpihan yang terpental dan langsung menggores kaki kanannya. Darah segar mengalir dari luka tersebut.
"Kamu gak papa?" tanyanya khawatir.
Tanpa diminta Mirza mengeluarkan sapu tangan kainnya dari saku celana. Lalu berlutut di bawah kaki Meella, dan membalut lukanya yang berdarah.
Meella tertegun melihat kepedulian Mirza padanya. Padahal mereka berdua sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
'Mirza, kenapa baik sekali pada saya? Sangat perhatian dalam kondisi gawat dan cekatan dalam bertindak seperti ini. Betapa bahagianya wanita yang menjadi pendamping hidup kamu. Sayang, wanita itu bukan saya. Karena saya terlalu kotor untuk kamu. Jadi saya gak pantes mendampingi kamu,' batin lirih.
''Iya, saya gak papa,'' sahut Meella tergagap.
Hati Garda tercubit melihat wanitanya dapat perhatian lebih darinya. Sementara dirinya tidak berbuat apa-apa.
''Bos,'' suara Dandi menginterupsi dan sedikit mengalihkan perhatiannya.
Garda langsung memberi titah pada asisten pribadinya untuk menyelidiki insiden hari ini. Dia khawatir ada penyusup yang sengaja ingin mencelakai mereka. Setelahnya dia pergi menyusul Mirza ke klinik melihat keadaan Meella di sana.
*
Luka di kaki Meella sudah selesai dibalut perban, setelah dibersihkan. Tidak ada luka serius, dan dibolehkan langsung pulang oleh dokter.
"Bagaimana dengan kondisi kehamilannya, dok?" tanya Mirza tiba-tiba pada seorang tenaga medis yang menangani Meella.
Meella terkejut dengan pertanyaan Mirza. Sontak menoleh pada pria itu dengan tatapan tidak percaya. Rupanya lelaki itu masih ingat dengan pernyataan Meella saat terakhir kali mereka berpisah. Padahal waktu itu Meella bicara asal-asalan. Tetapi bagai doa yang terkabul saat ini.
"Hamil?" Garda terpaku di ambang pintu ruang IGD klinik. Tatapannya nanar melihat wanita yang masih berada di atas brankar.
Sontak semua orang yang ada dalam ruangan itu, menoleh ke arah kedatangan Garda. Mirza, dokter, perawatan dan Meella dengan wajah piasnya terdiam sejenak.
Ya Tuhan... mengapa dia harus datang sih?!
__ADS_1
''Siapa yang hamil?" tekan Garda sambil melangkah mendekati mereka. Dengan tatapan meminta penjelasan. Mendadak dia teringat dengan pertanyaannya tadi malam pada Meella.
"Apakah kamu hamil?"
"Bapak jangan ngarang deh, bagaimana saya bisa hamil. Suami aja gak punya. Tentu aja saya gak mungkin hamil," sahut Meella berbohong.
"Tapi kita pernah melakukannya malam itu," kilah Garda mengingat malam itu dengan tatapan tidak terbaca.
Sebenarnya Meella sangat benci saat Garda mengungkit malam kejadian itu. Karena malam itu impiannya yang susah payah dirajut hancur seketika.
"Gak mungkin saya hamil. Karena sampai detik ini saya gak merasakan apapun layaknya wanita hamil. Jadi saya tekankan pada Bapak, saya gak hamil, titik!" pungkas Meella malam itu.
Dokter tampak kebingungan melihat dua pria dewasa mengelilingi satu wanita. Tatapan menyelidik tak terelakan.
''Diantara kalian berdua, siapa suami pasien?" tanya dokter tiba-tiba.
''Saya!" tanpa diduga Garda dan Mirza kompak membuka suara secara bersamaan.
''Hah, apa?!" reaksi dokter ternyata lebih mengejutkan dari pada jawaban aneh kedua pria itu.
Oh, Tuhan... apakah dunia ini sudah benar-benar akan kiamat? Satu wanita memiliki dua suami. Apakah wanita ini penganut poliandri?
Garda dan Mirza saling bertukar pandang dengan keterkejutan yang sama. Lalu keduanya saling memutuskan kontak mata mereka, beralih menatap Meella yang sedang menatap mereka bingung secara bergantian.
*
Meella terpaksa memakai kursi roda untuk menghindari perdebatan antara Garda dan Mirza. Kedua lelaki dewasa itu selalu saja berdebat dan berebut ingin menggendong Meella saat turun dari brankar. Padahal Meella masih bisa memakai kakinya sendiri untuk berjalan, walau terpincang-pincang.
Ketika akan keluar ruang IGD pun begitu.
Alhasil, Dandi yang menjadi penengah. Dengan inisiatif sendiri pria itu mengambil kursi roda yang berbeda di sudut ruangan. Kemudian meminta Meella untuk duduk di atasnya. Meella pun menurut tanpa paksaan. Lalu keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan Dandi yang mendorong kursi rodanya.
Di depan halaman klinik, sudah terparkir mobil Mirza dengan pintu penumpang yang sudah terbuka lebar. Dengan senyum lebar Mirza menanti kedatangan Meella, yang masih di dorong dengan kursi roda keluar dari pintu klinik di samping mobilnya.
Begitu pun mobil yang akan ditumpangi Garda. Sama sudah terparkir apik di depan mobil Mirza. Juga membuka pintu mobil di bagian penumpang. Garda menatap Mirza dengan tatapan mencemooh. Karena dia yakin, Dandi akan membawa Meella ke dalam mobilnya.
Meella sampai menepuk jidat melihat kekompakan kedua pria itu. Tentu saja kekompakan yang dimaksud bukan kompak untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Melainkan kekompakan yang bisa menyebabkan pertikaian.
Jujur saja Meella bingung menghadapi kedua pria di depan sana. Entah mengapa mereka berdua jadi begitu perhatian padanya, setelah dokter benar-benar menyatakan kesehatan kandungannya. Ya, kali ini Meella tidak bisa menyembunyikan kehamilannya pada Garda. Padahal semalam dia sudah berhasil menyangkalnya.
Mungkin inilah yang disebut 'sepandai-pandai tupai melompat, dia pasti akan terjatuh juga'. Huh, payah!
*
Hai readers... sampai di sini dulu ya episode kali ini. See you next episode ya... 😘🥰🙏
__ADS_1
Author tunggu jejak cantik kalian ya...