Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#82


__ADS_3

Happy reading...


Pagi harinya...


Setelah sarapan pagi Garda dan Meella bertolak ke lokasi proyek, dengan mobil yang disopiri Dandi. Si asisten ganteng itu memang serba bisa dan multifungsi. Apa pun pekerjaan yang diberikan atasannya, dia selalu aman terkendali dan beres pada waktunya.


Selama perjalanan menuju lokasi proyek. Garda duduk di kursi depan. Dandi sebagai sopir tentu duduk di belakang kemudi. Kedua pria itu lebih banyak terlibat pembicaraan. Keduanya fokus pada topik pembicaraan seputar pembangunan pabrik. Juga proyek lainnya di bawah naungan Negara's Group.


Sedangkan Meella yang berada di kursi belakang. Tampak sedikit terasing karena lebih banyak diam dengan aroma minyak telon menguar dari tubuhnya. Sepertinya kedua pria di depannya sudah tidak terganggu lagi, karena mulai terbiasa dengan aroma bayi dipakainya.


Sebagai seorang sekretaris CEO perusahaan besar, tugasnya tergolong lebih ringan. Bahkan terkadang Meella merasa tenaganya tidak dibutuhkan oleh perusahaan. Karena hampir semua pekerjaannya sudah dihandle oleh Dandi, si asisten pribadi Garda. Akibatnya tidak sedikit rekan kerjanya di kantor yang mencemooh Meella. Tidak jarang Meella dijadikan bahan gosip oleh mereka. Dengan berbagai macam tuduhan.


'Kerja ringan tetapi mendapat gaji lebih besar dari karyawan lainnya.'


'Tukang ketik CEO tapi penampilan cupu.'


'Penampilan cupu tapi suhu. Karena menjadi simpanan bos.'


Karena semua gosip itulah Meella jadi enggan bergaul dengan mereka. Dia yang tidak pandai bergaul hanya bisa menghindari mereka. Telinganya terlalu tipis mendengar semua hinaan mereka. Juga tidak tahan melihat tatapan mengintimidasi mereka. Bahkan mereka mampu mempengaruhi Bianca agar segera memecat Meella. Dan hal itu hampir berhasil jika Garda mau menuruti keinginan Bianca. Padahal itulah yang diinginkan Meella juga. Dipecat agar bisa lepas dari genggaman Garda.


Meella tahu dan selalu sadar tentang asal muasal dirinya bergabung di perusahaan pusat ini. Apalagi saat tahu CEO perusahaan adalah orang yang telah merenggut masa depannya. Dia merasa terjebak dan tidak berbuat apa-apa agar bisa pergi dari perusahaan. Entah mengundurkan diri sendiri atau dipecat secara tidak hormat. Meella yakin Garda tahu tentang desas-desus di kantor tentang dia dan Meella. Tetapi pria itu seakan tidak punya telinga, tidak pernah menggubris suara-suara sumir itu.


Sebenarnya Meella sudah tidak tahan menghadapi semua masalah hidupnya yang dapat silih berganti. Terkadang masalah yang satu belum selesai, sudah timbul masalah baru. Seperti saat ini. Tentang kehamilannya yang entah sampai kapan ia sembunyikan. Jika pun harus dipublikasikan, entah dengan cara apa dia mengungkapkan. Semuanya serba ribet dan ruwet.


Semula Meella pikir dengan membatalkan rencana pernikahannya dengan Mirza. Adalah akhir dari segalanya. Selain untuk menghindari malu karena tidak memiliki apa-apa yang dibanggakan sebagai perempuan baik-baik. Juga khawatir tidak bisa memberikan malam pertama yang indah untuk Mirza. Kendati Mirza tidak mempermasalahkan hal itu. Dengan lapang dada dia akan menerima Meella apa adanya walau tidak perawan sekali pun.


Ternyata kenyataan tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Setelah rasa percaya dirinya hancur akibat dipermalukan oleh Raisya, adik kesayangan Mirza. Rupanya gadis itu dalang dibalik hilangnya kesucian Meella. Entah dosa apa yang diperbuatnya di masa lalu, hingga tega sudah menjebak Meella tidur dengan pria lain dalam kamar hotel. Kala itu target sebenarnya adalah Mitha. Mirisnya penjebakan itu bukan untuk Meella melainkan Mitha. Lantaran Raisya tidak tahu jika Mitha dan Meella kembar identik. Maka terjadilah insiden salah sasaran.


''Apakah kamu hamil?'' tiba-tiba Meella teringat dengan pertanyaan Garda semalam, yang sempat diungkapkan sebelum Meella turun dari mobil, setelah tiba di hotel.


Deg!


Degup jantung Meella tiba-tiba memompa lebih cepat. Bersamaan saat ia hendak membuka pintu mobil ingin beranjak keluar.


''Kata Dandi, saya mirip seorang suami yang mengalami Couvade Syndrome,'' lanjut Garda sedikit malu juga ragu.


Meella mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dibicarakan Garda.


''Couvade Syndrome?'' cicitnya mengulangi dua kata yang tidak ia mengerti sama sekali. Lalu mengalihkan pandangannya pada Garda dengan sorot penuh tanya.


''Couvade Syndrome atau kehamilan simpatik, adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil,'' tutur Garda cepat menjelaskan apa yang dimaksudnya.


''Maksud Bapak..., Bapak...,'' Meella bingung harus bertanya atau mengatakan apa. Hanya menggerakkan satu telapak tangannya untuk membantunya berkomunikasi.

__ADS_1


''Memang sih, saya gak percaya seratus persen. Tapi akhir-akhir ini saya mengalami seperti... gejala berupa sembelit, gas, kembung, mudah marah, mual, dan lainnya. sedang mengidam.''


Meella mengangguk paham sekarang.


"Eh..., mungkin aja Pak Dandi lagi bercanda sama Bapak," tukas Meella menepis keresahannya sendiri. Lalu terkikik pelan bersamaan ketika Garda menoleh ke arahnya.


Tentu membuat Garda takjub melihat wajah Meella yang biasa dingin dan kaku. Kini berhias senyum manis.


''Mungkin aja nona Bianca yang hamil, Pak,'' Meella masih belum siap berterus-terang tentang fakta kehamilannya pada siapa pun. ''Bisa aja kan, Pak?'' tekannya berusaha beralibi.


''Masa sih?'' raut wajah Garda menyiratkan keraguan.


''Kenapa nggak? Kan Bapak udah lama pacaran dengan nona Bianca. Bahkan Bapak dan nona Bianca sudah tunangan. Sebentar lagi juga akan menikah. Bisa aja Bapak dan nona Bianca udah melakukan hubungan suami-istri,'' sahut Meella mendadak menjadi orang sok tahu.


''Oya?''


Meella terpaksa meneguk salivanya susah payah. Mendadak jadi grogi mendapat tatapan menyelidik dari Garda. Ia pun mengutuk dirinya sendiri telah berbicara lancang pada atasannya itu.


''Sepertinya... kamu tahu betul ya tentang hubungan kami?'' ejek Garda dengan mata elangnya yang terasa mengintimidasinya.


''Bu-bukan begitu. Saya hanya dengar-dengar aja dari karyawan lain di kantor,'' ucapnya membela diri.


''Hmhh... bisa jadi,'' Garda mendengus seraya mengelus dagunya dengan jari kanannya.


Meella membelalak kaget mendengar ucapan Garda, entah jujur atau sedang berbohong. Tidak ada pentingnya juga untuknya. Dadanya berdesir kencang. Mungkin wajahnya sudah memucat sekarang. Makanya dia menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapan Garda. Menatap jari-jari tangannya sendiri di atas pangkuan yang terkadang bergerak gelisah. Terkadang pula saling bertaut.


Garda menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan. Seakan sedang berusaha mengeluarkan sesuatu yang terasa membebani dirinya.


''Meel...'' panggil Garda lembut. Kini tubuh Garda sudah menyamping ke arah kiri. Dengan tangan kanan di atas gagang setir, dan tangan lainnya sengaja di letakkan di atas sandaran kursi mobil.


Meella langsung mendongakkan wajahnya menghadap Garda, yang sedang menatapnya lekat.


''Jujur, saya gak yakin dengan semua yang diucapkan Dandi. Tapi saya yakin, jika di malam kejadian kita melakukannya, saya gak pakai pengamanan sama sekali.''


Jederrr


Bagai petir di siang bolong yang keras dan mengejutkan. Keterkejutan Meella mendengar pengakuan Garda yang satu ini.


''Dan, saya sangat menikmati percintaan kita malam itu,'' tegas Garda mengingat percintaannya bersama Meella untuk yang kedua kali di kamar apartemen. Sementara Meella mengingat malam kejadian itu. Karena Meella tidak tahu apa yang dirasakannya saat itu adalah nyata.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan yang bersumber dari kaca jendela mobil di samping Meella. Terpaksa menyeretnya ke alam sadar. Terlalu larut dalam lamunannya, sampai tidak terasa mobil telah berhenti tepat di tempat tujuan.

__ADS_1


Meella langsung mendongakkan wajahnya menatap ke kursi depan yang telah kosong. Kemudian beralih pada jendela di sampingnya. Terlihat bayangan Dandi yang sedang mengetuk kaca luar mobil. Dia pun segera menurunkan menekan tombol yang ada di balik pintu mobil untuk menurunkan kaca jendela samping.


''Kamu masih betah berlama-lama di situ, Meella?'' tegur Dandi sinis.


''Maaf, Pak. Saya gak bermaksud...''


''Cepat turun! Atau saya tinggal kamu di sini buat jadi penunggu di sini, mau?" tekan Dandi tampak tidak sabaran mengahadapi ibu hamil itu.


"Baik, Pak. Saya turun sekarang," sahut Meella cepat. Bergerak menutup kaca mobil kembali. Setelahnya membuka pintu, turun dari kursi penumpang. Dan menutupnya hingga terdengar bunyi kedebum.


Meella mengikuti langkah kaki Dandi dari belakang. Pandangan matanya menyapu ke seluruh penjuru. Banyak pekerja konstruksi beraktivitas sesuai tugas masing-masing. Ada pula alat berat di sana untuk menjangkau tempat yang sulit dijangkau tenaga manusia. Gedung luas dan besar yang pengerjaannya sudah mencapai enam puluh persen. Atau baru setengah jadi. Masih butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan proses pengerjaannya.


Kini, langkah kaki Dandi berhenti tepat di samping Garda yang tengah berbicara dengan seorang pria beratribut petugas lapangan. Mungkin dia adalah kepala proyek yang bertanggungjawab atas semua pembangunan pabrik ini.


Tanpa diminta Meella pun menghentikan langkahnya tepat di belakang Dandi. Pandangan matanya terus saja terfokus pada sekitar gedung dengan kesibukan yang ada. Entah gerak para pekerja. Mesin konstruksi, dan lainnya yang tidak bisa dia jabarkan satu persatu. Lagi pula Meella tidak terlalu mengerti dengan apa yang ada di sini. Ini adalah pengalaman pertamanya terjun langsung ke lapangan seperti ini. Karena dulu dia bekerja di bagian kantor saja dengan rekan satu divisinya.


Garda dan Dandi memakai helm proyek terlebih dahulu, sebelum menuju lokasi yang akan ditinjau.


''Hei, pakai ini!" seru Dandi menyodorkan helm proyek agar segera dipakai Meella.


Tatapan Meella langsung teralihkan, menundukkan pandangannya pada benda untuk pelindung kepala berwarna terang itu. Kemudian menerima dengan ragu. Memakainya pun ogah. Lidahnya ingin sekali berucap untuk menolak ikut mereka berkeliling bangunan yang tidak kecil ini. Indra penciumannya sudah menghidu bermacam-macam bau yang sulit dicerna di otaknya. Hanya memicu rasa pusing dan mual.


Meella ingin berdiam diri saja di sudut ruangan yang hening. Tanpa adanya aroma-aroma aneh yang menyengat seperti ini. Tapi bagaimana dia harus mengungkapkannya.


''Ya ampun Meella... kamu jangan mulai deh. Kamu di sini buat bekerja jadi karyawan. Bukan mau jadi ratu pangeran Inggris. Jadi jangan sok manja deh di depan saya,'' ketus Dandi saat melihat wajah Meella yang tampak memucat.


Entah mengapa sejak Meella kembali dari izin cutinya. Tampang Dandi kian jutek dan dingin padanya. Padahal tidak ada masalah dan salah yang dilakukan Meella pada Dandi sebelumnya. Pasalnya setiap pekerjaan yang diberikan Dandi, selalu Meella kerjakan dengan baik dan cepat sesuai waktu yang telah ditentukan.


Benar kata Dandi, di sini Meella bekerja bukan untuk bermalas-malasan.


''Baik, Pak,'' sahutnya mengangguk mengerti. Lalu mengambil alih helm itu dari tangan Dandi.


Garda hanya diam saja melihat Meella yang sedang diceramahi oleh Dandi. Dalam hati dia iba melihat wajah gadis itu yang memucat. Mungkin gadis itu sedang tidak enak badan. Tapi dipaksakan untuk tetap bekerja.


''Meella?''


Meella langsung mendongakkan wajahnya mendengar namanya disebut. Lalu mencari sumber suara.


''Mirza,'' bisik Meella pelan.


Pria itu pun langsung tersenyum melihat gadis yang sudah lama dirindukannya.


Garda menatap pria itu dengan tatapan tidak sukanya.

__ADS_1


'Siapa pria ini? Mengapa dia terlihat akrab sekali dengan Meella? Apakah mereka berdua sudah saling mengenal?' otak Garda terasa berputar menggemakan pertanyaan yang berderet panjang. Namun dia tidak memiliki jawaban yang tepat untuk meredam rasa cemburunya yang sulit padam.


__ADS_2