
Hai readers... mohon maaf nih author baru nongol bawa episode terbaru. Harap maklum yah... hehehe...
Jangan lupa like, vote, hadiah dan komentar kalian untuk menilai karya author yang masih amatir ini.
Oke, happy reading ya...
*************************************
“Iya, Bi…,”
“Bi…”
“Bi,”
“Bi.”
Suara familiar itu terus saja berdengung di telinga Qameella hingga masuk ke dalam alam mimpi.
“Garda!”
Qameella terlonjak duduk, terbangun dari tidur lelapnya. Lalu mengusap wajahnya kasar seraya beristighfar, setelah menyadari apa yang dilihatnya hanya mimpi. Kemudian menyandarkan bahunya pada kepala ranjang, menghela napas berat.
Sejenak terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk mata. Hatinya terasa pilu acap kali teringat Garda, juga kecelakaan yang memisahkan mereka untuk selamanya. Dan semuanya masih terasa segar dalam ingatan. Rasanya seperti baru kemarin dia bertemu dan menikah dengan pemuda tanggung itu. Namun pada kenyataannya sudah lima tahun berlalu.
Entah sampai kapan Qameella akan bertahan hidup dalam kenangan-kenangan semu. Cintanya terlalu besar dan kuat kepada Garda. Hingga dunianya yang seharusnya ceria dan penuh warna, dibiarkannya terasa hampa dan sunyi tanpa kehadiran seseorang di sisinya.
Walau pun Qameella selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata minusnya. Bukan berarti tidak ada satu pun lelaki yang tertarik dengannya. Pada kenyataannya beberapa teman kampusnya saat kuliah berusaha mendekatinya. Namun sayang seribu sayang, tidak ada satu pun di antara mereka yang mampu menggetarkan hati gadis itu. Seakan mata hatinya membuta dan batinnya mati rasa. Tidak ragu menolak jika ada lelaki lain yang berusaha mendekati.
Hati Qameella seakan sudah membatu. Tidak pernah mau menghiraukan nasihat Gusti dan Maryam, sering kali membujuknya agar tidak lagi hidup sendirian dan melupakan Garda. Karena sudah sewajarnya Qameella bisa hidup normal seperti gadis seusianya.
__ADS_1
Di usia Qameella yang kini sudah cukup memasuki usia menikah, Gusti sangat berharap dia bisa menikah secapatnya. Bahkan pria itu tidak hanya berpangku tangan. Berkali-kali dia menjodohkan Qameella dengan anak temannya. Begitu juga dengan Maryam.
Mereka berpikir dengan mengenalkan Qameella dengan pemuda-pemuda itu, dapat menciptakan hubungan yang sangat diharapkan. Karena mereka khawatir Qameella akan hidup selamanya menjadi perawan tua. Oh, maaf ralat! Janda seumur hidup. Sementara hubungan Qarmitha dengan pacarnya sudah sangat serius, hendak melangkah ke jenjang selanjutnya. Dan Gusti sangat berharap agar kedua putri kembarnya dapat menikah bersamaan.
Lagi, lagi hati Qameella terlalu sulit untuk diluluhkan. Bukannya menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk menikah. Gadis itu malah memilih pergi dari rumah, hidup sendiri di rumah kontrakan dekat dengan tempat kerjanya. Dan akan pulang saat diminta pulang oleh Gusti atau Maryam.
Qameella tidak bermaksud ingin menjadi anak durhaka pada kedua orang tuanya. Dia hanya ingin cari aman saja. Mencari damai dengan menghindari pertengkaran. Pasalnya Gusti akan selalu naik darah bila menghadapi Qameella yang keras kepala. Tentu saja akan berdampak tidak baik bagi kesehatan Gusti yang saat ini kurang stabil.
Dan gadis itu sadar sumber ketidakstabilan kondisi kesehatan Gusti adalah dirinya sendiri. Karena sikapnya yang akan diam membatu bila dinasihati. Tanpa mengatakan iya atau tidak. Sungguh membuat Gusti terkadang meradang. Sangat berbeda dengan Qarmitha yang selalu bicara banyak. Bila suka akan mengungkapkan isi hatinya. Juga akan mengeluarkan dalih yang panjang bila dirinya tidak setuju.
Pukul dua lewat empat puluh menit dini hari. Masih mala. Bisik batin Qameella saat melirik jam kecil di atas nakas samping tempat tidurnya.
Langit masih terlihat gelap; masih jauh dari pagi. Qameella tidak bisa tidur kembali setelah terbangun dari mimpinya. Dia pun tidak bisa melakukan aktifitas lainnya saat pagi buta rata seperti ini. Kecuali melakukan SLI. yaitu Sambungan Langsung Ilahi dengan melakukan sholat tahajjud.
Sebelum beranjak dari tempat tidurnya. Qameella menyempatkan diri menyapa Garda yang sedang tersenyum dalam figura foto.
"Selamat pagi," ujarnya meraih foto itu di sisi tempatnya berbaring. Kegiatan ini sering dilakukannya setiap bangun tidur, dan tidak pernah alfa.
"Bagaimana kabarmu, sayang di sana?" tanyanya pada benda di tangannya. "semoga kamu bahagia di sana. Tunggu saya sampai saat itu tiba. Saat kita dipersatukan kembali," lanjutnya penuh harap.
Setelah selesai bermonolog di depan figura foto Garda, Qameella bergerak beranjak masuk dalam kamar mandi. Mandi, dan mengambil wudhu.
Keluar dari kamar mandi, berpakaian rapi. Menggelar sajadah menghadap kiblat. Mengenakan mukena langsung melakukan sholat tahajjud dengan khusyuk. Setelah mengucap salam Qameella berzikir sebentar, lalu memanjatkan doa untuk dirinya sendiri juga keselamatan dan kesehatan keluarganya. Tidak ketinggalan untuk Garda agar diberikan pengampunan dari Allah, serta diberi keringanan siksa kubur.
*
Di dalam sebuah kamar yang megah dan luas. Dengan cahaya temaram berasal dari lampu tidur di atas nakas sisi ranjang. Tampak terbaring seorang pemuda tampan di balik selimut tebalnya, di atas kasur king size-nya yang mewah. Dia tampak tenang dalam buaian bunga tidurnya.
Keindahan alam mimpi yang diselaminya, menuntun masuk dan terhanyut ke alam bawah sadar. Pemuda itu merasa ada dalam sebuah hutan belantara yang entah dimana. Mungkin di negeri antah berantah seperti cerita dalam dongeng anak-anak.
__ADS_1
Di dalam hutan yang ditumbuhi berbagai macam jenis pepohonan dan tumbuhan liar. Sinar matahari yang cerah tidak bisa menembus lebatnya pepohonan juga menjulang tinggi dan besar. Hanya melalui celah-celah kecil di antara dedaunan yang tidak terlalu rapat cahayanya baru tampak terlihat.
Sang pemuda sendirian menyusuri medan yang terbilang tidak terlalu sulit, tapi tidak juga dikatakan mudah tanpa arah dan tujuan pasti. Walau hanya dalam alam mimpi dia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi di sini.
Tidak ada aktifitas manusia selain dirinya di sini. Hanya suara kicauan burung yang bernyanyi merdu memecah keheningan. Para serangga hutan pun ikut unjuk suara untuk menunjukkan eksistensinya.
"Gar..." tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan seakan memanggilnya entah dari mana asalnya. Suaranya terdengar keras dan melengking hingga menghasilkan bunyi pantul di udara. "Gar! Gar! Gar!"
Siapa dia? Mengapa orang itu tahu namanya? Tentu saja si pemuda pun tidak tahu jawabannya.
Buru-buru dia bergerak mencari menembus lebatnya semak dan belukar mencari sumber suara yang entah ada dimana. Dia hanya mengikuti instingnya.
"Garda..., Gardaa, Gardaa, Gardaa," suara itu kembali memanggilnya lebih lengkap, disertai bunyi pantul yang menggema di udara.
Lama berjalan yang terkadang dipercepat dan tak jarang diperlambat karena kakinya lelah melangkah. Akhirnya dia sampai pada kumpulan air berwarna biru kehijauan nan jernih. Angin berhembus sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang putih bersih.
Sepanjang matanya memandang hanya pepohonan menghijau yang membingkai danau jernih dan tenang di depannya. Sinar matahari kini dapat ia rasakan hangat menyentuh permukaan kulitnya yang mulus. Seulas senyum samar terukir di bibirnya seraya memejamkan mata. Menghirup dalam-dalam udara yang terasa sangat segar sembari kedua tangannya membentang rendah.
"Ah... betapa damainya tempat ini?" gumamnya masih menikmati. Dia sepertinya sudah lupa dengan tujuannya semula. Mungkin rungunya tidak lagi menangkap suara itu lagi.
"Garda," suara itu kembali terdengar, kali ini terasa lebih dekat.
Sontak si pemuda membuka lebar matanya. Langsung bersirobok dengan sosok perempuan cantik, berdiri enam meter dari tempatnya berdiri. Rambutnya tergerai panjang dan hitam. Dia tidak bisa mengenali dengan jelas siapa gadis itu karena sebagian wajahnya tertutup oleh rambut yang sedang tertiup angin. Dan gadis itu tidak berusaha menyingkirkannya, hanya membiarkannya seperti itu. Dan gadis itu tersenyum sangat indah.
"Bi?"
Entah mengapa dia malah menyahut dengan memanggil demikian. Padahal dia tahu dengan jelas gadis itu bukan Bianca. Yang kerap disapanya dengan sebutan 'Bi'. Anehnya, batinnya dengan batin gadis itu terasa terikat sangat erat. Namun dia
Pemuda itu adalah Garda. Dia berhasil selamat dari maut. Namun akibat amnesia yang dialaminya, dia lupa dengan masa lalunya. Termasuk sosok gadis itu. Dia benar-benar sudah tidak ingat lagi. Padahal dulu dia sangat mencintainya, berjanji akan selalu bersama hingga maut memisahkan. Ya, gadis itu adalah Qameella, istri kecilnya dulu. Belahan jiwanya.
__ADS_1
*
Ceritanya sampai di sini dulu ya. Next episode diusahakan (besok) coming soon...