Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#100


__ADS_3

Happy reading...


Tubuh Mitha membungkuk dengan sebelah tangan menutup luka yang terus-menerus mengeluarkan cairan berwarna merah pekat, disertai bau anyir khas darah manusia. Dia menahan rasa sakit yang teramat akibat tusukan pisau dari wanita gila itu. Matanya mulai berkunang-kunang. Tubuhnya pun limbung nyaris jatuh tersungkur di atas lantai. Namun hal itu tidak sempat terjadi karena Rega lebih dulu menggapai tubuhnya.


''Ga, kamu datang?'' suara Mitha begitu lirih dan lemah. Wajahnya tampak mengkerut menahan sakit yang teramat di bagian perutnya. ''ssstttthhhh.''


Wajahnya pucat dengan peluh membasahi kening. Lebam di area pipi. Dan ada noda darah yang tidak lagi mengalir di sudut bibirnya. Tetapi dia tetap menyunggingkan senyum saat suaminya yang cuek dan dingin datang menolongnya.


Rega mengangguk cepat. Bola matanya memerah menahan air mata yang siap turun kapan saja.


''Ka-kamu bertahan ya,'' pintanya lalu menggendong ala bridal tubuh Mitha yang sudah tidak berdaya. ''kita ke rumah sakit sekarang.''


''Pandega, sayang....'' suara Bianca memanggil Rega yang dianggapnya Garda. Tangannya sempat menggapai ujung celana kain yang dipakai Rega. Hingga sempat menghentikan langkahnya untuk bergerak.


''Dasar wanita laknat! Jauhkan tangan kotor dan menjijikkan itu dari ku!" hardik Rega menyentak tangan Bianca dengan kakinya. Lalu dia segera beranjak pergi sebelum Mitha benar-benar kehabisan darah.


''BIANCA!!!" teriakan itu bukan suara Rega. Melainkan Garda yang baru saja masuk ke dalam ruangan laknat, saksi bisu penganiayaan serta penusukan Mitha.


Tatapan matanya tajam seakan ingin menghunus, menembus dan mengoyak jantung Bianca. Ya, kali ini Garda tidak lagi bisa menahan diri untuk diam saja. Setelah melihat apa yang sudah dilakukan wanita sialan itu.


"Hah, bagaimana mungkin?" desis Bianca tidak percaya.


Selama ini Bianca tidak tahu jika Garda memiliki saudara kembar. Dan matanya kian terbelalak setelah melihat wajah perempuan yang terakhir sampai. Karena wajahnya sangat mirip dengan wajah perempuan tadi yang ditusuknya menggunakan pisau lipat.


Kepala Bianca menggeleng-geleng tidak percaya atas apa yang telah dilihatnya.


Bianca memang sudah lama menyusun rencana untuk mencelakai Meella. Karena rasa cemburu yang begitu besar, dan rasa takut kehilangan Garda yang begitu tinggi. Ya, tentu saja dia takut. Karena Garda merupakan barang tambang yang sangat berharga. Selain dapat menyuburkan perusahaan orang tuanya. Juga dapat menopang karir keartisannya menjadi lebih sukses.


Tetapi bukan bermaksud untuk mencelakai orang lain. Apalagi sampai menghilangkan nyawa orang yang tidak ada hubungannya dengan misi awal.


Kini, Bianca sudah membuat kesalahan fatal. Entah apa yang terjadi pada perusahaan orang tuanya dan karirnya kelak.


Bianca terperangah dan terkejut secara bersamaan melihat dua sosok pria berwajah sama. Netranya menatap secara bergantian dua sorot mata tidak bersahabat itu.


Dengan langkah cepat Garda bergerak maju mendekati saudara kembarnya, Rega. Melihat kondisi kakak iparnya yang sudah tidak berdaya dalam gendongan. Dalam hati dia turut sedih melihat kondisi Mitha. Wajahnya kian pucat. Darah masih mengalir dari perutnya.


Tapi di sudut hati yang lain ada kelegaan secara bersamaan. Itu berarti Meella dalam keadaan aman. Sekilas memang terdengar kejam. Karena itulah kenyataannya. Dan setidaknya orang yang dicintai juga buah hati dalam kandungan Meella selamat.


''Bawalah Mitha ke rumah sakit segera. Biar ini gue yang urus,'' cetus Garda memberi pesan pada Rega.

__ADS_1


Tanpa diminta dua kali Rega bergerak meninggalkan ruangan itu. Bertepatan dengan samar-samar suara sirine mobil ambulans terdengar perlahan mendekat.


NGIUNG... NGIUNG... NGIUNG


NGIUNG... NGIUNG... NGIUNG


Garda mencengkeram kedua bahu wanita yang saat ini sedang bergetar hebat. Membantunya berdiri Tampak sekali ketakutan di matanya.


''S-sayang... please, maafin aku. Aku bisa jelasin ini semua...,'' Bianca mengiba dengan wajah sendu dan memelas sedih.


Garda menyeringai miring. Aura gelap menyelimuti wajah tampannya, menutupi pesona indahnya yang selalu terpancar.


''Kamu pikir, setelah apa yang terjadi aku akan diam saja?'' geram Garda dengan sorot tajam seakan dapat meluluh lantakkan siapa saja yang melihatnya.


Keringat dingin mengucur deras di kening, leher dan tangannya. Tubuhnya Sepertinya menggigil ketakutan lengkap dengan wajah pucatnya.


Tidak lama berselang datang dua orang berseragam serba putih berlari membawa brankar. Kedua orang itu petugas kesehatan yang sengaja diminta datang untuk mengevakuasi korban. Setelah mendapat telepon entah dari siapa. Yang jelas mereka diminta bergerak secepat mungkin agar tidak terlambat memberikan pertolongan.


Disusul oleh dua perempuan di belakang mereka. Keduanya tampak terengah-engah saat mencapai pintu. Mungkin mereka habis berlari agar bisa segera sampai.


''Mitha!" pekik perempuan yang pertama kali tiba. Dia adalah Tari.


"Thatha!" teriak perempuan yang terakhir kali sampai. Suaranya terdengar lebih lemah, begitu pula dengan pergerakannya yang tampak terbatas.


Rega langsung membaringkan tubuh tidak berdaya Mitha di atas brankar. Setelahnya brankar tersebut segera didorong cepat menuju mobil ambulans.


Ketika aktivitas itu berlangsung, Garda dan Bianca sempat memperhatikan sejak. Tentu dengan ekspresi yang berbeda pada keduanya. Jika Garda tersenyum lega melihat kakak iparnya berhasil dievakuasi. Serta sosok yang dirindukannya dalam keadaan baik-baik saja. Maka sebaiknya pada Bianca. Dia bertambah syok melihat kehadiran Meella. Target yang sesungguhnya dengan kondisi baik-baik saja. Dan membuat dia sulit percaya adalah wajah Meella benar-benar sangat mirip dengan perempuan yang ditusuknya.


''Argh! Gak mungkin! Gak mungkin! Gak mungkin..." pekik Bianca histeris seraya memegang sisi kanan dan kiri kepalanya. Lalu menggeleng tegas masih sambil berkata 'Gak mungkin!'


Rega menghentikan langkahnya sejenak saat mendengar teriakkan Bianca sudah seperti orang kesetanan. Tapi tidak membuat luluh hatinya dan dia memberi peringatan keras pada Bianca.


''Ingatlah, wanita KEPARAT! Aku tidak akan tinggal diam atas apa yang sudah kau lakukan pada istriku. Aku berjanji, aku akan buat perhitungan denganmu kelak.''


Setelahnya Rega kembali melanjutkan langkahnya yang segera dipercepat agar tidak terlambat membawa Mitha ke rumah sakit.


Otak Bianca seakan ingin meledak menghadapi kenyataan ini. Dia berteriak-teriak tidak jelas dengan raut ketakutannya.


Tari dan Meella tidak mau ambil pusing dengan wanita stress itu. Juga Garda yang masih memegang bahu Bianca. Tanpa basa-basi keduanya segera menyusul Rega.

__ADS_1


Hati Garda mencelos melihat sikap acuh tak acuh Meella. Tanpa sadar pegangan tangannya kian menguat pada bahu Bianca.


Pihak berwajib datang meringkus para pelaku penculikan. Mereka tidak sempat berkelit atau menghindar dari jerat hukum. Hanya bisa pasrah diangkut dalam mobil tahanan. Termasuk Bianca, otak semua yang telah terjadi pada hari ini. Namun Bianca tidak seperti orang-orang suruhannya yang pasrah begitu saja. Wanita itu susah payah memohon pengampunan dari Garda terutama. Berbagai kalimat berbau rayuan diucapkan untuk membujuk pria yang masih berstatus tunangan. Hanya berakhir bagai angin lalu di telinga Garda.


Garda menatap datar kepergian Bianca dengan uraian air matanya. Di dalam hatinya tidak ada setitik rasa sedikit pun yang tertinggal untuk wanita itu. Sejak ingatannya sembuh di dalam sanubarinya hanya tertinggal satu nama terpatri, Meella. Hanya itu tiada yang lain.


*


Mitha langsung dibawa ke dalam ruang operasi untuk menangani luka menganga di perutnya.


Rega ingin sekali menjadi salah satu tim dokter yang menangani operasi Mitha. Namun salah satu rekan dokternya tidak mengizinkan Keikutsertaannya. Mengingat kondisi psikis Rega yang kurang stabil pasca menghadapi komplotan penculik yang menyekap istrinya, Mitha.


Alhasil Rega hanya duduk di ruang tunggu di depan ruang operasi. Mengaitkan kedua tangannya dengan siku sebagai tumpuan di atas kedua pahanya. Kemudian menenggelamkan wajahnya di tumpukan tangannya itu.


Berkali-kali Rega menghela napas panjang dan pelan. Berharap semua kegelisahan yang bersarang dalam hatinya sirna. Namun nihil. Sampai satu suara terdengar di rungunya. Membawa atensinya ke samping. Di mana ada seorang gadis duduk di kursi yang sama, dengan jarak cukup jauh.


Rega tertegun sejenak menatap wajah yang sangat mirip dengan Mitha, istrinya. Hanya saja gadis itu memakai kacamata yang selalu bertengger di pangkal hidungnya.


Haiih... mengapa dia lupa jika sedang bersama Meella. Ya, kini mereka hanya berdua di ruang tunggu ini. Karena Tari bisa ikut menunggu karena harus buru-buru kembali ke kedainya. Ada banyak pekerjaan yang sudah menunggunya di sana. Sementara Garda masih dalam perjalanan menuju ke sini.


"Makasih ya, Ga," ucap Meella tiba-tiba. ''aku gak bisa bayangin apa yang akan terjadi sama Thatha, kalo kamu gak cepat datang. Makasih untuk semuanya.''


''Aku suaminya. Wajar aku melakukan semua ini untuk Mitha. Walau bagaimanapun aku juga gak mau terjadi hal buruk sama dia,'' sahut Rega bijaksana. ''jadi, aku rasa perbuatan aku ini wajar dan memang sudah kewajiban aku sebagai suami melindungi istrinya.''


Meella tersenyum canggung. Lalu menundukkan wajahnya saat tatapan matanya beradu dengan pria yang begitu mirip dengan Garda itu. Entah mengapa dia tidak berani menatap netra coklat itu. Sama seperti saat SMA dulu. Mungkinkah perasaan itu kembali hadir?


Oh, Tuhan... sekarang bukan saatnya untuk bernostalgila begini.


''Maaf,'' ujarnya singkat tanpa sedikit pun mengangkat wajahnya.


Rega mengerutkan keningnya bingung sambil bergumam lirih.


''Hm?''


''Maksud aku... maaf udah buat Thatha celaka. Ya... walau pun bukan aku yang ngelakuin langsung. Tapi, aku tetap bersalah. Karena sebenarnya target mereka adalah aku. Mereka ingin menculik aku. Bukan Mitha. Berhubung wajah kami sangat mirip, jadi...''


''Jangan menyalahkan diri sendiri, Meel. Semua ini terjadi karena memang sudah takdir dari Tuhan,'' lagi, kalimat bijak itu bagaikan air es mengguyur kepala Meella. Begitu menyejukkan tanpa menyalahkan. Walau mungkin dalam hati ada segumpal perasaan yang hanya bisa dimengerti oleh Rega sendiri.


*

__ADS_1


Hai readers... sampai di sini dulu ya... kita sambung next episode nanti ya...


See you next time 😘🥰❤️🙏


__ADS_2