
Happy reading...
Dari jarak satu meter Garda melihat Meella sudah berjongkok di samping salah satu makam. Makam itu tidak keramik. Hanya rumput-rumput pendek dan rapi menyelimuti seluruh tanah makam itu. Sepertinya rumput-rumput itu dirawat dengan baik setiap hari hingga bentuknya bagus.
Meella meletakkan kotak donatnya di pinggir makam. Kedua tangannya menengadah memanjatkan doa kubur untuk belahan jiwanya yang sudah lama tidur panjang di dalam tanah. Bulir bening mengalir dari celah matanya. Dia begitu khusyuk memanjatkan doa-doa terbaiknya hingga lupa dengan pria yang sedari tadi mengekornya di belakang.
Garda tertegun dan matanya nanar bersamaan, melihat nama yang tertulis pada batu nisan di depannya. Berkali-kali ia mengeja semua suku kata itu dalam hati. Namun semuanya tetap sama.
Pandega Garda Negara
Bin
Andika Pratama Negara
Ya Tuhan... mengapa? Mengapa nama di batu nisan itu sama dengan namaku? Begitu juga dengan tanggal lahirnya sama persis dengan tanggal lahirku. Bahkan tanggal kematiannya pun sama persis dengan waktu kami kecelakaan enam tahun lalu.
Deg!
Garda benar-benar sangat terkejut. Tiba-tiba lututnya terasa lemas seperti lepas dari sendinya. Kepalanya mendadak pening dan terhuyung hampir terjungkal ke belakang. Syukurlah kedua kakinya masih sanggup berdiri dan mampu menopang tubuh besarnya.
Brukkk
Paper bag yang dibawa Garda terjatuh di atas tanah. Meella terjengit kaget. Sontak memaksanya memutar leher, menoleh ke arah suara yang begitu dekat dari tempatnya berjongkok. Lalu mendongakkan kepalanya. Meella baru ingat, jika bukan hanya ada dirinya di sini. Tapi ada orang lain yang tidak sengaja terlupakan dan tertinggal di belakangnya.
Sejenak dia merasa tidak enak hati pada pria itu. Apalagi melihat wajah Garda yang tampak memucat tegang. Entah apa yang terjadi dengan si bos, Meella tidak berpikir yang aneh-aneh. Dia hanya mengira hal itu sebagai bentuk rasa keterkejutan yang wajar. Karena siapa pun orangnya bila diajak ke tempat horor seperti areal pemakaman seperti ini, tidak mungkin akan biasa-biasa saja. Sudah pasti auto panik sekaligus parno.
Meella segera bangkit berdiri. Buru-buru dia meraih lengan kokoh Garda. Tubuh pria itu tampak tidak stabil.
"Bapak gak papa?" tanyanya khawatir.
Garda menggeleng tapi ekspresi wajahnya menunjukkan yang sebaliknya. Sekuat tenaga dia berusaha tetap tegar. Dalam hati berharap tidak tumbang dan hilang kesadaran atas kenyataan pahit ini.
Mengapa? Ada apa ini? bisik batin Garda bingung.
Dandi brengsek! Kenapa dia gak bilang kalo ada hal kaya gini? rutuknya dalam hati.
Meella tersenyum kecil mencoba mengerti perasaan bosnya yang sering sulit dipahaminya. Kemudian menepis tangannya sendiri dari lengan Garda dengan perasaan canggung, tadi dia sudah kurang ajar menyentuh sang bos tanpa permisi.
"Bapak pasti kaget, ya? Saya ajak datang ke sini?" imbuhnya.
"Kenapa..." lidah Garda terasa kelu dengan kegugupannya sendiri. Berkali-kali berusaha berpikir positif. Dengan mengatakan pada dirinya sendiri, ada banyak orang yang memiliki nama sama di dunia ini. Namun, otaknya menolak saat melihat nama orang tua, tanggal lahir dan tanggal kematiannya. Apa mungkin ada seperti itu?
__ADS_1
"Ini adalah makam suami saya," ujar Meella jujur. Pandangannya jatuh pada makam di sampingnya.
Jedder!!!
Bagai petir di siang bolong Garda mendengar pertanyaan Meella. Matanya membulat kaget. Suami?
"Bagaimana mungkin?..." sebenarnya pertanyaan ini ditujukan pada diri Garda sendiri. 'saya di kubur di sini. Saya masih hidup, dan kaki saya masih bisa menapak di bumi,' lanjutnya dalam hati lirih.
"Kami menikah muda. Waktu itu kami sama-sama masih duduk di bangku SMA. Tapi kami sekolah di SMA yang berbeda," tambah Meella sambil mengenang masa itu. Lalu tersipu mengingat masa itu.
"Hehehe... saya harap bapak gak berpikir buruk pada kami. Karena hubungan kami gak seperti pada umumnya."
Garda terpesona melihat Meella terkekeh pelan. Wajahnya jadi terlihat lebih cantik dan imut.
"Kami gak melakukan hubungan yang dilarang agama..."
"Saya tahu," sahut Garda memotong ucapan Meella. Tatapan matanya tidak lepas dari wajah cantik di depannya. "karena saya yang pertama menyentuh kamu," lanjutnya teringat noda merah yang tertinggal di atas seprei hotel tempatnya dan Meella berbagi peluh.
Blush
Pipi Meella memanas dan mungkin sudah merah merona setelah mendengar pernyataan Garda. Dia langsung mengalihkan pandangannya menutupi wajahnya yang sudah mirip seperti kepiting rebus.
Mungkin jika Meella tahu pria yang berdiri di depannya adalah Garda, suaminya yang telah lama dianggapnya mati, dengan senang hati mau menerima, anggap saja dia sedang melamarnya. Namun yang Meella tahu pria itu Pandega, atasannya yang diam-diam sangat dibencinya. Juga sudah memiliki tunangan. Dan sebentar lagi mereka akan menikah. Tentu Meella tidak mau ambil resiko menjadi pelakor. Bila di sinetron yang tayang di tv akan memiliki nasib yang tidak baik, serta dibenci banyak orang.
Meella menundukkan wajahnya lalu menggeleng, tidak mau meminta pertanggungjawaban pada Garda. Masa iya, cuma sekali berhubungan langsung hamil? pikirnya polos.
"Saya tahu bagaimana sakitnya dikhianati. Juga betapa menderitanya ditinggalkan," tuturnya ambigu lalu menjedanya sebentar. Dia tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya.
"Saya gak akan menjadi orang ketiga di hidup bapak dan Nona Bianca. Jadi saya pastikan, apa pun yang terjadi pada diri saya. Saya gak akan minta pertanggungjawaban dari bapak," dia begitu percaya diri mengatakan semua itu.
"Toh, apa yang kita lakukan hanya kekhilafan. Selain itu kita cuma melakukannya sekali. Dan saya yakin, gak akan yang terjadi pada saya," pungkasnya.
"Bukan Bi. Kita melakukannya lebih dari sekali sayang," sanggah Garda, tentu diucapkannya hanya dalam hati. Entah mengapa hatinya menciut untuk mengakui dosanya. Karena telah lancang meniduri perempuan di depannya ini.
Maaf!
"Apa kamu yakin jika yang meninggal itu... benar suami kamu?" pertanyaan yang membuat dahi Meella mengernyit dalam.
Mendadak Meella mengalihkan atensinya pada sang bos yang wajahnya mulai berubah ekspresi. Pria itu ekspresi wajahnya terlihat lebih tegang dan dingin. Namun jauh di dalam lubuk hatinya ada kegusaran yang berusaha mengusik ketenangan jiwanya.
"Saya memang gak lihat secara langsung suami saya dikuburkan. Karena saya sempat koma beberapa hari setelah kecelakaan itu. Tapi saya tahu dari sahabat suami. Itu pun setelah saya desak dia baru mau menjawabnya dengan jujur."
__ADS_1
Meella tersenyum getir. Hati Garda mencelos saat tahu Meella juga mengalami koma setelah kecelakaan. Tapi hatinya terasa tercubit sakit setelah mengetahui fakta dirinya telah dianggap mati. Bahkan sampai dibuatkan kuburan segala. Entah jasad siapa yang tertanam di dalam sana, menggantikan dirinya. Sudah tentu dia bisa menebak siapa dalang di balik drama ini. Andika si drama king yang hebat.
Bertahun-tahun Garda dibuat menjadi orang bodoh, telah percaya dengan mudah pada skenario hasil rekayasa Andika. Mungkin bila ada penghargaan bergengsi yang bisa diraih pria Casanova itu, penulis skenario kebohongan terbaik.
*
"Halo," ujar Garda saat sambungan teleponnya sudah terangkat di seberang sana.
"Segera selidiki makam atas nama aku. Siapa orang yang sebenarnya dikubur di sana. Juga orang-orang yang terlibat di balik semua ini. Aku berikan waktu dua hari laporkan semua hasilnya dengan lengkap," pungkasnya langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Kali ini Garda tidak meminta bantuan asisten pribadinya, Dandi. Dia sudah cukup hatam siapa saja orang-orang di sekitarnya. Termasuk si asisten yang selalu bisa diandalkan itu. Untuk saat ini dia ingin semuanya benar-benar tuntas tanpa campur tangan Andika. Orang nomor satu yang paling menentang hubungannya dengan dengan Meella.
Di tempat berbeda dalam ruangan kantor Andika. Pria itu baru saja masuk setelah keluar dari ruang rapat. Kemudian mendudukkan bokongnya di atas kursi kebesarannya. Tangan kirinya meraih berkas yang memang sudah ada di atas meja sebelah kirinya. Berkas yang belum sempat diperiksa. Namun saat akan membuka lembar pertama. Dering suara ponselnya menginterupsi. Tanpa menunggu dering ketiga, dia langsung menyentuh ikon tombol warna hijau pada layar.
"Katakan, ada apa?" tanyanya to the points.
"Gawat tuan. Tuan muda datang ke makamnya siang tadi bersama gadis itu," jawab orang di ujung sana.
"Apa?!" Andika terlonjak berdiri. Dia sangat terkejut. Jantungnya hampir melompat keluar.
"Bagaimana mungkin dia bisa ke sana?" kejarnya tidak sabaran.
"Tuan muda datang ke apartemen yang sekarang ditinggali oleh gadis itu. Menurut informasi yang saya dapat, tuan muda yang ingin ikut gadis itu untuk merayakan ulang tahun tuan muda, seperti tahun-tahun yang lalu di pemakaman. Tuan muda penasaran jadi ikut dengan gadis itu."
"Apakah Garda tahu sesuatu?"
"Dia tidak tahu tuan. Tuan muda hanya kaget melihat nama di nisan sama dengan nama tuan muda."
"Hmh. Apa ada tanda-tanda lain?" sejujurnya Andika takut amnesia Garda sembuh. Dan dapat mengingat semuanya. Apalagi dia baru saja mengalami kecelakaan, serta dapat luka di kepala. Bisa-bisa kacau semua rencananya.
"Sepertinya tidak tuan. Sepanjang pemantauan saya, sikap dan tingkah laku tuan muda masih normal seperti biasa, tuan."
"Oke. Awasi mereka terus. Jangan sampai kecolongan. Tunggu kabar dari aku sebelum bertindak," titahnya tegas.
"Baik, tuan."
Klik
Andika langsung memutus sambungan teleponnya. Rahangnya mengeras seraya menurunkan benda pipih dari telinganya. Tangan yang sedang menggenggam ponsel mengerat dan meremas seakan ingin menghancurkannya.
"Sial!" umpatnya marah.
__ADS_1