
Happy reading
****************
Di tengah gundah hatinya memikirkan nasib saudara kembarnya, Meella tetap berusaha bekerja secara profesional di kantor seperti biasa. Sebisa mungkin pekerjaannya dikerjakan dengan baik, agar tidak terjadi kesalahan yang menimbulkan masalah untuknya sendiri.
Membuatkan kopi untuk bosnya. Mengurus agenda kegiatan sang bos yang sangat padat, hingga menyebabkannya harus lembur walau tidak setiap hari. Kemudian mengetik dan membuat laporan yang akan diserahkan pada atasannya untuk ditandatangani, dan sebagainya. Semuanya berjalan normal tidak ada yang berubah sama sekali.
Pakaian yang dikenakannya pun masih dengan model yang sama. Atasan blezer panjang, dan bawahannya celana panjang longgar. Sepatu pantofel setinggi tiga senti meter. Kacamata minus kotak berbingkai hitam. Riasan wajah tipis dengan lipstik pink nude. Semuanya jauh dari kesan sexy. Cenderung norak dan pucat. Karena gadis itu hanya ingin terlihat biasa saja di mata siapa saja yang melihatnya.
Berbeda dengan Meella yang tampak baik-baik saja. Justru Garda yang malah terkesan aneh. Ya, sejak pergumulannya dengan Meella yang begitu impulsif. Suasana hati pria muda itu jadi tidak karuan. Mulai dari rasa ingin selalu melihat wajah gadis yang jauh dari kata cantik dan seksi, seperti wanita kebanyakan. Justru gadis itu terkesan seperti wanita yang sudah berumur di atas dua puluh lima tahun. Bisa dibilang tua gitulah!
Perasaan Garda berkembang setelah malam kemarin. Terutama setelah melihat wajah Meella yang ternyata cantik alami tanpa kacamata minusnya. Tubuh indah yang selalu tersamar dari balik seragam kantor yang kegedean. Dan sensasi bercinta di luar nalar. Walau pun kondisi Meella saat itu, entah sadar atau tidak hal itu tidak mempengaruhi Garda. Tapi bisikan cinta yang diungkapkannya mampu membangkitkan gairah Garda dengan sangat baik.
Jauh berbeda ketika sedang bersama Bianca. Perasaan yang hadir dalam hati Garda untuk gadis itu, cenderung datar tanpa gelombang cinta yang menggelora. Sungguh kah ini artinya dia sudah pindah ke lain hati?
Garda benar-benar kehilangan fokusnya saat menatap sekretaris barunya, yang kini duduk di kursi depannya, sambil membacakan serangkaian agenda kegiatan Garda selama satu hari penuh. Apalagi ketika melihat bibir Meella yang sedang berbicara. Sungguh sangat menggemaskan. Ingin rasanya Garda ********** tak tersisa.
****! Ngaco!
Garda berusaha mewaraskan otaknya yang sudah berada pada mood lampu kuning.
"Bapak kenapa? Sakit?" suara teguran Meella menyadarkan Garda dari kehaluannya.
"Ah, ya... saya baik. Tentu, saya baik-baik saja. Juga masih normal," sahutnya terbata. Menghalau pikiran mesumnya yang datang tiba-tiba.
Meella mengangkat sebelah alisnya. Mengerut keheranan melihat bosnya yang sepertinya rada eror.
"Bapak perlu obat?" ucap Meella mencoba menawarkan, siapa tahu butuh.
"Enggak, gak makasih. Buat apa obat. Tubuh saya sehat wal Afiat gini kok. Ngapain minum obat," kilahnya.
"Ya... siapa tahu aja butuh sebagai persediaan, jika sewaktu-waktu bapak sakit, obat udah tersedia, tinggal minum."
Sungguh saran yang sangat biasa yang diucapkan Meella. Namun entah mengapa membuat Garda menatap gadis itu begitu serius. Seakan ada ucapannya yang menyinggung si bos. Sontak bibir Meella mengkerut takut, saat netranya bertemu tatap dengan netra coklat milik Garda. Hatinya pun menciut seketika tidak berani berkata-kata lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba Garda bangkit dari tempat duduknya. Kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan dengan menumpukan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri mejanya.
Meella mengerutkan keningnya heran, mengikuti gerak tubuh Garda. Dalam hati dia terus bertanya apa yang akan dilakukan si bosnya saat ini. Apalagi saat mengangkat tangan kanannya. Lalu mengulurkannya ke arah wajah Meella yang sedang mendongak di bawah wajahnya. Sampai menggiring pikirannya sendiri, mungkinkah dia akan mendapat tamparan keras dari atasannya. Padahal dia tidak tahu kalimat mana yang sudah menyinggungnya.
Namun semua asumsinya terbantahkan ketika yang dilakukan Garda diluar ekspektasi. Ya, Garda tidak menampar wajah mulusnya. Tetapi malah meraih dan melepaskan kacamata minus Meella. Dia pun tercengang.
Garda benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia membiarkan hatinya bergerak impulsif. Tatapan matanya yang tidak bisa dibaca oleh Meella, namun mengunci agar tetap fokus pada satu titik. Dan...
Cup!
Oh, my God! Garda mencium bibir Meella sangat lembut.
Degup jantung Garda berdetak kencang. Membangkitkan gairah yang tidak pernah ada dan rasakan saat bersama Bianca. Seakan dia baru saja hidup dan bangkit dari tidur panjangnya. Juga membangkitkan bayang-bayang asing yang berputar dalam ingatannya. Entah itu ingatan dari masa lalu atau hanya fantasi saja. Saat ini dia tidak bisa membedakannya.
Meella hanya terdiam membeku, pasrah saat mendapat serangan mendadak dari Garda. Menikmati sentuhan basah dari bibir Garda yang memabukkan. Untuk pertama kalinya dalam kondisi sadar. Karena saat pertama kali berhubungan dengan Garda, Meella tidak sadar di bawah pengaruh obat bius. Dan satu lagi, malam itu dia merasa sedang berhalusinasi saking terlalu rindunya pada Garda. Hingga membiarkan begitu saja tubuhnya dijamah oleh orang yang sama. Tentu tidak masuk dalam hitungan.
Brakk!
"Apa yang kalian sedang lakukan?" teriak seseorang yang sepertinya baru saja menerobos masuk tanpa permisi.
Kontan Garda terjengit kaget, melepaskan bibir Meella yang begitu manis dan sangat candu. Kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok gadis cantik berpakaian ketat tengah berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak merah padam karena marah melihat tunangannya sedang berciuman dengan gadis lain. Tidak lain adalah sekretaris baru si tunangan.
Huh, nasib! Meella akan pasang badan bila tunangan bosnya akan menampar atau menjambak rambutnya. Walau pada kenyataannya dosa ini bukan murni dari dirinya. Karena dia tidak menggoda Garda sama sekali. Melainkan Garda sendiri yang mungkin tadi memiliki pikiran mesum.
"Oh, jadi ini yang kalian lakukan bila hanya sedang berdua-duaan di dalam kantor?" sembur Bianca garang.
Dengan langkah mantap Bianca berjalan mendekati Garda yang masih berdiri di balik meja.
Garda menegakkan tubuhnya seraya merapikan jasnya. Lalu menghembuskan nafas kasar. Dalam hati dia merutuki kebodohannya yang sudah mencium sekretaris dinginnya. Tidak cantik apalagi seksi. Bukan, sekretarisnya sangat cantik dan seksi. Tapi dia pandai menutupinya dari pandangan mata pria-pria lapar.
Garda mengatur nafasnya lalu menyunggingkan senyum terbaiknya pada sang tunangan.
"Sayang, tolong jangan salah paham," pintanya bergerak mendekati Bianca.
Wajah Bianca ditekuk seperti dompet akhir bulan. Garda tidak boleh membuatnya marah. Maka sebisa mungkin dia akan merayunya agar bisa luluh kembali.
__ADS_1
Meella bingung entah harus berbuat apa. Begitu mendadak tidak ada persiapan. Bisakah dia melemparkan semua kesalahan ini pada Garda? Tapi dia khawatir, sebelum mengatakannya justru Garda yang malah berbalik menuduh dirinya yang salah. Maklumlah dia adalah bosnya. Tentu punya kuasa untuk membungkam mulutnya.
Meella hanya mendengus pasrah. Mencoba mempersiapkan diri sendiri untuk menerima hal buruk sekalipun. Kemudian bangkit dari tempat duduknya. Memutar tubuhnya menghadap ke arah sepasang kekasih di depannya.
"Maaf nona..." suaranya terdengar pelan namun jelas. Sayangnya, belum sempat dia melanjutkan ucapannya, Garda langsung menyelanya.
"Kami gak berbuat apa-apa, Bi..." Meella benar-benar terperangah, langsung mengalihkan pandangannya pada Garda saat rungunya mendengar kata 'Bi'.
"Percayalah, Bi..."
Mata Meella memanas dan pedih menahan air mata yang mendadak merangsek ingin segera keluar. Tetapi dia segera sadar, Garda, suaminya sudah lama meninggal dunia. Sedangkan lelaki itu adalah atasannya, yang sedang merayu tunangannya agar tidak sampai ribut karena ulahnya. Dan, dia memanggil kata 'Bi'adalah wajar. Lantaran dia memanggil nama depan Bianca dengan menyingkatnya hanya menjadi 'Bi' saja.
Sebisa mungkin Meella mewaraskan diri dengan kenyataan yang ada. Menghadapi wajah yang sangat mirip dengan suaminya. Nama pun nyaris sama.
Ayolah, Meel... elo gak boleh halu!
"Tapi apa yang kamu lakukan tadi bersama sekretaris kamu..." mendadak tatapan mata Bianca nanar saat melihat wajah Meella untuk pertama kalinya, juga tanpa kacamata. Ya, kacamata minusnya belum dikembalikan oleh Garda.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak melihat gadis itu. Walau pun dia sudah mendengar kabar tentang Meella. Tapi ini adalah kali pertama baginya berjumpa dengan gadis ini.
Tubuhnya pun menegang. Matanya memerah menatap gadis yang ternyata kekasih masa lalu tunangannya. Selama ini hanya dia lihat dari foto yang diberikan Andika. Kini dia benar-benar bertemu. Bertatap muka dan berbagi udara dalam satu ruangan yang sama. Air matanya jatuh begitu saja lantaran rasa takut yang entah dari mana datangnya.
'Gak, gak mungkin!' teriak Bianca dalam hati.
Garda dan Meella saling beradu pandang sebentar. Lalu kembali memfokuskan pada Bianca. Tidak ada yang tahu dan mengerti apa yang sedang terjadi pada Bianca. Di mata mereka hanya melihat ketakutan yang terpancar di mata Bianca. Hingga Meella celingukan kanan kiri khawatir ada hantu di siang hari, mampir dalam ruangan ber AC ini.
"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin? Gak, gak, ini pasti salah. Gak mungkin!" teriak Bianca seperti orang kesurupan lalu terjatuh lemas tak sadarkan diri.
Untungnya ada Garda yang langsung tanggap menopang tubuh limbung Bianca. Jika tidak, maka gadis itu akan jatuh terjerembab di atas lantai yang dingin serta keras.
*
Hai readers... gimana cerita di episode sebelumnya? Sengaja author buat untuk episode Mitha. Sekarang episodenya tentang Meella dan Garda.
Pada penasaran gak sih sama cerita ini?
__ADS_1
Cus, kasih ulasan dan jejak-jejak yang lain ya. Author tunggu.
See you next episode ya 😘🥰❤️🙏