Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#68


__ADS_3

Happy reading


Bianca tampak kecewa dengan sikap acuh Garda padanya. Padahal saat baru sadar tunangannya itu jelas-jelas memanggil namanya. Akan tetapi, entah mengapa Garda malah memalingkan wajahnya. Seakan-akan Bianca makhluk tak kasat mata yang tidak terlihat wujudnya. Dan tanpa diucapkan dengan lisan, Bianca bisa menyadari penolakan calon suaminya itu. Seolah berkata, 'Bi yang dimaksud bukan Bianca. Melainkan perempuan lain yang sedang dicarinya'.


Melihat hal itu, Dandi jadi kasihan pada Bianca yang terlihat sedih dan patah hati. Apalagi di hadapan orang lain seperti Ryan dan sahabat-sahabatnya. Akhirnya dia terdorong untuk membantu gadis itu. Dengan berusaha berkali-kali menjelaskan pada bosnya, Garda. Karena Garda sempat tidak percaya Bianca adalah calon istrinya, yang sering dipanggilnya menggunakan sebutan 'Bi'. Serta bercerita perjalanan cinta Garda dan Bianca yang diketahui Dandi.


Garda speechless. Menyimpan semua keraguannya dalam hati. Dan menyembunyikan fakta ingatannya berangsur pulih. Tujuannya, tentu agar orang lain tidak tahu, terutama Andika. Dia yakin jika hal itu sampai terendus oleh papanya, tidak mustahil sejarah akan berulang kembali. Kini, tugasnya menemui belahan jiwanya, Meella.


Garda tersenyum pada Bianca dan meminta maaf. Dia berpura-pura baru mengingat gadis itu. Dalam hati berharap sandiwaranya berhasil. Dan, sesuai dugaannya mempercayainya. Begitu juga Dandi.


"Sayang... akhirnya kamu ingat aku lagi. Aku seneng banget," ujar Bianca manja serta terharu seraya memeluk tubuh Garda.


Garda membalas pelukan Bianca sambil tersenyum palsu. Namun dia buat senatural mungkin.


Tetapi hal itu tidak berlaku pada Ryan. Mata elangnya justru melihat sebaliknya. Kendati demikian, dia bisa memahami dan tahu pasti apa yang akan terjadi, bila Garda tidak bersandiwara.


Dandi dapat bernafas lega melihat kemesraan Garda dan Bianca. Selain itu ia merasa bebannya terasa lebih ringan, setelah berhasil mengatur sedemikian rupa agar berita kecelakaan bosnya tidak tercium media. Nantinya berpotensi pada saham perusahaan yang dipimpinnya. Apalagi balap yang diikuti Garda adalah balapan liar alias ilegal.


*


Pukul 06.30 pagi


Mitha baru saja sampai di depan rumahnya diantar oleh Yasmin. Sebenarnya dia tidak ingin pulang jika tidak ingat ada jadwal jam pagi di tempatnya mengajar. Dan dia tidak ingin izin dengan alasan apapun, walau pun otaknya terasa mumet.


"Thanks, Yas. Gue udah dianterin pulang," imbuh Mitha sebelum turun dari kursi penumpang mobil Yasmin. Tangan kirinya bergerak membuka pintu mobil.


"Yo'a, kaya sama siapa aja lo. Temenan dari zaman SMA gak usah pake basa-basi segala," sahut Yasmin terkekeh pelan.


"Ya sih..., gue cuma gak enak aja sama elo. Dari dulu gue udah banyak nyusahin elo."


"Santai aja kali, Sis..."


Mita tersenyum lalu beranjak keluar dari dalam mobil. Kemudian melambaikan tangan saat mobil Yasmin bergerak, berlalu pergi dari hadapannya.


Sebelum masuk melewati pintu gerbang rumahnya, Mitha sempatkan menghela nafas panjang, baru dihembuskan perlahan kemudian. Dalam hati dia enggan, bila perlu tidak usah masuk ke dalam. Khawatir nantinya akan menghadapi kedua orang tuanya.


Bukan karena tidak suka atau benci pada mereka. Melainkan rasa enggannya bila tiba-tiba mereka bertanya tentang kepergiannya semalam. Tanpa kabar dan sengaja mematikan ponsel, serta tidak pulang ke rumah sama sekali. Karena Mitha yakin, Rega pasti bercerita pada Gusti dan Maryam perihal kejadian kemarin.


Jadi, tidak mungkin mereka diam saja dan tidak menanyainya. Gusti dan Maryam bila sudah mengorek keterangan darinya, kadang sudah seperti polisi sedang mengintrogasi penjahat.


Mitha langsung membuka pintu kayu di depannya, tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Karena dia tahu pasti jam-jam seperti ini, Maryam sudah selesai bersih-bersih halaman rumahnya yang kotor oleh debu. Lantaran rumahnya langsung berhadapan dengan jalanan komplek. Juga sudah menyiram pepohonan dalam pot yang jumlahnya tidak seberapa.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucapnya sambil terus berjalan masuk, melewati ruang tamu, ruang tengah, dan hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Mitha," suara lembut namun cukup mengejutkannya. Dia kenal betul siapa pemilik suara itu. Sontak langkahnya terhenti seketika.


Dari arah belakang tubuhnya terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Mitha," panggilnya lagi memaksa si empunya nama membalikkan tubuhnya, menghadap si pemanggil tidak lain sang ibu, Maryam.


"Kenapa semalam kamu gak pulang?" sesuai prediksi Mitha, pertanyaan itu meluncur dari bibir Maryam.


Mitha memutar bola matanya malas, lalu menghela nafas berat.


"Kasian nak Rega nyariin kamu kemana-mana," lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang ditanyanya.


"Ma, ak..."


"Tha," Rega tiba-tiba muncul dari dalam kamar Mitha.


Mata Mitha terbeliak kaget melihat kemunculan lelaki berstatus suaminya. Tapi sebentar lagi akan diceraikannya. Ups! Sepertinya Mitha melupakan sesuatu... tapi apa ya?


Di tempat berbeda, Yasmin yang baru saja tiba di area parkir butiknya. Setelah mematikan mesin mobil dan mencabut kunci mobilnya. Tiba-tiba ekor matanya menangkap amplop coklat berlogo dan tertulis nama pengadilan agama di kursi penumpang belakang.


"Ck! Dasar pikun!" imbuhnya seraya meraihnya.


"Lho, kamu kok di sini, dari kamar aku lagi?" todong Mitha heran.


"Ngapain kamu di kamar aku?" lanjutnya curiga.


Rega tersenyum smirk.


"Menurut kamu?" Mitha ingin menggeram keras mendengar pertanyaannya dibalas pertanyaan lagi oleh sang suami.


"Aneh! Ditanya malah tanya."


"Nak Rega semalam menginap di sini. Mama yang suruh agar nak Rega tidur di kamar kamu," imbuh Maryam menjelaskan.


"Apa?"


Mata Mitha hampir melompat keluar dari tempatnya. Dia sangat terkejut dengan pernyataan mamanya. Tentu saja hal itu tidak pernah terlintas dalam pikirannya, bahwa Rega akan menginap di rumahnya dan menempati kamarnya.


"Kenapa kamu jadi kaget begitu?" tegur Maryam heran.

__ADS_1


"Biasa saja kali, namanya juga kalian sudah menikah. Sudah selayaknya suami istri tinggal di satu atap. Bukan terpisah seperti orang pacaran saja," sindir Maryam sengaja dilontarkan untuk Mitha dan Rega. Selama ini dia sudah gemas sekali dengan tingkah laku mereka yang belum juga mau bersatu.


"Tap..." lagi Mitha tidak bisa menyelesaikan ucapannya.


"Gak usah pakai tapi tapian," tukas Maryam menyambar ucapan Mitha.


"Ayo, kamu ajak nak Rega ke meja makan. Kita sarapan bareng sama Ayah," pungkasnya, memutar tubuhnya membelakangi anak dan menantunya. Lalu berjalan membimbing di depan ke arah ruang makan.


Mitha dibuat tertegun oleh ucapan dahsyat wanita yang telah melahirkannya ke muka bumi. Dia terperangah hingga kehilangan kata-kata untuk membantah.


Rega bergerak berjalan ke arah Mitha. Berhenti tepat di samping istrinya.


"Kayanya sekarang udah waktunya kamu tunjukin bakti istri pada suami, deh," ujar Rega santai dengan senyum mengejek.


"Waktunya tunjukin gundulmu!" semprot Mitha dengan nada suara meninggi.


"Ssstt!" Rega menempel satu jarinya di depan bibirnya sendiri. "Yang lembut bicara sama suami. Nanti kamu bisa jadi istri durhaka, lho," godanya lembut lalu mengerlingkan sebelah matanya genit.


Bukannya terpesona dan tergoda, Mitha justru mereka kesal. Tapi dia tidak bisa meluapkan emosi yang hampir memuncak di ubun-ubun. Jadi dia hanya bisa mengepalkan satu tangannya naik ke udara melakukan gerakan ingin memukul sesuatu, sambil mengeratkan rahangnya sampai semua giginya mengunci mulutnya.


Berhubung orang yang ingin dipukulnya yaitu Rega, sudah berlalu pergi menyusul ibu mertuanya ke ruang makan. Kemudian diangkat lagi satu tangannya yang lain, juga terkepal erat dan sejajar dengan tangan di sebelahnya.


*


Dandi benar-benar sangat profesional menghandle pekerjaan Garda hari ini. Mungkin hal itu akan berlangsung hingga satu atau dua hari, selama Garda beristirahat di rumah.


Garda tidak dirawat di rumah sakit, karena luka yang dideritanya tergolong luka ringan. Jadi pihak rumah sakit langsung memperbolehkan Garda pulang pada pagi harinya.


Sementara Meella yang baru mengetahui kabar kecelakaan yang menimpa bosnya, pada pagi dimana dirinya baru selesai sarapan. Semalam ponselnya mati kehabisan daya. Dan baru aktif setelah terisi penuh.


Meella sangat menyesal tidak bisa memenuhi panggilan dari Dandi dini hari tadi. Terbukti dari riwayat panggilan dan chat yang jumlahnya lebih dari sepuluh kali. Pasti pria itu sangat kewalahan tanpa dirinya.


"Maaf Pak, soal semalam...," sesal Meella pada Dandi. Saat ini dia sudah berada dalam ruangan Dandi.


Meella menjelaskan alasan ponselnya yang tidak bisa dihubungi tadi malam.


"Kamu tahu kan posisi kamu di perusahaan?" semprot Dandi jengkel.


"Seharusnya kamu bisa bersikap lebih profesional. Ingat, kamu sekretarisnya bos. Dan ponsel kamu harus selalu on selama 24 jam." Meella mengangguk pelan, lalu menundukkan kepalanya ke bawah melihat ujung sepatu pantofel hitamnya.


Untuk pertama kalinya Meella dapat omelan dari Dandi. Pria yang selama ini dikenalnya Dandi ramah, terkadang kocak walau garing. Kini seakan menunjukkan sifat aslinya yang garang juga menyerahkan.

__ADS_1


"Pak Dandi ternyata galak juga," gumam Meella sangat pelan.


__ADS_2