
Happy reading...
*******************************************
"Gak mungkin!" tiba-tiba suara Raisya terdengar menginterupsi.
Sontak Gusti dan anggota keluaganya menoleh ke sumber suara. Rupanya percakapan mereka sudah didengar oleh semua orang. Entah sejak kapan para besan dan calon-calon menantu Gusti, juga Raisya sudah berada di depan pintu ruang kerjanya. Mungkinkah mereka sudah mendengar semuanya?
"M-mana mungkin...," wajah Raisya tampak pias.
'Mana mungkin gue salah sasaran jadi Meella? Padahal malam itu jelas-jelas si Mitha. Jika seandainya... bukan Mitha berarti...,' batin Raisya tiba-tiba bergejolak. Apalagi saat setelah melirik Meella dan Mirza secara bergantian. Pada saat itu juga Mirza balik menatapnya penuh selidik.
'Mampus gue!'
Raisya benar-benar ketakutan.
Kini bukan hanya Mirza yang menatap Raisya perlahan berubah menjadi tatapan mengintimidasi. Tetapi belasan pasang mata lain pun ikut menatapnya. Hingga tanpa sadar dia bergidik ngeri seakan menjadi pesakitan.
"Dek, apa maksud dari keterkejutan kamu ini? Kamu tahu sesuatu?" todong Mirza dengan tatapan tidak beralih sedikit pun pada wajah Raisya yang perlahan mulai memucat.
Raisya terkesiap kaget mendengar pertanyaan dari Kakak lelakinya. Lalu menggelengkan kepala berusaha menyangkal. Tampak sekali kegelisahan di matanya.
"Nggak Mas. Aku gak tahu apa-apa."
Meella menatap datar wajah gugup Raisya. Hatinya jadi yakin jika calon adik iparnya terlibat dalam skandal ini. Tetapi dia tidak punya bukti untuk menyeret gadis itu. Jika bisa membawanya ke hadapan Pandega untuk menetralisir kesalahfahaman yang terlanjur terjadi.
"Kamu yakin gak terlibat?" suara Mitha terdengar jelas menuduh Raisya begitu terang-terangan.
"Ngg-gak lah... mana mungkin aku terlibat? Aku gak tahu apa-apa, Tha..." kilah Raisya terbata berusaha membela diri. "kamu jangan sembarangan asal menuduhku seperti itu."
"Benar, kamu tidak boleh asal menuduh orang lain tanpa bukti. Raisya, anak baik-baik, mana mungkin terlibat. Apalagi Mirza sebentar lagi akan menikah dengan Meella," Papanya Mirza terdengar sangat luwes membela putri bungsunya.
Mitha merasa geram dengan pembelaan calon mertua saudari kembarnya. Seakan dia sengaja menuduh Raisya tanpa bukti. Namun hatinya yakin ada campur tangan Raisya dibalik semua kekacauan ini.
"Tapi..." Mitha terpaksa menelan ucapannya setelah mendapat kode dari Gusti agar tidak memperpanjang masalah.
Suasana mendadak keos. Gusti sudah kehilangan muka di depan semua orang saat ini. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk membela salah satu putri kembarnya, Meella. Dia pun tidak bisa membela dan bersikeukuh untuk melanjutkan acara pernikahan yang sudah hampir menuju hari 'H'. Lantaran Meella sudah terang-terangan mengakui perbuatannya yang terkutuk bersama seorang lelaki entah siapa. Dan sangat yakin Mirza akan membatalkannya, setelah tahu semua ini. Mana mungkin Mirza akan menerima pengkhiatan Meella.
"Sebelumnya saya ucapkan mohon maaf kepada Pak Hardi juga ibu. Serta Pak Darmawan dan ibu," suara Gusti terdengar berat dan sedikit serak.
Kini Gusti, Maryam, kedua orang tua Mirza dan kedua orang tua Dicky sudah duduk bersama di ruang tamu. Begitu pula dengan Mirza dan Dicky yang duduk bersebelahan, Raisya di sisi sang kakak. Sedangkan Meella dan Mitha duduk sedikit menjauh dari mereka. Seakan sedang saling menguatkan satu sama lain walau pun tidak ada satu kata pun meluncur dari bibir masing-masing.
Sesekali Mirza menoleh ke arah Meella. Berharap gadis itu memberi kode untuk mengajaknya bicara empat mata. Lalu memberi klarifikasi tentang foto-foto yang dibawa Raisya. Pasalnya sejak tadi Meella bungkam tidak mengatakan sepatah kata pun padanya. Hanya kata 'maaf' yang sempat meluncur dari bibirnya sebelum meninggalkan ruang kerja Gusti.
Berbanding terbalik dengan Mirza. Dicky merasa lega karena gadis dalam foto itu bukan Mitha. Dia yakin pernikahannya dengan Mitha akan berjalan dengan baik sampai hari 'H'.
Raisya sangat ketar-ketir dengan masalah yang sudah dibuatnya. Seharusnya Mitha yang masuk jebakannya, agar pernikahan Mitha dan Dicky kacau. Tetapi mengapa malah Meella, calon kakak iparnya yang terperangkap? Itu artinya dia telah menghancurkan impian indah Mirza masuk ke gerbang pernikahan.
Kacau! Kacau! Kacau! Kenapa elo goblok banget sih Raisya? Seharusnya elo gak gegabah menjebak orang. Raisya... elo kan udah tahu kalo Mitha punya saudara kembar. Dan wajah mereka itu identik. Dasar... goblok...
Raisya memaki dirinya sendiri di dalam hati.
"Atas perbuatan buruk putri saya. Saya dan keluarga benar-benar minta maaf. Karena pada dasarnya kesalahan ini bukan niat kami membuat kalian malu akan hal ini. Terutama Pak Darmawan. Saya serahkan semua keputusan ini pada bapak sekeluarga. Terutama Nak Mirza."
"Tentu saja saya akan membatalkan pernikahan Mirza dan Meella. Karena saya tidak mau anak saya mendapat barang bekas sepertinya," ujar Darmawan, Papanya Mirza, terdengar sangat pedas.
Meella hanya tertunduk lesu.
Mirza tertegun.
"Saya akan menjodohkan Mirza dengan gadis lain yang tentu saja lebih baik dari putri Pak Gusti," lanjutnya ketus.
Gusti hanya mengangguk mengiyakan, tidak bisa menolak keputusan Darmawan.
"Tapi Pa..."
__ADS_1
"Kamu tidak usah takut Za, Papa akan carikan gadis yang lebih cantik dari gadis itu," sela Darmawan seakan tidak membiarkan Mirza bersuara.
Pada saat yang bersamaan Mitha berusaha mengorek keterangan dari Meella perihal foto-foto itu.
"La, elo jangan diam aja dong. Pernikahan lo udah diambang kehancuran. Emangnya elo gak mau bela diri, kalo elo gak ngelakuinnya. Bilang kalo foto itu editan doang. Plis La, elo buka suara. Jangan karena cuma mau nyelamatin pernikahan gue, elo malah ngorbanin diri lo sendiri."
"Memang kenyataannya begitu, Tha... gue mau apalagi?" Meella sudah pasrah.
"Maksud lo?"
"Iya, gue emang udah ngelakuin itu sama lelaki lain. Dan gue gak mau bohongin siapa pun. Termasuk Mirza. Karena gue mau Mirza bisa dapat yang lebih baik dari gue."
"Gak gitu juga kali, La... elo harus perjuangin..."
"Apa yang harus gue perjuangin, La? Masa depan gue udah hancur. Cinta gue udah terkubur bersama jasadnya Garda. Jadi, mau apa lagi? Gue udah gak punya rasa buat mencintai lagi. Lebih baik gue lepasin Mirza walau dengan cara yang pahit seperti ini."
Tanpa sadar pembicaraan sepasang gadis kembar itu terdengar oleh yang lainnya.
"Kenapa?" Mirza tiba-tiba mengajukan pertanyaan. Suaranya parau dan wajahnya tampak sendu.
"Kenapa kamu lakukan itu Meel? Apa kurangnya aku sampai kamu tega melukai aku seperti ini?" Mirza beranjak berdiri.
"Maaf," hanya kata itu yang bisa Meella ucapkan.
"Gak mungkin!" Mitha langsung menginterupsi. "gak mungkin Lala ngelakuin hal sehina itu Ayah. Pasti ada orang jahat yang mencelakinya dengan menjebaknya," mendadak dia mengalihkan pandangannya pada Raisya. Sepasang mata gelapnya menatap tajam pada objek yang seolah sedang diburunya.
Mendapat tatapan membunuh dari Mitha, Raisya langsung membela diri karena merasa dituduh tanpa alasan.
"Siapa yang kamu tuduh menjebak Meella? Aku? Mana mungkin aku melakukannya," kilahnya membela diri, lalu mendekati Mirza mencari pembelaan.
"Mas... lihat tuh Mitha masih menyalahkan aku. Mana mungkin aku ngelakuin semua itu, Meella itu calon istri Mas Mirza. Jika aku melakukannya itu artinya aku sudah menghancurkan pernikahan Masku sendiri, iya kan Mas?" Mirza tidak menyahut.
Meella tersenyum sinis setelah mengingat peristiwa sebelum jatuh pingsan dalam pesta.
"Aku percaya ucapan kamu tulus, Raisya," suara Meella terdengar datar tanpa emosi.
"Tentu saja. Aku sangat tulus pada Mas Mirza."
"Hmmh..." Meella tersenyum seraya bersenandung pelan. Mengangkat wajahnya menatap Raisya dengan tatapan tidak terbaca.
"Aku harap begitu. Seperti ucapanmu yang mengatakan gak akan melakukan hal buruk apa pun padaku. Karena aku adalah calon istri Mirza."
Raisya mendadak menjadi gugup. Tenggorokkannya pun terasa menering tiba-tiba. Dia pun menelan ludahnya yang terasa sulit.
"Tapi sayang, kamu tidak menepati janjimu dengan benar."
"A-apa maksudmu? Mengapa berkata begitu?" tanya Raisya mulai panik.
Meella tersenyum meremehkan.
"Kamu masih ingat kan pada gadis di malam pesta pertunangan anak pemilik Negara's Group?"
Wajah Raisya tampak memucat saat Meella menyinggung peristiwa lalu.
Semua orang mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi saat itu.
"Sebenarnya gadis yang kamu sapa Mitha adalah aku."
"Nggak mungkin!"
"Kenapa nggak mungkin? Aku adalah salah satu karyawan Negara's Group, apanya yang gak mungkin? Dan yang tidak mungkin adalah bila Mitha berada di sana. Karena dia tidak punya hubungan apa pun dengan Negara's Group. Dia hanyalah seorang guru olahraga di sekolah menengah."
"Tapi... yang aku lihat benaran Mitha. Bukan kamu!"
Dengan wajah santainya Meella membuka kacamata minusnya. Kemudian menarik Mitha berdiri berdampingan dengannya.
__ADS_1
"Lihatlah dengan seksama! Wajah kami sangat mirip kan?" tanya Meella mendekatkan wajahnya dengan wajah Mitha.
Raisya menggelengkan kepala tidak percaya.
"Kami kembar identik. Wajar bila kamu keliru mengenali aku."
"Tapi kenapa kamu gak menyangkalnya sewaktu aku panggil bukan nama kamu?" selidik Raisya ingin tahu.
"Gak papa. Karena aku udah biasa."
"Nonsense!"
"Why not?"
"Ada apa ini? Mengapa kalian berdua masih menyudutkan Raisya?" pekik Nyonya Darmawan. "hai, Meella. Tidakkah kamu merasa cukup setelah saudara kembarmu terus-terusan menuduh putri kami?"
"Maaf Tante. Ada sesuatu yang harus saya luruskan di sini," sahut Meella tegas.
Nyonya Darmawan dan yang lainnya hening.
"Di sini saya hanya mengungkapkan fakta yang sebenarnya tentang putri Om dan Tante yang baik dan polos ini. Saya gak tahu apa maksud tujuan Raisya memanggil saya Mitha. Dan ada masalah apa dengan mereka, saya juga tidak tahu. Yang saya tahu malam itu saya sedang kalut karena melihat seseorang yang sangat mirip dengan orang di masa lalu saya. Kemudian dalam kondisi itu, Raisya memberikan saya segelas minuman yang entah minuman apa. Setelah itu tiba-tiba saya pusing, jalan sempoyongan dan tidak karuan. Lalu saya jatuh pingsan."
Mirza sangat terkejut mendengar pernyataan Meella tentang adiknya. Begitu pula kedua orang tuanya yang langsung membantahnya. Namun tidak diindahkan oleh Meella.
"Apakah kalian tahu apa yang terjadi setelahnya?" tidak ada seorang pun yang pertanyaan Meella.
"Ketika saya terbangun dari pingsan saya. Saat kelopak mata saya membuka lebar, saya berada di atas tempat tidur hanya berbalut selimut, bersama pria yang ada dalam foto itu," tutur Meella menjelaskan secara detail pada semua orang.
Kedua orang tua Dicky menaruh simpati pada Meella yang sudah berani jujur. Juga mencibir atas tindakan konyol Raisya.
Maryam hanya menangis tidak bisa melakukan apa-apa.
Gusti diam seribu bahasa.
Mitha tersenyum pongah menatap keluarga Mirza.
Raisya buru-buru membela diri di hadapan Mirza. Tetapi sia-sia. Mirza tidak menanggapinya.
"Meella, maafkan kesalahan Raisya. Aku bersedia bertanggung jawab atas kesalahannya. Aku janji gak akan mengungkitnya di masa depan," ujar Mirza.
"Gak Mirza, justru aku yang maaf atas kesalahan aku yang tidak sengaja aku perbuat. Maaf aku gak bisa menjaga diriku sendiri. Semoga kamu mendapat pengganti yang lebih baik dari aku."
"Mana bisa semudah itu?"
"Yakin lah! Kamu tidak usah ragu. Aku yakin kamu akan mendapatkan gadis lain yang lebih baik dari aku."
Meella berjalan ke hadapan Gusti. Kemudian berlutut di depannya. Tetapi Gusti memalingkan wajahnya.
"Ayah, maafkan Lala yang gak pernah bisa menjadi kebanggaan Ayah. Lala selalu menjadi anak yang membuat Ayah kecewa," ucapnya lirih. Air matanya jatuh setetes demi setetes.
"Lala tahu Ayah sangat marah sama Lala saat ini. Lala janji akan pergi jauh dari Ayah supaya Ayah gak sakit hati melihat Lala. Jaga diri Ayah baik-baik. Lala pamit," pungkasnya bangkit berdiri setelah menatap wajahnya yang masih dipalingkan.
Maryam menangis dan memeluk Meella. Berusaha menahan kepergiannya. Namun Meella terlalu keras kepala. Tidak mau mengikuti permintaan Maryam. Dia tetap melangkah pergi.
Mitha pun memeluk Meella dengan hati yang sedih. Membujuknya agar tetap tinggal dan tanpa hasil.
Dengan berat hati dan malu akhirnya oang tua Mirza meminta maaf pada Gusti. Sedangkan Raisya pergi tanpa permisi.
Malam ini benar-benar sangat kacau. Air mata dan hati yang hancur menjadi pelengkap yang sempurna.
*
Hai readers... maaf ya ada kesalahan teknis. Seharusnya author klik ikon draf malah kirim reviem. Alhasil terbitlah karya tidak sempurna. Dan author juga udah berusaha ngebut buat mengerjakan secara kilat kelanjutannya. Semoga nyambung. Bila ada yang kurang nyambung dan absurd maksud dalam ceritanya, mohon dimaklum aja ya karena kecelakaan ini.
Yups! Jangan lupa tinggalkan jejak...
__ADS_1
See you next episode...