Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Tukar Posisi


__ADS_3

Hai readers... happy reading...


******


Qarmitha benar-benar terpukul dengan semua pertanyaan dan ungkapan hati yang dilontarkan Qameella padanya. Dia baru menyadari jika dirinya ternyata tidak semenderita saudari kembarnya itu. Selama ini dia selalu mengira, dirinya lah orang yang paling menderita karena tekanan-tekanan dari Gusti yang selalu mendiktenya dari A sampai Z.


Tetapi kini, setelah mendengar dan melihat lebih dekat. Qameella adalah orang yang sesungguhnya paling menderita. Begitu banyak derita dan luka yang tertumpuk sedari kecil hingga saat ini, tertanam serta tertimbun rapi dalam hatinya. Dan, dia adalah salah satu pelaku yang membuat luka dan derita itu.


Qameella memang tidak pernah mengungkapkan perasaan sedih atau pun tidak suka atas keputusan sepihak Gusti. Juga tidak menyalahkan siapa pun atas duka hatinya. Walaupun jelas Qarmitha telah menyakiti hatinya, merebut cowok yang disukainya. Dengan memilih diam menyimpan luka, duka, dan air matanya sendiri dalam sepi.


Rasa berdosa tiba-tiba menjalari hati Qarmitha. Dosa yang nyaris tidak pernah disadarinya karena telah melukai hati Qameella.


Huft! Maafin gue, La. Gue ternyata gak peka sama perasaan lo. Karena gue terlalu egois, mementingkan diri sendiri.


*


Hari sudah beranjak senja. Lembayung langit sore tampak merona. Sang Surya telah bergeser menuju ke arah barat.


Qameella tersenyum cerah menyaksikan pemandangan itu dari roof top rumahnya. Tempat yang hanya digunakan untuk tempat menjemur pakaian. Dia sengaja berlama-lama di tempat ini. Melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran, setelahnya duduk termenung menikmati indahnya ciptaan Tuhan.


Sesungguhnya bukan itu intinya. Qameella berada di sini berharap dapat melihat Garda. Walau sadar itu mustahil karena keterbatasan penglihatan. Tidak seperti Tuhan yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Setidak-tidaknya ada harapan untuk sekedar melihat bayangannya.


Garda... batinnya memekik rindu.


Tidak jarang air matanya menetes pilu saat yang dinantinya tidak kunjung datang. Namun harapan itu tidak pernah surut.


*


Garda sangat geram dengan Andika yang menurutnya 'sok perhatian'. Dengan memberinya empat sampai enam orang algojo berpakaian rapi dengan stelan jas dan celana bahan serba hitam.


Keberadaan mereka terasa sangat konyol. Karena selalu membatasi gerak Garda seperti memperlakukan anak TK. Akibatnya, dia sering melakukan perlawanan hingga terjadi perkelahian.


Tetapi kekuatan Garda tidak pernah sebanding dengan para algojo itu. Selain kalah jumlah, dari segi fisik pun keok. Lantaran mereka memiliki tubuh tinggi, kekar dan besar juga berotot. Sementara Garda, tubuhnya yang hanya tinggi kurang berisi. Tidak bisa dibandingkan dengan mereka.


Alhasil, sekarang Garda jarang datang ke basecamp. Jangankan untuk ikut balapan liar, kumpul bareng anak-anak Geng ABABIL saja sulit. Hanya sesekali saja dia bisa. Itu pun harus melakukan negosiasi yang alot, seperti kerupuk kaleng yang sudah masuk angin. Huh, kenapa gak dikerokin aja pake koin. Yo wis lah, abaikan saja!


Saat ini Garda sudah terkurung di dalam kamarnya. Dua orang algojo itu tegak berdiri di luar pintu kamarnya. Berjaga-jaga takut terjadi sesuatu dengan tuan muda mereka. So pasti, atas perintah Andika. Sedangkan dua orang lagi berjaga di luar. Sisanya hanya cadangan. Yah, yang namanya cadangan ada hanya saat dibutuhkan saja.


"Argh! Brengsek! Tua bangka sialan!" umpat Garda geram seraya melempar pas bunga ke dinding kamarnya. Pas bunga malang itu jatuh berderai di atas lantai, tidak berbentuk lagi.


*


Qameella sengaja duduk di tribun penonton yang hanya diisi beberapa murid saja. Mereka duduk terpencar tempat yang berbeda dan berjauhan. Walaupun ada dua sampai tiga orang murid yang duduk berdekatan.


Mereka semua menyaksikan murid laki-laki yang sedang latihan basket di lapangan di bawah bimbingan seorang coach. Di antara murid yang sedang berlaga di tengah lapangan ada Rega. Satu-satunya alasan yang membuat Qameella tertarik dan tetap setia duduk di tempatnya.


Kalian semua sudah tahu kan, jika Rega dan Garda adalah kembar identik. Jadi, sudah bisa menebak dong alasan Qameella? Yup, mengobati rindunya pada Garda karena wajahnya memang sangat mirip dengan Rega.


Anggap saja Qameella sedang menipu dirinya sendiri. Tetapi dia tidak punya pilihan lain. Rindunya terlalu besar pada Garda. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan selain bertemu dengan Garda. Namun dia sadar, mustahil bisa bertemu langsung dengan Garda. Biarkan sementara ini begini, yang paling penting hatinya masih setia dan tidak mendua.


Hatinya tiba-tiba mendung saat jam istirahat berakhir. Ditandai dengan bel masuk berbunyi nyaring. Mau tidak mau dia harus segera beranjak pergi.

__ADS_1


Rega menatap sendu punggung Qameella yang perlahan menjauh dari pandangan matanya. Bukan dia tidak tahu kondisi hubungan antara Garda dan Qameella. Justru dia sudah tahu dari cerita Mamanya, Kirana. Setelah pertemuan keluarga itu, Karina menceritakan semua padanya.


Seharusnya Rega senang Qameella tidak bisa berhubungan lagi dengan Garda. Karena dari awal dia tidak suka dengan hubungan mereka. Namun setelah mendengar semuanya, hatinya turut sedih. Apalagi kini dia sudah tidak sekelas lagi dengan gadis itu. Qameella terpental jauh di kelas paling bontot di jurusannya. Kelas yang didominasi murid-murid bernilai standar.


*


"Beb, elo gak risih apa diikutin orang-orang berseragam itu?" todong Fiola merasa risih karena sudah seminggu lebih pintu kelasnya dijaga oleh dua orang algojo suruhan Andika.


"Gila, kalo begini terus lama-lama gue bisa ilfil juga, tahu," keluhnya. Melipat kedua tangannya di depan dada.


Garda menghela napas berat.


"Elo pikir gue mau, apa?" bukannya menjawab cowok itu malah balik bertanya.


"Ditanya malah balik tanya, payah lo!" desis Fiola sebal.


"Ya udah. Sekarang gue tantang elo," Garda menjeda ucapannya, melempar pandangan pada Fiola yang berdiri di depannya lalu ke arah sahabat Fiola secara bergantian. "siapa diantara elo-elo pada yang bisa mengalihkan perhatian mereka, apalagi sampai mengusir mereka dari sini, gue bakal kasih duit seratus ribu."


"Ck! Seratus ribu? Ya ilah... duit segitu mana cukup, Gar... paling-paling buat makan bakso aja nombok," seloroh Mona ambil suara.


"Ho-oh, benar tuh, Gar," timpal Nadin.


Rombeng, Tikeng dan Buchek mencebik meremehkan.


"Ya elah ... pada sok banget sih lo... kalo gak cukup tinggal beli baslok aja kali... kalo gak ke Abang cilok di depan. Gue jamin gumoh elo-elo pada, makan cilok ampe cepek," cetus Tikeng diakhiri kekehan geli.


Rombeng, Buchek, Ryan dan yang lainnya ikut terkekeh mendengar ide konyol Tikeng itu.


"Ah eleh... belagu lo, Mon. Bilang gak level segala. Kemarin elo kan yang ngabisin cilok gue ampe ludes, iya kan?" sahut Buchek rada emosi menghadapi cewek belagu model Mona. Hobinya nebeng jajanan orang lain yang dianggapnya gampang berbagi. Maklumlah Mona memang bukan dari keluarga kaya seperti Fiola. Jadi, jika selama ini terlihat sombong, karena dia sahabatnya Fiola.


Perdebatan antara geng Fiola dan Tikeng dan kawan-kawan memang tidak ada habisnya jika Garda tidak turun tangan.


"Ya udah, gue tambah dua ratus ribu, jadi tiga ratus ribu. Tapi elo-elo pada sanggup gak?"


"Oke. Gue sanggup," ujar Fiola mantap. " ada tapinya," lanjutnya mengajukan syarat pada Garda.


"Apa?"


"Kalo gue berhasil, gue minta kita nge-date, gimana?"


Garda terdiam, berpikir menimbang permintaan Fiola yang memang mustahil dilakukan.


"Oke. Asalkan cuma nge-date doang tanpa embel-embel yang lain. Dan hanya satu hari doang, bagi gue gak masalah," Fiola bersorak girang permintaannya dikabulkan Garda. Cowok yang selama ini ditaksirnya.


*


Garda benar-benar sudah jenuh diperlukan seperti tahanan oleh empat orang bodoh bertubuh tinggi besar itu. Sampai saat jam pulang sekolah, dirinya langsung digiring ke dalam mobil. Duduk di apit oleh dua orang yang selalu berpakaian rapi dan berkacamata hitam. Dia pun sedikit dongkol dengan gagalnya usaha Fiola dan teman-temannya untuk menaklukkan pria-pria ini.


Gila, lama-lama gue bisa gila beneran kalo diperlukan seperti ini terus. Geram batin Garda.


Ribuan kali umpatan dan perlawanannya tidak bisa menembus pertahanan mereka. Lagi dan lagi gagal. Tapi kali ini Garda yakin tidak akan gagal. Kemudian dia teringat saat jam istirahat tadi di sekolah. Kedua algojo yang duduk di sisi kiri dan kanannya, menungguinya di depan pintu kamar mandi sekolah. Lebay memang jika sampai kamar mandi pun harus ditunggui seperti anak TK. Padahal sewaktu TK tidak seperti itu.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi, sebenarnya Garda tidak buang air kecil atau pun besar. Dia sengaja mencari tempat paling aman untuk melakukan komunikasi pada orang lain. Tentu saja bukan dengan ponsel miliknya. Karena sudah disita oleh Andika. Senasib dengan Qameella ya. Garda menggunakan ponsel milik Ryan untuk menghubungi Rega. Meminta bekerjasama dengannya. Karena dia yakin hanya Rega yang bisa membantunya.


"Pokoknya elo harus bantuin gue, Ga. Kalo elo masih nganggap gue saudara lo, gue yakin elo mau bantu gue tanpa syarat apalagi pamrih," tekan Garda. Dalam hati dia sangat berharap.


"Oke. Kita ketemu di sana sepulang sekolah," Garda mengakhiri sambungan teleponnya.


Ketika mobil yang membawa Garda dan empat algojo aneh itu melewati sebuah tempat pengisian bahan bakar minyak, spontan Garda meminta berhenti.


"Tidak bisa tuan muda, bensin mobil ini sudah terisi penuh. Jadi, kita tidak bisa masuk ke SPBU lagi," ujar seorang algojo yang duduk di belakang kemudi.


"Bodoh! Elo pikir SPBU cuma tempat ngisi bensin doang?" bentak Garda garang. "gue kebelet bego... cepat berhenti sekarang!" lanjutnya tidak mau dibantah.


"Tapi, tuan muda,"


"Kalo mobil ini gak mau berhenti, ya udah gue keluarin di sini aja. Entar gue bakal ngadu ke bokap gue buat mecat elo semua, gara-gara bikin gue..." belum sempat Garda menyelesaikan ancamannya, salah satu dari algojo itu tiba-tiba menyela.


"Ya sudah, kita menepi saja. Tapi kami tetap harus mengawasi kemana pun tuan muda pergi."


"Oke."


Garda turun dari mobil setelah algojo yang duduk di sisi kirinya turun terlebih dahulu. Kemudian Garda berjalan memimpin di depan. Sementara dua algojo yang duduk di sisi kiri dan kanannya berjalan mengiringi di belakang.


"Tunggu aja di sini!" titah Garda membalikkan badan menghadap mereka.


"Tapi tuan muda," ucap algojo yang berdiri di samping kanan Garda.


"Ini tempat umum. Kamar mandi umum. Tempatnya sempit gak seluas di rumah gue. Lagian sih mau masuk bareng? Emangnya elo mau cebokin gue?" sahut Garda sarkas.


Kedua algojo itu langsung menunduk. Mengambil posisi berjaga.


Garda langsung membalikkan badan hendak masuk ke dalam kamar mandi yang cukup sepi. Diam-diam dia tersenyum dingin.


Selang sepuluh menit, Garda keluar dari dalam kamar mandi itu. Kedua algojo itu langsung mengiringinya menuju mobil.


Setelah mereka pergi, tidak berselang lama seorang berseragam SMA keluar dari kamar mandi yang sama. Setelahnya pergi menuju mobil yang sedari tadi menungguinya di area SPBU.


Seorang pria paruh baya dengan seragam khas supir pribadi membukakan pintu mobil untuknya. Dia pun masuk ke dalam. Senyum samar tersungging di ujung bibirnya.


Di dalam mobil yang membawa Garda dan para algojo itu terus melaju dengan kecepatan sedang. Suasana begitu hening. Tidak ada suara ocehan Garda yang berisik. Walaupun terasa aneh, para algojo itu tidak mau ambil pusing. Karena mereka memang tidak tahu bahwa tuan muda yang berada dalam pengawasan mereka adalah bukan orang yang sama.


Rupanya diam-diam saat di dalam kamar mandi SPBU tadi, Garda dan Rega sudah menukar posisi mereka. Dengan mengandalkan kemiripan bentuk fisik, begitu mudahnya mereka mengelabui keempat algojo bertubuh tinggi besar itu. Sempurna!


*


Hai readers... gimana cerita episode kali ini seru gak?


Author masih mencari suara terbanyak nih untuk membuat season ke2 novel ini. Apakah tetap di sini atau buka lapak baru nih? Masih author tunggu tanggapan kalian ya...


Sampai jumpa pada next episode....


Makasih....

__ADS_1


__ADS_2