
Hai, hai readers.... jumpa lagi 🤗
Maaf ya, kali ini author cuma kasih 1 episode doang, karena author update nya pake hp.
Untuk episode kali ini ada unsur bawangnya ya. Bagi yang air matanya cetek harap menyiapkan tisu ya.
Happy reading aja deh ya...
*********************************
"Ryan Keling," Qameella begitu lengkap memanggil nama cowok yang masih duduk di kursi dekat tempat tidur pasien. Si empunya nama terkesiap.
"Plis, gue mohon jawab pertanyaan gue," pintanya memohon.
Ryan menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah cewek yang masih berstatus pasien itu.
"Ryan, plis... gue mohon..." Qameella tidak bisa membendung kegelisahannya. "selama ini gue gak ngerti kenapa semua orang yang gue tanyain tentang Garda, gak ada yang mau kasih tahu gimana kondisi dia yang sebenarnya ke gue. Emangnya ada apa sama dia?" desaknya sambil menegakkan tubuhnya.
"Sekarang, elo juga mau ikut-ikutan tutup mulut? Ingat ya, gue ini masih istrinya Garda. Jadi gue berhak tahu apa yang sedang terjadi sama suami gue," tambahnya berapi-api.
Ryan menatap teman-temannya seakan meminta persetujuan. Namun hanya dibalas dengan tatapan tidak berdaya oleh mereka sambil mengedikkan bahu.
Berkali-kali Tikeng mengumpat dan mengelepak kepala Sonik begitu gemas. Gara-gara mulut embernya membuat Qameella penasaran, dan meminta penjelasan berkaitan dengan Garda. Padahal mereka sudah setuju untuk tidak menyinggungnya sebelum masuk ruangan.
Sementara Sonik hanya pasrah menerima semua itu sebagai hukuman.
Nasi sudah menjadi bubur. Ryan tidak bisa menutupi kenyataan pahit ini. Walau pun tidak tega melihat wajah memelas Qameella. Dia juga tidak enak hati membiarkan gadis itu gelisah. Mau tidak mau dia memberi jawaban yang diminta oleh Qameella.
"Meel, sebelum gue kasih tahu kabar Bro Garda, gue mau tanya dulu ke elo. Apa elo siap dengarnya?" Qameella langsung menjawab dengan anggukan kepala.
"Gue gak bakal tanya gimana perasaan Lo tentang kabar baik yang gue sampein. Karena gue jamin elo bakalan happy, kan?" Qameella menatap Ryan dengan tatapan tidak terbaca.
"Tapi gue khawatir kalo seandainya nanti yang gue sampein kabar buruk, elo bakal sabar dan tabah apa nggak? Karena kondisi elo yang masih begini. Jadi gue..."
"Elo kalo mo ngomong, ngomong aja kali... gak pake banyak basa basi kaya gitu. Muter-muter tanya ini itu, pusing tahu," tukas Qameella geram.
Ryan nyengir sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Kalo pun kabar yang gue terima nanti kabar buruk, sebisa mungkin gue bakal berlapang dada menerimanya. Yah, seperti yang kalian tahu kisah kami gak bagus-bagus amat. Gue ikhlas kok kalo seandainya bokap-nya Garda gak ngizinin kami bersama lagi. Gue bakal berusaha tetap tegar. Yang penting Garda tahu gue tetep sayang sama dia," tutur Qameella lirih, dengan suara parau. Di pelupuk matanya sudah menggenang cairan bening, mengaburkan pandangannya.
Emang sih kisah elo berdua emang gak bagus-bagus amat. Tapi ceritanya sekarang gak sesederhana yang elo bayangin Meel. Bukan cuma bokap Bro Garda doang yang misahin kalian. Tapi Tuhan juga... huh... batin Ryan berteriak.
Ryan mendesah lelah. Sebelum berbicara cowok berambut ikal itu tampak berpikir sejenak. Mengatur napasnya agar bisa menyampaikan berita tentang Garda pada Qameella dengan tepat dan benar. Kaya ngisi lembar jawaban saja ya, harus tepat dan benar. Hadeuh... capek deh!
Qameella menatap Ryan penuh harap. orang yang ditatap tampak grogi dan salah tingkah.
"Sebenarnya... Bro... Bro Garda udah gak ada lagi Meel," ujar Ryan tergagap dan ragu-ragu.
Deg!
Jantung Qameella mendadak berdenyut nyeri. Ekspresi wajahnya pun menegang. Lalu mengerutkan alisnya. Mencoba mencerna apa yang telah diucapkan cowok yang masih duduk di kursi samping tempat tidurnya. Ekspresi wajahnya terlihat berubah-ubah sulit ditebak.
Namun saat Ryan mengatakan 'Garda udah gak ada lagi', ada tanda tanya besar terselubung dalam benaknya. Apakah hanya konotasi atau denotasi?
__ADS_1
"Maksudnya?" Qameella menuntut penjelasan lebih detail lagi.
Tiba-tiba wajah Ryan terlihat menyendu. Matanya memerah seakan sedang menahan air mata. Buru-buru dia menunjukkan wajah sambil mengusap-usap keningnya agar cairan bening itu tidak jatuh.
Wah, bisa malu nih kalo sampai menangis di depan cewek. Harga diri seorang cowok dan predikat anak geng, bisa jatuh di mata dunia.
Ryan menggigit bibirnya kuat saat air matanya mulai mendesak keluar. Dan dia tidak kuasa melanjutkan ucapannya.
Ryan adalah satu-satunya anggota geng yang bertubuh paling besar. Tapi sayang dia juga yang paling cengeng. Karena hatinya yang paling lembut di antara yang lain.
"Ryan, apa maksudnya Garda udah gak ada?" desak Qameella.
Tapi saat menyadari cowok itu hanya menunduk sambil mengusap-usap keningnya saja, Qameella jadi tambah bingung.
"Ryan, elo kenapa?"
Sesaat kemudian Ryan beranjak berdiri dengan wajah memerah, dan air mata yang sudah meleleh. Memalingkan wajahnya pada teman-temannya yang duduk di kursi lain. Dengan suara parau berkata pada Rombeng,
"Rom, elo aja deh yang ngomong. Gue gak kuat ngomongnya."
Sontak Qameella terkesiap melihatnya. Dan matanya membola saat pada kesempatan yang sama, teman-temannya juga ikut-ikutan melow.
Rombeng terbengong sebentar. Mengatur napas agar bisa mengendalikan emosinya. Kemudian beranjak berdiri menghadap lurus ke arah Qameella.
"Meel, benar kata Keling. Garda sekarang udah gak ada lagi bersama kita di dunia ini," ujar cowok itu dengan melambat ucapannya pada ujung kalimat.
Sesaat napas Qameella berhenti berhembus. Jantungnya berhenti berdetak. Wajahnya menegang dan terlihat dingin tanpa ekspresi. Tenggorokannya tercekat tidak bisa berkomentar apa-apa. Speechless.
"Meel... Meel..." buru-buru mereka menyadarkan gadis itu dengan memanggil namanya.
"Meel... Meella..." Ryan memanggilnya sambil sesekali mengguncang bahu gadis itu.
Mata Qameella memanas lalu memerah. Hanya dalam hitungan detik membasah dan berair. Kemudian menetes di pipinya.
Tidak lama kemudian Maryam masuk ke dalam. Wanita itu pun panik saat sekumpulan cowok remaja tanggung, tengah melingkupi putrinya seraya memanggil nama 'Meella' putus asa.
"Ada apa ini?" suara Maryam memecah kepanikan mereka. Kontan mereka menoleh hampir bersamaan.
"Tante," tanpa komando mereka berucap hampir kompakan.
Tanpa menunggu jawaban mereka Maryam menerobos kumpulan mereka. Dan mereka pun langsung menyingkir, memberi jalan pada wanita itu. Kemudian memeluk Qameella posesif.
"Lala, sayang ada apa, Nak...?" tanyanya penuh kekhawatiran.
Tidak ada jawaban. Qameella hanya diam seribu bahasa. Tatapan matanya kosong. Namun air matanya terus saja menetes di pipi.
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Maryam dengan nada sedikit dinaikkan. Pertanyaan ini ditujukan pada para anak muda di kelilingnya.
"A-anu Tante," Ryan terbata, tidak bisa berkata-kata lagi.
Maryam mengerutkan keningnya. Tatapan matanya terlihat menajam seakan ingin menembus jantung mereka.
Rombeng, Tikeng, Buchek, Sonik, dan Ryan menundukkan wajah mereka merasa bersalah.
__ADS_1
"Maaf Tante, tadi kita terpaksa ngomong yang sebenarnya sama Meella. Karena Meella yang maksa. Dia ingin tahu yang sebenarnya terjadi pada Garda," kali ini Rombeng yang bersuara.
"Iya Tante. Maaf kita gak konsisten dengan janji kita. Cepat atau lambat Meella memang harus tahu. Karena dia berhak tahu. Gimana pun Garda suaminya," tambah Tikeng.
Maryam mendengus lelah. Dalam hati dapat memaklumi perbuatan mereka. Hanya saja mereka kurang peka dengan kondisi psikis Qameella.
"Mama," suara Qameella terdengar lirih dan sangat menyayat hati.
Maryam mengalihkan pandangannya pada Qameella. Menatapnya intens dan penuh kehangatan.
"Iya sayang."
"Apa bener sekarang Garda udah gak ada? Udah meninggal?" suara gadis itu terdengar parau, pelan, nyaris tak bersuara.
Maryam membelai rambut hitam nan panjang Qameella dengan sayang. Merapatkan bibirnya. Matanya memerah dan basah. Dengan anggukan kepala dia menjawab pertanyaan tersebut.
"Yah," suara Maryam sangat lemah mirip suara *******. Lalu mengangguk lagi.
"Yang sabar ya, Nak. Doakan Garda mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah," hibur Maryam.
Tangis Qameella pecah. Meraung sejadi-jadinya.
"Garda... hiks, hiks, Garda... hiks, hiks."
Maryam memeluk tubuh rapuh sang putri. Membiarkannya menumpahkan air matanya hingga membasahi baju yang dikenakan.
Ryan dan kawan-kawan hanya diam menyaksikan pemandangan itu. Mereka pun ikut meneteskan air mata. Karena harga diri mereka sebagai cowok macho, pemberani, dan anggota geng yang paling disegani di kota ini sangat tinggi. Mereka tidak mau terlalu terlihat cengeng. Makanya saat air mata mereka mulai menetes, buru-buru diseka kasar dengan tangan.
Qameella mendongakkan wajahnya, menatap sang Mama yang masih memeluknya.
"Kenapa, kenapa Garda ninggalin Lala, Ma?" tanyanya disela tangisnya.
"Padahal Garda udah janji, gak akan ninggalin Lala. Tapi kenapa dia malah ninggalin Lala?"
"Sabar sayang... semua ini sudah takdir Allah. Kita sebagai manusia biasa harus bisa menerimanya dengan lapang dada," sahut Maryam penuh kesabaran.
"Tapi Ma, Lala, Lala," Qameella terbata tidak bisa melanjutkan ucapannya. "huhuhuu..."
"Iya sayang..." Maryam menarik pelan kepala Qameella dalam pelukannya.
"Mama ngerti maksud Lala," ucapnya terdengar seperti bisikan. "Lala tenang ya. Doakan Garda agar semua dosa-dosanya diampuni Allah."
Ruang rawat inap yang ditempati Qameella, kini hanya terdengar suara tangis pilu. Rintihan penyesalan yang tidak berujung seorang Qameella. Saat dirinya menemukan cinta. Tetapi cinta itu malah pergi meninggalkannya tanpa pamit.
Qameella teringat akan mimpinya saat koma lalu. Masih jelas dalam benaknya janji Garda yang sempat diucapkan sebelum dia pergi.
"Maaf Bi, bukan mau saya kita berpisah. Saya juga gak mau jauh-jauh dari kamu. Saya mau selalu bersama kamu. Saya mau kita bisa menua bersama. Menikmati hari-hari indah dan bahagia bersama kamu,"
"Tapi untuk saat ini saya pergi dulu. Kita masih belum bisa bersama,"
"Tapi memang saya harus pergi sekarang,"
Qameella terus saja menangis tanpa henti, hingga kedua matanya sembab.
__ADS_1