Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#47


__ADS_3

Happy reading


Dunia terasa runtuh seketika menghancurkan semua impian manis milik Mitha. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba badai dahsyat menyapu seluruh cintanya yang telah lama dibina bersama Dicky. Entah setan apa yang sudah merasuki pria itu hingga berbuat yang dilarang norma agama. Mungkinkah sudah terbiasa? Atau hanya khilaf semata? Mitha tidak tahu pasti.


Tapi mengapa Mitha bisa tidak tahu kelakuan Dicky yang bejat ini? Padahal hubungan mereka sudah lama terjalin. Mengapa? Sungguh tidak masuk akal?


Di tengah lengangnya jalan raya yang selalu ramai, padat merayap oleh kendaraan bermesin pada siang hari. Kini tampak lengang dan sepi tanpa aktivitas apa pun. Hanya dia sendiri menyusuri jalan beraspal itu. Sangat frustrasi dan putus asa.


"Aaaaarghh!" pekik Mitha memecah keheningan malam.


Hatinya sangat sakit dan nyeri. Dadanya penuh sesak hingga sulit walau hanya untuk menghirup udara. Saat ini Mitha menjadi rapuh. Bagai kertas yang mudah koyak meski hanya disentuh. Hilang semua pertahanan hati yang selama ini membuat dirinya terlihat kokoh di mata dunia.


Tapi saat ini tidak lagi. Hanya peristiwa biadab tadi sudah merontokkan semua tembok kokohnya. Menjelma menjadi manusia yang paling cengeng sedunia. Tanpa malu dia meraung sepanjang jalan. Tidak peduli suara tangisnya yang membahana, menggema seantero jagad.


Dulu, Mitha bisa cuek saat dikhianati Kevin. Mampu memukul telak kebohongan cowok itu. Dengan angkuh tanpa air mata meninggalkannya begitu lapang dada. Sekarang, gadis itu berubah menjadi melankolis. Begitu melow sampai air matanya terjun bebas tanpa henti bagai air hujan yang turun dari langit.


Sebenarnya bukan masalah ini yang membuat Mitha menangis. Yang dia tangisi adalah saat teringat Ayahnya, Gusti. Ya, karena pria itu air matanya turun dan tidak bisa berhenti bagai bendungan air yang jebol.


Pasalnya Mitha tahu bagaimana perjuangan Ayahnya yang berusaha tetap tegar dalam kondisinya yang tidak baik-baik saja. Baik kesehatan badan, maupun kondisi usahanya, rumah makan yang sudah dirintis sejak lama tidak juga menunjukkan perkembangan. Bahkan nyaris berada diambang kebangkrutan.


Sedih rasanya bagi Mitha melihat pria yang semakin lama semakin kurus itu terpuruk sendiri. Gusti tidak pernah mengeluhkan semua kesulitannya pada istri dan anak-anaknya. Bahkan saat Meella menyodorkan uang untuk menyuntikkan dana pada Gusti. Tetapi dengan angkuhnya dia menolaknya. Walau pada kenyataannya butuh.


Hal yang paling menyedihkan adalah saat mengingat ucapan Gusti, yang tidak sengaja Mitha dengar saat berbicara pada Maryam di ruang keluarga.


"Ayah senang, akhirnya sebentar lagi Lala dan Thatha bisa nikah barengan. Dengan begitu beban Ayah sebagai orang tua selesai mengantar mereka kejenjang pernikahan. Semoga mereka semua bisa bahagia dengan pernikahan masing-masing," tuturnya penuh harap yang langsung diaminkan oleh Maryam.


Sayang, harapan itu pupus saat tiba-tiba Meella tidur dengan lelaki yang entah siapa. Sungguh, hancur semua harapan Gusti saat itu juga. Bahkan pria tua itu tidak sanggup menatap wajah Meella untuk yang terakhir kalinya.


Diam-diam Gusti menangis pada malam itu. Lagi-lagi Mitha melihat Ayahnya menangis di sepertiga malam. Setelah sholat tahajjud masih di atas sajadah dengan kedua tangan masih menengadah.


"Ya Allah... mengapa begitu berat beban hidup yang harus hamba tanggung? Cobaan dan ujian datang silih berganti tanpa henti. Hingga badan yang mulai rapuh ini sulit untuk memukulnya. Sampai kapankah semua ini berakhir, ya Allah..." tanpa malu Gusti sesenggukan di hadapan Rob-nya.


Hati Mitha tercubit menyaksikan kepedihan sang Ayah. Betapa angkuh dan berkuasanya dia di hadapan istri dan anak-anaknya. Namun begitu lemah dan rapuhnya di hadapan Kholik-nya.


Dengan adanya peristiwa sialan pada malam ini, seakan Mitha sedang menambahkan garam di atas luka hati Gusti. Sedangkan luka yang lama belum mengering.


Peristiwa kegagalan pernikahan Meella dan Mirza saja kondisi Gusti masih belum stabil. Apalagi bila Gusti sampai tahu kondisi saat ini, tentang Mitha yang sudah memergoki dan menghajar calon suaminya selingkuh dengan perempuan lain. Setelahnya mengetahui dirinya sendiri telah membatalkan pernikahan. Padahal acara pernikahannya akan dilaksanakan besok pagi.


Mitra mengacak-acak rambutnya frustrasi sambil memekik gemas.


"Maafin Thatha, Yah..." cicitnya pilu.


Di pelupuk mata Mitha tiba-tiba bayangan Gusti menari-nari dengan rona yang begitu bahagia. Saat itu Gusti tengah melihat ruangan yang bakal menjadi tempat dijadikan acara akad nikah dan resepsi pernikahannya. Bahkan dia ikut mengatur dan memberi arahan pada pekerja dekor.


Mitha sempat tersenyum melihat tingkah Ayahnya itu. Sok jadi mandor yang suka memerintah. Sedangkan semua yang dilakukannya sungguh tidak perlu. Karena bisa merusak konsep yang sudah tersusun rapi dari pihak wedding organizer.


"Ayah harap pernikahan kamu dan Dicky bisa berjalan dengan baik. Langgeng sampai kakek nenek, sampai maut memisahkan," ucap Gusti penuh harap.


"Ayah tidak mau pernikahan kamu gagal seperti... Lala," lanjutnya menekan nama Meella. "Ayah tidak bisa membayangkan bagaimana hal itu terulang. Ayah tidak sanggup bila harus menanggung malu lagi. Ayah..." pria itu tidak kuasa melanjutkan ucapannya. Tampaknya dia begitu tertekan dan terlalu sedih membayangkan semua yang ada dalam benaknya.


Mitha menangis pilu. Langkah kakinya tiada henti menyusuri jalan beraspal nan sepi. Gadis itu seakan membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan yang mendalam. Biasanya saat kondisi seperti ini dia akan menghubungi Sarah, Yasmin atau Amel. Namun tidak kali ini. Di otaknya hanya mengingat satu nama yaitu Meella.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang dia mengambil ponselnya dari tas yang menyampir di punggungnya. Mencari satu nama lalu mendealnya. Pada dering ketiga teleponnya baru tersambung.


"Halo, La..." serunya cepat. Tanpa menyembunyikan kesedihannya. Mitha membiarkan suara isak tangisnya pecah dan terdengar sampai di ujung sana.


"Gue gak tahu mengapa semua harus terjadi saat ini? Gue gak nyangka nasib pernikahan gue yang bahkan belum terjadi bisa kaya gini. Gue gak tahu harus ngomong gimana ke Ayah tentang hal ini. Sedangkan Ayah masih sakit karena kegagalan pernikahan elo. Sekarang gue gagal juga. Gue gak bisa bayangin gimana perasaan Ayah nanti. Gue gak tahu harus gimana sekarang? Gue gak tahu..." Mitha terus berbicara tanpa jeda. Seakan hanya dia saja yang boleh berbicara. Tanpa menghiraukan lawan bicaranya di seberang sana dia langsung mengakhiri sambungan teleponnya secara sepihak.


Di tempat berbeda, Meella tengah memakai gaun pengantin berdiri di depan cermin besar. Hanya terdiam sambil meletakkan benda pipih di sebelah telinga kanannya. Langsung terduduk lemas jatuh di atas lantai. Meraung menangis sejadi-jadinya setelah mendapat telepon dari Mitha.


Meella sangat sedih karena bukan hanya dirinya yang gagal. Juga Mitha, saudari kembarnya ikut gagal padahal hanya tinggal menunggu besok pagi.


Ada apa ini? Apakah ini sebuah kutukan bagi dirinya dan Mitha?


Setelahnya Mitha kembali menangis sejadi-jadinya. Tanpa menyurutkan langkah kakinya yang entah kemana akan membawanya pergi. Otaknya terasa buntu. Memikirkan tentang besok saja dia tidak sanggup. Tentu saja dia tidak sanggup, bila harus mengatakan dengan jujur bahwa pernikahannya batal karena calon suaminya telah berselingkuh di depan mata kepalanya sendiri di sebuah hotel pada Gusti.


Bagaimana caranya Mitha harus menolak bila pihak MUA mendandaninya menjadi pengantin? Karena calon mempelai prianya tidak akan datang. Sibuk bergumul dengan wanita selingkuhannya di hotel.


Bagaimana caranya dia harus mengatakan pada pihak gedung bahwa acara pernikahannya tidak jadi digelar? Sedangkan semua dekorasi sudah selesai dikerjakan malam ini.


Bagaimana?


Bagaimana?


Bagaimana?


Hanya itu pertanyaan yang muncul di otaknya tanpa memunculkan solusi yang tepat.


Entah sudah berapa jauh kaki Mitha melangkah. Sudah berapa banyak air mata yang tumpah Mitha tidak pernah menghitungnya. Hanya keheningan malam ini makin membuatnya tersiksa. Tapi dalam hati dia sempat berharap semua ini hanya mimpi buruk belaka.


Mitha tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya. Dia hanya berjalan dalam kesedihan dan pikiran yang kosong. Tanpa rasa takut berjalan melewati sekelompok orang bertubuh besar dan bertato.


"Hai cewek... kok sendirian aja malam-malam? Ayo Abang temenin biar gak kesepian," sapa salah satu di antara mereka yang kini sudah berdiri menghadang jalan Mitha.


Mitha hanya bergeming dengan pipi yang masih basah.


"Lho, kok udah nangis duluan sih, neng, kan belom diapa-apain sama abang-abang ini?" tegur yang lainnya dengan tubuh yang paling besar.


"Iya, neng. Gak usah sedih. Mending ikut Abang, kita main juga senang-senang supaya si Eneng gak sedih lagi," bujuk pria yang tubuhnya paling kurus.


Mitha masih membisu dengan tatapan kosongnya ke depan. Namun saat salah satu di antara pria-pria hidung belang mulai meraih tangannya hendak mencium barulah gadis yang pandai bela diri itu berontak. Seketika bayangan Dicky dan Raisya mampir dalam ingatannya. Sontak membuatnya bergidik jijik.


Mata Mitha terbeliak kaget setelah sadar dirinya di kelilingi oleh para bajingan tengik yang haus birahi.


"Mau apa kalian?" bentak Mitha lantang namun disambut kekehan geli dari para pria yang layak disebut preman itu. Tapi bukan pre makan ya?


"Udah lah neng... gak usah jual mahal sama Abang. Abang tahu Eneng lagi sedih butuh hiburan," sahut pria dengan tubuh kekar. Matanya melirik pada temannya seakan memberi kode.


"Iya neng... gak usah jual mahal. Sini Abang hibur. Abang jamin si Eneng bakalan senang. Ketagihan malah," timpal temannya yang berwajah berewok. Sementara yang lain tertawa puas.


Refleks Mitha bergerak mundur yang diikuti gerak maju oleh mereka. Alih-alih ingin kabur malah tangan kanan dan kirinya tertangkap mereka yang berdiri di samping kanan dan kirinya. Tentu Mitha sulit bergerak. Ingin menghajar mereka sampai babak belur. Namun rencana itu dia urungkan dahulu sambil berpikir dan berusaha mencari celah untuk bisa bertindak.


Mereka terlihat sangat bahagia dapat menangkap gadis secantik Mitha. Menjawil hidung dan mengusap pipi Mitha seenak perut mereka. Sementara gadis itu hanya bisa menepis walau percuma. Lantaran gerak mereka lebih cepat dari gerak refleksnya.

__ADS_1


Ketika Mitha sedang dituntun dengan tangan kanan dan kirinya masih dalam cengkeraman mereka. Entah mereka akan membawanya ke mana, Mitha tidak bertanya. Dua orang berjalan di depannya. Dua orang yang lain berada di belakangnya. Namun Mitha cukup cerdas membaca situasi. Dengan cepat bisa menemukan celah yang dapat digunakan untuk berontak, dan melakukan perlawanan terhadap mereka.


Mitra dengan sengaja menendang dan mendorong kedua preman yang ada di samping kanan dan kirinya. Hingga terlepas pegangan mereka. Setelahnya dengan gerakan cepat dia menendang dua preman yang berjalan di depannya. Tak pelak mereka nyaris tersungkur jatuh ke aspal.


Dua orang yang berada di belakang Mitha tidak tinggal diam. Tanpa aba-aba mereka berhasil memukul wajah dan perut Mitha. Akhirnya pecahlah perkelahian sengit dengan jumlah yang tidak imbang. Tentu saja semuanya tidak imbang mengingat Mitha yang hanya seorang gadis dengan tubuh kurus. Sedangkan mereka para pria bertubuh kekar.


Sesekali Mitha berteriak minta tolong walau pun sadar usahanya akan nihil. Memang tidak ada manusia satu pun yang lewat di sekitarnya. Apalagi malam sudah larut seperti ini, mana ada yang masih mau berkeliaran. Palingan mereka semua sudah nyaman di kasur masing-masing dengan selimut hangatnya.


Tidak seperti Mitha, malam-malam bukannya tidur di rumah malah berjibaku dengan para preman, bagaikan manusia super Hero melawan penjahat untuk memberantas kejahatan seperti cerita yang ada di film-film.


Semua preman habis babak belur dihajar Mitha. Tapi tidak kalah bonyok karena dikeroyok oleh enam orang preman sekaligus. Kini tenaga Mitha sudah terkuras habis. Hingga jatuh terjerembab dengan posisi menelungkup di atas aspal. Darah segar pun mengucur dari sudut bibir dan dahinya akibat pukulan kuat para preman itu. Napasnya terengah berusaha mengaturnya dengan baik. Matanya tampak lemah tidak mampu senyalang tadi.


"Ya Tuhan, apakah gue akan mati saat ini juga?" tanya batinnya lirih di tengah ketidak berdayaannya.


Tiba-tiba tubuh Mitha terasa melayang terangkat ke atas dengan kaki yang masih menyentuh tanah. Rupanya dua kawanan preman itu menarik lengan kanan dan kirinya secara bersamaan. Kemudian salah satu preman lainnya mengeluarkan pisau lipatnya dari dalam saku jaketnya. Siap mengarahkan tepat pada perut Mitha yang sangat kempes dan rata.


Mitra memejamkan mata pasrah bila pisau kecil itu merobek kulit perutnya yang mulus.


Bugh!


Plak!


Tak!


Mendadak tubuh Mitha terhempas kembali ke atas aspal. Karena kedua preman yang sedang mencengkram kedua lengan Mitha melepaskannya begitu saja. Tanpa tahu apa alasannya gadis itu tidak protes atau mau tahu. Setelahnya Mitha kehilangan kesadarannya. Mungkin malam ini adalah malam terakhirnya tinggal di dunia ini. Mungkin sebentar lagi malaikat maut akan datang menjemput mengambil ruhnya.


Ah, sial banget sih!


Apa gue udah mati?


Aih... Mengapa harus gue mati konyol seperti ini?


Jika seperti ini, gue mana bisa masuk surga. Yah... paling gue masuk ke neraka dulu.


Dibakar deh gue hidup-hidup. Aduh... pasti gue kepanasan juga kesakitan!


Tuhan... kenapa sih gue harus begini? Cepet banget matinya? Padahal gue masih muda!


Andai gue bisa nego Tuhan... kaya emak-emak lagi belanja di pasar!


Sayang, Tuhan hukumnya mutlak. Gak kaya tukang sayur bisa ditawar...


***


Hai readers... maaf ya ceritanya kaya gini. Efek gabut author abis bangun sakit tapi banyak kerjaan menumpuk dimana-mana.


Semoga bisa tetap happy ya...


Jangan lupa tinggalkan jejak cantik dan manjanya ya...


See you next episode 😁😘🥰🙏..

__ADS_1


__ADS_2