
Hai readers... Author coming again with new episode.
Happy reading...
********************************
Jam pelajaran yang diampu Qarmitha sudah selesai. Berhubung hanya sebagai guru bidang studi, gadis itu boleh meninggalkan sekolah. Kebetulan hari ini juga dia memiliki jam mengajar di sekolah lain. Tidak terlalu jauh, karena hanya jarak antara sekolah ini dengan sekolah yang akan ditujunya bisa ditempuh dalam waktu tiga puluh hingga empat puluh lima menit.
Setelah berpamitan dengan para guru yang kebetulan sedang berada di kantor guru, Qarmitha masih mengenakan kaos serta celana panjang olahraganya, dan sepatu kets putih. Tidak ketinggalan jaket baseball kesukaannya.
Qarmitha memang sengaja tidak mengganti kostum olahraganya, karena dia enggan melakukannya. Toh, bila tiba di sekolah lain dia akan tetap memakai kostum yang sama. Tidak mungkin dia mengajar pelajaran olahraga tapi kostumnya blazer khas guru kelas. Lalu menggendong tas punggungnya bergegas menuju areal parkir sekolah khusus guru.
Tempat parkir yang memang dikhususkan, tempat berkumpul para kendaraan kepala, guru, dan staf sekolah. Baik yang beroda dua maupun beroda empat tampak anteng dan aman. Sementara areal parkir murid berada di tempat lain di sekitar sekolah.
Baru setengah jalan kakinya melangkah menuju areal parkir. Ponselnya tiba-tiba bergetar di saku celana olahraganya. Senyum cerah terbit di sudut bibir Qarmitha saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya, 'MY SWEET BABY'.
"Halo, Yang," suara dari ujung telepon menyapa mesra dan lembut. Dia adalah Dicky, cowok yang digadang-gadang akan menikahi Qarmitha.
"Ya, Beb," sahut Qarmitha manja. Menghentikan langkahnya sejenak.
"Nanti malam kamu ada waktu gak, Yang? Soalnya teman kantor aku ada yang nikahan. Aku mau ajak kamu buat nemenin aku datang ke sana," tutur Dicky menjelaskan.
"Ada dong... buat kamu apa sih yang gak ada," Qarmitha terkekeh kecil. Melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Melewati koridor yang cukup panjang.
"Oke. Nanti jam 7 malam aku datang menjemput kamu di rumah ya, Yang," tukasnya.
"Assiaaapp! Aku tunggu. Tapi kamu jangan sampai telat datangnya ya," pesan Qarmitha sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
Tidak terasa Qarmitha sudah sampai di areal parkir guru. Langsung menuju motor metiknya, dan memasukkan kunci pada lubang kunci. Memijat tombol starter. Lalu melajukan motornya dengan pelan meninggalkan tempat itu.
*
Qameella dan rekan satu divisi beserta karyawan lain yang berbeda divisi sudah berkumpul di dalam aula kantor. Sebuah ruangan yang sengaja diperuntukkan kegiatan atau acara kantor dalam kapasitas cukup besar.
Ini bukan pesta. Hanya acara penyambutan sederhana. Jadi, aula ini tidak didekorasi secara serius. Pak Ridwan pun tidak melakukan persiapan yang terlalu ribet. Mengumpulkan semua karyawan di sela jam kerja, sebelum jam makan siang tiba.
Alhasil para karyawan berdiri memenuhi aula itu tanpa banyak mengeluh. Mengikuti perintah atasan. Tentu mereka tidak ingin melanggar perintah bila mau tetap panjang umur bekerja di perusahaan ini.
Saat sedang menunggu kedatangan CEO, juga anak dari pemilik perusahaan ini. Para karyawan menghabiskan waktu saling mengobrol antara satu dengan yang lainnya. Menciptakan suasana bising seperti suara dengingan serangga penghisap darah. Rupanya mereka sedang membicarakan sosok CEO baru yang akan datang berkunjung.
Berita yang begitu cepat tersebar tentang sosok yang digadang-gadang masih berusia muda, tampan, lajang dan smart. Tidak sedikit para karyawati yang mendamba menjadi pasangan sang CEO itu kelak. Juga memuji kekayaannya yang tidak akan habis sampai tujuh turunan.
Sementara Qameella, Dita dan Arien berdiri sejajar di baris keempat. Tampaknya tidak tertarik membicarakan CEO yang katanya tampan dan tajir melintir itu. Karena mereka belum pernah bertemu secara langsung menikmati ketampanannya. Jadi, ya gak objektif dong gosip cuma katanya, katanya doang.
Mereka tampak anteng berada di tengah barisan dengan formasi Qameella berada diantara Dita dan Arien. Mungkin karena Arien masih sakit hati dengan ucapan Dita pagi tadi. Makanya di memilih berdiri di sebelah kanan Qameella. Sementara Dita di sebelah kiri gadis berkacamata itu. Dia tidak mau kontak fisik atau terlibat percakapan dengan wanita hamil itu.
"Lihat tuh, Meel, si perawan tua itu!" seru Dita berbisik di telinga Qameella.
Kontan Qameella memiringkan kepalanya seraya menajamkan rungunya. Lalu melirik perempuan yang dimaksud lawan bicaranya sekilas.
"Dia pasti lagi galau kelas berat, hihihi..." lanjutnya masih berbisik lalu cekikikan.
"Eh, shut!" Qameella meletakkan satu jari telunjuk di depan bibinya sendiri memperingati. "gak boleh ngomong begitu. Gak baik, walau gimana pun Mbak Arien juga teman kamu. Juga gak baik sama perkembangan mental janin di perut kamu kalo Emaknya gibah terus."
"Ya elah Meel... anak gue masih di perut. Belum lahir masa udah kena mental aja?"
"Bisa aja. Kan awal pertumbuhan janin emang dari perut Emaknya dulu kali... emangnya anak kamu langsung ada di dunia gitu?" Qameella berusaha memberi penjelasan walau dia sendiri tidak yakin dengan kevalidannya.
__ADS_1
"Emang iya sih, anak gue gak langsung lahir. Tapi..." Dita tidak jadi melanjutkan ucapannya, setelah Qameella menghalanginya melakukan gerakan tutup mulut, dengan mengulang menempelkan satu jari telunjuk di depan bibinya.
*
Qarmitha melajukan sepeda motornya hendak keluar dari pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba seorang murid perempuan datang mendekati langsung menghentikannya. Sontak dia menarik pegangan tangan rem sepeda motornya untuk menghentikan laju kendaraannya. Lalu mematikan mesin sepeda motornya.
"Bu, Bu, Bu Mitha tolong!" serunya panik. Wajahnya terlihat pucat juga cemas. Napas terengah-engah dengan peluh bercucuran membasahi dahinya. Satu jari telunjuk kanannya terus mengarah ke arah luar pintu gerbang.
Qarmitha yang tidak mengerti maksud gadis itu mengerutkan kening bingung.
"Ada apa, Sari?" tanya Qarmitha meminta penjelasan.
"Anu Bu, itu, anu, eh... anu..." gadis berseragam putih biru itu tergagap, sulit sekali mengeluarkan kalimat-kalimat untuk menjelaskan.
"Tenang dulu sari. Bicara perlahan. Oke. Tarik napas dulu lalu buang, iya sekali lagi. Tarik... buang," ujar sang guru olahraga cantik itu memberi pengarahan. Dan langsung diikuti oleh sang murid.
"Hah...." desah gadis bernama Sari itu diakhir saat membuang napasnya.
"Gimana, udah lega belum?" tanya Qarmitha lagi memastikan.
Sari mengangguk cepat mengiyakan.
"Ya udah. Sekarang kamu jelaskan ada apa sama ibu," titahnya setelah Sari tenang.
Ketika Sari hendak membuka mulut mendadak seseorang datang menampar punggungnya. Mengurungkan niatnya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Qarmitha.
"Woy, lama banget sih lo?" geram gadis yang juga berseragam putih biru itu terengah-engah.
"Keburu anak-anak perang, terus terjadi pertumpahan darah," lanjutnya sewot.
"Ah, elo rempong. Gue baru Mao ngomong sama Bu Mitha, eh elo udah neblak gue aja. Sakit tahu," keluh Sari mengusap punggungnya yang panas juga sakit.
"Tunggu! Sebenarnya ada apa sih? Kok kalian berdua kelihatan panik gitu?" selidik Qarmitha.
Sari ingin menjelaskan. Lagi, temannya yang baru saja datang malah mendorong pelan dirinya hingga mundur satu langkah ke belakang.
"Aaaah, lama lo!" serobot gadis berkuncir kuda itu.
"Ayo Bu, ikut saya," pintanya meraih tangan sang guru.
"Kita gak boleh kelamaan. Kita harus cepat menghalangi anak-anak supaya gak terjadi pertumpahan darah," tukas gadis bernama Nia itu.
Buru-buru Qarmitha menunjang sepeda motornya, meninggalkan kendaraannya teronggok di tengah jalan. Lalu mengekori muridnya yang tidak sungkan menggandeng pergelangan tangannya. Bila diperhatikan kelakuan Nia sudah seperti sedang menuntun anak kecil agar segera ikut dengannya. Kelakuan murid jaman now. Sari berjalan di belakang mereka.
Haih.... ada apa sebenarnya pada mereka.
Saat melewati pos satpam, Qarmitha sempat menitipkan sepeda motornya. Serta minta diamankan agar harta berharganya tetap terpelihara dengan baik.
Tanpa menunggu lama, pria berseragam satpam itu pun melakukan hal yang diminta guru cantik. Setelah sebelumnya mengiyakan permintaan Qarmitha.
Sepanjang perjalanan Nia menceritakan tentang pertengkaran Fakhri dan Rifqi yang ternyata masih berlanjut pada Qarmitha. Ceritanya sangat detail dari pangkal permasalahan yang terjadi di antara mereka.
Di tengah jalan ada lagi seorang murid dari sekolah yang sama menghampiri mereka. Kemudian memberi tahu bahwa Fakhri dan Rifqi saat ini berada di klinik dokter L.
"Hah, klinik Dokter L? Dimana?" tanya Qarmitha heran.
"Itu lho Bu, di ujung jalan sana," sahut Nia menunjuk lurus ke depan.
__ADS_1
"Seingat ibu itu namanya bukan Dokter L. Tapi klinik Mitra Sehat Medika," kata Qarmitha begitu polos.
"Ah, ibu gak gaul banget sih? Nama kliniknya emang Mitra Sehat Medika. Tapi dokter praktek di sana ganteng banget, mirip banget sama anggota boyband infinite. L... itu lho Bu, Kim Myung Soo. Bu Mitha tahu kan?" Nia begitu antusias menjelaskan panjang lebar.
Namun orang yang mendengar penjelasan itu tampak cengo. Tidak mengerti sama sekali siapa itu L? Dan apa tadi, Kim Myung Soo?
"Eh... artis ya?" tanyanya yang langsung diangguki para gadis pecinta Kpop itu.
"Artis Jepang apa Cina?"
Ouch! Mitha si guru olahraga, mantan atlet basket wanita yang paling tersohor, semasa SMA. Ternyata tidak up to date.
"Hah?!" Sari, Nia dan murid itu terkejut dengan ekspresi yang kocak.
*
Akhirnya orang yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi muncul. Didampingi Pak Ridwan, sosok tampan, tubuh tinggi, kekar dengan kharisma seorang pemimpin muncul dari balik pintu aula.
"Mari kita sambut kedatangan Pak Pandega, selaku CEO baru di perusahaan pusat.
Beliau adalah salah satu lulusan terbaik dari Harvard University, Amerika," begitu kata Mas Fadhlan yang didapuk sebagai MC dadakan.
Sontak mereka semua mengalihkan pandangan ke arah pintu. Mereka benar-benar tersihir dengan sosok pria muda yang sedang berjalan melewati mereka. Senyum menawan dengan lesung pipi yang mempesona. Sambil berjalan mengikuti arahan Pak Ridwan, dia mengangguk seolah sedang menyapu mereka.
Qameella mengangkat wajahnya saat nama 'Pandega' diucapkan oleh Fadhlan. Berharap nama yang didengarnya salah. Tapi jika benar, berharap nama itu bukan Pandega Garda Negara. Mantan suaminya yang telah lama meninggal dunia.
Tetapi, ketika netranya melihat sosok CEO baru itu. Sepasang mata indahnya di balik kacamata minusnya terbeliak kaget.
"Gar-da?!" bisiknya pelan.
Gak mungkin! Qameella menggeleng gelisah.
Di waktu yang bersamaan. Qarmitha bersama ketiga murid perempuannya, setengah berlari masuk ke dalam ruang IGD klinik Mitra Sehat Medika. Tempat kedua muridnya mendapat pertolongan pertama.
Mereka cukup panik saat melihat kedua murid laki-lakinya, dengan wajah bonyok hampir tidak berbentuk.
"Anda walinya?" tanya seseorang dari balik punggung Qarmitha tiba-tiba.
Qarmitha memutar tubuhnya cepat.
"Bukan!" jawabnya singkat.
Mendadak netranya berserobok dengan tatapan pria muda berjas putih. Refleks matanya membeliak kaget dengan kehadiran sosok di hadapannya.
"Re-ga?!" ujar Qarmitha.
Hah?!
Semua murid Qarmitha tampak terkejut melihat sang guru yang ternyata sudah mengenal sang dokter incaran mereka.
*
Sampai di sini dulu ya update hari ini.
See you next episode...
Selamat bermalam Minggu... 😘
__ADS_1