Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Biarkanlah Kami Tetap Bersama


__ADS_3

Ciluuuk... baaaa!!! 😁🤗


Hai, hai readers... udah lama nungguin ya...


Maaf ya... kali ini author terlalu keasyikan kerja di dunia nyata. Maklum lagi banyak kerjaan yang harus segera diselesaikan author .


Happy reading aja deh ya... 😉


*******************************************


Duduk berdua di warung makan sederhana pinggir jalan, dengan menu sarapan pagi yang sederhana pula. Dimana Garda dan Qameella sengaja singgahi untuk mengisi perut mereka yang kosong. Namun tidak lantas sesederhana yang terucap oleh lisan. Justru menghadirkan rasa yang sangat istimewa dalam kalbu. Tentu saja bukan karena tempat atau pun menu makanan yang masuk ke dalam perut. Apalagi jika bukan orang yang sedang menemani kita, yaitu orang terkasih juga tercinta.


Andai saja situasi dan kondisi hubungan antara Garda dan Qameella tidak serumit saat ini. Pasti kisah cinta mereka lebih indah dari indahya bunga mawar berduri. Dan lebih manis dari manisnya gula atau madu. Juga lebih romantis dari cerita dalam novel atau pun cerita sinetron yang jumlah episodenya ribuan. Apalah daya semua itu sudah suratan takdir. Tidak ada yang mampu merubahnya. Kecuali atas izin Sang Maha Pemilik Kehidupan. Sebagai manusia biasa sepasang pengantin remaja itu hanya bisa menjalani sesuai dengan aturan-Nya.


Lantaran sangat menikmati sarapannya, tanpa sadar Qameella meninggalkan sisa makanannya di sudut bibir merah alaminya. Hingga mengundang perhatian Garda. Cowok itu pun tersenyum melihatnya. Tanpa rasa canggung langsung menyeka sisa makanan itu dengan tangannya sendiri. Sontak Qameella menoleh, terusik dengan sentuhan suaminya. Kemudian tatapannya bersirobok dengan sang pemuda. Sejenak keduanya tenggelam dan larut dalam kebisuan.


Garda mengunci tatapannya pada Qameella. Entah mereka sadari atau tidak, kini jarak di antara mereka sangat dekat. Hingga keduanya dapat merasakan hembusan napas satu sama lain.


Seakan tidak ingin membuang kesempatan, Garda semakin mengikis jarak agar dapat mencium Qameella. Namun semuanya hanya sekedar asa, lantaran harus pupus saat...


"Uhuk! Ehm, ehm!" suara mengganggu yang tiba-tiba menusuk indera pendengaran Garda dan Qameella. Huh! Siapa lagi jika bukan ibu pemilik warung. Wanita itu mendadak datang membawakan air hangat atas permintaan Qameella. Tapi siapa sangka malah melihat adegan yang membuatnya canggung.


Kontan sepasang sejoli itu menoleh ke sumber suara. Sangat kentara sekali jika mereka terjengit kaget dan salah tingkah. Seperti maling yang sefang tertangkap basah.


Buru-buru Qameella menjauhkan wajahnya dari Garda dengan wajah yang bersemu. Langsung meraih gelas yang baru saja diletakkan di atas meja oleh wanita itu. Dan menyeruputnya sedikit karena air diberikan terasa membakar lidahnya.


"Ya elah tong... neng... masih pagi udah pada maen sosor-sosoran bae. Udah kaya ikan ****** aduan aja," ujar wanita itu berceloteh. "Hemm... dasar bocah jaman sekarang," pungkasnya berbalik beranjak pergi dari hadapan mereka.


Garda dan Qameella speechless mendengar ucapan  wanita tadi.  Tetapi setelah wanita itu pergi, keduanya tertawa pelan. Menertawakan tingkah konyol mereka.


"Kamu sih gara-garanya, maen sosor-sosor aja," sindir Qameella seraya terkekeh geli.


"Hei, gak usah ikutan rese deh," sahut Garda dengan wajah kesalnya.


Untung saja warung itu sedang sepi pengunjung. Jadi, ada orang lain yang menyaksikan adegan yang baru saja mereka lakoni, kecuali si ibu pemilik warung. tidak Hingga tidak terlalu malu mengumbar kemesraan di muka umum.


Garda mengusap wajahnya kasar. Lalu melirik Qameella yang masih terkikik sendiri sambil memegang gelas air minumnya. Gemas rasanya Garda melihat pemandangan itu. Akhirnya, tanpa ba-bi-bu dia merangkul bahu Qameella. Setelahnya, dengan sengaja menarik dan mengarahkan wajah Qameella. Lalu mencium singkat bibir Qameella.

__ADS_1


Sontak Qameella berdesis kesal menunjukkan protesnya. Namun diabaikan Garda dengan wajah tanpa berdosanya. Dengan tampang menyebalkannya malah tersenyum jahil.


Tiba-tiba ponsel Garda berdering panjang. Si empunya pun langsung menyambarnyarnya. Terlihat nama 'Keling' tertera pada layar ponselnya. Sebelum mengangkat telepon dia meminta izin terlebih dahulu pada Qameella, lalu berdiri dan berjalan menjauh ke arah luar.


"Ya, Ling, kenapa?" tanya Garda cepat.


"Bro, gawat! Mereka berhasil ngelacak elo. Sekarang mereka lagi meluncur ke tempat lo," jawab Ryan di seberang sana terdengar panik.


Garda terperanjat kaget.


"Sialan!" umpatnya memukul pelan tiang bambu di dekatnya.


"Bro, gimana rencana lo selanjutnya sama si Meella?" selidik Ryan ingin tahu.


"Gue harus cabut dari sini. Sebelum mereka berhasil nemuin gue, bisa mungkin gue berusaha bawa Bini gue cepet nyampe di rumah nenek gue," jawab Garda tanpa ragu.


Ryan terdiam di ujung sana bersama para anggota geng yang sedang memasang telinga di balik ponsel. Bahkan ada yang seperti cicak menempelkan pipinya pada tangan Ryan yang sedang menggenggam ponsel.


"Ya udah, Ling, thanks ya udah bantuin gue sama Bini gue. Gue janji gak bakal lupain jasa baik lo juga teman-teman yang lain. Sampein salam gue sama yang lain. Maaf gue belum bisa bales jasa baik kalian semua," tutur Garda mengakhiri sambungannya secara sepihak.


Garda langsung mengeluarkan selembar uang berwarna biru untuk membayar makanan yang telah dimakannya bersama Qameella pada pemilik warung. Setelahnya membawa Qameella pergi meninggalkan tempat persinggahan sementara mereka.


Sementara Garda tengah gelisah. Berusaha berkonsentrasi dalam berkendara sambil berpikir keras menghadapi orang-orang suruhan Andika sendirian. Ya, dia akan menghadapinya sendirian karena para anggota gengnya tidak ada bersamanya. Dan dia pun tidak mungkin menyuruh Qameella ikut bertarung bersamanya.


Sepeda motor yang dibawa Garda sudah melaju jauh meninggalkan perbatasan kota. Tiba–tiba dari kaca spion Garda melihat sebuah mobil pajero hitam berada tepat di belakangnya, seakan sedang membuntutinya. Entah mengapa perasaan Garda mendadak terasa tidak enak. Dalam hati hanya bisa berharap agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun dia tidak bisa mengabaikan keberadaan mobil di belakangnya yang terus saja membuntuti.


“Bi, pegangan yang kencang ya,” pinta Garda sebelum menaikkan kecepatan laju sepeda motor yang dikendarainya. Qameella hanya mengangguk pasrah seraya menuruti permintaannya.


Betapa pun kencangnya sepeda motor yang Garda kendarai, mobil itu dapat mengejarnya juga berhasil mendahului, lalu melintang di tengah jalan menghalangi jalannya. Sontak Garda menginjak dan menarik kedua rem yang ada di tangan dan kaki kanannya. Tepat saat sepeda motor Garda berhenti, orang-orang berpakaian serta hitam turuh dari mobil itu langsung berjajar dan memagari sepasang sejoli itu.


Garda dan Qameella turun dari sepeda motor. Entah siapa yang memulai lebih dulu terjadi perkelahian antara Garda dan orang – orang itu. Tetapi tidak berlangsung lama setelah seseorang datang menghentikan mereka.


“Gar, kamu gak papa?” serbu Qameella berhambur dalam pelukan Garda. Air matanya tumpah seketika melihat wajah tampan suaminya terlihat babak belur terkena pukulan orang itu.


"Saya gak papa, Bi. Kamu jangan khawatir ya," ujar Garda menenangkan sang istri.


"Nggak. Kamu berdarah," sergahnya menyeka sudut bibir Garda yang pecah. Dan kali ini Garda tidak bisa menutupi rasa sakitnya, karena suara desisan menahan sakit terdengar jelas pada rungu Qameella.

__ADS_1


"Tuh, kan kamu sakit," Qameella tampak prihatin melihat luka - luka Garda. Walau pun luka itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan luka-luka yang pernah didapat saat berkelahi dengan anggota geng lain.


Para pria berseragam hitam langsung menunduk hormat saat seorang pria lain berdiri di depan mereka. Pria itu tampak sangat berwibawa dan disegani. Garda tahu siapa pria tersebut. Dia adalah Charles tangan kanan Andika.


Entah apa lagi yang akan dilakukannya pada Garda dan Qameella setelah perilaku buruk para anak buahnya.


Tanpa ba-bi-bu Charles menampar para anak buahnya yang sudah lancang menghajar anak majikan mereka. Spontan Qameella terjengit kaget, menyembunyikan wajahnya di dada Garda. Begitu pun Garda yang tidak kalah terkejutnya melihat pemandangan itu.


"Dasar bodoh!" hardik Charles pada mereka semua. Setelahnya menghampiri Garda. Memberi hormat pada Garda sekaligus meminta maaf.


"Maafkan mereka Tuan Muda. Mereka tidak mengerti tugas mereka yang sebenarnya."


"Tugas?" Garda mengulangi meminta penjelasan. "Maksud Om tugas apa?"


"Maaf, Tuan Muda. Sebenarnya kami ditugaskan oleh Tuan besar untuk membawa pulang Tuan Muda dengan selamat," jawab Charles jujur.


"Hump!" Garda tersenyum miring meremehkan. "membawa pulang saya dengan selamat? Heh, aneh! Kenyataannya mereka ingin membunuh saya setelah membuat saya babak belur," sindirnya melirik sekelompok pria itu yang kini diam menundukkan wajahnya.


"Sekali lagi saya mohon maaf atas nama mereka Tuan Muda," Charles membungkukkan setengah badannya. Lalu menegakkan tubuhnya kembali.


"Sekarang Tuan Muda saya mohon ikut kami pulang sesuai permintaan Tuan Besar," lanjutnya penuh harap.


Garda bukanlah anak kecil yang mudah dibujuk hanya sekedar kata-kata belaka. Kini dia sudah tumbuh menjadi remaja yang cukup dewasa. Tentu saja sudah beristri. Dia punya pemikiran sendiri dan komitmen pada Qameella.


"Maaf Om, saya bukan anak kecil lagi yang gampang dibujuk dengan kata-kata sederhana. Bilang sama Papa, saya gak mau pulang," tukas Garda mantap. Kemudian meraih tangan Qameella seraya menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Qameella. "karena saya akan hidup bersama istri saya."


Qameella menatap Garda yang juga sedang menatapnya sendu. Seulas senyum terbit di bibir ranumnya.


"Tapi Tuan Muda..."


"Gak ada tapi tapi. Om tinggal ngomong gitu aja sama Papa," Garda benar-benar tidak ingin menuruti permintaan Andika atau siapa pun. Kemudian berjalan menuju sepeda motor yang sempat ditinggalnya lantaran harus meladeni orang-orang bodoh itu. Setelah menyalakan mesin dia melaju pergi meninggalkan mereka.


Qameella memeluk pinggang Garda possesif dengan senyum merekah bahagia.


*


Ceritanya sampai di sini dulu ya... next time kita lanjut...

__ADS_1


😉😘


__ADS_2