
Happy reading
Jeng Devi dan Fiola saling beradu pandang lalu sama-sama mengedikkan bahu. Ibu dan anak itu tampak heran, sekaligus tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka.
"Ada apa sih mereka, Mom? Kok aneh banget?" tanya Fiola ingin tahu seraya melihat punggung Karina yang telah hilang di balik dinding pembatas antara ruang makan dan ruang keluarga.
"Iya, Mommy juga gak tahu, sayang," sahut Jeng Devi sambil melihat ke arah yang sama dengan putrinya.
"Aku jadi kepo deh, Mom, sama mereka," ujar Fiola.
"Iya, Mommy juga," Jeng Devi membeo seakan tidak ada kalimat lain yang lebih kreatif untuk diucapkan.
"Ck! Mommy, emang gak ada kata lain ya yang lebih kreatif buat ngomong ke aku?" protes Fiola merasa ucapan Mommy nya terlalu monoton.
Seketika Jeng Devi melotot seraya mengerutkan keningnya ke arah Fiola.
"Kamu pikir Mommy mau nulis kata-kata mutiara, pakai kalimat kreatif segala," kilahnya.
"Ih, Mommy aneh, deh," decihnya malas.
"Ck! Udah ah, jangan debat lagi. Mending kita nyusul ke depan. Sekalian kita lihat ada pertunjukkan apa di sana," cetus Fiola cepat, bangkit berdiri yang langsung diikuti oleh Mommy nya.
Keduanya beranjak pergi menyusul Karina.
*
"Mith, Mith, Mith... Mitha..."
Panggilan itu tidak menyurutkan si empunya nama untuk berhenti apalagi menoleh si pemanggil. Hingga Rega berhasil menarik lengannya, barulah gadis keras kepala itu berhenti. Lalu berdecak kesal dengan wajah masam yang dipalingkan. Enggan rasanya menoleh dan bertatap muka dengan wajah suaminya yang ganteng tapi bego. Eh, gak deh pintar. Kan dokter, masa iya bego.
Tapi kalo bukan bego apa namanya, coba? Masa sih di depan muka istrinya, mau-maunya dijodohin sama cewek lain. Dimana otak pintar dan cerdasnya yang biasanya dipakai buat berpikir? Anehnya lagi gak mau ngenalin Mitha sebagai istrinya. Dan nyokapnya juga, udah tahu anaknya udah punya pasangan, seenak udelnya tanpa rasa berdosa jodohin suaminya. Dasar keluarga eror! Pikir Mitha kesal.
"Mith," panggil Rega sekali lagi.
"Apa?" sahutnya ketus.
"Kenapa kamu langsung pergi gitu aja?" tanya Rega ingin tahu.
__ADS_1
Dengan malas Mitha membalikkan badannya menghadap Rega. Kini keduanya sudah berada di teras depan rumah mewah Karina. Dari kejauhan dia melihat si empunya rumah sedang berjalan ke arah mereka. Namun berhenti sebelum mencapai pintu utama.
"Hah? Kenapa kamu bilang? Kami tanya?" dengan nada mengejek Mitha balik bertanya.
Rega hendak menjelaskan namun kalimatnya tertahan hanya sampai di tenggorokan.
"Basi, tahu gak?" sentak Mitha kesal.
Rega terkesiap mendengarnya. Baru kali ini dibentak cewek. Parahnya cewek itu berstatus istri baginya. Biasanya dia selalu diperlakukan baik setiap cewek yang mengenalnya. Apalagi pesonanya yang bawaannya bikin cewek-cewek tidak bisa diam. Bawaannya pengen ngejar Mulu kaya jambret kepergok massa. Tapi kalo Rega bukan gitu ya.
"Mith, aku..."
"Udah deh, Ga. Kamu gak perlu jelasin apa-apa. Aku udah tahu kok," ucapnya cepat. Mitha tidak mau mendengar apa pun lagi.
"Makasih atas undangan makan malamnya, Tante," Mitha meninggikan suaranya, agar Karina yang berada agak jauh darinya bisa mendengar dengan jelas.
Rega memutar lehernya melihat ke arah yang sama dengan Mitha. Dari tempatnya berdiri pemuda tampan itu bisa melihat ibunya bergeming, mematung di tempatnya. Dia juga dapat melihat pasangan ibu dan anak yang hanya menyembulkan kepalanya, di balik dinding pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah.
"Tante gak usah khawatir, anak Tante tetap jadi anak kesayangan Tante yang akan mengikuti keinginan Tante," imbuh Mitha berusaha menunjukkan senyum yang dipaksakan.
"Karena aku gak akan ngalangin Rega buat menikah dengan cewek pilihan Tante. Seneng kan Tante? Itu artinya sebentar lagi aku dan Rega akan bercerai," seringai semirk Mitha terkesan menakutkan.
"Mitha, plis!" mohon Rega yang tidak digubris sama sekali oleh lawan bicaranya.
Pasangan ibu dan anak yang masih setia mengintip di tempatnya beradu pandang dengan tatapan penuh arti. Sepertinya mereka sangat senang mendengar informasi perpisahan Rega dan Mitha. Walau pun keduanya masih bertanya-tanya dalam hati masing-masing, kapan pernikahan Rega dan Mitha terjadi. Karena sepi-sepi saja tidak ada kabar beritanya.
"Udah, Rega. Kamu gak usah lebay di sini. Toh, saat di meja makan aja kamu gak gini. Kamu fine-fine aja. Happy lagi aku lihat. Begitu menikmati kebersamaan kalian berdua," ungkap isi hati Mitha begitu meluap-luap. Namun sebisa mungkin dia tekan agar tidak sampai meledak-ledak.
"Tapi, tadi aku...," Rega ingin membela diri.
"Gak papa lagi...," sambung Mitha berusaha santai tetap mengontrol emosinya.
"Lagian aku gak mau ngulang sejarah. Kamu masih ingat kan, juga Tante, gimana perjuangan Garda sama Meella? Demi cinta mereka mati-matian dan berani tarohin nyawa buat buktiin ke bokap kamu, betapa besar cinta mereka. Dan ending nya... kamu tahu sendiri. Garda mati beneran. Meella setengah mati dan setengah gila," tuturnya mengingatkan peristiwa berdarah itu.
Kali ini Mitha tidak kuat membendung air matanya lagi sebagai luapan emosinya. Walau hanya sebulir yang menetes dari sudut matanya. Buru-buru menyekanya kasar dengan punggung tangannya. Lalu menghela nafas berat. Tersenyum kecil sebelum melanjutkan bicara.
Tidak ada satu pun yang menyangga Mitha mengenai Garda dan Meella. Semuanya tampak murung mengingat kembali kisah cinta Garda dan Meella bak cerita romantis karangan William Shakespeare, Romeo and Juliet. Tapi kalo yang ini ala-ala Indonesia ya.
__ADS_1
"Huh, kalo dipikir-pikir, mending jadi Garda. Dia cuma mati terus dikubur di dalam tanah. Tapi yang gak enak Meella. Berkali-kali nyoba bunuh diri supaya bisa nyusul Romeo nya. Mati nggak, nyusahin iya. Karena kita berkali-kali juga berusaha ngobatin dia biar tetap hidup."
Mitha terdiam sejenak. Mengatur nafasnya dan emosinya agar tetap stabil. Betapa penderitaan saat itu dan masih berlangsung hingga detik ini. Meski sekarang bisa lebih normal dari sebelumnya. Semua itu sangat membekas di hati Mitha.
"Apa Tante sama kamu tahu gimana kondisi Meella setelah sehat? Ya, dia jadi setengah gila karena selalu ngajak ngomong foto Garda. Makan sampai tidur yang selalu dia ingat foto anak Tante, si Garda sial...," hampir saja Mitha mengumpat orang yang sudah meninggal dunia. Jahat sekali dia karena kesalnya jadi hampir hilang kendali.
Karina dan Rega sangat terkejut mendengar kabar Meella dari Mitha. Dan ikut prihatin dengan apa yang sudah terjadi dengan gadis malang itu. Tidak ada yang bersuara selain Mitha, saat menceritakan setiap detail penderitaan pasca ditinggal mati oleh Garda. Tidak ada yang baik-baik saja pada saudara kembarnya. Termasuk kandasnya pertunangan Meella dengan Mirza. Tentu saja tidak membongkar motif utamanya.
Mitha kembali menyeka buliran bening dari sudut matanya dengan telapak tangannya sendiri.
"Setelah semua hal yang nyakitin terjadi sama Meella, tentu aku gak mau jadi korban berikutnya, Tante... Apalagi sampai mantan suami Tante tahu hubungan kami yang bukan berstatus pacar. Saya yakin sejarah akan berulang. Karena mantan suami Tante sepertinya benci banget anak keturunannya punya hubungan dengan keluarga kami.aaf Tante, walau pun saya gak tahu gimana hubungan kalian dengan orang tua saya. Saya masih bisa menilainya. Dan dengan ini saya nyatakan pernikahan saya dan Rega berakhir," putusnya secara sepihak bersama air mata sialan, yang sedari tadi ngeribetin banget. Keluar melulu padahal gak disuruh.
Rega terhenyak di tempatnya berdiri. Sakit hati sudah pasti karena untuk pertama kalinya dia ditolak dari awal menjalin hubungan dengan istrinya. Dan untuk pertama kalinya pula diputusin seperti layangan kusut.
"Selamat ya, Ga. Kamu gak perlu patah hati. Oh, aku salah. Kamu gak bakalan patah hati karena kita gak saling mencintai. Jadi maksud aku, setelah ini kamu bisa menikah lagi. Tentunya dengan cewek pilihan Mama kamu. Sekali lagi selamat," pungkas Mitha mengakhiri pembicaraannya. Setelahnya dia beranjak pergi meninggalkan rumah mertuanya.
Pasangan ibu dan anak yang masih setia di tempatnya, belum beranjak sedikit pun. Tampak bersorak riang dengan suara yang pelan tentunya. Mereka sangat mengaminkan hancurnya rumah tangga Rega dan Mitha yang baru seumur jagung.
"Mitha," suara Karina menginterupsi, sontak menghentikan langkah menantunya.
"Maafin Tante. Tante gak bermaksud...," ucap Karina ragu, menyesali sikapnya tadi. Namun Mitha segera menyela ucapan wanita itu.
"Tenang Tante, aku bukan orang yang pendendam. Aku udah maafin Tante, walau hatiku sakit. Gimana pun Tante adalah orang tua Rega. Otomatis jadi orang tua aku juga. Sebagai anak, aku gak boleh dendam sama orang tua. Benar kan, Tan?" sahutnya tanpa berbalik badan.
Rega segera mengejar Mitha yang langsung berlalu pergi dari hadapan mereka. Namun semakin dia kejar, gadis itu semakin menjauh. Hingga sebuah mobil melintas tidak jauh dari gerbang rumahnya. Tanpa menoleh lagi ke arahnya, Mitha menghilang seiring mobil SUV tertutup pintunya. Dan meluncur mulus meninggalkan area perumahan elit tempat tinggal Karina dan dirinya.
"Sial!" pekiknya geram seraya memukul udara.
Rega tidak mau kehilangan jejak Mitha. Oleh sebab itu, dia segera berlari ke arah mobilnya. Tanpa pikir panjang dia langsung menghidupkan mesin mobilnya, lalu melesat pergi meninggalkan areal parkir rumah yang ditinggali sejak Karina berpisah dengan Andika.
Tidak lama berselang. Sebuah mobil dengan warna sama milik Rega, namun beda tipe juga merk berhenti di depan pintu gerbang rumah Karina yang belum tertutup. Kemudian kaca jendela mobil itu sengaja dibuka. Menampilkan wajah yang sama persis dengan Rega. Tetapi pemuda itu bukan Rega. Ya, dia adalah Garda.
Kebetulan malam ini dia berkeliling di sekitar kota yang menurut informasi didapat, merupakan kota bersejarah dalam hidupnya. Hampir sebagian besar hari-harinya di lewati di sini. Dan kini dia sudah berada di depan rumah yang entah milik siapa. Tetapi naluri juga sedikit ingatannya menuntun ia hingga sampai sini.
Gelombang perasaan yang entah apa namanya. Terus saja menyeretnya masuk ke dalam melewati pintu gerbang. Setelah sebelumnya seorang satpam menegurnya dan memintanya segera masuk. Walau berat, dia tetap melakukan apa yang diminta oleh lelaki hampir paruh baya berseragam itu.
Dia membuka pintu mobilnya, menjejakkan kaki, lalu keluar menunjukkan wajahnya yang tampan.
__ADS_1
"Den Rega, udah balik cepat, emangnya udah ketemu sama neng yang tadi?" tegur pria itu, berdiri tidak jauh darinya.
"Neng? Neng siapa?" tanya Garda bingung.