
Happy reading readers…
**************************************************
Bukan bermaksud lancang, Garda terpaksa membuka tas tanpa izin. Tidak banyak barang yang ditemukan di dalamnya. Hanya ponsel dan dompet. Dia pun dengan mudah memeriksa setiap sudut dompet dan membuka ponsel. Hanya saja ponsel itu kehabisan daya saat akan membuka kode penguncian layar.
****!
Garda meletakkan dengan kasar ponsel itu di atas kasur. Dia geram tidak berhasil menemukan bukti yang diinginkan.
Saat Garda sedang membuka dompet milik gadis itu, tiba-tiba ada benda yang meluncur begitu saja dari celah dompet. Lalu jatuh tepat di atas pangkuannya. Sontak pria tampan itu tersentak kaget, menundukkan pandangannya pada benda itu. Ternyata sebuah kalung berlapis emas putih lengkap dengan liontinnya.
"Ini...," Garda terdiam sejenak mengamati kalung itu, terutama grafir pada liontin. "... bagaimana mungkin?"
Sepertinya mustahil bila pemilik asli kalung ini adalah gadis itu. Gadis yang memperkenalkan diri bernama Qameella. Karena ini bukan kalung diperuntukkan perempuan. Baik dari segi desain, maupun nama yang terukir pada liontin sangat tidak mencerminkan perempuan.
Satu yang diyakini Garda, pemilik asli kalung ini adalah dirinya sendiri. Ya, miliknya. Terbukti jelas dari nama yang terukir di sana, 'GARDA'. Dan kalung ini sudah lama hilang. Sudah lama dicarinya namun baru hari ini menemukannya.
Buru-buru Garda meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur. Lalu mendeal satu nomor yang sering dihubungi sebelumnya.
"Halo," ujarnya cepat saat sudah tersambung.
"Sandi, tolong segera kamu cari data lengkap karyawan Negara's Group, namanya Qa...," mendadak dia lupa nama gadis itu. Kemudian dia berusaha berpikir cepat serta mengingatnya seraya memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya.
"Ah,... Qameella. Ya, Qameella Aulia..." lagi dia melupakan nama lengkap gadis itu.
"Aulia.... siapa gitu, saya lupa. Pokoknya kamu cari saja data lengkapnya. Setelah itu kamu kirim via email pribadi saya. Hmm... saya tunggu hasilnya tiga puluh menit dari sekarang, ya," pungkasnya memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
*
Tari mengetuk pintu kamarnya sendiri pelan dari arah luar, dengan membawa secangkir teh hangat di tangan lainnya. Lalu mendorongnya perlahan agar tidak terlalu mengganggu Qameella yang sedang entah apa yang
dilakukannya. Gadis itu hanya duduk terdiam di pinggir kasur. Masih dengan jubah mandi yang dipinjamkan Tari, dan rambutnya yang dibungkus rapi menggunakan handuk sehabis keramas.
Matanya tampak sembab, mungkin dia masih tetap menangis saat
mandi tadi. Pandangannya kosong dan lurus menatap lantai kamar yang bersih.
Haihz… Ekspresi wajah datar itu mengingatkan Tari pada hari dimana Qameella
tahu tentang kematian Garda. Sangat menyakitkan melihatnya seperti itu. Yang
melihatnya saja sudah merasakan sakit, bagaimana dengan orang yang
bersangkutan? Tentu saja bukan hanya sakit semata. Melainkan merasa seperti
kehilangan separuh nyawa.
Sebenarnya… ada apa sama si Meella, ya? Apa yang udah terjadi sama dia? Tapi… gue gak bisa langsung nanya sama dia sekarang!
__ADS_1
Qameella memang belum bercerita apa pun perihal sesuatu yang terjadi pada dirinya. Tapi Tari bisa menebak masalah sedang dihadapi sahabatnya itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Terbukti dari gestur tubuh dan ekspresi wajah yang terbilang seolah sudah mengatakan, betapa besar beban yang sedang ditanggungnya.
Padahal Tari sudah dari jauh-jauh hari ingin sekali bertanya perihal pertunangan Qameella dengan seorang pria bernama Mirza. Sayangnya lagi, informasi itu dia dapat bukan dari mulut Qameella sendiri. Tetapi dari media
sosial milik Qamitha.
“Hei, Meel, udah selesai mandinya?” sengaja Tari bertanya hanya untuk berbasa-basi. Lalu meletakkan teh yang dibawanya di atas meja rias.
Tetapi gadis itu hanya diam, tidak memberikan respon apa pun.
“Diminum tehnya, Meel, mumpung masih hangat,” Tari berharap kali ini Qameella meresponnya. Sayang, tidak ada perubahan. Kendati demikian Tari tidak sakit hati.
Tari berjalan menuju ke depan lemari pakaian dua pintu, berjarak lima atau enam langkah dari tempat tidurnya. Setelahnya dia mengambil pakaian miliknya untuk dipinjamkan pada Meella.
Diam-diam Tari melirik ke arah Meella dari ekor matanya, tidak lama hanya sebentar. Selain menuruti tingkat kekepoannya yang tinggi.
Juga untuk mengetahui perubahan sikap Meella, yang sedari tadi hanya diam mematung seperti benda tidak bernyawa. Dan… tidak ada yang berubah. Meella tetap pada posisinya.
“Meel, elo yakin nih gak mau cerita ke gue, tentang masalah lo hari ini?” tegurnya membuka percakapan. Namun tetap tidak ada respon, seolah sedang bicara sendiri.
“Nih, pake aja baju gue,” lanjutnya sedikit mengalihkan pembicaraan seraya meletakkan baju yang diambilnya di atas pangkuan Meella.
“Makasih, Tar. Elo udah mau nerima gue di sini,” akhirnya gadis dingin seperti es batu itu bersuara.
“Ya ampun, Meel… elo gak usah pake ngomong gitu kali…,” sahut Tari langsung memeluk Meella seraya duduk di sampingnya. Kedua pipi
mereka saling menempel.
“Makasih, makasih, Tar. Makasih elo selalu ada buat gue,” suara Meella bergetar bersamaan dengan air matanya yang tumpah dalam pelukan Tari.
*
“Jadi, dia pernah menikah saat masih SMA?” Garda menggosok-gosok bawah hidungnya dengan satu jari telunjuk.
Garda mengerutkan dahi saat membaca laporan tentang Qameella melalui email yang dikirimkan oleh asisten pribadinya. Dia hanya terkejut dengan status yang dimiliki gadis itu ‘JANDA'. Tetapi uniknya keterangan pada kartu
tanda penduduk (KTP) masih lajang.
“Menarik,” decaknya dengan senyum misterius. Pria tampan itu menutup emailnya setelah membaca semuanya hingga selesai.
Kening Garda kembali berkerut mengingat kalung yang tadi ditemukannya dari dalam dompet gadis itu. Dia sedikit heran, mengapa kalungnya bisa berada di tangan Qameella?
Padahal dia tidak pernah memberikan pada siapa pun sebelumnya. Termasuk pada Bianca sekali pun yang kini sudah berstatus tunangannya.
*
Meella sudah selesai memakai pakaian yang diberikan Tari. Kondisinya pun lebih tenang dari sebelumnya. Juga sudah menyempatkan diri berbaring di atas kasur walau tidak bisa tertidur. Kemudian bangkit duduk seraya menenggelamkan wajahnya di atas lututnya.
Pikirannya masih kacau balau mengingat kejadian pagi ini yang terasa bagai mimpi. Keperawanan yang dijaganya dengan baik selama dua puluh empat tahun, hilang begitu saja tanpa disadarinya.
__ADS_1
Padahal dulu dia sudah siap menyerahkannya pada Garda. Saat malam itu, sebagai hadiah ulang tahun namun urung karena keadaan.
Kini Meella benar-benar tidak siap menghadapi semua kenyataan ini. Dia bingung serta kalut. Entah apa yang akan dijelaskan pada Mirza, lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Orang yang paling berhak atas dirinya dan keperawanannya.
Meella juga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya, Mitha, dan calon mertuanya bila mengetahui hal ini.
Apakah Meella harus mati bunuh diri karena tidak bisa menanggung dosa dan rasa malu ini?
"Meel...," suara Tari tiba-tiba mengetuk gendang telinganya. Serta mengejutkannya hingga langsung mengangkat wajahnya yang basah, mencari sumber suara. Mata dan hidungnya memerah karena sedang menangis.
"Meel..., elo kenapa ?" tanya gadis bertubuh kurus itu khawatir. Langsung duduk mendekati.
Meella memeluk Tari cepat dengan air mata bercucuran.
"Tar, apa gue mati aja kali ya... nyusul Garda. Jujur gue udah gak sanggup lagi hidup begini," ujarnya putus asa.
"Hus!" Tari mendorong tubuh Meella menjauh, berusaha menyadarkannya dari pikiran aneh dan berbahaya.
"Elo apa-apaan sih ngomong kaya gitu? Gak boleh tahu!"
"Gue udah gak bisa begini terus-terusan, Tar...," sahutnya lirih.
"Ada gue, Meel... ada gue," ucap Tari dengan suara bergetar. Dia pun ikut sedih.
"Elo bisa ngomong ke gue, kalo elo punya masalah. Elo bisa ke rumah gue kalo elo gak nyaman di rumah lo," kali ini air mata Tari jatuh di pipinya.
"Asalkan elo gak berpikiran pendek. Gue minta lo lupain Garda. Dia udah mati, Meel... dia cuma jadi toxic buat hidup lo."
"Gue gak mau elo mati konyol cuma pengen nyusul dia mati. Ingat Meel, hidup mati manusia udah ditentuin Allah. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa bersyukur masih dikasih umur panjang. Dan berusaha menjalani hidup ini sebagaimana mestinya."
Meella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menangis pilu. Lalu meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kanan dan kiri wajahnya.
"Gue cuma bingung Tar... gue gak bisa melanjutkan hidup gue," ucapannya terbata-bata.
"Maksud lo apa?" Tari mengerutkan keningnya serius.
"Gue udah gak perawan lagi, Tar..." sahutnya lirih.
What?!
"Sedangkan sebentar lagi gue mau nikah. Nanti apa yang gue katakan sama calon suami gue, Tar..."
"Gue bingung. Belum lagi sama orang tua gue. Terutama Ayah gue. Gue... huhuhu..." tangis Meella benar-benar pecah tidak terkendali. Kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tari hanya terdiam mendengar penjelasan Meella. Dia pun tidak mempunyai solusi yang tepat saat ini. Yang bisa dilakukannya hanya memberikan pelukan hangat untuk memberikan spirit pada sahabatnya.
***
😭😭😭 maaf ya author jadi ikutan nangis nih. Ada yang sama gak diantara para readers di rumah? Kalo ada berarti kita sefrekuensi ya.
__ADS_1
Udah dulu ya cerita episode kali ini. 🙏 maaf author belum bisa update cerita lebih banyak dan lama kalo update nya. Harap maklum aja.
See you next episode 😁🙏😘🥰❤️